Religi, Qolbu ExplosionOctober 3, 2009 5:57 pm

Fiuhhh sudah 00.25 mata ingin tertutup, beberapa sindiran halusnya mendatangiku agar segera menutupnya, kannn sudah malam…

Tapi beberapa hari ini ku coba memikirkan beberapa orang besar dan seperti apa sebenarnya bagaimana mereka bisa menjadi besar. Dimana zaman bukan menjadi tembok kemasyhuran mereka, karena mereka dikenang sepanjang masa. Terkadang digubah dalam syair indah, digoreskan dalam kitab suci lalu menjadi hikayat penyemangat dan ketenangan bagi yang membutuhkannya. Namun seiring dengan munculnya orang-orang besar, pastilah ada para pemegang peran antagonis di tiap zaman, mereka ada pula yang masyhur namun ada pula namanya tak ingin lagi didengar oleh bumi, karena kebobrokan etikanya pada ilahi rabbi. Aku khawatir para pemuda-pemudi yang tenggelam dalam air pergaulan di depan seekor hiu itu, sesungguhnya mereka tak tahu bahwa dalam seketika adaptasi pergaulan mereka bisa membuat mereka ditelan bulat-bulat oleh seekor hiu. Semuanya berdasar pada ketidaktahuan ummat kan?, lalu siapa yang bertanggung jawab untuk merubah visi ummat yang setengah bahkan seperempat perihal agamanya, yang puasa hanya menahan lapar dan haus saja, lalu menganggap ikhtilat sebagai kultur modern dan termaafkan, selanjutnya ketika ketabuan yang dijaga oleh orang terdahulu diluapkan dengan "gila" dan jadilah zaman menjadi zaman pengekspos bangkai (para pakar aib saudaranya). Siapa yang bertanggung jawab??, haahhhh???

Sebuah pertanyaan retorika sudah semestinya menjadi retorika, tak perlu dijawab kan?, namun para orang-orang besar, mereka itulah yang menjawab sebuah retorika zaman, yang miris ketika zaman dikoyak oleh paham atheis lalu keduniawian dan pada akhirnya menghilangkan kesadaran akan adanya eksistensi sang pencipta..sungguh miris sekali.

Suatu malam, Khadijah RA gelisah melihat Rasulullah terus saja menangis di tengah malam gelap gulita, ia senantiasa berkomunikasi pada Tuhannya perihal ummat, perihal pengembanan risalah. Khadijah pun bertanya, ya suamiku sudah cukup kau beribadah pada ALLAH malam ini, namun Rasulullah menoleh dengan ketenangan khas para anbiya, Ya khadijah masa istirahat sudah lewat…Ternyata orang-orang besar mengurangi istirahatnya lalu memikirkan orang-orang di sekelilingnya.

Beberapa tahun setelahnya, Sahabat nan salih, Abdullah bin umar didatangi tetamu jauhnya, negeri Persi (Iran). Ya abdullah bin umar ini ada oleh-oleh untukmu, sejenis ramuan dari persi untuk melancarkan pencernaan. Namun Abdullah bin umar, anak dari khalifah masyhur "Umar Bin khattab RA" hanya tersenyum, bagaimana aku memerlukannya?, aku tidak pernah makan hingga kenyang bagaimana aku bisa bermasalah dengan pencernaanku?, ternyata orang besar pun tak tamak dan berlebihan dalam meladeni kebutuhan makannya, mereka bahkan lebih sering berpuasa.

Bagaimana seorang utsman bin affan seorang kaya di zaman awwal islam, senantiasa ditawari oleh rasulullah untuk menikahi anaknya. Pastinya ada kekhususan akhlak pada dirinya, sehingga ada pada posisi spesial di hadapan Rasul dan Tuhannya. Ternyata orang besar bukanlah orang yang "biasa-biasa" saja, mereka memiliki keunikan sehingga orang menyenanginya.

Asiah berbeda keyakinan dengan suaminya yang menobatkan secara sepihak dirinya sebagai tuhan. Tak ada ketakutan pada diri asiah tuk membatalkan keimanannya kepada Tuhan yang Esa pencipta langit dan bumi. Padahal suaminya seorang antagonis termasyhur dan terbesar yang senantiasa diulang-ulang kisahnya dalam Al-quran agar dijadikan sebuah pelajaran, siapa lagi kalau bukan Fir’aun. Ternyata orang besar tidak labil dalam mempertahankan sebuah keyakinannya, walaupun ia berada di depan seekor singa yang kelaparan, ketahanan keyakinan.

