Pagi itu, matahari belum sudi memancarkan cahayanya. Adzan baru saja selesai digandeng dengan iqamah dan para penjemput fajr di mushola sederhana itu. Si abi sedikit terburu-buru kali ini, selepas pulang shalat ia menggosok baju gamis andalannya, ia percik sedikit aroma "rapika" lalu digosoknya dengan tenang, sembari terus melihat jam dinding di ruang tamu. Si umi sudah rapih, karena tak perlu ke mushola tiap pagi, cukup shalat di awal waktu dan membangunkan anak-anak yang mengigau tak jelas jika disuruh sholat. Anak-anak sudah tidur lagi, tinggal si abang yang sering mengikuti abi saja yang sudah manteng di depan televisi menikmati mamah dan aa plus ibu-ibu pengajian di indosiar. Umi telah siap dengan tentengannya, ada dua buku tebal tersemat, rapih penempatannya, abi baru saja selesai menggosok dan merapikan janggutnya yang masih lembab dan disiram sedikit minyak misik putih, sedikit saja.
Abi dan umi pun pamit pagi itu, matahari belum lagi mendongak masih saja malu-malu melirik-lirik rembulan yang perlahan namun pasti hampir lenyap..abang, umi sama abi pergi dulu ya, jaga adik-adik, assalamualaikum…si abang menjawab, waalaikumsalam iya abi&umi hati-hati di jalan.
Pak supir sudah siap dengan sedan mercedes, S-class kata orang-orang diluar sana. Suara mesinnya halus, terencana dan tak gaduh, persis seperti manusia yang menyusun konspirasi namun ketahuan setelah ada rekaman dan dibawa ke pengadilan. Para tetangga belum juga jogging di udara sejuk itu, namun abi dan umi sudah siap menempuh satu jam perjalanan ke barat jakarta. Hujan mulai turun, membasahi jalan tol pagi itu, tapi tak apa, makin hening saja umi membaca bukunya dan makin intens saja tangan kiri abi menarik-narik janggutnya dan tangan kanannya memegang buku itu, khusyuk sekali, risalah dakwah jilid I. Mereka seolah-olah sedang menyiapkan sesuatu pagi itu, keduanya membaca materi yang berbeda serta berbeda pula judul bukunya. Terkadang abi menyeruput teh hangat yang tadi dibawakan umi, segar..nikmat sekali…
S-class terus meluncur di rintik-rintik hujan jalan tol, pak supir tetap menatap tajam dan hati-hati. Tak ada suatu yang buru-buru , pak supir mengolah setir mobil sedemikan rupa, cepat lajunya, namun penumpang tak kehilangan konsentrasi, tetap membaca.
45 menit sudah di perjalanan, rembulan tak lagi dominan, matahari mulai menyeruak sembari mengolah temperatur bumi agar tak terlalu dingin adanya. 15 menit terakhir, mobil menuju satu gang kecil ke arah jakarta. Masih terlihat jalan yang becek, namun pak supir terus melaju tanpa memikirkan S-Class berlumur lumpur, kotor dan tak elegan lagi, yang penting penumpang sampai tepat waktu, begitu katanya dalam hati. Buku-buku telah disimpan lagi dengan rapih, si abi menghela napas sejenak, ia olah sedikit rambutnya yang tipis itu, akibat dampak terlalu banyak berpikir di hari-hari kerjanya, tak jarang ia membaca, pulang malam namun tak ada lelah yang ia enkapsulasi di sabtu pagi itu, ia masih tetap segar. Si umi sedikit melirik, senyum ia lempar ke wajah suami tercintanya, dan senyum terbalas sudah ketika si abi membalas senyumannya agak berlebih karena seluruh giginya yang rapih itu terlihat. Si umi masih saja sedikit merapihkan jilbabnya, merah jambu warnanya, wanginya khas, aroma parfum fawakeh. Apa itu?, kau tanya saja ke abang-abang keturunan arab yang berjualan parfum di tanah abang, pasti kau paham aromanya.
S-class tiba di halaman satu sekolah negeri, tak ada kegiatan pagi itu, masih hari libur semester. Lalu pak supir mengarahkan mobil ke pojok kanan gerbang agar mudah tuk mengilatkan lagi ban mobil, karena disitulah keran berada persis di depan rumah penjaga sekolah. Di sisi kanan sekira 20 siswi-siswi SMP sudah menunggu si umi, terlihat hijab hijau tuk menegaskan mana area laki-laki harus shalat dan dimana pula perempuan harus bertempat. Di pojok kiri dalam, sekira 25 anak-anak muda, masih takzim saja tilawatul quran dengan mushaf ustmani-nya, tak sadar bahwa si abi sudah hadir. Pagi sudah bercampur dengan cahaya terang matahari, jika menghela napas di udara segar itu, relung-relung jiwa seolah segar, namun ada yang selalu kering tiap pekannya, merekalah para muslim muslimat yang bergerak ke sekolahnya tuk mengisi kekeringan ruhi-nya tuk sekedar bermuwajahah dan menambah tsaqofah islamiyah.
Di dalam mobil abi dan umi sudah bersiap keluar, mereka bergumam bersama-sama senyum saling berbalas dan wajah dengan pancaran terbaik mereka siapkan pagi itu, lirih terdengar sambil pintu terbuka, mereka katakan bismillah… Halaqoh ikhwan dimulai, begitu pula akhwat…
[bersambung…]
Fiksi yang coba digores..
Wallahua’lam K