Qolbu ExplosionNovember 22, 2009 3:49 pm

Malam sudah semakin larut saja, esok manusia akan menggeliat lagi dengan rutinitasnya, ada yang memiliki semangat yang terpulihkan namun ada saja yang masih bermain dengan pikiran2 kalut akan masa depan, dampaknya mereka melompati masa kini ke masa yang lebih ke depan berimbas pada kekosongan makna hidup dalam kesehariannya, intinya MALAS…gitu aja deh mudahnya…

Kali ini dalam suasana yang sedikit berbeda bermalam di hotel berbintang, menyambut kedua orang tua tercinta, persis di depan tugu tani yang merefleksikan suatu simbol agraris namun simbol itu mati seiring kesalahan strategi kenegaraan. Agrasis yang dulu diindentikkan dengan Indonesia, namun apa yang lebih identik dengan ibukotanya???, yang jelas tidak menyentuh makna simbolik tugu tani itu sendiri.

Sudahlah…tulisan ini tidak akan menerawang ke suatu pemaknaan yang teriris akan sebuah arah kemana negara ini akan dibawa, karena kupikir, mereka para generasi pemain revolusi cerdas masih muda dan sedang bermain akan pergulatan mimpi, yang semoga 10 hingga 15 tahun lagi, ALLAH akan membangkitkan mereka ke dalam ranah krusial, pengambilan keputusan berdasar aspirasi realitas rakyat, bukan aspirasi realitas "lembaran duit di atas/bawah meja" lalu memainkan strategi "pengaburan" sebuah fakta, namun sayang rakyat sudah semakin cerdas saja…tunggu saja masanya ya…

Nah, aku bukanlah seorang yang memiliki posisi dalam menyampaikan satu opini yang menggelegar, merubah pola pikir masyarakat secara massive, apalagi menyentuh ranah untouchable yang mungkin saja sisa-sisa emas para kaum otoriter orde baru, "hantam saja yang bermain dalam ranah anomali, karena mereka mengganggu" …aih…aih…Namun tak apa, pemikiran coba kutulis disini, akan sebuah gugatan pemikiran pribadi yang ingin lepas, bukan tuk menyindir namun mencoba menyitir ke arah yang semoga benar.

"Stake Holder", mungkin cukup familiar di telinga, ya singkatnya merekalah yang memutuskan suatu issue atau kejadian. Namun menurutku dan sudah barang tentu orang lainnya, kuantitas para stake holder sudah semestinya tidak terlalu besar. Harus ada seorang yang memutuskan alur kerja, harus ada yang memiliki "influencing strength" lebih, sehingga issue tidak bergerak ke arah yang tak terjangkau lalu mulailah ada manipulasi fakta dan lainnya. Menurutku stake holder janganlah terlalu "lemot" lalu janganlah terlalu lemas dalam menentukan satu keputusan krusial, apalagi yang menyentuh ranah dasar, suatu masyarakat. Janganlah suatu keputusan tegas itu terkesan tidak lagi menjadi tegas, karena lamanya stake holder memutuskan hal itu. Lagi-lagi kita dibuat bingung lalu muncullah ksatria di siang bolong, bermain kata di depan mimbar tuk menyampaikan solusi "expired" lalu kabur lagi, karena masyarakat telah dibuat bosan, atau mungkin "personal trouble" mulai membuat mereka malas mengikuti suatu kejadian krusial. Jadilah masyarakat lemah opini, gersang kekritisannya lalu mengangguk lesu jika ditanya akan nasib sebuah era. Untung saja suatu yang ditakutkan media belumlah terjadi, suatu "people power" yang menghentak janji suatu kepemerintahan, lalu untung saja revolusi komprehensif pun belum terjadi, karena rakyat masih bergerak secara desentralis, mencari arah. Namun inilah suatu ketakutan tersendiri, desentralisasi hasrat manusia untuk melakukan revolusi yang terkotak-kotak akan membentuk satu kejadian yang "unpredictable". 

