Classical MomentAugust 17, 2008 3:16 pm

Classical moment on 1990an…

Peukan penayong adalah salah satu pasar tradisional di Banda Aceh, yang merupakan salah satu pusat perdagangan bahan rempah, sayur dan lainnya. Dulu sekitar tahun 90an, ayah dan ibuku beberapa kali tiap akhir pekan pasti mengajak kami tuk berbelanja disana. Maklum saja, kalau di banda, kemana-mana dekat, jadi abis pulang sekolah terkadang ke peukan penayong tuk membeli sayuran, ikan dan lain-lain untuk kebutuhan selama seminggu/lebih.

Jika sudah tiba hari libur panjang/tanggung begini, sering mengingat masa lalu nan "tak terlupakan", entah kenapa atau ini memang chemistry yang terus melekat ke setiap anak "rantau"..hikss…

Sepulang sekolah, sekitar pukul 13an, ayah dan ibuku pasti sudah menunggu di lapangan Blang Padang, biasanya kami sudah hafal dimana ayah biasa memarkir mobil dinas. Tetapi tunggu dulu, abis bel pulang berbunyi, harus liat kantong kanan, ups lalu liat kantong kiri..kalau ada sisa uang jajan, langsung menuju warung terdekat untuk beli makanan ringan seadanya, baru menuju mobil. Ayah dan ibu hanya bisa menjemput di hari Sabtu, karena pada hari itu ayahku libur, inilah momen rutin kami untuk "live request", pa makan siang dimana hari ini?? . Biasanya sebelum atau sesudah makan siang itulah, ibuku sering mampir ke peukan penayong. Peukan/pasar penayong selalu ramai, terutama di pagi hingga menjelang sore, ibuku biasanya "meminta" salah satu volunteer untuk menemaninya menembus peukan penayong, kadang aku atau abangku yang masuk ke peukan/pasar bersama ibu, sedangkan ayahku menunggu bersama adikku di warung kopi depan.

Yang paling sulit dilupakan adalah, ketika itu adalah masa dimana aku sangat menyukai dan mengoleksi poster-poster pemain bola, sampai-sampai dinding kamar rumah seukuran 2X4 meter pernah dipenuhi dengan poster-poster mereka, sebut saja "david siamang, ups david seaman" kiper kumisan andalan arsenal dan banyak lagiiii…nah kalau sudah berputar-putar di peukan penayong, ada satu pojok tempat jualan sayur yang di dinding-dinding atasnya tertempel poster-poster pemain bola juga, tapi uniknya poster-poster tersebut adalah pemain yang berada satu generasi sebelumnya, sebut saja ruud gullit, dkk. Nah biasanya kalau ibu sedang melakukan "bargaining process" / tawar menawar harga dengan penjual, aku melihat-lihat ke atas dinding dan menghafal nama-nama bintang sepak bola itu yang posternya sudah terlihat agak kumal, maklum saja kan pasar….tapi inilah salah satu perjalanan tak terlupakan di peukan penayong.

Peukan penayong ini memang komplit, tiap akhir pekan pastinya ada saja makanan yang kami minta tuk dimasak, nah untungnya bahan-bahannya sudah tersedia semua di peukan/pasar ini, dan ibuku sudah terbiasa mencatat apa yang ingin dibeli, di selembar kertas kecil, jadi tinggal dicocokkan saja apa yang belum terbeli…so don’t reduce or change traditional market  role please?

Jika sudah komplit belanjaan di hari itu, beberapa meter di depannya pun ada sentra pasar ikan penayong, nah kalau disini khusus untuk aneka ikan, sebut saja ikan merah, cumi ( noh ), udang (udeung), ungkot bileh ( ikan bilis ) yang enak untuk dipepes, krang ( kerang ), cue ( sejenis keong yang biasa ada di sungai dangkal/khas masakan awak lamno..hehe ) dan masih banyak lagi. Nah di sekitar pasar ikan ini pulalah ada satu warung yang menjual telur penyu yang kalau direbus, ueenaaaaakk banget…kalau orang aceh bilang "mangat thatt….". 