Pada generasi awal tak terhitung jumlahnya orang-orang baik yang senantiasa menginspirasi, asal kau tau kisah mereka tak akan usang karena kemaksiatan, fenomena sosial dan tetek bengeknya hanya berdasar pada tujuan hakiki setan tuk mengajak manusia agar menemani mereka di neraka kelak, itu saja. Jadi tak ada yang usang dalam sebuah kisah masyhur, kau perhatikan itu anak muda agar kita tak terlalu jauh menyimpang lalu tak ingat bahwa kita senantiasa meminta kepada ALLAH , agar ditunjukiNya jalan yang lurus…ya jalan lurusss…

Wallahua’lam

K

 

Religi, Qolbu ExplosionSeptember 18, 2009 11:50 pm

Sudah sekitar 29 hari ada tamu agung yang hadir di relung ku dan kau. Ia memberikan ketenangan dan stimulasi ruh yang tangguh tuk terus eksis dalam lingkaran ibadah. Mungkin kau di pojok sana berqiraatul quran lalu mungkin aku sedang membaca di rumah sebuah buku pilar-pilar asasi. Tamu ini terlalu manis tuk ditinggalkan, karena 2 bulan sebelum ia hadir jutaan manusia meminta disampaikan padanya, artinya inilah penantian, suatu kerinduan yang lagi-lagi qalbu dan ruh yang sangat merasakannya. Keberkahan ditunjukkan dengan pelipatgandaan amal lalu sunnah terhitung wajib serta tilawatil quran yang disimak langsung oleh Jibril Alaihissalam. Ada ketenangan yang tak biasa, ada proteksi diri yang terlalu utuh agar nafsu te-reduce  perannya karena aliran darah tak lagi ditemani setan-setan yang dibelenggu kali ini.

Guratan asa di lorong yang sempit penuh sinar, lantunan request doa yang tak pernah ditolak bersama tetamu agung ini. Karena tak ada keluhan sekalipun dari sistem Ilahiah dan langit ketika mendapatkan seorang hamba dengan shaum yang utuh menengadahkan tangan sembari melantunkan do’a yang itu2 saja namun ada secercah harapan baru karena dia, sang tetamu. Mustajab doa, itulah satu reason yang diperuntukkan bagi kau dan aku yang meminta, karenanya ku tak lupa terus melantunkan doa sekuensial yang bertumpu pada ridha dan persetujuan sang khalik akan semuanya, karena ku sadar doa-ku sedikit berat akan sebuah konsiderasi merubah peradaban yang dicita-citakan.

Yang pasti bersama tetamuku tahun ini, aku lebih merasakan satu pola terstruktur bersamanya karena tarawih bersambung witir bersamanya tahun ini terasa lebih meresap, karena manajemen waktu dan setting yang kusengaja ; fokus akhirat bukan rutinitas dunia bersamanya. 2 kali berdiri dalam posisi terdepan ketika tarawih plus 1 dalam qiyam al-lail serta sebiji tausyiah ramadhan di kampung tercinta kuharap menjadi satu titik awal sebuah kekuatan baru bersama tamu agungku ini. Karena kuingin lebih berguna dalam masyarakat, menyebar kekuatan islami yang menenangkan ketika diingat.

Hari ini tetamu agungku, satu langkah kakinya telah keluar dari rumahku ia berkemas tuk kembali, syawal telah menjemputnya. Ku panggil ia sejenak agar tak pulang cepat-cepat namun ia hanya tersenyum tak memberikan asa yang jelas di tahun berikutnya, apakah ia kan mengunjungiku lagi atau sang khalik yang memanggilku. 

Shubuh yang sejuk tak terlewat, kucoba lagi tuk mengangkat kedua tangan menengadah ke langit..satu pintaku di akhirnya, agar aku bisa bertemu lagi dengan si dia, tetamu agungku, Ramadhan mubarak…

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionSeptember 16, 2009 4:31 pm

Jangan kau tanya akan strategi inovasi menjual produk lalu jangan juga kau tanya akan penetrasi branding produk, karena maaf cakap kau tak mampu menandingi mereka. Produk mereka sudah mengalami penyempurnaan hingga ratusan ribu kali bahkan lebih, dengan segala "customer behavior" yang ada, mereka dituntut untuk menyesuaikan produk, namun "fundamental proposed/maksud dasar" dari produk ini tak mungkin berubah, karena hanya satu saja tujuannya dengan segala kreatifitas yang ada. Mereka memiliki system yang mumpuni menjaga tujuan, walaupun generasi-generasi manusia terus berubah dan apa lagi kalau bukan perubahan etika, tujuan dan pengaburan akan ketauhidan serta ketergantungan kepada Tuhannya. Mereka sebagai satu kesatuan bisa tertawa terbahak-bahak namun secara bersamaan bisa menangis tersedu sedan tak terkira, ketika produk mereka ada yang terjual pun dilempar dengan satu-satunya pesaing produk mereka.

