T.Hadi Kamal
Mendapatkan gambar lhoknga after 26th via google, yang disisipkan di posting sebelumnya, dan iringan lagu berformat midi ketika membuka blog, kuingin menulis tentang sahabat.
ya T.Hadi Kamal, sahabatku..
Desir ombak, angin kencang, aspal tak mulus dan suara genset pembangkit listrik komplek..itulah lingkungan kami.
Tak jarang ketika PLN sedang kocar-kacir dengan pemadaman bergilir, kami nyaman-nyaman saja, tetapi sebaliknya ketika genset itu berulah, penduduk secara umum tak merasakan apapun.
Pagi itu, hari minggu, tahun 90an, pukul 06.30 - 10.00 jangan berharap ada satu gerombolan anak kecilpun yang merayap dan bermain sepeda. Mereka pasti sudah bangun, paling telat 6.30 dan berleha-leha di tempat tidur yang empuk, tetap terjaga, dan remote controller di tangan kanan, karena 2 Stasiun televisi swasta sedang beradu rating…Kartun. Jika yang satu iklan, tangan kanan akan sigap memencet tombol satunya, dan terus seperti itu.
Pukul 10.00, synchronize is running, semua anak-anak mandi, bersih-bersih, sarapan..DAN di pojok perbatasan komplek mereka berkumpul. Tak lain dan tak bukan, ceritanya masih sama seperti minggu-minggu sebelumnya, meRe-run apa yang sudah ditonton hari ini. Dan karena menggunakan parabola, tak jarang Dragon Ball di sensor..huuhh…mereka bersorak. Keringat anak-anak remaja ini membasahi baju,mereka bermain, berlari dan melompat karet gelang, dan tak jarang jika sedang musim main gundu/kelereng, tanah melekat bak bedak di lengan dan leher mereka. Itulah anak2 komplek..
Sore menjelang, esok sudah sekolah lagi..eee, apa dasi sudah ada?, celana merah, topi upacara??, eee..besok pagi aja..yang penting PR sudah selesai….zzzzzz….semua terlelap tidur, paling telat pukul 21.00 ketika berita TVRI, ditayangkan serantak di seluruh televisi swasta.
T.Hadi Kamal, parasnya mirip diriku, rambutnya lebih ikal, dan senyumnya sangat indah, gigi atasnya terlihat. Kami hanya berbeda 2 tahun, tapi jika bermain bola, duet ini pasti dipasangkan di depan, untuk mengimbangi abangku yang berpasangan dengan abang T.Hadi Kamal. Di lini belakang ada dek ridha, bayu, dll. Entah berapa tahun formasi ini bertahan, di tiap sore, tepat pukul 4. T.Hadi Kamal, sahabatku ini sangat penyabar, jarang sekali ia terlihat marah, jika marah pun, itu hanya terlihat dari pipi yang agak kemerah-merahan, dan alisnya ia kerutkan, tapi esok harinya, jangan pernah menganggap ia masih terus marah, karena ia sudah melupakan kejadian-kejadian itu.
Di minggu pagi yang tak normal atau di hari libur, kami terkadang bersepakat tuk bermain tenis. Raket seberat 2 Kg, saja sudah membuat tubuh tak seimbang, tapi itu tak menyulutkan semangat, karena Pete Sampras baru saja dikalahkan Richard Krajicek, jadi di hari itu, nama bisa berubah menjadi Pete Sampras-Andre Agassi VS Boris Becker-…( yang pasti bukan Federer ). Lagi-lagi seteru lama bertarung, aku bersamanya melawan duet tua, abangku dan abang T.Hadi ( ampon ).
Setiap hari, kami diliputi dengan olahraga, pergi ke meunasah( musholla ) dan terus bergerak, serta rutinitas sekolah..itulah sirkulasi yang indah.
Hingga, kami harus berpisah, di tahun 99, seiring dengan Gerakan separatis yang sedang menguasai daerah pesisir yang berdekatan dengan gunung, maka untuk sementara komplek dikosongkan. Dan momen ini tak berlangsung lama, tetapi ku tak menetap disana lagi, tapi T.Hadi masih disana..tahun 2004 itulah, tepat tanggal 26, goresan tinta lauh mahfudz menentukan tsunami menjemput mereka..
T.Hadi Kamal dan teman-temanku semua, kutitipkan do’a untuk kalian, ya rabbi berikanlah mereka tempat yang terbaik di sisiMu kelak..amin.
Sahabat masa kecilku, yang periang dan murah senyum itu, tlah dipanggil lebih awal.
"Barang siapa yang mentaati Allah dan Rasul ( Muhammad ), maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh ALLAH, ( yaitu ) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman sebaik-baiknya." ( An-Nisa : 69 ).
Draft 250308
K