Bagaimana kita melihat dunia hari ini?, para manusia bergerak ke arah sesukanya seolah-olah tak ada pegangan. Jika mereka sudah ling lung tak tau arah, sudah pasti tiang sutet kan dipanjat dan rel kereta api didekati, tuk mengakhiri (katanya) sebuah kehidupan. Hah, mereka yang memang tak punya pegangan lupa akan sesuatu yang krusial akan kehidupan, yaitu kehidupan yang sebenarnya suatu hari nanti. Beberapa hari ini kita “tak lagi” dikejutkan oleh kebodohan pola pikir yang akut dalam pengakhiran hidup, seorang pemuda yang masih memiliki sinar masa depan memanjat tiang sutet karena diputus sang pacar (yang bermakna kesemuan tanpa ikatan yang jelas dan dikelilingi oleh para jin-jin muda untuk terus mengikat pertalian ilegal tanpa keabsahan, “bodoh…”). Lalu BBC Indonesia melaporkan sebuah keterkejutan bagi Jerman, seorang kiper nasionalnya (Red. Robert Enke, kiper Hannover) memilih tuk mengakhiri hidup dengan menambrak kereta api bukan ditabrak, lalu terlampir surat kematian, yang tak jauh dari “menghindari” cobaan, terlepas dari setinggi apa depresi yang dialaminya.
Dunia seolah berkisar pada iklim yang berubah, kasus demi kasus kriminal yang mengikutsertakan penindaknya sendiri, lalu tak jauh dari para pemakan bangkai saudaranya yang sangat senang membuka aib di media dengan pongah bangga dan seolah-olah bangkai itu sangat enak tuk dimakan. Sudah ribuan tahun lalu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa yang menyebar dan membicarakan aib saudaranya, seolah-olah ia memakan bangkai saudaranya, “KABURKAH MENURUTMU NASIHAT ITU HAH???”. Kisaran-kisaran itu lalu membuat satu ketidakpastian akhlak para manusia yang bertindak sebagai “end-user” televisi, mengkonsumsi tanpa ada filtrasi lagi. Lalu para ibu-ibu di pojok gang buntu asyik bercerita akan kisah cinta fitri yang melenakan, lalu jika kau menginterupsinya, “kemana anakmu?”, maaf cakap sepertinya ia tak tahu bahwa si anak yang masih membutuhkan bimbingan moral dan separasi amal dan dosa, tengak berasyik masyuk di gang buntu RT sebelah dengan sang “pacar”, lalu dikelilingi setan yang memanas-manasinya, lalu malaikat mundur teratur dan kitab amal telah mencatat satu kegilaan manusia, akan sebuah separasi moral. KALAU SUDAH BEGINI SIAPA YANG SALAH, ORANG TUA atau SANG ANAK HAH???. Sudahlah, bisakah kita akhiri semua ini, kebobrokan akut akibat media yang gila?, bisakah kita akhiri ini, gara-gara “demokrasi” dan kebebasan bertindak, yang di redirect negatively dengan manis tuk menghancurkan anak bangsa??, bisakah kita akhiri ini, fenomena bangkai, ketika aib sudah menjadi tak tabu dan tersimpan lagi??.
Dunia terus saja bergerak ke arah yang akut, bahkan terlalu akut atau jika ia bisa berbicara mungkin ia kan mengadu pada Rabb-nya tuk melaporkan kebobrokan yang tak masuk di akal ini. Lalu satu region yang sedang memperbaiki hukum syariahnya, dikejutkan ketika generasi penerusnya melepas jilbab tuk melenggang di catwalk , lalu terpilih sebagai PUTRI BLA…BLA..BLA mengatur senyum pongah seolah-olah telah mengharumkan bangsa padahal sang penyelenggara sedang mempersiapkan suatu kejutan pelepasan aurat yang lebih akut di kontes berlevel internasional, apa-apaan ini????, mungkin masih dia yang muncul ke panggung sebagai representasi kegagalan tarbiyah keluarga di region serambi makkah itu, mungkin generasi-generasi akut lainnya masih tersimpan di beberapa tempat yang kuharapkan semakin berkurang bukan bertambah. Biarkan kita menjadi region “Role Model” bagi negara ini dan dunia suatu hari nanti. Biarkan kami menawarkan Qanun, lalu biarkan syariah itu tumbuh lagi, boleh kan???.
Dunia terus saja bergerak, mereka kehilangan syaikh tarbiyah, mereka kehilangan syaikh-syaikh kontemporer, namun jangan harap islam kan runtuh, karena terus saja dunia masih eksis dan stabil memproduk para pemikir islam yang gemilang. Seolah-olah di kegelapan yang sangat gelap di dunia sekarang ini, masih muncul secercah sinar yang menguat tuk bergerak me-reset ulang akhlak bangsa.
Lalu pada saatnya, jika masyarakat umum bertanya padamu, kapankah kemakmuran, kedamaian dan kesejahteraan ini kan kembali???, jawab saja, “JIKA KITA KEMBALI SEUTUHNYA KEPADA DINUL ISLAM, AGAMA KITA”, lalu kita re-apply seluruh kegemilangan para assbiqunal awwalun dalam menyusun peradaban terbaik yang pernah ada, Islam Civilization. Lalu muncul lagi Umar baru, Ustman baru, Abu bakar baru, Ammar baru, Ali baru, Sa’ad baru, Bilal baru serta para tokoh-tokoh lain yang didamba syurga.
Wallahua’lam
K