Inovasi tanpa batas yang coba kugambarkan diawal adalah wujud eksistensi komunitas "laknatullah" bernama jin dan setan. Mereka telah menjaga eksistensinya sejak Adam berhasil mereka kecoh dan terdampar ke dunia. Namun versi kedua dari produk mereka pun mampu mengisi amarah dan dendam antara habil dan qabil. Lalu tak ada lagi tantangan produk setan dan jin ini, keturunan-keturunannya yang terus berkembang serta menyebar di dunia terus mengganggu manusia dan menawarkan produk-produknya, apalagi kalau bukan maksiat, maisir, khamr serta tetek bengek lainnya. Seperti yang sudah kukatakan, "fundamental proposed" mereka tak pernah berubah, INGIN MENYESATKAN MANUSIA. Produk-produk masyhur penyesatan mereka telah menggoreskan akhlak kaum luth yang keras kepala lagi hina, lalu kaum samud yang tak mendengar nasihat nabinya, lalu siapa yang mungkin lupa Nuh yang kecewa berat akan sikap umatnya yang keras hatinya, hingga harus ditenggelamkan oleh air bah yang dahsyat. Syetan mungkin kala itu tertawa terpingkal-pingkal berkacak pinggang lalu memegang perutnya yang buncit memakan makanan sisa para manusia. Aih…aih…produk mereka sulit sekali dikalahkan..Zaman kontemporer pun tak pelak menuai bencana, inovasi jin dengan kolaborasi apik oleh para yahudi LA menghasilkan berhala-berhala baru berwujud entertainment, ketokohan over loyalitas, nasionalisme "miring" layaknya daun kering serta produk fenomenal pengendalian media dan perang pemikiran dan pemelintiran hakikat HAM…cisss fantastik kali inovasi mereka…

Namun wahai insan, produk fantastik tuk menyesatkan manusia yang dirilis setiap masa demi masa, pasti memiliki celah. Hanya satu kata yang berwujud jurus ampuh mematahkan semua produk inovasi oleh setan dan jin itu, yaitu ketika amal salih dijadikan perisai, hati diajak senantiasa berinteraksi dengan Tuhannya, lalu apalagi kalau bukan sebuah kepekaan akan sebuah kelangsungan sejarah manis ketika masa-masa yang berulang yang masyhur di zaman awal nan terhebat, zaman para sahabat yang dengar lalu taat serta sangat peka akan sebuah kesalahan dan cinta akan runtutan amal yang ALLAH sampaikan melalui rasulnya. Mereka tidak hanya menghancurkan pasar dan instabilitas harga saham produk jin itu, bahkan para jin itu bisa dibuat lari terbirit-birit oleh Umar Al Farouq RA karena kekuatan perisai kesalihannya yang lagi-lagi masyhur.

Begitulah sebuah inovasi tanpa batas kalangan jin, mereka tak akan punah dan mereka tak akan kehilangan konsumen atas produk-produk mereka, namun sudah sepantasnya umat islam menjadi tonggak penggerak sebagai penghancur inovasi setan atau paling tidak mereduksinya dengan ketaatan yang stabil kepada Rabb, yang maha perkasa.

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionJuly 4, 2009 2:44 pm

Malam lagi-lagi hadir, ia tak memberitahuku hari ini, apa aku lelah dan harus istirahat? atau terus tegap di satu hal yang sudah mendekati deadline?..

Bergemul dengan 2 sisi pilihan akan terus membuat seorang manusia bertarung dan sulit menemukan akhir dari sebuah cerita, jadi pilihlah. Sebelum ku mengarah ke penyelesaian deadline itu hari ini (sebuah pilihan), aku ingin menuliskan satu catatan renungan perjalanan yang sudah agak jarang kugoreskan karena lagi-lagi menyalahkan waktu, padahal adalah "how to" - nya yang sedang error dimana core self system diriku hingga hari ini masih bermasalah.