Maka menurutku sudah sepatutnya para stake holder bangsa bermain dalam arah pemikiran ruhiyah, menyentuh satu Zero Mind Process yang melibatkan iman secara intens lalu menyelam sedikit ke alam ketakwaan mempelajari bagaimana sinkronisasi ketaatan Umar RA dan para sabahat lainnya ketika berdebat siapa yang harus menjadi panglima perang Mu’tah. Lalu ketika instruksi bernada keras yang merefleksikan ketaatan mumpuni ala Abu Bakar RA, semuanya taat..semuanya taat tuk mengangkat seorang Usamah bin Zaid yang dipilih ALLAH melalui RasulNya. Inilah suatu pertimbangan stake holder yang menyentuh ranah keimanan. Keputusannya selalu menyentuh qalbu, keputusannya terkadang terkesan keras namun di baliknya ada satu pemikiran "sustained" layaknya Umar RA. Sudah sepantasnya kita menyelam lebih sedikit kedalam suatu samudera peradaban yang seolah-olah dicoba terkaburkan oleh peradaban setelahnya, dimana barat berkuasa dan mengusik fundamental pemikiran ala dinul islam, agama tauhid yang dideklarasikan sebagai agama yang sempurna hingga akhir zaman. Para ummat lupa siapa bilal, para ummat lupa siapa umar bin abdul aziz, para ummat lupa siapa ibnu sina, para ummat lupa siapa Zaid bin haritsah, para ummat lupa Abdullah bin rawahah lalu para ummat disitir tuk lupa akan heroisme akhir zaman ala syaikh kontemporer sekelas Omar muchtar, Sayyid Qutb dan ahmad yassin lalu mereka lupa seorang perdana menteri yang dipilih ummat menjadi imam tarawih favorit di negaranya tahun lalu…Terlalu indah cara stake holder ala peradaban islam melalukan satu strategi penyelesaian masalah ummat, karena ada "standard guidance" oleh Rabb-nya yang diatur jelas dalam qalam yang diturunkan lalu para pemimpin tinggal mengolahnya menjadi satu regulasi yang menyamankan ummat, kalaupun ada modernisasi kasus, bolehlah ada satu upaya ijma’, qiyas lalu ijtihad…subhanallah…

Aku hanya berpikir kapan datang suatu masa, ketika islam itu bangkit lagi, menjadi panutan wajib yang disetujui oleh para umat, karena mereka merasa aman didalamnya…

Kapanpun itu, hanya IA yang tau, kapanpun itu semoga kita termasuk orang-orang yang memprakarsainya dalam bentuk apapun yang kita bisa.

Wallahua’lam

Ahad, 10:41 PM di sekitaran tugu tani.

K

Religi, Qolbu ExplosionNovember 14, 2009 4:29 am

Bagaimana kita melihat dunia hari ini?, para manusia bergerak ke arah sesukanya seolah-olah tak ada pegangan. Jika mereka sudah ling lung tak tau arah, sudah pasti tiang sutet kan dipanjat dan rel kereta api didekati, tuk mengakhiri (katanya) sebuah kehidupan. Hah, mereka yang memang tak punya pegangan lupa akan sesuatu yang krusial akan kehidupan, yaitu kehidupan yang sebenarnya suatu hari nanti. Beberapa hari ini kita “tak lagi” dikejutkan oleh kebodohan pola pikir yang akut dalam pengakhiran hidup, seorang pemuda yang masih memiliki sinar masa depan memanjat tiang sutet karena diputus sang pacar (yang bermakna kesemuan tanpa ikatan yang jelas dan dikelilingi oleh para jin-jin muda untuk terus mengikat pertalian ilegal tanpa keabsahan, “bodoh…”). Lalu BBC Indonesia melaporkan sebuah keterkejutan bagi Jerman, seorang kiper nasionalnya (Red. Robert Enke, kiper Hannover) memilih tuk mengakhiri hidup dengan menambrak kereta api bukan ditabrak, lalu terlampir surat kematian, yang tak jauh dari “menghindari” cobaan, terlepas dari setinggi apa depresi yang dialaminya.

