Brain StretchingDecember 29, 2009 9:24 am

Dalam satu kelas motivasi programmer, khusus bagi para programmer yang loyo semangatnya didatangkanlah seorang motivator yang menang pengalaman. Pengalamannya jelas terpampang di kepalanya yang miskin rambut, jelaslah ia seorang programmer senior.

Lalu ia memulai kelas dengan satu kalimat yang inspiratif badannya ia coba tegakkan, dagu ia naikkan agar terlihat wibawa dan kharismatik

Ehmm…selamat pagi semua, ingat satu hal…

Seorang coder pantang pulang sebelum menemukan error…ingat itu (sambil ia menunjuk-nunjuk ke para audience)

Seluruh peserta (programmer yang kehilangan semangat) itu takjub, ada yang mangap dan ada pula yang menunduk takzim serta ada pula yang mengepal tangan kanannya erat-erat, mereka berpikir satu hal yang sama, luar biasa, betul itu, elegan sekali kata-kata motivator ini…

Lalu salah satu dari mereka ada yang masih ingin penjelasan yang menggugah lainnya, lalu ia lempar pertanyaan ini :

Luar biasa pak, sungguh memotivasi kami…pak kalau error itu tidak mampu kami selesaikan bagaimana?? 

Lalu sang motivator melihat mata sang penanya dengan tajam, lalu ia gubris dengan tetap menjaga kharismanya yang sudah terlanjur di atas angin :

Hmm, pengalaman pribadi ya???, (sambil menyungging senyum agak sinis namun elegan lalu…),

Mudah saja, jika kau tak bisa menyelesaikan error itu, pulang sajalah dulu besok kembali lagi ke kantor…

dubrakkkkk…semua teronggok lesu lagi, sinar solusi itu kandas sebelum berubah menjadi suatu aksi nyata…   

Religi, Qolbu ExplosionDecember 27, 2009 1:46 pm

Pagi itu, matahari belum sudi memancarkan cahayanya. Adzan baru saja selesai digandeng dengan iqamah dan para penjemput fajr di mushola sederhana itu. Si abi sedikit terburu-buru kali ini, selepas pulang shalat ia menggosok baju gamis andalannya, ia percik sedikit aroma "rapika" lalu digosoknya dengan tenang, sembari terus melihat jam dinding di ruang tamu. Si umi sudah rapih, karena tak perlu ke mushola tiap pagi, cukup shalat di awal waktu dan membangunkan anak-anak yang mengigau tak jelas jika disuruh sholat. Anak-anak sudah tidur lagi, tinggal si abang yang sering mengikuti abi saja yang sudah manteng di depan televisi menikmati mamah dan aa plus ibu-ibu pengajian di indosiar. Umi telah siap dengan tentengannya, ada dua buku tebal tersemat, rapih penempatannya, abi baru saja selesai menggosok dan merapikan janggutnya yang masih lembab dan disiram sedikit minyak misik putih, sedikit saja.

Abi dan umi pun pamit pagi itu, matahari belum lagi mendongak masih saja malu-malu melirik-lirik rembulan yang perlahan namun pasti hampir lenyap..abang, umi sama abi pergi dulu ya, jaga adik-adik, assalamualaikum…si abang menjawab, waalaikumsalam iya abi&umi hati-hati di jalan.

Pak supir sudah siap dengan sedan mercedes, S-class kata orang-orang diluar sana. Suara mesinnya halus, terencana dan tak gaduh, persis seperti manusia yang menyusun konspirasi namun ketahuan setelah ada rekaman dan dibawa ke pengadilan. Para tetangga belum juga jogging di udara sejuk itu, namun abi dan umi sudah siap menempuh satu jam perjalanan ke barat jakarta. Hujan mulai turun, membasahi jalan tol pagi itu, tapi tak apa, makin hening saja umi membaca bukunya dan makin intens saja tangan kiri abi menarik-narik janggutnya dan tangan kanannya memegang buku itu, khusyuk sekali, risalah dakwah jilid I. Mereka seolah-olah sedang menyiapkan sesuatu pagi itu, keduanya membaca materi yang berbeda serta berbeda pula judul bukunya. Terkadang abi menyeruput teh hangat yang tadi dibawakan umi, segar..nikmat sekali…

S-class terus meluncur di rintik-rintik hujan jalan tol, pak supir tetap menatap tajam dan hati-hati. Tak ada suatu yang buru-buru , pak supir mengolah setir mobil sedemikan rupa, cepat lajunya, namun penumpang tak kehilangan konsentrasi, tetap membaca.