Hari sabtu memang hari dimana anggota keluarga bisa komplit dan berjalan-jalan, belanja bahan pokok dan makan siang bersama. Namun sebagai anak-anak pastinya hari sabtu pun sebagai ajang minta ini dan minta itu, jadi tidak heran kadang ada yang ngambek sepulang ke rumah emoticon .

peukan penayong menyimpan memoria, sehingga sulit tuk dilupakan, apalagi bersama ayah dan ibu serta keluarga tercinta..

andai saja harga tiket pesawat pulang pergi ke banda sama dengan harga naik labi-labi…meusyen lon keu poma dan ayah mungken ka terobati…

Classical MomentJuly 26, 2008 2:03 pm

Last 5 years, I always communicating by him, touching, making reminder, writing note..and many more. Today, July 26th he’s gone, My C650, my GSM handphone that I’ve used since 2004. At the first plan, my c650 should be retired on the beginning 2009, because ideal time of "mobile phone" is 5 years. But he’s gone faster than I expected, when I do not back up the note, contact number and reminder yet. ugghhh.. Many unforgottable memoria, that I can’t erase with you, when the another people often change their mobile type, I always try to make you survive. But my common mistake has made you go forever..

good bye my C650..2 word for this accident, "astagfirullah" and "alhamdulillah". 

suspicious gone place : B04 / 95 public transportation [ no theft, completely my self mistake ].

IT Geek :::, Classical Moment, senda gurauJuly 16, 2008 3:00 pm

Pertengahan Juli 2007 -

Beberapa asisten lab ( aslab ) ketiban rejeki atau sial ya?, berbeda-beda sih cara interpretasinya. Menyambut para bapak-bapak dari BAN ( Badan Akreditasi Nasional ), para aslab ketar-ketir karena harus membuat modul ajar tiap mata kuliah IT yang didelegasikan oleh para dosen. Seperti biasa, ada yang bersuara miring [ itu cuma klo di lab & lagi gak ada dosen ], tapi ada juga yang adem karena ketiban jadi PJ seluruh modul..heheheemoticon

Tibalah satu hari dimana keesokan harinya seluruh modul harus dikumpulkan, dari pagi hari seluruh aslab sudah duduk di depan komputer masing2 di lab, ada yang mencuri start di pagi hari bahkan dari tengah malam, namun seperti biasa ada pula yang mengambil peran antagonis, yaitu telat memulai , telat selesai, alih-alih strategi kura-kura berjalan. Yang menarik adalah, ketika para aslab, baru menyelesaikan sekitar 60%, salah satu dari mereka ( Red. yang memulai pembuatan modul dari tengah malam ), dengan bangga dan nada mengolok-olok sambil bercanda, "ayoo, buru-buru..yes gw udah beres, lo buruan woiiii". Sambil berjalan tegap, menggenggam flash disk berisi soft "modul ajar" yang telah selesai, dia melenggang naik ke ruang dosen.

Dari tempat duduk masing-masing, para aslab yang belum kelar menyelesaikan tugas, memohon dengan keluguan plus candaan…"ntar aja dit, bareng ngumpulinnya…!"sang aslab menyambar permohonan teman2nya : "gw duluan ya!!!!"

Beberapa menit berlalu, aslab tadi tiba-tiba muncul lagi dari daun pintu utama lab.dasar, dengan wajah murung dan senyum yang dipaksakan, bergumam "sialll, gw dapat modul baru yang harus dibikin…aduh gimana nih@#@$@%@^@"emoticon

Sorak sorai para aslab tahun "tua" tertawa terbahak-bahak..hahahahahahahaaaaaa…[ senyum kepuasan, yang berujung karma ]

haaahahahaha….emoticon

sedangkan aslab tahun "muda", tawanya sedikit tertahan, ntah atas dasar apa

setelah cibiran dan candaan, suasana mulai tenang kembali dan teng..tong..teng..tong, salah satu aslab angkatan "tua" lainnya panik bukan kepalang, 70% modulnya yang ia langsung auto save ke flash disk yang masih tertancap di PC, tiba-tiba lampu indikatornya tak berkelip lagi…dag..dig..dug…waduh..waduh gimana nih?$%$^#$^$# flashdisk gw gak kebaca, mana belum di save di hardisk lagi, waduh..waduh..