Dunia seolah berkisar pada iklim yang berubah, kasus demi kasus kriminal yang mengikutsertakan penindaknya sendiri, lalu tak jauh dari para pemakan bangkai saudaranya yang sangat senang membuka aib di media dengan pongah bangga dan seolah-olah bangkai itu sangat enak tuk dimakan. Sudah ribuan tahun lalu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa yang menyebar dan membicarakan aib saudaranya, seolah-olah ia memakan bangkai saudaranya, “KABURKAH MENURUTMU NASIHAT ITU HAH???”. Kisaran-kisaran itu lalu membuat satu ketidakpastian akhlak para manusia yang bertindak sebagai “end-user” televisi, mengkonsumsi tanpa ada filtrasi lagi. Lalu para ibu-ibu di pojok gang buntu asyik bercerita akan kisah cinta fitri yang melenakan, lalu jika kau menginterupsinya, “kemana anakmu?”, maaf cakap sepertinya ia tak tahu bahwa si anak yang masih membutuhkan bimbingan moral dan separasi amal dan dosa, tengak berasyik masyuk di gang buntu RT sebelah dengan sang “pacar”, lalu dikelilingi setan yang memanas-manasinya, lalu malaikat mundur teratur dan kitab amal telah mencatat satu kegilaan manusia, akan sebuah separasi moral. KALAU SUDAH BEGINI SIAPA YANG SALAH, ORANG TUA atau SANG ANAK HAH???. Sudahlah, bisakah kita akhiri semua ini, kebobrokan akut akibat media yang gila?, bisakah kita akhiri ini, gara-gara “demokrasi” dan kebebasan bertindak, yang di redirect negatively dengan manis tuk menghancurkan anak bangsa??, bisakah kita akhiri ini, fenomena bangkai, ketika aib sudah menjadi tak tabu dan tersimpan lagi??.

Dunia terus saja bergerak ke arah yang akut, bahkan terlalu akut atau jika ia bisa berbicara mungkin ia kan mengadu pada Rabb-nya tuk melaporkan kebobrokan yang tak masuk di akal ini. Lalu satu region yang sedang memperbaiki hukum syariahnya, dikejutkan ketika generasi penerusnya melepas jilbab tuk melenggang di catwalk , lalu terpilih sebagai PUTRI BLA…BLA..BLA mengatur senyum pongah seolah-olah telah mengharumkan bangsa padahal sang penyelenggara sedang mempersiapkan suatu kejutan pelepasan aurat yang lebih akut di kontes berlevel internasional, apa-apaan ini????, mungkin masih dia yang muncul ke panggung sebagai representasi kegagalan tarbiyah keluarga di region serambi makkah itu, mungkin generasi-generasi akut lainnya masih tersimpan di beberapa tempat yang kuharapkan semakin berkurang bukan bertambah. Biarkan kita menjadi region “Role Model” bagi negara ini dan dunia suatu hari nanti. Biarkan kami menawarkan Qanun, lalu biarkan syariah itu tumbuh lagi, boleh kan???.

Dunia terus saja bergerak, mereka kehilangan syaikh tarbiyah, mereka kehilangan syaikh-syaikh kontemporer, namun jangan harap islam kan runtuh, karena terus saja dunia masih eksis dan stabil memproduk para pemikir islam yang gemilang. Seolah-olah di kegelapan yang sangat gelap di dunia sekarang ini, masih muncul secercah sinar yang menguat tuk bergerak me-reset ulang akhlak bangsa.

