Qolbu Explosion, Brain StretchingNovember 4, 2009 4:54 am

Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.

Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..

Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang  banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.

Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.

Wallahua’lam

K

Qolbu ExplosionOctober 27, 2009 2:43 pm

Diri boleh saja meminta, namun hasil ada padaNya..

Diri boleh saja berusaha, namun titik akhir ditentukan olehNya..

Pahit olehku, belum tentu pahit olehNya…

Mungkin pahit olehku, menjadi bekal kemanisan di kehidupan berikutNya…

Wujud tak selalu menenangkan, karena ghaib yang satu senantiasa mengisi kekeringan hati…

Cinta padaNya, kan menggetarkan arasy sepanjang 50.000 tahun perjalanan…

Oh indah ketika cinta itu berbalik, berupa berkah ketenangan lagi kecintaan mutlak padaNya,

Bergantung padaNya lalu bersyukur dan bersabar untukNya…

Akulah yang terus berusaha ber-TAWAKAL, walaupun si dhaif ini tak punya apa-apa selain pinta pada Rabb-nya..

-K in Indirect deskripsi akan ketawakalan-

Oct, 27 2009

Qolbu Explosion, Brain StretchingOctober 18, 2009 6:24 am

Di masa-masa 80 hingga awal 90an adalah masa-masa pembentukan pola hidupku, bergerak mengikuti arah angin terkadang terhenyak dalam perputaran bumi yang seakan tak pernah lelah. Masa-masa kecil itu mengantarkanku pada satu masa dimana ada wujud keindahan yang sangat unik dalam masa-masa kecil, melupakan kemarahan cukup dengan mengulurkan tangan lalu melenyapkan trauma cukup dengan tangisan, terisak-isak sejenak lalu jika ibu dan ayah menghampiri dan mengelus-elus punggung dan bertutur tenang dan lembut tuk mendiamkan si anak, lenyap sudah rasa takut yang ada. Seakan-akan semuanya tersimpan dalam temporary memory pada satu sisi, namun yakinku sebenarnya masa-masa itu telah ter-mirroring dengan fantastik di memory long life kita, sungguh luar biasa sehingga membuatku bisa membayangkan masa-masa itu lagi.

Masa-masa kecilku dihabiskan dengan canda,tangis lalu pembelajaran di sekolah. Seakan terlalu kaku memang, namun dalam tiga hal itu berisi keindahannya. Canda dan bermain dengan teman-teman sepulang sekolah, menendang bola plastik, mengelir buku gambar, menonton kartun plus disuapi dikala makan siang tiba, merupakan rutinitas kami, para anak kecil. Tak jarang ada pemberontakan mini, dariku kala itu untuk tidak mau sekolah, malas dan lain-lain. Apalagi dulu kami sering makan ikan tongkol goreng, maaf saja sifat selektifku bisa merasakan yang mana bagian ikan yang enak atau tidak, lalu cukup memakan bagian yang enaknya saja, atau bisa dibilang ini sebagai teknik "selektif namun mubazir". Pada masa-masa itu, azan yang terdengar dari musholla berbentuk balee itu selalu kutunggu, ada semacam ketertarikan tuk berkumpul dan shalat berjama’ah di suasana maghrib yang sejuk, mengantarkan kita pada malam yang hening. Dulu peci andalanku adalah peci bulat berwarna merah dari ayahku, tiap aku bergegas ke masjid pasti kusematkan ia di kepala.

Secara tak sadar ternyata pola-pola kehidupan di masa awal kehidupan merupakan "extended pattern" di masa-masa berikutnya. Sederhananya, jika kita tinggal dan melahirkan anak-anak kita di tempat yang gaduh, penuh ketidak toleransian, penuh dengan manusia-manusia acuh lagi bangga akan keacuhannya yang mereka kira akan melegenda, lalu ada lagi ketidak pekaan akan lingkungan dan perhatian "first class" bagi sang anak, sudah barang tentu jika kau menutup matamu sejenak dan membayangkan akan jadi apa anak itu ketika dewasa, kau sudah bisa membayangkannya, terlalu mudah untuk diprediksi. Namun sebaliknya, para anak-anak yang diasuh dengan perhatian yang luar biasa, parenting yang berkualitas, penjagaan lingkungan yang protective dan memiliki benih-benih persaudaraan disana, lagi-lagi jika kau pejamkan matamu, kau takkan bisa membayangkan jadi apa anak itu, karena mereka di masa depan akan menjadi manusia-manusia yang bervariasi kehidupannya, namun pada intinya mereka kan jadi orang "yang diteladani orang-orang disekitarnya", mungkin jadi Praktisi atau ilmuwan atau social leader dan jenis-jenis lainnya yang menggebrak kebobrokan moral.