Dalam gegap gempita sebuah sirkulasi kehidupan, akan selalu hadir 2 hal penting yang disadari atau tidak kita berada diantara keduanya. Poin pertama adalah kehidupan dan peradaban akan identik dengan para follower dan yang kedua adalah visioner yang sedang menyiapkan prototype baru bagaimana sirkulasi kehidupan diperbaiki dan disempurnakan atau malah dirombak ulang hingga menjadi satu peradaban yang ideal menurut ketauhidan. Follower , secara harfiah cukup mudah dijelaskan sebagai "pengikut" dari sirkulasi dan model hidup yang sedang berkembang, sehingga follower hanya akan terus berputar, mengikuti, menyesuaikan dan beradaptasi dengan apik apa yang peradaban suguhi, mereka tidak sampai ke pemikiran serta menyentuh hakikat kehidupan itu sendiri. Contoh yang marak misalnya sistem dunia sedang mensosialisasikan sebuah isme yang gemilang bernama "Material-isme" yang bisa dikatakan sudah dimulai pada abad 16-17, lalu para manusia bertipe follower akan terus mengikuti paham-paham yang mengenyampingkan tujuan sebuah kehidupan yang hakiki, lalu tercebur dan tenggelam ke paham2 seperti "Material-isme" dan tak pernah mengapung lagi ke permukaan. Imbasnya manusia-manusia follower akan senantiasa ikut dan berpartisipasi dalam paham tersebut dan malah memunculkan derivasi-derivasinya, namun pada intinya tetap sama, "Materi/uang" telah menjadi tujuan hidup mereka, para follower of materialism. Imbas "terlalu negatif"-nya adalah, ibadah akan disesuaikan bagaimana mencapai "stabilitas keuangan" dengan nyaman, maksudnya "shalat bisa diulur2 waktunya ,karena uang masih belum cukup untuk bulan ini"…itu contoh general yang ingin saya sampaikan. Begitu pula akhlak, muamalah, adab berpakaian, interaksi dengan yang bukan muhrim. Kesemuanya akan disesuaikan dengan isme-isme gemilang karya barat, lalu manusia bertauhid yang masih lemah, berkecamuk dan secara sadar atau tidak mereka menjadi "follower yang loyal, menanggalkan pakaian iman".

Seorang visioner mungkin bisa dikatakan seiring ia berenang dalam kesalahan sirkulasi kehidupan, ia sedang menyusun satu silabus tata peradaban yang mengagumkan serta diabsahkan oleh din (agamanya), sesekali ia mencoba menyelam dalam sirkulasi kehidupan yang keluar dari norma akhlak islami, lalu ia mem-break down semua masalah-masalah itu dan menarik garis konklusi untuk meluruskan kembali kehidupan seluruh insan di dunia ke bentuk yang ideal lagi menawan. Bagaimana proses peleburan dan balansi akan kehidupan duniawi merupakan derivasi dari tuntunan ketuhanan, sehingga tercipta satu "stake holder" yang senantiasa meletakkan pertimbangan agama diatasnya. Jadi dengan kata lain menyatukan kegiatan dunia berdasarkan aturan ketauhidan serta menjadikan ibadah sebagai poin utama berjalannya poros hidup menawan non-sekularism, seperti sedia kala layaknya para salafussalih menikmati islam dengan ketenangan yang menggetarkan ‘arasy langit karena kekuatan ubudiyahnya.

Malam mulai bergerak ke titik klimaks ketika ia menjadi selimut absolut untuk memayungi manusia di alam istirahatnya lalu matahari esok bertugas kembali. Seorang visioner tidak lahir dari satu mesin instan layaknya patternisasi mie instan lalu di-wrap ke uniform-nya. Namun seorang visioner lahir dari pertimbangan, menelaah, merencakan, kadang terjatuh namun bangkit, berpikir lagi hingga prototype itu menjadi perwakilan akhlaknya, lalu ia melakukan satu "klik" di prototype yang ia bikin itu, lalu meng-apply-nya ke seluruh manusia di muka bumi, hingga tumbuhan dan hewan pun merasakan indahnya sirkulasi hidup "manusia", sang khalifatul ard i

Lalu pintanya(sang visioner) yang terberat kepada sang khaliknya, "Rabb mampukan aku untuk menjadi pemimpin manusia bertakwa suatu saat nanti..jika KAU ridha.."