Karma berujung derita, terpaksa pulang ke kosan lagi, dan memulai dari prosentase 30%..hikssss..

Karma mengolok-olok temankah???emoticon

My Opinion Only, Classical Moment, Qolbu ExplosionJuly 13, 2008 3:40 pm

waktu pasti bergerak, namun hasil pergerakan kita sendiri, tentunya kita yang menentukan. Apakah hari ini akan bergerak ke arah kanan, kiri atau "keep" statis aja!, itulah pilihan.
Lalu ketika telah bergerak seiring berjalannya waktu, kita dituntut untuk memilih lagi, dimana pilihan-pilihan itu semakin lama semakin mendetail, baik dari "how to adapt, how to interact, how to open the conversation, how to manage something, dan how to - how to lainnya".
Yang celakanya, ketika kita tidak menyadari bergeraknya waktu telah merubah sikap terlalu jauh dari yang kita impikan dulu, mungkin itu yang menyiksa  batin kita. Karena batin sebenarnya sedang menunggu mindset kita untuk mempolakan diri kita menuju mimpi yang telah kita pupuk dahulu.
ketidaksadaran, unconsious moment, ya itulah yang sangat berbahaya, kita terlanjur mengikuti arah waktu, tren, lingkungan dan pergaulan, tanpa pernah memfiltrasinya apakah ini menuju kebaikan atau keburukan. Maka tak heran, jika ada manusia yang berubah drastis perilakunya ketika berada di satu zone yang baru saja ia datangi, lalu tanpa sadar, flow kehidupan telah membawanya ke satu titik unreachable tuk mengembalikan "mindset" yang ia cita-citakan dahulu.

waktu memang berwajah 2, kadang ia mengerikan namun terkadang ia sangat menggembirakan. Jika kita bersahabat dengan waktu dan sering berinteraksi dengannya, waktu kan senantiasa mengingatkan kita…

maksud hati bertanya, "mbak bisa gak jadi jaenab lagi?", seorang pejalan kaki bertanya kepada maudi koesnaidy dengan wajah penuh harap, agar watak jaenab bisa menjadi "watak wanita" pada umumnya di Indonesia dengan keluguan layaknya bunga desa…

fiuhhhh…


K

Classical Moment, senda gurauJune 26, 2008 4:36 pm

Pak numpang nanya, klo aye mao ke manggarai kudu belok mana ye?

jawab : ntuh [sambil nunjuk patung ], lu belok kiri aje tong!

 

sumber : http://tappang.files.wordpress.com/2007/11/mnc-pancoran.jpg 

Religi, My Opinion Only, Guruku, Classical MomentJune 12, 2008 3:19 pm

"Sudah 5 tahun, ketika derap langkahku yang cepat dan tak melihat itu…terusik oleh sapaannya..,influencer sejati"

Gundah gulana di sore hari, tak terik, tapi bulan sudah menampakkan kedigdayaan tuk menyingkirkan matahari di hari itu. Sepulang dari kampus, ku masih bimbang, apa itu IT, teknik informatika, komputer, bahasa pemrograman, apa sihhh?. Aku masih gundah, dulu aku hanya memegang laptop ayah dengan memencetkan tombol huruf satu per satu dan bermain WordArt di Microsoft Word lalu mencetaknya dan hatiku sudah gembira karena ku baru saja memegang komputer, itu saja.