Sudah barang tentu, mengapa kita perlu memperhatikan masa kecil, karena ketika masa kecil itu berbekas sangat dalam di hati, seakan ada perisai yang melakukan "strong defense" dalam diri agar tidak terlalu jauh dalam kemaksiatan. Orang-orang yang mampu menginterpretasikan keinginan orang tuanya dengan prestasi lalu orang-orang yang ingin berjasa bagi negaranya dengan sisi implementatif, bukan hanya berteriak akan prinsip ideologi namun miskin pemahaman, lalu ketika ada angin badai yang berhembus para manusia "yang menganggap dirinya loyalis" namun kosong ilmunya, akan terbawa oleh badai dan tak kembali lagi, terlalu kering kerontang pendirian mereka.

Dunia selalu identik dengan rutinitas, sungguh menyedihkan bagi para manusia yang melupakan perisai masa kecilnya, jika hanya kehidupan ini digunakan untuk menuntut kekuasaan semu, jabatan semu dan marketing strategy semu. Lalu parahnya keimanan, kewajiban iman dan rekan-rekannya digadaikan seluruhnya. Alhasil para manusia terus saja menjalankan rutinitas dunianya tanpa ada masa jeda instrospeksi tanpa ada masa kilas balik akan tumbuhnya keimanan dalam diri, karena hati mereka tak pernah hidup. Sehingga sampai-sampai para penggoda serta mitra utama para manusia bernama setan, tak perlu lagi menggoda mereka, karena hati mereka tak ada "fundamental pattern" yang mengajak mereka pada kebaikan, lalu para setan itu hanya terbahak-bahak tanpa melakukan apapun.

Sudah sepatutnya, jika ingin membangun lagi zaman-zaman emas pemikiran yang dilebur dengan kedekatan dan dependensi penuh pada prinsip ketuhanan, diperlukan pembangunan akhlak sedari kecil lalu upaya-upaya "upgrading dan releasing version" dari penyempurnaan akhlak tiap insan, kan berjalan dengan apik, terkoordinir lagi fantastik.

Wallahua’lam

Qolbu ExplosionOctober 10, 2009 3:47 pm

Sudah cukup masa-masa yang membuatku terkejut dan mengumpat para manusia "KTP oriented" yang mencap dirinya islam tp kosong hatinya, karena sudah saatnya orang-orang yang tenang hatinya yang mengejutkan dunia…

lalu mengisi lagi kekeringan hati, bagi yang kering hatinya, bagi yang lemah pendiriannya..hah…

Religi, Qolbu ExplosionOctober 3, 2009 5:57 pm

Fiuhhh sudah 00.25 mata ingin tertutup, beberapa sindiran halusnya mendatangiku agar segera menutupnya, kannn sudah malam…

Tapi beberapa hari ini ku coba memikirkan beberapa orang besar dan seperti apa sebenarnya bagaimana mereka bisa menjadi besar. Dimana zaman bukan menjadi tembok kemasyhuran mereka, karena mereka dikenang sepanjang masa. Terkadang digubah dalam syair indah, digoreskan dalam kitab suci lalu menjadi hikayat penyemangat dan ketenangan bagi yang membutuhkannya. Namun seiring dengan munculnya orang-orang besar, pastilah ada para pemegang peran antagonis di tiap zaman, mereka ada pula yang masyhur namun ada pula namanya tak ingin lagi didengar oleh bumi, karena kebobrokan etikanya pada ilahi rabbi. Aku khawatir para pemuda-pemudi yang tenggelam dalam air pergaulan di depan seekor hiu itu, sesungguhnya mereka tak tahu bahwa dalam seketika adaptasi pergaulan mereka bisa membuat mereka ditelan bulat-bulat oleh seekor hiu. Semuanya berdasar pada ketidaktahuan ummat kan?, lalu siapa yang bertanggung jawab untuk merubah visi ummat yang setengah bahkan seperempat perihal agamanya, yang puasa hanya menahan lapar dan haus saja, lalu menganggap ikhtilat sebagai kultur modern dan termaafkan, selanjutnya ketika ketabuan yang dijaga oleh orang terdahulu diluapkan dengan "gila" dan jadilah zaman menjadi zaman pengekspos bangkai (para pakar aib saudaranya). Siapa yang bertanggung jawab??, haahhhh???