Wallahua’lam

 

Religi, Qolbu ExplosionJune 12, 2009 4:52 pm

ketika itu mata,telinga dan kulit bersinergi, namun sayang, mulut tak diajak dalam sinergitas ini..

Dalam suasana kegaduhan di hari kebangkitan, kondisi tiap insan carut marut. Sebagian insan dibangkitkan dengan kondisi hitam legam bahkan ada yang berdiri dengan kepalanya. Ada yang sangat takut ketika konsep yang ada dalam benaknya hanya ada kehidupan satu kali dan manusia tidak akan dibangkitkan, bertolak 180 derajat, ya karena ia sekarang sedang dibangkitkan. Entah berapa kali kalamullah mengingatkan tiap umat yang zalim, namun sedikit sekali mereka yang beriman.

Lalu tiba saatnya mata,telinga dan kulit memberikan kesaksian tanpa konspirasi, kepentingan "berbentuk" materi atau kebingungan dalam mengutarakan fakta. Ketiganya merekam segala sesuatu dengan tingkat keakuratan mumpuni, lalu tiap insan hanya terdiam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mulut ketika itu terdiam, tak ada pembelaan dan pembalikan fakta menggunakan saksi kunci, krn mulut dikunci serapat-rapatnya tak bercelah. Lalu tak ada mimik muka dan tubuh yang bisa melemahkan perasaan matamu!, telingamu dan kulitmu!, karena pintu taubat telah tertutup, bahkan tak ada lagi waktu tuk turun ke bumi memperbaiki segalanya, karena ALLAH tau kita akan kembali bermaksiat. Penyesalan ketika itu ibarat debu yang diterbangkan oleh angin tak pernah bersatu ke lorong taubat.

Mata, telinga dan kulit sekarang ini tak pernah berbicara apalagi memberikan reminder kepada insan yang masih hidup. Ketiganya hanya merekam segalanya dan ditambah dengan validitas data raqib dan atid. Sudah lengkaplah bukti kehidupan, tak perlu jaksa dan tak perlu penuntut. Karena pada saatnya tak ada lagi yang perlu dibela, hanya menyaksikan dan menerima semua keputusan.

Insan..oohh manusia, kita terkadang terlena oleh buaian dunia yang terlalu berat tuk diabaikan. Lalu gurun kehidupan mampu membiaskan pandangan kita, sehingga sulit membedakan fatamorgana dan kenyataan.

Wallahua’lam

K

Catatan menjelang dini hari [23.50]

Religi, Qolbu ExplosionJune 5, 2009 4:44 pm

Masa kejayaan disebut karena setiap insan kan memiliki masa keruntuhan. Masa jaya yang hakiki sebenarnya tercipta ketika adanya satu titik kendali dalam diri untuk senantiasa menggunakan filter hati lalu mengaplikasikannya. Namun apa daya, dunia makin terlibat akan beberapa bahkan banyak ketidakpastian etika. Etika yang utama bermula dari satu kata "santun" yang memiliki derivasi kompleks tergantung dimana kata "Santun" itu terimplementasi. Sobat kau tau santun itu sekarang sering digunakan dimana?, ia menjadi barang sebuah kepentingan, apa pun itu politikkah?, menjilatkah? atau bahkan menggaet simpati akan proses membentuk satu masa kejayaan, yang mungkin bisa jadi hanya kesemuan terstruktur nan megah. Sudah jarang adanya etika santun yang tergenerasi secara sempurna dalam ranah sekolah dasar, oh ternyata itu didasari dengan intensitas "drama sampah" bernama si**t**n. Lalu adanya kasta invisible dimana semakin tinggi kasta yang merupakan hasil imperialism itu, semakin tak sopan seorang anak. Karena apa?, mudah saja semakin tinggi kasta "harta"-nya semakin rendah intensitas si anak bertemu dengan orang tuanya, miris memang. Consequently, orang-orang awam mampu menerawang dengan sederhana, jika ada seorang anak bengal dengan tingkah polah kesombongan yang terbungkus sudah pasti ntuh anak kagak dididik dengan baek.