Sore itu, ketika para muda-mudi berlabel maba alias mahasiswa baru mencari sosok sejatinya dan fixed pattern-nya dalam dunia "pemikiran", kampus..ku bertemu dengannya, sang influencer sejati. Sosok gempal dan ada aura yang aneh serta mencurigakan pada gerak-geriknya. Sekilas kulihat lagi, siapa yang memanggilku dari belakang, sekali lagi kulihat dan tak pernah kumelihatnya barang sekali pun di kampus. Jidatnya ada 2 cap hitam, tanda ia memang memiliki satu "unique character" yang jarang dimiliki orang. Lalu kutumpahkan gundah sederhana ini padanya, saya gak ngerti komputer, gimana ya, ntar belajar apa ya di jurusan teknik informatika itu?. Kuyakin logat kental ujung sumatra itu masih berkeliaran di lidahku dan mungkin saja agak sedikit kaku, maklum anak jakarta bermain kata-kata "gue, lo , dong, dang ding dong..apa aja dah, kagak" , tapi kuawali perjalanan di jakarta dengan "saya" dan menginstruksikan abang angkot tuk berhenti dengan "kiri mas"…aneh memang…emang tukang bakso dipanggil mas.

Sang influencer ini mencoba mendengar dan menggunakan gesture khasnya dalam menjawab pertanyaanku, ia bilang : gak apa-apa kok, nanti juga dipelajari di kampus, bahasa pemrograman dan lain-lain, jadi gak perlu bingung. Fiuhhh…sedikit terobati gundah gulana itu, ternyata Teknik Informatika tak merusak mimpiku, bahkan alhamdulillah setahap demi setahap mulai permainan jari ini sudah bermain di beberapa web editor, messenger, de el el alias gak bingung lagiii.

Sang influencer , kusebut ia begitu, bagaimana tidak setelah perjumpaan sesaat itu, "batang hidungnya" ternyata cukup dikenal di kampus, sebagai eks. ketua dan menjabat 2 periode dan cukup disegani di kalangannya. Dan sekali proses membawa aku dan timku secara periodik mendapat bimbingan darinya melalui salah satu program tersohor kampus, Program Kakak Asuh. Disinilah gaya seorang influencer itu semakin kukenal, bagaimana ia menyampaikan satu hal, bagaimana ia mendengar dan menelaah masalah yang kami kemukakan dan bagaimana ia memberikan step-step solusi dengan gesture yang khas itu. Sehingga perjalanan kami sebagai tim, terbentuk dalam rasa kekompakan dan kesolidan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan tim "program kakak asuh lainnya", ini semua tak lepas dari "approaching strategy" yang dilaksanakan olehnya sebagai kakak mentor dan kuncinya adalah menjadi seorang "influencer", dimana dalam kehati-hatian dan melepaskan kata demi kata, ia berhasil mempengaruhi kami sebagai tim, dan pengaruh itu adalah mempengaruhi kami ke jalan yang lebih baik, lebih taat serta lebih meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama.

Aku sangat yakin, untuk menjadi seseorang sepertinya dibutuhkan perjalanan dan memaknai hidup yang lebih dibandingkan orang-orang lainnya, kumelihat ia memiliki tingkat kepekaan dan kepedulian terhadap sesama yang tinggi dan loyalitasnya dalam kebenaran telah membawanya kepada tingkat, bagaimana mengetahui dan merasakan kondisi orang yang ditemuinya. Dan tak ayal, dengan skill "mempengaruhi" ini, juga merupakan teknik ampuh dalam bersahabat dan berada dalam kondisi apapun.

Mudah2an sang influencer ini tetap teguh dalam keloyalitasnya dalam taat, 

Selamat Milad, saudaraku..guru informalku..sang influencer sejati tak kenal medan dan wilayah, ia trus bergerak..

