Qolbu Explosion, Brain StretchingNovember 4, 2009 4:54 am

Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.

Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..

Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang  banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.

Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.

Wallahua’lam

K

Qolbu Explosion, Brain StretchingOctober 18, 2009 6:24 am

Di masa-masa 80 hingga awal 90an adalah masa-masa pembentukan pola hidupku, bergerak mengikuti arah angin terkadang terhenyak dalam perputaran bumi yang seakan tak pernah lelah. Masa-masa kecil itu mengantarkanku pada satu masa dimana ada wujud keindahan yang sangat unik dalam masa-masa kecil, melupakan kemarahan cukup dengan mengulurkan tangan lalu melenyapkan trauma cukup dengan tangisan, terisak-isak sejenak lalu jika ibu dan ayah menghampiri dan mengelus-elus punggung dan bertutur tenang dan lembut tuk mendiamkan si anak, lenyap sudah rasa takut yang ada. Seakan-akan semuanya tersimpan dalam temporary memory pada satu sisi, namun yakinku sebenarnya masa-masa itu telah ter-mirroring dengan fantastik di memory long life kita, sungguh luar biasa sehingga membuatku bisa membayangkan masa-masa itu lagi.

Masa-masa kecilku dihabiskan dengan canda,tangis lalu pembelajaran di sekolah. Seakan terlalu kaku memang, namun dalam tiga hal itu berisi keindahannya. Canda dan bermain dengan teman-teman sepulang sekolah, menendang bola plastik, mengelir buku gambar, menonton kartun plus disuapi dikala makan siang tiba, merupakan rutinitas kami, para anak kecil. Tak jarang ada pemberontakan mini, dariku kala itu untuk tidak mau sekolah, malas dan lain-lain. Apalagi dulu kami sering makan ikan tongkol goreng, maaf saja sifat selektifku bisa merasakan yang mana bagian ikan yang enak atau tidak, lalu cukup memakan bagian yang enaknya saja, atau bisa dibilang ini sebagai teknik "selektif namun mubazir". Pada masa-masa itu, azan yang terdengar dari musholla berbentuk balee itu selalu kutunggu, ada semacam ketertarikan tuk berkumpul dan shalat berjama’ah di suasana maghrib yang sejuk, mengantarkan kita pada malam yang hening. Dulu peci andalanku adalah peci bulat berwarna merah dari ayahku, tiap aku bergegas ke masjid pasti kusematkan ia di kepala.

Secara tak sadar ternyata pola-pola kehidupan di masa awal kehidupan merupakan "extended pattern" di masa-masa berikutnya. Sederhananya, jika kita tinggal dan melahirkan anak-anak kita di tempat yang gaduh, penuh ketidak toleransian, penuh dengan manusia-manusia acuh lagi bangga akan keacuhannya yang mereka kira akan melegenda, lalu ada lagi ketidak pekaan akan lingkungan dan perhatian "first class" bagi sang anak, sudah barang tentu jika kau menutup matamu sejenak dan membayangkan akan jadi apa anak itu ketika dewasa, kau sudah bisa membayangkannya, terlalu mudah untuk diprediksi. Namun sebaliknya, para anak-anak yang diasuh dengan perhatian yang luar biasa, parenting yang berkualitas, penjagaan lingkungan yang protective dan memiliki benih-benih persaudaraan disana, lagi-lagi jika kau pejamkan matamu, kau takkan bisa membayangkan jadi apa anak itu, karena mereka di masa depan akan menjadi manusia-manusia yang bervariasi kehidupannya, namun pada intinya mereka kan jadi orang "yang diteladani orang-orang disekitarnya", mungkin jadi Praktisi atau ilmuwan atau social leader dan jenis-jenis lainnya yang menggebrak kebobrokan moral.