Ketika kesantunan mulai menjadi barang langka di kota besar, lagi-lagi ada semacam kurangnya apresiasi akan "akhlak", akhlak yang dinomorduakan setelah materi cukup, hidup layak, punya mobil plus ikut trend lifestyle. Itulah imbas materialism yang gemilang, padahal kegemilangan peradaban masa lalu, terbentuk lalu menguasai dunia dengan akhlak, bukan harta dan kekuasaan bengis dan penuh konspirasi pemberantasan dan reduksi akhlak di masyarakat. Entah apa yang kita pikirkan, ketika akhlak yang diajarkan dalam dienul islam digunakan sepotong-potong dalam menjalankan roda hidup, seakan-akan Rabb menyesuaikan dunia dengan kita PADAHAL sebaliknya, kitalah yang harus membentuk satu tatanan kehidupan dengan segala kustomasinya berujung kepada pembentukan manusia yang berakhlak. Kita secara tidak sadar men-drive diri akan sesuatu hal baru yang menjauh dari lingkaran utama sebuah prinsip akhlak dalam agama, lalu beranggapan dengan innosence-nya yakin bahwa segala hal itu diridhai olehNya, dengan terkadang mengeliminasi kewajiban sebagai penganut agama tauhid. Manusia sekali lagi kaulah yang harus menyesuaikan dinamika dan perubahan hidup ke arah ketauhidan bukan sebaliknya.

Ku terus coba bergerak, namun ku yakin belum saatnya itu menjadi cerita unik, karena ini barulah permulaan dan ku tak tau apakah sang khalik mengapprove apapun yang berada di dalam benakku?, yang kucoba menyimpannya dengan rapih tuk kukeluarkan jika saatnya tiba.Ketika anak-anak kecil tak lupa masuk ke rumah dengan kaki kanannya, ketika anak sulung hingga bungsu mencari ayah dan ibunya di kamar ataupun dapur tuk menyalami sebelum berangkat ke sekolah, ketika anak-anak kecil menyapa dengan senyum dan salam kepada teman2nya di sekolah lalu ketika anak-anak kecil itu memiliki mimpi abstrak "ridha rabb dan orang tua" menjadi senjata ampuh kehidupan dan ketika kebiasaan itu terus bergerak ke arah bagaimana generasi-generasi sekelas umar, abu bakr, ali hingga al-khawarizm membanjiri dunia, lalu merubahnya sekali lagiya sekali lagi..

wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionMarch 26, 2009 2:42 am

Enkapsulasi cinta(yang kumaksud) itu tersusun rapih, dan imbas kesuksesannya sudah melenggang di Televisi,radio,mp3 player hingga hafalan anak2 kecil.

Enkapsulasi cinta itu terasa sangat indah oleh mereka yang mendendangkannya, sampai-sampai mereka bisa meneriaki dan bisa sediiih ketika sang pelantun syair jatuh sakit dan terbaring..sekali lagi sang pendendang syair cinta itu menjadi "makhluk" teratas di muka bumi bagi mereka..

Enkapsulasi cinta ini merasuk ke dalam sanubari karena ia masuk dari mata, telinga dan efek "keindahan" sinergi alat-alat musik itu menjadikan mereka, terdampar lalu senang..

Enkapsulasi cinta ini menjadi mengerikan karena syair-syairnya sudah mengkultuskan "cinta dunia/makhluk" dengan sangat apiknya, siapa yang senang???, pastinya kaum penyebar syair-syair ini..jelaslah dampaknya, dependensi ilahiah yang semakin hari semakin berkurang, dunia kan terasa hampa, lalu mereka perlahan namun pasti meninggalkan rutinitas ibadah untuk "enkapsulasi dunia" bertemakan cinta di tiap syair-syair yang mengerikan itu..aku terlena, mungkin semua terlena sungguh berbahaya..

Ku teringat potongan syair bimbo, "hidup ini barang titipan, harus dikembalikan, yang PUNYA tak bilang kapan…", indah sekali syair cinta kepada Rabb melalui syair lagu, dan sekarang perlahan namun pasti syair-syair spt ini pun punah…

Hingga masa berganti, yakinlah…

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionMarch 17, 2009 1:04 pm

Luas, sungguh luas, jika kau tak sedang "mampu" mempelajari luasnya alam dan ketangguhan sang pencipta dari darat, sesekali lihatlah dari atas (udara). Kapal-kapal sebesar apapun kan terlihat kecil dari atas, sekuat apapun kau menggenggam dunia di urusan "dunia"-mu, maaf namun kau kan terlihat kecill sekali dari atas(udara). Maka benarlah dan patut direnungi secara mendalam, jika laut dijadikan tinta dan pohon dijadikan pena, takkan sanggup menuliskan rahmat sang "Maha Kekal" akan "layanan alam" di dunia ini. Namun watak telah menjadi watak, selain menjadi khalifatulArd, manusia di sisi lainnya menjadi sang destroyer keindahan alam.