My Opinion Only, Classical MomentApril 25, 2008 2:19 pm

4,5 tahun lalu, skenario hidup tlah mengantarkanku ke Jakarta. Dengan bekal "petualangan" yang terbatas ku sampai disini. Memang skenario itu tak pernah meleset, dan sampailah ku ke gang teduh dan sampai kesini, rumah ini. Keluarga ini merupakan kombinasi sunda-betawi yang ramah dan baik. Dulu waktu pertama kali ku tiba disini, ku masih teringat bagaimana sosok ibu kosku yang energik, kuat dan logatnya sudah bercampur betawi, tetapi jika aris hamidi ( temanku ) sudah "bermain" dengan kosakata-kosakata aneh ; urang, pisan, pada kamana, nginap atuh,eleh-eleh, hade pisan euy ( hah kok kayak slogan pilgub jabar ) … mereka sudah mulai terkoneksi, dan tak dipungkiri kosakata-kosakata aneh itu pun berhamburan, sampai ku tak tau apa yang mereka bicarakan.

Ya, dia merupakan salah satu wanita energik, jangan harap dia bangun kesiangan, karena paling telat pukul 6 pagi, sahut-sahutan bunyi sapu lidi yang bersentuhan dengan rumput dan lantai aspal sudah dimulai. Beliau sekitar 4,5 tahun lamanya berkecimpung sebagai ibu rumah tangga, dengan rutinitas IRT umumnya ; bersih-bersih, ngepel, buat sarapan, belanja, masak, nyuci dan sirkulasi itu terus berputar. Hingga hari ini masih terngiang panggilannya…aliiiiiillll, udah pulang?, air masih ada?, baju kotor mana??

Mungkin ini juga salah satu sebab ku "sulit" pindah, dan memiliki prestasi "tingkat kebetahan" di kos paling tinggi, bersama "abang2 cilegon gang masjid", teman seangkatanku. Ku tau, keikhlasan, kerja keras, santun dan ramah kepada siapapun merupakan sikap yang sudah tertanam dan sulit tuk dihilangkan. Jarang kumendengar ia mengeluh di depan keluarganya, jarang pula ia terkulai lemas dan sakit. Tetapi di balik ketabahannya itu, ia juga memiliki daya juang dan ketahanan dalam hidup. Beberapa bulan lalu, bapak kosku tak bekerja lagi, mungkin ini salah satu cobaan yang telah di skenariokan oleh sang khalik. Tak berlama-lama dengan mengeluh dan bimbang, hingga ia pun memulai inisiatif tuk berdagang. Pukul 3 Pagi sudah terjaga bersama 2 anaknya, tuk memasak dan dijual dipagi harinya. Inilah rutinitas barunya, lelah memang..tapi sekali lagi, ku tak pernah mendengar ia mengeluh di depan keluarganya. 

Lelah..ya suatu saat jika kita menggunakan self power di luar batas, kita akan lemah suatu saat, sudah beberapa hari ini, ia tak berdagang, karena sakit terkena radang tenggorokan. Mudah-mudahan sosok tegar itu bisa kembali sehat dan menjalani rutinitas barunya itu bersama keluarga.

"tapi kutau dan sadar sesadarnya, suatu saat nanti ku harus pergi dari comfort zone ini dan pergi dari ruangan ini, walaupun kenangan dan historika tertanam disini.."

Ku teringat kuotasi Mahatma Gandhi, "Nikmat yang terbesar adalah kesehatan, bukanlah emas dan perak" .

Sosok tegar ibu kosku, membuatku ingin terus berterima kasih atas skenarioNya yang indah..

Doakan mereka ya teman..agar terus tabah dan bersyukur..

Wallahua’lam

My Opinion Only, Classical MomentApril 8, 2008 2:17 pm

Ini bukan masalah konversi biner ke desimal, hexa ke okta ataupun biner dalam mata kuliah mikroprosesor dan pemrograman paralel dengan overflow dan override-nya. Kayak masih ingat aja!!!

Di samping jalan besar, persis di samping wartel yang masih survive hingga 4,5 tahun lebih, disitulah bang jon berdagang nasi goreng dengan gerobak bertuliskan ‘NAsi GoReng Bang Jon’. Dulu waktu aku masih muda, pukul 17.00an, kami sering berpapasan di gang, ia menuju tempat "dagangnya" dan aku sudah terkulai lemas berjalan tergopoh2 dari kampus tuk meraih tempat tidur..