Lalu pada saatnya, jika masyarakat umum bertanya padamu, kapankah kemakmuran, kedamaian dan kesejahteraan ini kan kembali???, jawab saja, “JIKA KITA KEMBALI SEUTUHNYA KEPADA DINUL ISLAM, AGAMA KITA”, lalu kita re-apply seluruh kegemilangan para assbiqunal awwalun dalam menyusun peradaban terbaik yang pernah ada, Islam Civilization. Lalu muncul lagi Umar baru, Ustman baru, Abu bakar baru, Ammar baru, Ali baru, Sa’ad baru, Bilal baru serta para tokoh-tokoh lain yang didamba syurga.

Wallahua’lam

K

Qolbu Explosion, Brain StretchingNovember 4, 2009 4:54 am

Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.

Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..

Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang  banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.

Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.

Wallahua’lam

K

Qolbu ExplosionOctober 27, 2009 2:43 pm

Diri boleh saja meminta, namun hasil ada padaNya..

Diri boleh saja berusaha, namun titik akhir ditentukan olehNya..

Pahit olehku, belum tentu pahit olehNya…

Mungkin pahit olehku, menjadi bekal kemanisan di kehidupan berikutNya…

Wujud tak selalu menenangkan, karena ghaib yang satu senantiasa mengisi kekeringan hati…

Cinta padaNya, kan menggetarkan arasy sepanjang 50.000 tahun perjalanan…

Oh indah ketika cinta itu berbalik, berupa berkah ketenangan lagi kecintaan mutlak padaNya,

Bergantung padaNya lalu bersyukur dan bersabar untukNya…

Akulah yang terus berusaha ber-TAWAKAL, walaupun si dhaif ini tak punya apa-apa selain pinta pada Rabb-nya..

-K in Indirect deskripsi akan ketawakalan-

Oct, 27 2009

Qolbu Explosion, Brain StretchingOctober 18, 2009 6:24 am

Di masa-masa 80 hingga awal 90an adalah masa-masa pembentukan pola hidupku, bergerak mengikuti arah angin terkadang terhenyak dalam perputaran bumi yang seakan tak pernah lelah. Masa-masa kecil itu mengantarkanku pada satu masa dimana ada wujud keindahan yang sangat unik dalam masa-masa kecil, melupakan kemarahan cukup dengan mengulurkan tangan lalu melenyapkan trauma cukup dengan tangisan, terisak-isak sejenak lalu jika ibu dan ayah menghampiri dan mengelus-elus punggung dan bertutur tenang dan lembut tuk mendiamkan si anak, lenyap sudah rasa takut yang ada. Seakan-akan semuanya tersimpan dalam temporary memory pada satu sisi, namun yakinku sebenarnya masa-masa itu telah ter-mirroring dengan fantastik di memory long life kita, sungguh luar biasa sehingga membuatku bisa membayangkan masa-masa itu lagi.

Masa-masa kecilku dihabiskan dengan canda,tangis lalu pembelajaran di sekolah. Seakan terlalu kaku memang, namun dalam tiga hal itu berisi keindahannya. Canda dan bermain dengan teman-teman sepulang sekolah, menendang bola plastik, mengelir buku gambar, menonton kartun plus disuapi dikala makan siang tiba, merupakan rutinitas kami, para anak kecil. Tak jarang ada pemberontakan mini, dariku kala itu untuk tidak mau sekolah, malas dan lain-lain. Apalagi dulu kami sering makan ikan tongkol goreng, maaf saja sifat selektifku bisa merasakan yang mana bagian ikan yang enak atau tidak, lalu cukup memakan bagian yang enaknya saja, atau bisa dibilang ini sebagai teknik "selektif namun mubazir". Pada masa-masa itu, azan yang terdengar dari musholla berbentuk balee itu selalu kutunggu, ada semacam ketertarikan tuk berkumpul dan shalat berjama’ah di suasana maghrib yang sejuk, mengantarkan kita pada malam yang hening. Dulu peci andalanku adalah peci bulat berwarna merah dari ayahku, tiap aku bergegas ke masjid pasti kusematkan ia di kepala.

