Classical moment on 1990an…
Peukan penayong adalah salah satu pasar tradisional di Banda Aceh, yang merupakan salah satu pusat perdagangan bahan rempah, sayur dan lainnya. Dulu sekitar tahun 90an, ayah dan ibuku beberapa kali tiap akhir pekan pasti mengajak kami tuk berbelanja disana. Maklum saja, kalau di banda, kemana-mana dekat, jadi abis pulang sekolah terkadang ke peukan penayong tuk membeli sayuran, ikan dan lain-lain untuk kebutuhan selama seminggu/lebih.
Jika sudah tiba hari libur panjang/tanggung begini, sering mengingat masa lalu nan "tak terlupakan", entah kenapa atau ini memang chemistry yang terus melekat ke setiap anak "rantau"..hikss…
Sepulang sekolah, sekitar pukul 13an, ayah dan ibuku pasti sudah menunggu di lapangan Blang Padang, biasanya kami sudah hafal dimana ayah biasa memarkir mobil dinas. Tetapi tunggu dulu, abis bel pulang berbunyi, harus liat kantong kanan, ups lalu liat kantong kiri..kalau ada sisa uang jajan, langsung menuju warung terdekat untuk beli makanan ringan seadanya, baru menuju mobil. Ayah dan ibu hanya bisa menjemput di hari Sabtu, karena pada hari itu ayahku libur, inilah momen rutin kami untuk "live request", pa makan siang dimana hari ini?? . Biasanya sebelum atau sesudah makan siang itulah, ibuku sering mampir ke peukan penayong. Peukan/pasar penayong selalu ramai, terutama di pagi hingga menjelang sore, ibuku biasanya "meminta" salah satu volunteer untuk menemaninya menembus peukan penayong, kadang aku atau abangku yang masuk ke peukan/pasar bersama ibu, sedangkan ayahku menunggu bersama adikku di warung kopi depan.
Yang paling sulit dilupakan adalah, ketika itu adalah masa dimana aku sangat menyukai dan mengoleksi poster-poster pemain bola, sampai-sampai dinding kamar rumah seukuran 2X4 meter pernah dipenuhi dengan poster-poster mereka, sebut saja "david siamang, ups david seaman" kiper kumisan andalan arsenal dan banyak lagiiii…nah kalau sudah berputar-putar di peukan penayong, ada satu pojok tempat jualan sayur yang di dinding-dinding atasnya tertempel poster-poster pemain bola juga, tapi uniknya poster-poster tersebut adalah pemain yang berada satu generasi sebelumnya, sebut saja ruud gullit, dkk. Nah biasanya kalau ibu sedang melakukan "bargaining process" / tawar menawar harga dengan penjual, aku melihat-lihat ke atas dinding dan menghafal nama-nama bintang sepak bola itu yang posternya sudah terlihat agak kumal, maklum saja kan pasar….tapi inilah salah satu perjalanan tak terlupakan di peukan penayong.
Peukan penayong ini memang komplit, tiap akhir pekan pastinya ada saja makanan yang kami minta tuk dimasak, nah untungnya bahan-bahannya sudah tersedia semua di peukan/pasar ini, dan ibuku sudah terbiasa mencatat apa yang ingin dibeli, di selembar kertas kecil, jadi tinggal dicocokkan saja apa yang belum terbeli…so don’t reduce or change traditional market role please?
Jika sudah komplit belanjaan di hari itu, beberapa meter di depannya pun ada sentra pasar ikan penayong, nah kalau disini khusus untuk aneka ikan, sebut saja ikan merah, cumi ( noh ), udang (udeung), ungkot bileh ( ikan bilis ) yang enak untuk dipepes, krang ( kerang ), cue ( sejenis keong yang biasa ada di sungai dangkal/khas masakan awak lamno..hehe ) dan masih banyak lagi. Nah di sekitar pasar ikan ini pulalah ada satu warung yang menjual telur penyu yang kalau direbus, ueenaaaaakk banget…kalau orang aceh bilang "mangat thatt….".
Hari sabtu memang hari dimana anggota keluarga bisa komplit dan berjalan-jalan, belanja bahan pokok dan makan siang bersama. Namun sebagai anak-anak pastinya hari sabtu pun sebagai ajang minta ini dan minta itu, jadi tidak heran kadang ada yang ngambek sepulang ke rumah
.
peukan penayong menyimpan memoria, sehingga sulit tuk dilupakan, apalagi bersama ayah dan ibu serta keluarga tercinta..
andai saja harga tiket pesawat pulang pergi ke banda sama dengan harga naik labi-labi…meusyen lon keu poma dan ayah mungken ka terobati…
K