Malam ini, terjadi "hectic conversation", ketika malam tiba :

Me : Pak, nasi goreng satu ya..tambah telor ( dipisah ).

Bang Jon ( BJ ) : wahh..telor udah mahal sekarang, jadi sekarang tambah telor jadi 8000. Sekarang harga telor udah naek..

Me : eeee…boleh deh,,gak papa..emang harga telor sekarang berape?

Bang Jon : 13.500 sekilo, minyak goreng sekilo enam ribu..

Me : oooo, ( respon yang agak berat , karena telor naik, minyak goreng naik, gaji blm naik ?#?$#%>#%# )

Bang Jon : nah sekarang udah pake gas, tuh ( sambil menunjuk tabung gas berwarna ijo itu )

Me : Iya nih pak, sekarang udah pada mahal, mudah2an aja bisa cepat reda ( normal kembali )

…tak tik tek tok..wajan mulai digoyang-goyang, nasi pun digoreng…

Ternyata konversi gas, sudah mulai berimbas pada tiap aspek masyrakat, dengan teknik yang "memang" agak membuat masyarakat umumnya berpikir 2 kali untuk terus menggunakan minyak tanah, karena subsidi yang sudah sangat terbatas..alhasil, dengan kompor plus gas ukuran kecil yang diberikan secara cuma-cuma, mulai digunakan oleh masyarakat pada umumnya.

Hingga bang jon pun mulai terlibat "konversi"


K

Religi, My Opinion Only, Classical MomentApril 4, 2008 2:23 pm

T.Hadi Kamal

Mendapatkan gambar lhoknga after 26th via google, yang disisipkan di posting sebelumnya, dan iringan lagu berformat midi ketika membuka blog, kuingin menulis tentang sahabat.

ya T.Hadi Kamal, sahabatku..

Desir ombak, angin kencang, aspal tak mulus dan suara genset pembangkit listrik komplek..itulah lingkungan kami.

Tak jarang ketika PLN sedang kocar-kacir dengan pemadaman bergilir, kami nyaman-nyaman saja, tetapi sebaliknya ketika genset itu berulah, penduduk secara umum tak merasakan apapun.

Pagi itu, hari minggu, tahun 90an, pukul 06.30 - 10.00 jangan berharap ada satu gerombolan anak kecilpun yang merayap dan bermain sepeda. Mereka pasti sudah bangun, paling telat 6.30 dan berleha-leha di tempat tidur yang empuk, tetap terjaga, dan remote controller di tangan kanan, karena 2 Stasiun televisi swasta sedang beradu rating…Kartun. Jika yang satu iklan, tangan kanan akan sigap memencet tombol satunya, dan terus seperti itu.

Pukul 10.00, synchronize is running, semua anak-anak mandi, bersih-bersih, sarapan..DAN di pojok perbatasan komplek mereka berkumpul. Tak lain dan tak bukan, ceritanya masih sama seperti minggu-minggu sebelumnya, meRe-run apa yang sudah ditonton hari ini. Dan karena menggunakan parabola, tak jarang Dragon Ball di sensor..huuhh…mereka bersorak. Keringat anak-anak remaja ini membasahi baju,mereka bermain, berlari dan melompat karet gelang, dan tak jarang jika sedang musim main gundu/kelereng, tanah melekat bak bedak di lengan dan leher mereka. Itulah anak2 komplek..

Sore menjelang, esok sudah sekolah lagi..eee, apa dasi sudah ada?, celana merah, topi upacara??, eee..besok pagi aja..yang penting PR sudah selesai….zzzzzz….semua terlelap tidur, paling telat pukul 21.00 ketika berita TVRI, ditayangkan serantak di seluruh televisi swasta.