Sebuah pertanyaan retorika sudah semestinya menjadi retorika, tak perlu dijawab kan?, namun para orang-orang besar, mereka itulah yang menjawab sebuah retorika zaman, yang miris ketika zaman dikoyak oleh paham atheis lalu keduniawian dan pada akhirnya menghilangkan kesadaran akan adanya eksistensi sang pencipta..sungguh miris sekali.

Suatu malam, Khadijah RA gelisah melihat Rasulullah terus saja menangis di tengah malam gelap gulita, ia senantiasa berkomunikasi pada Tuhannya perihal ummat, perihal pengembanan risalah. Khadijah pun bertanya, ya suamiku sudah cukup kau beribadah pada ALLAH malam ini, namun Rasulullah menoleh dengan ketenangan khas para anbiya, Ya khadijah masa istirahat sudah lewat…Ternyata orang-orang besar mengurangi istirahatnya lalu memikirkan orang-orang di sekelilingnya.

Beberapa tahun setelahnya, Sahabat nan salih, Abdullah bin umar didatangi tetamu jauhnya, negeri Persi (Iran). Ya abdullah bin umar ini ada oleh-oleh untukmu, sejenis ramuan dari persi untuk melancarkan pencernaan. Namun Abdullah bin umar, anak dari khalifah masyhur "Umar Bin khattab RA" hanya tersenyum, bagaimana aku memerlukannya?, aku tidak pernah makan hingga kenyang bagaimana aku bisa bermasalah dengan pencernaanku?, ternyata orang besar pun tak tamak dan berlebihan dalam meladeni kebutuhan makannya, mereka bahkan lebih sering berpuasa.

Bagaimana seorang utsman bin affan seorang kaya di zaman awwal islam, senantiasa ditawari oleh rasulullah untuk menikahi anaknya. Pastinya ada kekhususan akhlak pada dirinya, sehingga ada pada posisi spesial di hadapan Rasul dan Tuhannya. Ternyata orang besar bukanlah orang yang "biasa-biasa" saja, mereka memiliki keunikan sehingga orang menyenanginya.

Asiah berbeda keyakinan dengan suaminya yang menobatkan secara sepihak dirinya sebagai tuhan. Tak ada ketakutan pada diri asiah tuk membatalkan keimanannya kepada Tuhan yang Esa pencipta langit dan bumi. Padahal suaminya seorang antagonis termasyhur dan terbesar yang senantiasa diulang-ulang kisahnya dalam Al-quran agar dijadikan sebuah pelajaran, siapa lagi kalau bukan Fir’aun. Ternyata orang besar tidak labil dalam mempertahankan sebuah keyakinannya, walaupun ia berada di depan seekor singa yang kelaparan, ketahanan keyakinan.

Pada generasi awal tak terhitung jumlahnya orang-orang baik yang senantiasa menginspirasi, asal kau tau kisah mereka tak akan usang karena kemaksiatan, fenomena sosial dan tetek bengeknya hanya berdasar pada tujuan hakiki setan tuk mengajak manusia agar menemani mereka di neraka kelak, itu saja. Jadi tak ada yang usang dalam sebuah kisah masyhur, kau perhatikan itu anak muda agar kita tak terlalu jauh menyimpang lalu tak ingat bahwa kita senantiasa meminta kepada ALLAH , agar ditunjukiNya jalan yang lurus…ya jalan lurusss…

Wallahua’lam

K

 

Qolbu ExplosionOctober 1, 2009 2:59 pm

Tangisan pasti akan kering, sedih suatu saat akan diliput dengan sebuah kegembiraan walau ia datang belakangan. Kekuatan itu tidak serta merta bangkit karena kita telah kuat sejak awal, namun kekuatan lahir karena kita pernah ditempa..ditempa lalu ditempa lagi.