45 menit sudah di perjalanan, rembulan tak lagi dominan, matahari mulai menyeruak sembari mengolah temperatur bumi agar tak terlalu dingin adanya. 15 menit terakhir, mobil menuju satu gang kecil ke arah jakarta. Masih terlihat jalan yang becek, namun pak supir terus melaju tanpa memikirkan S-Class berlumur lumpur, kotor dan tak elegan lagi, yang penting penumpang sampai tepat waktu, begitu katanya dalam hati. Buku-buku telah disimpan lagi dengan rapih, si abi menghela napas sejenak, ia olah sedikit rambutnya yang tipis itu, akibat dampak terlalu banyak berpikir di hari-hari kerjanya, tak jarang ia membaca, pulang malam namun tak ada lelah yang ia enkapsulasi di sabtu pagi itu, ia masih tetap segar. Si umi sedikit melirik, senyum ia lempar ke wajah suami tercintanya, dan senyum terbalas sudah ketika si abi membalas senyumannya agak berlebih karena seluruh giginya yang rapih itu terlihat. Si umi masih saja sedikit merapihkan jilbabnya, merah jambu warnanya, wanginya khas, aroma parfum fawakeh. Apa itu?, kau tanya saja ke abang-abang keturunan arab yang berjualan parfum di tanah abang, pasti kau paham aromanya.

S-class tiba di halaman satu sekolah negeri, tak ada kegiatan pagi itu, masih hari libur semester. Lalu pak supir mengarahkan mobil ke pojok kanan gerbang agar mudah tuk mengilatkan lagi ban mobil, karena disitulah keran berada persis di depan rumah penjaga sekolah. Di sisi kanan sekira 20 siswi-siswi SMP sudah menunggu si umi, terlihat hijab hijau tuk menegaskan mana area laki-laki harus shalat dan dimana pula perempuan harus bertempat. Di pojok kiri dalam, sekira 25 anak-anak muda, masih takzim saja tilawatul quran dengan mushaf ustmani-nya, tak sadar bahwa si abi sudah hadir. Pagi sudah bercampur dengan cahaya terang matahari, jika menghela napas di udara segar itu, relung-relung jiwa seolah segar, namun ada yang selalu kering tiap pekannya, merekalah para muslim muslimat yang bergerak ke sekolahnya tuk mengisi kekeringan ruhi-nya tuk sekedar bermuwajahah dan menambah tsaqofah islamiyah.

Di dalam mobil abi dan umi sudah bersiap keluar, mereka bergumam bersama-sama senyum saling berbalas dan wajah dengan pancaran terbaik mereka siapkan pagi itu, lirih terdengar sambil pintu terbuka, mereka katakan bismillah… Halaqoh ikhwan dimulai, begitu pula akhwat…

[bersambung…]

Fiksi yang coba digores..

Wallahua’lam K

Qolbu Explosion, Brain StretchingDecember 16, 2009 1:10 pm

Ini salah satu topik yang terberat yang kucoba goreskan malam ini. Namun sudah sepatutnya kutulis agar jelas adanya lalu elegi itu sudah sepatutnya hilang dan hanya bersandar kepada yang seharusnya kita bersandar, siapa lagi kalau bukan sang wahdaniah dalam sifat wajibnya.

Manusia ini lagi-lagi tentangnya, tak habis rasanya bercerita tentang perangai manusia. Awalnya ia ingin dijadikan khalifatul ardu (pemimpin di muka bumi), namun aneh ia(manusia) pula yang merusaknya. Manusia oh manusia, sebelum ada "climate change" itu, mereka mengeksplorasi bumi sejadi-jadinya, men-destruct bumi pun sejadi-jadinya, sampai-sampai bumi dulu terbatuk-batuk pada awalnya karena polusi asap yang akut di atmosfer pun mereka tak dengar. Namun lagi-lagi, sisi "iba"-nya pada bumi muncul, namun iba apa ini?, apakah karena manusia takut es di kutub mencair lalu memusnahkan mereka ataukah ini wujud antisipatif ala manusia yang selalu bergerak ketika episode masalah hampir usai. Jadi tak heran "go green" itu muncul belakangan, setelah sang adi daya merusak, sekarang pula ia mencoba memperbaikinya, ya datuk sam itu. Hehe namun aku bukanlah senantiasa antipati, karena bukan itu tujuanku menulis kali ini.