T.Hadi Kamal, parasnya mirip diriku, rambutnya lebih ikal, dan senyumnya sangat indah, gigi atasnya terlihat. Kami hanya berbeda 2 tahun, tapi jika bermain bola, duet ini pasti dipasangkan di depan, untuk mengimbangi abangku yang berpasangan dengan abang T.Hadi Kamal. Di lini belakang ada dek ridha, bayu, dll. Entah berapa tahun formasi ini bertahan, di tiap sore, tepat pukul 4. T.Hadi Kamal, sahabatku ini sangat penyabar, jarang sekali ia terlihat marah, jika marah pun, itu hanya terlihat dari pipi yang agak kemerah-merahan, dan alisnya ia kerutkan, tapi esok harinya, jangan pernah menganggap ia masih terus marah, karena ia sudah melupakan kejadian-kejadian itu.

Di minggu pagi yang tak normal atau di hari libur, kami terkadang bersepakat tuk bermain tenis. Raket seberat 2 Kg, saja sudah membuat tubuh tak seimbang, tapi itu tak menyulutkan semangat, karena Pete Sampras baru saja dikalahkan Richard Krajicek, jadi di hari itu, nama bisa berubah menjadi Pete Sampras-Andre Agassi VS Boris Becker-…( yang pasti bukan Federer ). Lagi-lagi seteru lama bertarung, aku bersamanya melawan duet tua, abangku dan abang T.Hadi ( ampon ).

Setiap hari, kami diliputi dengan olahraga, pergi ke meunasah( musholla ) dan terus bergerak, serta rutinitas sekolah..itulah sirkulasi yang indah.

Hingga, kami harus berpisah, di tahun 99, seiring dengan Gerakan separatis yang sedang menguasai daerah pesisir yang berdekatan dengan gunung, maka untuk sementara komplek dikosongkan. Dan momen ini tak berlangsung lama, tetapi ku tak menetap disana lagi, tapi T.Hadi masih disana..tahun 2004 itulah, tepat tanggal 26, goresan tinta lauh mahfudz menentukan tsunami menjemput mereka..

T.Hadi Kamal dan teman-temanku semua, kutitipkan do’a untuk kalian, ya rabbi berikanlah mereka tempat yang terbaik di sisiMu kelak..amin.

Sahabat masa kecilku, yang periang dan murah senyum itu, tlah dipanggil lebih awal.

"Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul ( Muhammad ), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh ALLAH, ( yaitu ) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman sebaik-baiknya." ( An-Nisa : 69 ).

Draft 250308

K

Classical MomentMarch 16, 2008 10:17 am

Life Cycle is not only for "developing software", Software Engineer Lesson, sort on..but also on our life…

Sebuah undangan dibalut rapih dengan amplop ber-banner kan LDK kampusku dulu..Beberapa hari amplop itu kutaruh di meja, ia berisi suatu undangan untuk mengahadiri "outing program" rutin. Sebenarnya ku sangat ingin menghadiri, tapi apa daya..

Sembari melihat lagi dan lagi, amplop itu masih tergeletak di atas meja, dan akhirnya lagi-lagi kuteringat "masa lampau".. k on the past..

Ku masih teringat dulu, beberapa event yang diadakan, kuterlibat untuk membuat surat undangan kepada alumni-alumni agar menyediakan waktunya untuk hadir di event-event tertentu yang diadakan oleh LDK. Sebagian dari mereka menghadirinya dengan antusias , tetapi ada pula yang berhalangan tuk hadir..itu dulu, ketika ku masih aktif..

dan sekali lagi, memang life cycle akan terus berputar, jika kita jarang tuk me-recall hal-hal indah yang telah didaurkan, maka memoria itu kan sirna seiring waktu.Dan daur itu sekarang telah sampai dimana, aku, seorang "eks" LDK yang mendapatkan undangan, bukan lagi membuat undangan, menyiapkan list alumni, mencari kops surat di lemari bawah sekretariat dan karena terkadang time management ku yang tak teratur, terkadang undangan2 itu ku cetak ketika deadline hampir tiba..

yah..daur itu telah berputar dengan cepat, tak ada lagi membuat undangan, tapi sekarang menjadi mendapat undangan.   

k didn’t wanna back, just recall something that unforgottable..

Wallahua’lam

K