Secara tak sadar ternyata pola-pola kehidupan di masa awal kehidupan merupakan "extended pattern" di masa-masa berikutnya. Sederhananya, jika kita tinggal dan melahirkan anak-anak kita di tempat yang gaduh, penuh ketidak toleransian, penuh dengan manusia-manusia acuh lagi bangga akan keacuhannya yang mereka kira akan melegenda, lalu ada lagi ketidak pekaan akan lingkungan dan perhatian "first class" bagi sang anak, sudah barang tentu jika kau menutup matamu sejenak dan membayangkan akan jadi apa anak itu ketika dewasa, kau sudah bisa membayangkannya, terlalu mudah untuk diprediksi. Namun sebaliknya, para anak-anak yang diasuh dengan perhatian yang luar biasa, parenting yang berkualitas, penjagaan lingkungan yang protective dan memiliki benih-benih persaudaraan disana, lagi-lagi jika kau pejamkan matamu, kau takkan bisa membayangkan jadi apa anak itu, karena mereka di masa depan akan menjadi manusia-manusia yang bervariasi kehidupannya, namun pada intinya mereka kan jadi orang "yang diteladani orang-orang disekitarnya", mungkin jadi Praktisi atau ilmuwan atau social leader dan jenis-jenis lainnya yang menggebrak kebobrokan moral.

Sudah barang tentu, mengapa kita perlu memperhatikan masa kecil, karena ketika masa kecil itu berbekas sangat dalam di hati, seakan ada perisai yang melakukan "strong defense" dalam diri agar tidak terlalu jauh dalam kemaksiatan. Orang-orang yang mampu menginterpretasikan keinginan orang tuanya dengan prestasi lalu orang-orang yang ingin berjasa bagi negaranya dengan sisi implementatif, bukan hanya berteriak akan prinsip ideologi namun miskin pemahaman, lalu ketika ada angin badai yang berhembus para manusia "yang menganggap dirinya loyalis" namun kosong ilmunya, akan terbawa oleh badai dan tak kembali lagi, terlalu kering kerontang pendirian mereka.

Dunia selalu identik dengan rutinitas, sungguh menyedihkan bagi para manusia yang melupakan perisai masa kecilnya, jika hanya kehidupan ini digunakan untuk menuntut kekuasaan semu, jabatan semu dan marketing strategy semu. Lalu parahnya keimanan, kewajiban iman dan rekan-rekannya digadaikan seluruhnya. Alhasil para manusia terus saja menjalankan rutinitas dunianya tanpa ada masa jeda instrospeksi tanpa ada masa kilas balik akan tumbuhnya keimanan dalam diri, karena hati mereka tak pernah hidup. Sehingga sampai-sampai para penggoda serta mitra utama para manusia bernama setan, tak perlu lagi menggoda mereka, karena hati mereka tak ada "fundamental pattern" yang mengajak mereka pada kebaikan, lalu para setan itu hanya terbahak-bahak tanpa melakukan apapun.

Sudah sepatutnya, jika ingin membangun lagi zaman-zaman emas pemikiran yang dilebur dengan kedekatan dan dependensi penuh pada prinsip ketuhanan, diperlukan pembangunan akhlak sedari kecil lalu upaya-upaya "upgrading dan releasing version" dari penyempurnaan akhlak tiap insan, kan berjalan dengan apik, terkoordinir lagi fantastik.