Dalam tubuh setiap insan memiliki 2 pertikaian akut yang tak pernah mati. 2 hal ini selalu saja berganti-ganti dalam hal kemenangan. Terkadang si A menang, namun tak jarang si B menang. Sama halnya ketika suku auz dan khazraj yang dipanas-panasi kabilah dedengkot yahudi kala itu, berstatus sekutu. Namun ternyata 2 hal dalam tubuh setiap manusia ini bisa menjadi otoriter dalam waktu yang lama.

Apa yang kau maksud anak muda???, terlalu banyak memutar-mutar analogi kau!!!, intinya saja lay!!!

oke-oke kita masuk ke intinya!!, tenang!

Jadi kedua hal ini adalah hati dan nafsu, mereka senantiasa ingin mencaplok pemikiran lalu action yang dibawa oleh tuannya, maksiatkah itu atau baikkah perbuatannya. Sang nafsu memiliki sekutu layaknya auz dan sang hati pun memiliki sekutu layaknya khazraj, kedua kabilah yang berseteru namun indah pada akhirnya pasca kehadiran islam. Namun hati dan nafsu tak bisa didamaikan begitu saja, pada beberapa insan nafsu mendominasi dan otoriter. Apapun sinyal positif dari hati dimentahkan sejadi-jadinya lalu tak sampai pada action/perbuatan. Nafsu senantiasa didukung oleh setan yang bermain-main diluar lalu menginisialisasi objek-objek diri yang perlu dinyalakan agar "nafsu" kembali digdaya ; mabuk, judi, cinta dunia, takut miskin, makan yang haram, dan cucu-cucu kemaksiatan lainnya. Sehingga dengan asupan itu, nafsu menjadi sehat lagi gemuk lalu hati digembosi dengan masiv. Dalam kategori ini tak ada lagi "elegi", nafsu mengambil peranan yang terlalu kuat, tak ada lagi yang dipikirkan kecuali maksiat-maksiat, kalau perlu maksiat itu diderivasi sedemikian rupa ; dari togel hingga koplo plus tuak yang memabukkan, serasa di surga dunia katanya…

Berbeda halnya dengan yang bermain dalam elegi. Terkadang nafsu diatas kadang hati diatas, ada beberapa upaya dan interaksi kepada sang khalik yang membuat hatinya senantiasa bersandar pada sang pencipta. Walau terkadang maksiat tetap jalan, namun hatinya terkadang masih iba pada si fakir, walaupun juga sebungkus marlboro masih dibawanya kemana-mana tuk sekadar mengebulkan paru-paru, serasa segar kalau sudah sedot asap kata mereka…

Ada kasus lain yang bolehlah dikatakan ideal, yang sudah sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim di dunia. Ketika ibadah dianggap suatu kebutuhan diri, ketika azan suatu panggilan lalu ketika kalamullah sebagai surat cinta Rabb padanya. Kan sudah berulang kali ALLAH dalam surat cintanya yang digores dalam al-quran yang tak lekang oleh zaman itu, "Sandarkan sajalah dirimu padaKU, niscaya kau tak akan pernah takut dan bersedih hati" atau dalam lembaran surat cintanya yang lain "Ingat saja AKU, niscaya hatimu menjadi tenang". Oh indah ketika elegi dua seteru abadi dalam diri didekatkan dengan cara-cara ma’rifat pada Tuhan segenap manusia, oh indah ketika doa dilantunkan namun diri selalu berpikir positif dan meningkatkan kebajikan..inilah seideal-idealnya diri dalam berkoalisi bersama nafsu dan hati.

Sudah sepatutnya elegi maksiat dan kebajikan dimenangkan oleh hati, agar kita tidak seperti kebanyakan para kuffar, yang ALLAH sudah lepas dari menolong dan melindungi mereka..oh malang nian nasib para kuffar.