Sudah barang tentu, mengapa kita perlu memperhatikan masa kecil, karena ketika masa kecil itu berbekas sangat dalam di hati, seakan ada perisai yang melakukan "strong defense" dalam diri agar tidak terlalu jauh dalam kemaksiatan. Orang-orang yang mampu menginterpretasikan keinginan orang tuanya dengan prestasi lalu orang-orang yang ingin berjasa bagi negaranya dengan sisi implementatif, bukan hanya berteriak akan prinsip ideologi namun miskin pemahaman, lalu ketika ada angin badai yang berhembus para manusia "yang menganggap dirinya loyalis" namun kosong ilmunya, akan terbawa oleh badai dan tak kembali lagi, terlalu kering kerontang pendirian mereka.

Dunia selalu identik dengan rutinitas, sungguh menyedihkan bagi para manusia yang melupakan perisai masa kecilnya, jika hanya kehidupan ini digunakan untuk menuntut kekuasaan semu, jabatan semu dan marketing strategy semu. Lalu parahnya keimanan, kewajiban iman dan rekan-rekannya digadaikan seluruhnya. Alhasil para manusia terus saja menjalankan rutinitas dunianya tanpa ada masa jeda instrospeksi tanpa ada masa kilas balik akan tumbuhnya keimanan dalam diri, karena hati mereka tak pernah hidup. Sehingga sampai-sampai para penggoda serta mitra utama para manusia bernama setan, tak perlu lagi menggoda mereka, karena hati mereka tak ada "fundamental pattern" yang mengajak mereka pada kebaikan, lalu para setan itu hanya terbahak-bahak tanpa melakukan apapun.

Sudah sepatutnya, jika ingin membangun lagi zaman-zaman emas pemikiran yang dilebur dengan kedekatan dan dependensi penuh pada prinsip ketuhanan, diperlukan pembangunan akhlak sedari kecil lalu upaya-upaya "upgrading dan releasing version" dari penyempurnaan akhlak tiap insan, kan berjalan dengan apik, terkoordinir lagi fantastik.

Wallahua’lam

Brain StretchingOctober 16, 2009 3:30 am

2 hari ini sakit, telat makan - salah makan - timing minum kopi yang salah lalu puncaknya kesalahan kombinasi susu plus bubur membuat perutku berguncang deras dimulai dari pukul 1 dinihari…hiks…

Tapi tenang dulu, karena konsep "sakit" pada hakekatnya adalah penggugur dosa so let’s try to enjoy it!

Nah dimasa pemulihan saya coba "pantengin" stasiun TV Metro TV dari kasus antasari, gonjang-ganjing menteri, dll…tapi ada "repetitive news" dari metro siang hingga top nine news di malam hari ini. Ambil kasus tentang terdakwa "Antasari Azhar", diulang-ulang terusssss…nah mungkin ini cocok utk para penyimak berita yang tidak senantiasa di depan TV, tapi bagi orang sakit ini sebuah masalah, membuat mual nonton berita dengan topik dan konten berita berulang-ulang kali dalam sehari, hingga bisa menghafalnya..

That’s why metro tv is not intended to you…sick man :d 

Brain StretchingOctober 12, 2009 7:19 am

About 4 years, I always with you but today we cannot come together anymore. Your speed is going too slow so I need to call you as a Intolerant Connection now. Lots of memory with you, it called back all about my effort become bigger today, for searching, coding and others activity related to you. I always remember you, as first my partner in surfing.

Good bye star one, I must unsubscribe you with few major reason that I cannot reborn our partnership anymore.

Brain StretchingSeptember 27, 2009 3:38 pm

Garuda Indonesia GA 143 pilot said : "Flight attendance, take a landing position…"

and K is back to Jakarta, he is still sewing his dream until that day he’ll reach it totally..

This is about dream, how arranging and reburning the spirit so it’s never gone before catched.

K VII - 7th period dalam perantauan dimulai..

Qolbu Explosion, Brain StretchingSeptember 15, 2009 3:40 pm

Yang pasti "typing speed"-ku dalam menulis untuk beberapa hari ke depan tidak akan secepat ketika masih intens bersamanya. "nya"???, siapa sih ???, makanya baca dulu sampai usai, karena "nya" me-refer ke HP Pavilion dv1000 yang sudah menemani hari-hariku bertahun-tahun lamanya dan pastinya mengetik di laptop HP pavilion sudah menjadi "habits". Nah sekarang aku mulai dengan U330 Lenovo, yang kalau bisa dibilang as cool as the owner. hehehe..cukup selingan brain stretching-nya, sekarang mari kita masuk poin utama ; Keshalihan Sosial.