Wallahua’lam

Qolbu ExplosionOctober 10, 2009 3:47 pm

Sudah cukup masa-masa yang membuatku terkejut dan mengumpat para manusia "KTP oriented" yang mencap dirinya islam tp kosong hatinya, karena sudah saatnya orang-orang yang tenang hatinya yang mengejutkan dunia…

lalu mengisi lagi kekeringan hati, bagi yang kering hatinya, bagi yang lemah pendiriannya..hah…

Religi, Qolbu ExplosionOctober 3, 2009 5:57 pm

Fiuhhh sudah 00.25 mata ingin tertutup, beberapa sindiran halusnya mendatangiku agar segera menutupnya, kannn sudah malam…

Tapi beberapa hari ini ku coba memikirkan beberapa orang besar dan seperti apa sebenarnya bagaimana mereka bisa menjadi besar. Dimana zaman bukan menjadi tembok kemasyhuran mereka, karena mereka dikenang sepanjang masa. Terkadang digubah dalam syair indah, digoreskan dalam kitab suci lalu menjadi hikayat penyemangat dan ketenangan bagi yang membutuhkannya. Namun seiring dengan munculnya orang-orang besar, pastilah ada para pemegang peran antagonis di tiap zaman, mereka ada pula yang masyhur namun ada pula namanya tak ingin lagi didengar oleh bumi, karena kebobrokan etikanya pada ilahi rabbi. Aku khawatir para pemuda-pemudi yang tenggelam dalam air pergaulan di depan seekor hiu itu, sesungguhnya mereka tak tahu bahwa dalam seketika adaptasi pergaulan mereka bisa membuat mereka ditelan bulat-bulat oleh seekor hiu. Semuanya berdasar pada ketidaktahuan ummat kan?, lalu siapa yang bertanggung jawab untuk merubah visi ummat yang setengah bahkan seperempat perihal agamanya, yang puasa hanya menahan lapar dan haus saja, lalu menganggap ikhtilat sebagai kultur modern dan termaafkan, selanjutnya ketika ketabuan yang dijaga oleh orang terdahulu diluapkan dengan "gila" dan jadilah zaman menjadi zaman pengekspos bangkai (para pakar aib saudaranya). Siapa yang bertanggung jawab??, haahhhh???

Sebuah pertanyaan retorika sudah semestinya menjadi retorika, tak perlu dijawab kan?, namun para orang-orang besar, mereka itulah yang menjawab sebuah retorika zaman, yang miris ketika zaman dikoyak oleh paham atheis lalu keduniawian dan pada akhirnya menghilangkan kesadaran akan adanya eksistensi sang pencipta..sungguh miris sekali.

Suatu malam, Khadijah RA gelisah melihat Rasulullah terus saja menangis di tengah malam gelap gulita, ia senantiasa berkomunikasi pada Tuhannya perihal ummat, perihal pengembanan risalah. Khadijah pun bertanya, ya suamiku sudah cukup kau beribadah pada ALLAH malam ini, namun Rasulullah menoleh dengan ketenangan khas para anbiya, Ya khadijah masa istirahat sudah lewat…Ternyata orang-orang besar mengurangi istirahatnya lalu memikirkan orang-orang di sekelilingnya.

Beberapa tahun setelahnya, Sahabat nan salih, Abdullah bin umar didatangi tetamu jauhnya, negeri Persi (Iran). Ya abdullah bin umar ini ada oleh-oleh untukmu, sejenis ramuan dari persi untuk melancarkan pencernaan. Namun Abdullah bin umar, anak dari khalifah masyhur "Umar Bin khattab RA" hanya tersenyum, bagaimana aku memerlukannya?, aku tidak pernah makan hingga kenyang bagaimana aku bisa bermasalah dengan pencernaanku?, ternyata orang besar pun tak tamak dan berlebihan dalam meladeni kebutuhan makannya, mereka bahkan lebih sering berpuasa.

Bagaimana seorang utsman bin affan seorang kaya di zaman awwal islam, senantiasa ditawari oleh rasulullah untuk menikahi anaknya. Pastinya ada kekhususan akhlak pada dirinya, sehingga ada pada posisi spesial di hadapan Rasul dan Tuhannya. Ternyata orang besar bukanlah orang yang "biasa-biasa" saja, mereka memiliki keunikan sehingga orang menyenanginya.