Seiring dengan penempaan dari sang khalik, manusia menyalahkangunakan kesempatan instrospeksi menjadi sebuah blunder akhlak. Keyakinanku yang dalam, tangisan-tangisan saudara kita di tanah minang akan berbuah kebaikan di masa datang, agar tanah minang terus melahirkan generasi-generasi sekelas Muhammad Hatta sang engineer kemerdekaan, lalu Ulama kharismatik sekelas Buya hamka. Namun keyakinanku pun akan ada saja manusia-manusia perusak peradaban yang senantiasa hadir layaknya benalu di taman bunga nan harum. Para manusia benalu ini seringkali tak tau pelajaran dibalik bencana/ujian, kau lihat saja setahun kemudian..para benalu akan terus menjadi benalu. Namun generasi yang berakhlak haruslah berkembang menagalahkan pesatnya benalu.

Siapa benalu, analoginya mudah saja, kau tanya saja pada dirimu, apakah hari ini kau mengingat ALLAH yang menciptakanmu???, kalau tidak ATAU bahkan kau atheis bermodal akal tanpa filtrasi, kaulah benalu yang kumaksud.

Namun jika bencana/ujian hadir, ada lafadz yang mengalir deras tersebut di lidah para insan..istighfar yang terlantun dalam tangisan, semoga keturunan2mu lah yang sepatutnya menjadi taman bunga kehidupan kelak. Agar mengharumi kembali akhlak para manusia…

Saudara2ku di Padang, salamku untukmu…izinkan aku menangis melalui jari-jari yang bergerak di keyboard ini, agar ada keyakinan dan keteguhan bagi kita semua, tuk membangun kembali infrastruktur fisik lagi ruhani…

Wallahua’lam

K

Qolbu ExplosionSeptember 30, 2009 3:13 pm

Temans, tidak sulit melihat jompangnya akhlak…

Malam ini di stasiun berlatar bintang, para jin sedang memanas-manasi manusia untuk menari dan tertawa terbahak2 dan tak perlu, namun di 2 stasiun televisi dengan latar "news oriented", sedang melaporkan keharuan gempa 7,9 di Pariaman dan sekitar padang pada umumnya…

Fiuhh…Terlalu jompang, namun biar Rabb yang menyelesaikan, karena tak ada dalam islam meminta keburukan manusia lainnya dalam do’a kita kan??, layaknya sa’ad yang menyerahkan "kebobrokan moral seorang arab" kepada ALLAH, lalu seekor unta keluar tergesa-gesa mengejar sang manusia bobrok hingga sang unta menginjak-injaknya hingga tewas…sa’ad hanya menyerahkan kepada Rabb, dan benarlah Rabb menginginkan si bobrok menjadi contoh bagi makhluk lainnya…

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionSeptember 18, 2009 11:50 pm

Sudah sekitar 29 hari ada tamu agung yang hadir di relung ku dan kau. Ia memberikan ketenangan dan stimulasi ruh yang tangguh tuk terus eksis dalam lingkaran ibadah. Mungkin kau di pojok sana berqiraatul quran lalu mungkin aku sedang membaca di rumah sebuah buku pilar-pilar asasi. Tamu ini terlalu manis tuk ditinggalkan, karena 2 bulan sebelum ia hadir jutaan manusia meminta disampaikan padanya, artinya inilah penantian, suatu kerinduan yang lagi-lagi qalbu dan ruh yang sangat merasakannya. Keberkahan ditunjukkan dengan pelipatgandaan amal lalu sunnah terhitung wajib serta tilawatil quran yang disimak langsung oleh Jibril Alaihissalam. Ada ketenangan yang tak biasa, ada proteksi diri yang terlalu utuh agar nafsu te-reduce  perannya karena aliran darah tak lagi ditemani setan-setan yang dibelenggu kali ini.