Namun..tak apa IA telah berjanji takkan murka hingga melenyapkan si "tukang" maksiat, semuanya akan terbuka, terbuka selebar-lebarnya di yaumul hisab. Di udara pula sinergitas awan, angin dan hujan melakukan komunikasi alamiahnya, mengatur kekuatan awan yang menggumpal, pun kapan air jatuh ke daratan..fiuhh semuanya terstruktur, sangat indah. Di kala sungai bermuara ke laut, tak apa ia mencemari laut, namun laut takkan pernah kalah oleh sungai, karena kotoran sungai yang dibawanya kan lenyap di pesisir laut tak lebih. Laut menunjukkan kedigdayaan menguasai teritorial, menyediakan sumber makanan, keindahan, kajian serta discovery. Namun sekali sang destroyer kan mendompleng, jika ia memiliki waktu dan kesempatan untuk itu.

Di udara ku terhenyak, sepulang dari Pontianak berlabel seat 3E, kelas bisnis limpahan ini. Sungguh manusia harus merenung, sekali lagi jika kau tak mampu merenungi keindahan dari darat, sesekali kau naiklah ke atas..hingga kau lihat dunia dengan sinergitas dan struktur magis di sekelilingnya..

 

 

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionMarch 3, 2009 3:10 pm

Hijrah merupakan salah satu langkah awal di dalam menuju satu kesuksesan. Hijrah dalam konteks islam akan senantiasa dikaitkan dengan asal mula patternalisasi Islam berhasil diwujudkan dengan gemilang di satu tanah tujuan hijrah bernama Yatsrib (Madinah). Dari sinilah semua kekuatan, manajemen akhlak serta penempatan kekuatan islam menjadi sangat mumpuni, sekali lagi ini karena hijrah.

Dalam kontekstual keduniaan, ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya guna mendapatkan ilmu serta ridha dari ALLAH nantinya kita akan diberikan satu guideline untuk menuju satu pattern yang diinginkanNya, namun On the contrary layaknya timbal balik yang terus ada dalam kelangsungan hidup manusia jika satu insan bertujuan melakukan hijrah untuk urusan yang tidak diridhaiNya, cukuplah ALLAH yang mengetahui lamunan dan kenikmatan dunia bermacam rupa, hingga hari penghisaban menjungkalkannya ke neraka, ohh sungguh menyulitkan. 

5 hari di negeri jiran Malaysia memberikan sekelumit kisah bagaimana masyarakat disana sangat menghormati rule yang ditetapkan disana, baik penentuan aturan menyebrang jalan, keteraturan manajemen transportasi keteraturan tata kota yang apik dan keramahan (hospitality) sebagai branded orang-orang melayu nan elok itu. Multi kultur dan keragaman suku/tribes menambah "kesemrawutan positif" yang terkadang dari sisi lain terlihat sisi negatifnya dikarenakan kesuksesan menggaet tourist yang luar biasa, yang pastinya dengan tingkat "kesopanan" berpakaian sesuai adab masing-masing di negaranya dari yang beradab, bercadar hingga sedikit "biadab".

Tingkat kebersihan, kekuatan "keteraturan program" televisi yang sering diselingi dengan berlajar al-quran di beberapa channel dan peleburan etnis yang baik menjadikan Kuala Lumpur menjadi tempat yang baik dari beberapa sisi.

Aku tak perlu membanding2kan dengan negara kita, karena aspek2 tertentu yang akan melunturkan nasionalisasi namun sekali lagi dari sisi yang berbeda, generasi2 peubah sedang mencanangkan "perubahan" akhlak secara dramatis untuk membangkitkan lagi akhlak rabbani di bumi pertiwi ini. 

Hijrah lagi-lagi memberikan satu wawasan intelektual, mengajak otak tuk berpikir lebih mendalam, hingga tertarik garis lurus diluar sana dunia begitu indahnya, namun ketika keindahan tidak berada di satu keindahan akhlak bersamanya yang pastinya diinginkan oleh sang pencipta, ada yang kurang layaknya hidangan sayur tanpa garam..