Rintik-rintik itu tak lama, angin langsung membawa kabar berikutnya, karena gumpalan rintik yang bersahutan telah menjadi hujan yang sangat deras. Banda Aceh beberapa hari diguyur keras, ada nuansa keberkahan ketika transisi musim dimulai. Seiring hujan yang menemani hari-hari ramadhan bersambung syawal, kucoba tuk menuangkan lagi pemikiran independenku yang ingin kubuncahkan sesuai dengan fenomena yang kulihat sendiri. Rasulillah ketika bertemu Jibril AS di gua hira sontak terkejut, tubuhnya menggigil tak tau itu nyata atau hanya sebuah fatamorgana kesunyian. Namun hari terus berganti, Rasulillah mencoba mengemban risalah khatamunnabiyyin dengan fenomena akhlak yang tak mungkin tertandingi (lagi) hingga akhir zaman. Di tengah kekuatan sesembahan berhala dan mindset yang mengakar di jazirah arab, Rasul tak gentar karena ketergantungannya yang jelas di relung hati akan ketauhidan dan yang tersulit adalah "kegaiban". Ya…inilah masalahnya iman kepada yang gaib merupakan satu stressing point terberat dalam risalah islam, seperti khawatirnya pemimpin kabilah abdul asyhal ketika "mush’ab menjadi duta pertama islam" untuk menyebarkan risalah ke tanah yastrib dengan statement kegaiban ALLAH SWT. Namun lagi-lagi kutekankan, qolb-lah yang merasakan getaran ketika keyakinan kita kepada yang gaib sudah pada taraf kestabilan, tak peduli mata tak menjangkau karena hati terus basah akan dzikr. Begitulah Rasulillah dan para sahabat menerapkannya dalam generasi awwal dakwah dimulai.

Terkait dengan shalih sosial, Rasulillah sudah menjadi tauladan yang mumpuni, bagaimana tidak Ia yang mendapatkan wahyu dari sang khalik terus gencar tuk menyebarkan bukan memendam sebuah risalah. Itulah fundamental dari Islam karena ia dimulai dengan interaksi sosial yang cakap antara Rasulillah dan para umat muslim yang mulai mendapatkan nur ilahi dari qalamullah yang dibacakan. Dan lagi itu pun tak dipendam oleh generasi awal karena risalah dituntut untuk terus disebarkan hingga menyinari dunia dengan ketauhidan. Indah sekali….

Karena keindahan inilah, skala kontemporer tidak boleh mengubur mimpi risalah islam. Seyogyanya kita sebagai ummat terakhir terus menyebar kebaikan semampunya dan sesederhana mungkin. Terkait masalah sosial, bukan masalah yang mudah. Karena ia butuh satu adaptasi sosial itu sendiri. Bayangkan saja bagaimana risalah islam di masa awal harus di sosialisasikan secara sembunyi-sembunyi di rumah arqam bin abul arqam, lalu ketika panji islam tlah tegak, ia disebarkan secara luas, rapih dan tidak menghilangkan "cita rasa" islam itu sendiri, akan sebuah konsep dependensi mumpuni kepada ALLAH, ya hanya ALLAH tak ada latta, uzza atau bahkan dewi kwan in itu…

Dengan ramainya perang pemikiran yang dilancarkan oleh para yahudi LA, sudah sepantasnya kita memiliki kapabilitas yang jika dalam bahasa IT sering disebut "Technology Update", jika kita sesuaikan, harus ada teknik dakwah atau cara penyampaian dakwah yang "update" pula di zaman modern. Dimana kita sama halnya Rasul melihat medan dan issue terlebih dahulu sebelum bergerak dengan rapihnya. Lagi-lagi ini tak mudah, namun keshalihan sosial menurutku hanyalah satu differensiasi dari keshalihan personal. Artinya ketika sudah ada keshalihan personal, shalih secara sosial hanya menunggu waktu dan "kepekaan". Peka diperlukan untuk merasakan suatu kekurangan di ranah sosial yang telah kita atasi secara personal, sehingga ketika masyarakat belum mampu mengatasi masalah itu kita secara personal sudah sepantasnya memberikan "solution approaching". Contoh ringan akan kenakalan remaja, ghibah masal, nikmatnya shalat dan lain-lain.