Guratan asa di lorong yang sempit penuh sinar, lantunan request doa yang tak pernah ditolak bersama tetamu agung ini. Karena tak ada keluhan sekalipun dari sistem Ilahiah dan langit ketika mendapatkan seorang hamba dengan shaum yang utuh menengadahkan tangan sembari melantunkan do’a yang itu2 saja namun ada secercah harapan baru karena dia, sang tetamu. Mustajab doa, itulah satu reason yang diperuntukkan bagi kau dan aku yang meminta, karenanya ku tak lupa terus melantunkan doa sekuensial yang bertumpu pada ridha dan persetujuan sang khalik akan semuanya, karena ku sadar doa-ku sedikit berat akan sebuah konsiderasi merubah peradaban yang dicita-citakan.

Yang pasti bersama tetamuku tahun ini, aku lebih merasakan satu pola terstruktur bersamanya karena tarawih bersambung witir bersamanya tahun ini terasa lebih meresap, karena manajemen waktu dan setting yang kusengaja ; fokus akhirat bukan rutinitas dunia bersamanya. 2 kali berdiri dalam posisi terdepan ketika tarawih plus 1 dalam qiyam al-lail serta sebiji tausyiah ramadhan di kampung tercinta kuharap menjadi satu titik awal sebuah kekuatan baru bersama tamu agungku ini. Karena kuingin lebih berguna dalam masyarakat, menyebar kekuatan islami yang menenangkan ketika diingat.

Hari ini tetamu agungku, satu langkah kakinya telah keluar dari rumahku ia berkemas tuk kembali, syawal telah menjemputnya. Ku panggil ia sejenak agar tak pulang cepat-cepat namun ia hanya tersenyum tak memberikan asa yang jelas di tahun berikutnya, apakah ia kan mengunjungiku lagi atau sang khalik yang memanggilku. 

Shubuh yang sejuk tak terlewat, kucoba lagi tuk mengangkat kedua tangan menengadah ke langit..satu pintaku di akhirnya, agar aku bisa bertemu lagi dengan si dia, tetamu agungku, Ramadhan mubarak…

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionSeptember 16, 2009 4:31 pm

Jangan kau tanya akan strategi inovasi menjual produk lalu jangan juga kau tanya akan penetrasi branding produk, karena maaf cakap kau tak mampu menandingi mereka. Produk mereka sudah mengalami penyempurnaan hingga ratusan ribu kali bahkan lebih, dengan segala "customer behavior" yang ada, mereka dituntut untuk menyesuaikan produk, namun "fundamental proposed/maksud dasar" dari produk ini tak mungkin berubah, karena hanya satu saja tujuannya dengan segala kreatifitas yang ada. Mereka memiliki system yang mumpuni menjaga tujuan, walaupun generasi-generasi manusia terus berubah dan apa lagi kalau bukan perubahan etika, tujuan dan pengaburan akan ketauhidan serta ketergantungan kepada Tuhannya. Mereka sebagai satu kesatuan bisa tertawa terbahak-bahak namun secara bersamaan bisa menangis tersedu sedan tak terkira, ketika produk mereka ada yang terjual pun dilempar dengan satu-satunya pesaing produk mereka.