"Qadaflahal mu’minun", sungguh beruntung sekali orang beriman, ooh sungguh…dunia dijadikan tempat tuk bertafakkur tuk mempersiapkan diri terus berbenah, walaupun itu tak mudah..Sungguh indah membayangkan dunia dengan peleburan akhlak islami, layaknya Cordova menjadi kiblat modernisasi eropa di abad 17-18 dan indahnya baghdad ketika itu dengan segala ilmu yang melimpah ruah..

Figured from KLCC - Petronas Park, think before throw..

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionFebruary 6, 2009 5:05 pm

1 menit lagi pukul 23.30, ku terhenyak dalam kesunyian malam, badan lelah namun ada yang harus kutuliskan sebagai wujud akumulasi hidup yang terus berlanjut sebelum Izrail hadir lalu menjemputku, entah seperti apa rasanya…suatu saat nanti..

Akumulasi hidup beberapa hari ini berputar pada satu pertanyaan, dimana diri seakan menunjukkan superioritasnya sebagai hamba yang tak seimbang dalam menyikapi makna hidup,

Beberapa lembar sirah kubuka, beberapa tausyiah dhuhur sedikit menyentil lalu khutbah jum’at yang menyinergikan itu semua. Sehingga aku mencoba menggubahnya menjadi satu instrospeksi diri berbentuk kata tanya ber-prefix Aku bukanlah

Aku bukanlah Thalhah, satu dari 3 sahabat terkaya di zaman kejayaan yang mampu memberikan apa saja pada dinul islam, dan ia pun tak segan menghibahkan kebunnya untuk mantan budak hitam yang tak seimbang upah kerjanya..

Aku bukanlah Abu bakar sang pionir pembela hak budak (slave), ketika ia memerdekakan bilal bin rabbah, jauh berabad-abad lamanya ketika sang Luther king dielu2kan dan sang nelson mandela menjadi pahlawan afrika

Aku bukanlah seorang Umar, dengan konsep sami’na waata’na-nya yang gemilang, merepresentasikan ketaatan pada pemimpin dan Rabb (tuhan) seutuhnya..

Aku bukanlah seorang Abu Dzar, seorang sahabat termiskin yang pernah ada, namun mampu memberikan sedekah terbaiknya kepada tetangganya yang lebih mampu, meskipun sop hanya berisi daun bawang dan garam dan kuahnya diperbanyak..yang tak lain setelah mendengar ucapan Rasul yang gemilang berulang2 3 kali, Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib (sedekah itu ajaib), dan ia mendapat keajaiban ketika tetangga itu membalas sedekah terbaiknya dengan sop berisi daging kambing..

Aku bukanlah seorang Ya’kub yang memiliki kesabaran diatas kesabaran..bagaimana tidak, dari kaya, berkuasa, cakap, memiliki istri dan anak yang rupawan, namun ALLAH mengujinya dengan kehilangan satu per satu dari nikmat itu hingga ia sakit dan ditinggalkan oleh istrinya, namun ia sabar, sembari mengucap innalillahi wa innailahi raji’un yang menunjukkan dependensi ilahiah kelas wahid

Aku bukanlah Salman al-farisyi sang pangeran persia yang menawarkan strategi khandaq (parit) pada perang ahzab, hingga kaum quraisy dan munafikin mundur beraturan karena diserang rasa takut yang sangat setelah hampir sebulan berperang..

Aku bukanlah mereka yang senantiasa tak goyah imannya ketika angin cobaan bergerak kencang maupun lembut namun mematikan, mereka terlalu jauh tuk dilewati, ahli ibadah dan bergerak senantiasa di roda dinul islam, dan mematuhi apapun yang dikehendaki oleh sang khalik…

sedangkan aku, siapa aku…hah..terkadang menengadahkan tangan ke langit pun aku takut, takut jika sang pemuda dhaif ini serta merta ingin pintanya selalu diterima namun ia berada di ketidakstabilan ibadah di beberapa hari lainnya..oohh siapa aku..Entah seberapa besar syukurku, dari nikmat sehat dan istirahat yang sering diabaikan manusia..oh..

Semua kan terus berjalan, setiap umat baik di awal, pertengahan dan akhir dari sebuah zaman memiliki tingkatan ujian yang berbeda, namun inti dari itu semua tetap sama..ridha sang khalik, tanpa itu semua seakan fatamorgana yang tak kan tersentuh hingga kapan pun..

Rabb, terima kasih.. Alhamdulillah..

Wallahua’lam

K