Inilah yang menjadi tugas kita bersama, karena salih personal takkan mengembalikan sinar Islam ketika sempat menaklukkan persi dan romawi bahkan sepertiga dunia di zaman khalifah umar. Namun perlu shalih sosial yang peka akan "general issue" masyarakat lalu memiliki keinginan yang kuat untuk merubahnya, walau keluarga terdekat terkadang adalah hal yang paling sulit untuk menyebarkan keshalihan sosial itu…

Begitulah adanya, karena ALLAH tak melihat hasil namun sekuat dan kesungguhan seperti apa yang kita berikan tuk mencapainya.

Syawal sedang menunggu di gerbong terakhir persis di belakang gerbong 10 terakhir ramadhan, ramadhan terus sejuk lalu ia meninggalkan(lagi) manusia, ada yang berbekas di hati sebagian hamba, namun ada pula yang menahan makan dan minum tanpa tau hakikat gemilang di dalamnya…

Wallahua’lam

Brain StretchingSeptember 12, 2009 9:40 am

Flight attendance, prepare for landing…

Garuda Indonesia GA 142 Boeing 737 - 400 telah membawaku kembali ke nanggroe aceh…

K Version VI resmi ditutup dengan kepulanganku yang ke 7 (1 kali perjalanan dinas) kali dari tanah rantau..

Hopefully I could release the next version of my adventure immediately..

Wallahua’lam

K

Brain StretchingAugust 11, 2009 1:57 pm

Hmmm, today I feel very useless because there is no observation / research that I have or reading something important to increase my knowledge. So you could call me today as an "Idle Coder". But on the other hand, today is my first time in my life to donate my blood via Indonesian Red Cross. Hope after this donation, my blood cell could reproduce the better cell that could make me more healthy and my donation could be an aid to others.

The main point of this post is not about useless thing, but I really want to imagine about my dream or it could be your dream too. The big question after doing lots of activity for many years, what exactly do you feel about reaching your dreams?. Are they in queuing of your internal system or in the contrary its now in deadlocked condition and never step ahead anymore. Sometime when we feel very comfort on current condition, our dream to leap ahead following the time and age is stuck on unidentifies spot, and the worst condition, when we do not realize that we are stuck on comfort zone. It brings us to the moment, we are only follower of the century. We do not have strong desired to change our lives more worth to others.

On the other type of dream, many people arrange their dream properly. They have the own deadline to make this year must be different than before. Next year must be changed the vision of their live and maybe they have the dream to change lots of people life’s better. I called this as a queued dream. Queued dream means people could trigger themselves when and where they need to apply their dream. So they will become the first stake holder, should they apply the dream or ignore it totally!!!

hmm, just making a note that hopefully useful to queue my dreams…

K

Brain StretchingAugust 2, 2009 1:36 pm

Di hari minggu yang cerah, agak terik memang, aku dan rekan-rekan melakukan satu konsolidasi politik (berat ya kata2nya…), :d, di sebuah masjid raya di luar Jakarta, kubahnya terintegrasi dengan apik, biru warnanya sedikit berkilau.

Ketika kami ingin rehat sejenak untuk makan siang dan memulai "simple conversation each other", di warteg dekat persimpangan, ku mencari sendalku di sela-sela pengunjung/jamaah masjid yang sedang "ngaso" di plasa masjid. Seorang ibu paruh baya secara tak sengaja menggunakan sendalku sebagai pijakannya sambil ia bercakap bersama keluarganya, lalu aku pun "interrupt" beliau tuk mengambil sendal, 

Permisi bu, sendalnya…

oo, iya mangga…

lalu pikirku, saya gak minta mangga bu, saya cuma mau ngambil sendal aja…

$#^%$^%$^%^

K