Asiah berbeda keyakinan dengan suaminya yang menobatkan secara sepihak dirinya sebagai tuhan. Tak ada ketakutan pada diri asiah tuk membatalkan keimanannya kepada Tuhan yang Esa pencipta langit dan bumi. Padahal suaminya seorang antagonis termasyhur dan terbesar yang senantiasa diulang-ulang kisahnya dalam Al-quran agar dijadikan sebuah pelajaran, siapa lagi kalau bukan Fir’aun. Ternyata orang besar tidak labil dalam mempertahankan sebuah keyakinannya, walaupun ia berada di depan seekor singa yang kelaparan, ketahanan keyakinan.

Pada generasi awal tak terhitung jumlahnya orang-orang baik yang senantiasa menginspirasi, asal kau tau kisah mereka tak akan usang karena kemaksiatan, fenomena sosial dan tetek bengeknya hanya berdasar pada tujuan hakiki setan tuk mengajak manusia agar menemani mereka di neraka kelak, itu saja. Jadi tak ada yang usang dalam sebuah kisah masyhur, kau perhatikan itu anak muda agar kita tak terlalu jauh menyimpang lalu tak ingat bahwa kita senantiasa meminta kepada ALLAH , agar ditunjukiNya jalan yang lurus…ya jalan lurusss…

Wallahua’lam

K

 

Qolbu ExplosionOctober 1, 2009 2:59 pm

Tangisan pasti akan kering, sedih suatu saat akan diliput dengan sebuah kegembiraan walau ia datang belakangan. Kekuatan itu tidak serta merta bangkit karena kita telah kuat sejak awal, namun kekuatan lahir karena kita pernah ditempa..ditempa lalu ditempa lagi.

Seiring dengan penempaan dari sang khalik, manusia menyalahkangunakan kesempatan instrospeksi menjadi sebuah blunder akhlak. Keyakinanku yang dalam, tangisan-tangisan saudara kita di tanah minang akan berbuah kebaikan di masa datang, agar tanah minang terus melahirkan generasi-generasi sekelas Muhammad Hatta sang engineer kemerdekaan, lalu Ulama kharismatik sekelas Buya hamka. Namun keyakinanku pun akan ada saja manusia-manusia perusak peradaban yang senantiasa hadir layaknya benalu di taman bunga nan harum. Para manusia benalu ini seringkali tak tau pelajaran dibalik bencana/ujian, kau lihat saja setahun kemudian..para benalu akan terus menjadi benalu. Namun generasi yang berakhlak haruslah berkembang menagalahkan pesatnya benalu.

Siapa benalu, analoginya mudah saja, kau tanya saja pada dirimu, apakah hari ini kau mengingat ALLAH yang menciptakanmu???, kalau tidak ATAU bahkan kau atheis bermodal akal tanpa filtrasi, kaulah benalu yang kumaksud.

Namun jika bencana/ujian hadir, ada lafadz yang mengalir deras tersebut di lidah para insan..istighfar yang terlantun dalam tangisan, semoga keturunan2mu lah yang sepatutnya menjadi taman bunga kehidupan kelak. Agar mengharumi kembali akhlak para manusia…

Saudara2ku di Padang, salamku untukmu…izinkan aku menangis melalui jari-jari yang bergerak di keyboard ini, agar ada keyakinan dan keteguhan bagi kita semua, tuk membangun kembali infrastruktur fisik lagi ruhani…

Wallahua’lam

K

Qolbu ExplosionSeptember 30, 2009 3:13 pm

Temans, tidak sulit melihat jompangnya akhlak…

Malam ini di stasiun berlatar bintang, para jin sedang memanas-manasi manusia untuk menari dan tertawa terbahak2 dan tak perlu, namun di 2 stasiun televisi dengan latar "news oriented", sedang melaporkan keharuan gempa 7,9 di Pariaman dan sekitar padang pada umumnya…