Inovasi tanpa batas yang coba kugambarkan diawal adalah wujud eksistensi komunitas "laknatullah" bernama jin dan setan. Mereka telah menjaga eksistensinya sejak Adam berhasil mereka kecoh dan terdampar ke dunia. Namun versi kedua dari produk mereka pun mampu mengisi amarah dan dendam antara habil dan qabil. Lalu tak ada lagi tantangan produk setan dan jin ini, keturunan-keturunannya yang terus berkembang serta menyebar di dunia terus mengganggu manusia dan menawarkan produk-produknya, apalagi kalau bukan maksiat, maisir, khamr serta tetek bengek lainnya. Seperti yang sudah kukatakan, "fundamental proposed" mereka tak pernah berubah, INGIN MENYESATKAN MANUSIA. Produk-produk masyhur penyesatan mereka telah menggoreskan akhlak kaum luth yang keras kepala lagi hina, lalu kaum samud yang tak mendengar nasihat nabinya, lalu siapa yang mungkin lupa Nuh yang kecewa berat akan sikap umatnya yang keras hatinya, hingga harus ditenggelamkan oleh air bah yang dahsyat. Syetan mungkin kala itu tertawa terpingkal-pingkal berkacak pinggang lalu memegang perutnya yang buncit memakan makanan sisa para manusia. Aih…aih…produk mereka sulit sekali dikalahkan..Zaman kontemporer pun tak pelak menuai bencana, inovasi jin dengan kolaborasi apik oleh para yahudi LA menghasilkan berhala-berhala baru berwujud entertainment, ketokohan over loyalitas, nasionalisme "miring" layaknya daun kering serta produk fenomenal pengendalian media dan perang pemikiran dan pemelintiran hakikat HAM…cisss fantastik kali inovasi mereka…

Namun wahai insan, produk fantastik tuk menyesatkan manusia yang dirilis setiap masa demi masa, pasti memiliki celah. Hanya satu kata yang berwujud jurus ampuh mematahkan semua produk inovasi oleh setan dan jin itu, yaitu ketika amal salih dijadikan perisai, hati diajak senantiasa berinteraksi dengan Tuhannya, lalu apalagi kalau bukan sebuah kepekaan akan sebuah kelangsungan sejarah manis ketika masa-masa yang berulang yang masyhur di zaman awal nan terhebat, zaman para sahabat yang dengar lalu taat serta sangat peka akan sebuah kesalahan dan cinta akan runtutan amal yang ALLAH sampaikan melalui rasulnya. Mereka tidak hanya menghancurkan pasar dan instabilitas harga saham produk jin itu, bahkan para jin itu bisa dibuat lari terbirit-birit oleh Umar Al Farouq RA karena kekuatan perisai kesalihannya yang lagi-lagi masyhur.

Begitulah sebuah inovasi tanpa batas kalangan jin, mereka tak akan punah dan mereka tak akan kehilangan konsumen atas produk-produk mereka, namun sudah sepantasnya umat islam menjadi tonggak penggerak sebagai penghancur inovasi setan atau paling tidak mereduksinya dengan ketaatan yang stabil kepada Rabb, yang maha perkasa.

Wallahua’lam

K

Qolbu Explosion, Brain StretchingSeptember 15, 2009 3:40 pm

Yang pasti "typing speed"-ku dalam menulis untuk beberapa hari ke depan tidak akan secepat ketika masih intens bersamanya. "nya"???, siapa sih ???, makanya baca dulu sampai usai, karena "nya" me-refer ke HP Pavilion dv1000 yang sudah menemani hari-hariku bertahun-tahun lamanya dan pastinya mengetik di laptop HP pavilion sudah menjadi "habits". Nah sekarang aku mulai dengan U330 Lenovo, yang kalau bisa dibilang as cool as the owner. hehehe..cukup selingan brain stretching-nya, sekarang mari kita masuk poin utama ; Keshalihan Sosial.

Rintik-rintik itu tak lama, angin langsung membawa kabar berikutnya, karena gumpalan rintik yang bersahutan telah menjadi hujan yang sangat deras. Banda Aceh beberapa hari diguyur keras, ada nuansa keberkahan ketika transisi musim dimulai. Seiring hujan yang menemani hari-hari ramadhan bersambung syawal, kucoba tuk menuangkan lagi pemikiran independenku yang ingin kubuncahkan sesuai dengan fenomena yang kulihat sendiri. Rasulillah ketika bertemu Jibril AS di gua hira sontak terkejut, tubuhnya menggigil tak tau itu nyata atau hanya sebuah fatamorgana kesunyian. Namun hari terus berganti, Rasulillah mencoba mengemban risalah khatamunnabiyyin dengan fenomena akhlak yang tak mungkin tertandingi (lagi) hingga akhir zaman. Di tengah kekuatan sesembahan berhala dan mindset yang mengakar di jazirah arab, Rasul tak gentar karena ketergantungannya yang jelas di relung hati akan ketauhidan dan yang tersulit adalah "kegaiban". Ya…inilah masalahnya iman kepada yang gaib merupakan satu stressing point terberat dalam risalah islam, seperti khawatirnya pemimpin kabilah abdul asyhal ketika "mush’ab menjadi duta pertama islam" untuk menyebarkan risalah ke tanah yastrib dengan statement kegaiban ALLAH SWT. Namun lagi-lagi kutekankan, qolb-lah yang merasakan getaran ketika keyakinan kita kepada yang gaib sudah pada taraf kestabilan, tak peduli mata tak menjangkau karena hati terus basah akan dzikr. Begitulah Rasulillah dan para sahabat menerapkannya dalam generasi awwal dakwah dimulai.