Fiuhh…Terlalu jompang, namun biar Rabb yang menyelesaikan, karena tak ada dalam islam meminta keburukan manusia lainnya dalam do’a kita kan??, layaknya sa’ad yang menyerahkan "kebobrokan moral seorang arab" kepada ALLAH, lalu seekor unta keluar tergesa-gesa mengejar sang manusia bobrok hingga sang unta menginjak-injaknya hingga tewas…sa’ad hanya menyerahkan kepada Rabb, dan benarlah Rabb menginginkan si bobrok menjadi contoh bagi makhluk lainnya…

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionSeptember 18, 2009 11:50 pm

Sudah sekitar 29 hari ada tamu agung yang hadir di relung ku dan kau. Ia memberikan ketenangan dan stimulasi ruh yang tangguh tuk terus eksis dalam lingkaran ibadah. Mungkin kau di pojok sana berqiraatul quran lalu mungkin aku sedang membaca di rumah sebuah buku pilar-pilar asasi. Tamu ini terlalu manis tuk ditinggalkan, karena 2 bulan sebelum ia hadir jutaan manusia meminta disampaikan padanya, artinya inilah penantian, suatu kerinduan yang lagi-lagi qalbu dan ruh yang sangat merasakannya. Keberkahan ditunjukkan dengan pelipatgandaan amal lalu sunnah terhitung wajib serta tilawatil quran yang disimak langsung oleh Jibril Alaihissalam. Ada ketenangan yang tak biasa, ada proteksi diri yang terlalu utuh agar nafsu te-reduce  perannya karena aliran darah tak lagi ditemani setan-setan yang dibelenggu kali ini.

Guratan asa di lorong yang sempit penuh sinar, lantunan request doa yang tak pernah ditolak bersama tetamu agung ini. Karena tak ada keluhan sekalipun dari sistem Ilahiah dan langit ketika mendapatkan seorang hamba dengan shaum yang utuh menengadahkan tangan sembari melantunkan do’a yang itu2 saja namun ada secercah harapan baru karena dia, sang tetamu. Mustajab doa, itulah satu reason yang diperuntukkan bagi kau dan aku yang meminta, karenanya ku tak lupa terus melantunkan doa sekuensial yang bertumpu pada ridha dan persetujuan sang khalik akan semuanya, karena ku sadar doa-ku sedikit berat akan sebuah konsiderasi merubah peradaban yang dicita-citakan.

Yang pasti bersama tetamuku tahun ini, aku lebih merasakan satu pola terstruktur bersamanya karena tarawih bersambung witir bersamanya tahun ini terasa lebih meresap, karena manajemen waktu dan setting yang kusengaja ; fokus akhirat bukan rutinitas dunia bersamanya. 2 kali berdiri dalam posisi terdepan ketika tarawih plus 1 dalam qiyam al-lail serta sebiji tausyiah ramadhan di kampung tercinta kuharap menjadi satu titik awal sebuah kekuatan baru bersama tamu agungku ini. Karena kuingin lebih berguna dalam masyarakat, menyebar kekuatan islami yang menenangkan ketika diingat.

Hari ini tetamu agungku, satu langkah kakinya telah keluar dari rumahku ia berkemas tuk kembali, syawal telah menjemputnya. Ku panggil ia sejenak agar tak pulang cepat-cepat namun ia hanya tersenyum tak memberikan asa yang jelas di tahun berikutnya, apakah ia kan mengunjungiku lagi atau sang khalik yang memanggilku. 

Shubuh yang sejuk tak terlewat, kucoba lagi tuk mengangkat kedua tangan menengadah ke langit..satu pintaku di akhirnya, agar aku bisa bertemu lagi dengan si dia, tetamu agungku, Ramadhan mubarak…

Wallahua’lam

K