Terkait dengan shalih sosial, Rasulillah sudah menjadi tauladan yang mumpuni, bagaimana tidak Ia yang mendapatkan wahyu dari sang khalik terus gencar tuk menyebarkan bukan memendam sebuah risalah. Itulah fundamental dari Islam karena ia dimulai dengan interaksi sosial yang cakap antara Rasulillah dan para umat muslim yang mulai mendapatkan nur ilahi dari qalamullah yang dibacakan. Dan lagi itu pun tak dipendam oleh generasi awal karena risalah dituntut untuk terus disebarkan hingga menyinari dunia dengan ketauhidan. Indah sekali….

Karena keindahan inilah, skala kontemporer tidak boleh mengubur mimpi risalah islam. Seyogyanya kita sebagai ummat terakhir terus menyebar kebaikan semampunya dan sesederhana mungkin. Terkait masalah sosial, bukan masalah yang mudah. Karena ia butuh satu adaptasi sosial itu sendiri. Bayangkan saja bagaimana risalah islam di masa awal harus di sosialisasikan secara sembunyi-sembunyi di rumah arqam bin abul arqam, lalu ketika panji islam tlah tegak, ia disebarkan secara luas, rapih dan tidak menghilangkan "cita rasa" islam itu sendiri, akan sebuah konsep dependensi mumpuni kepada ALLAH, ya hanya ALLAH tak ada latta, uzza atau bahkan dewi kwan in itu…

Dengan ramainya perang pemikiran yang dilancarkan oleh para yahudi LA, sudah sepantasnya kita memiliki kapabilitas yang jika dalam bahasa IT sering disebut "Technology Update", jika kita sesuaikan, harus ada teknik dakwah atau cara penyampaian dakwah yang "update" pula di zaman modern. Dimana kita sama halnya Rasul melihat medan dan issue terlebih dahulu sebelum bergerak dengan rapihnya. Lagi-lagi ini tak mudah, namun keshalihan sosial menurutku hanyalah satu differensiasi dari keshalihan personal. Artinya ketika sudah ada keshalihan personal, shalih secara sosial hanya menunggu waktu dan "kepekaan". Peka diperlukan untuk merasakan suatu kekurangan di ranah sosial yang telah kita atasi secara personal, sehingga ketika masyarakat belum mampu mengatasi masalah itu kita secara personal sudah sepantasnya memberikan "solution approaching". Contoh ringan akan kenakalan remaja, ghibah masal, nikmatnya shalat dan lain-lain.

Inilah yang menjadi tugas kita bersama, karena salih personal takkan mengembalikan sinar Islam ketika sempat menaklukkan persi dan romawi bahkan sepertiga dunia di zaman khalifah umar. Namun perlu shalih sosial yang peka akan "general issue" masyarakat lalu memiliki keinginan yang kuat untuk merubahnya, walau keluarga terdekat terkadang adalah hal yang paling sulit untuk menyebarkan keshalihan sosial itu…

Begitulah adanya, karena ALLAH tak melihat hasil namun sekuat dan kesungguhan seperti apa yang kita berikan tuk mencapainya.

Syawal sedang menunggu di gerbong terakhir persis di belakang gerbong 10 terakhir ramadhan, ramadhan terus sejuk lalu ia meninggalkan(lagi) manusia, ada yang berbekas di hati sebagian hamba, namun ada pula yang menahan makan dan minum tanpa tau hakikat gemilang di dalamnya…

Wallahua’lam