Lalu pada akhir tulisan hari ini, kuingin menyampaikan pada dirimu, sang pembaca. Rezeki itu setelah lama kurenungkan, ia bukan hanya berbentuk harta, bagi para si kaya harta sudah sepatutnya kau pergi ke masjid lalu meminta kepada Rabb-mu agar ditambahkan jenis rezeki lain, berbentuk hati yang sehat, anak yang saleh, istri yang shalehah lalu zurriat yang mendirikan shalat. Apa lagi yang harus dipinta oleh si kaya harta dan kaya pula hatinya serta kaya pula akhlak zurriatnya (keturunannya), kecuali doa pamungkas agar sang khalik senantiasa ridha akan setiap aktivitas kita di dunia dan agar kita senantiasa tak pindah ke lain hati…

Cukuplah bagiku Rabb-ku sebagai sandaran…

Wallahua’alam

K

 

IT Geek :::, Brain StretchingDecember 12, 2009 10:34 am

Sekelumit abstraksi melalui jepretan digital camera :

 

From LDKM TI 12 Desember 2009
From LDKM TI 12 Desember 2009
From LDKM TI 12 Desember 2009

Hope this knowledge is shared properly and stimulate audience for making difference.

Brain StretchingDecember 1, 2009 11:24 pm

Bukan tak terasa, namun aku mencoba merasakan perjalanan hingga 24 tahun ini. Dari dinamika anak kecil yang bermain ego dangkal ketika meminta sesuatu kepada orang tuanya (sebuah kelumrahan) hingga ketika kuharus menerima sesuatu yang hanya bisa dimengerti ketika kita menyelami lebih dalam akan sebab akibat suatu kejadian, ketika ALLAH menghendaki A namun kuharap B, sudah sepatutnya kuhening sejenak lalu beberapa tahun setelahnya barulah kutau apa yang Rabb inginkan, dan Belumlah tentu apa yang kuharapkan, baik menurutNya. Dinamika terus bergerak ke arah yang sekarang kuanggap menuju satu alur yang substantif dalam lompatan kehidupan akhirku lalu apalagi kalau bukan arah-arah yang meng-guide ku ke arah kritikal dalam menentukan suatu hal yang krusial dalam kehidupan setelah fase dewasa ini…hehe, mudah2an kau tau kemana arah pemikiranku bergerak, tebak sajalah!

Seorang "K", sekarang berumur 24 dan ia berharap segalanya berada di jalur yang benar lagi penuh "sentilan" positif dari sang pencipta, lalu bergerak terus bergerak menuju mimpi dan cita-citanya dan bila saat itu tiba tujuanku berikutnya adalah menuangkannya ke satu tulisan dibundel secara apik, tentang sebuah perjalanan dan ledakan qolb (Qolb Explosion)…

Wallahua’lam

K

December 02, 2009 

Religi, Qolbu ExplosionNovember 26, 2009 9:02 am

Rahasia langit itu tak mungkin tertembus oleh pihak manapun, dari yang ghaib selain Rabb apalagi manusia yang senang membuka aib/rahasia manusia lainnya, sehingga mengabsahkan rahasia manusia tak mungkin tertutup rapat sepenuhnya layaknya rahasia langit.

Tersebutlah Tengku ngoh liah dan keluarga yang merupakan tetangga dekatku di kampung (aceh). Beberapa tahun berlalu dari masa SMU hingga masa-masa akhir kuliahku tengku liah didominasi oleh anak-anaknya yang seluruhnya lelaki. Ada api, agus, fahmi, fajri dan taufik, kesemuanya sangat baik, apalagi si taufik yang lagi lucu-lucunya sekira 3-4 tahunnya. Namun Tengku liah masih mendambakan seorang putri diantara anak-anaknya. ALLAH punya kehendak yang sekuensial dalam menetapkan apapun, persis halnya ucapan tulus seorang muallaf azerbaijan ketika mengungkap hikmah dari setiap keputusan ALLAH, "apapun yang ALLAH berikan pasti punya alasan dibaliknya, tak ada yang sia-sia dan tidak terencana", begitu kira-kira katanya di channel Al-Jazeera kemarin.

Keinginan itu pun tersampaikan hadirlah seorang putri lucu nan imut, anak bungsu tengku liah namanya pun unik, "lahna putri" yang artinya "untung" merujuk pada keberuntungan mendapat seorang putri. Beberapa tahun tiap aku pulang berhari raya di aceh, ia masih saja kecil dan jarang terlihat lewat di depan rumah sekadar membeli indomie dan lain-lain seperti taufik yang bolak-balik ke kede (warung) bang gam. Seiring berjalan waktu, lahna pun sudah cukup besar, kadang ia ikut bang taufik ke warung atau sekadar berjalan-jalan di depan rumah, bermain dan bercengkerama bersama teman2 kecilnya.

Layaknya Rahasia langit yang sudah kukatakan tadi, takkan pernah terbocorkan secara ekplisit, namun nantinya ia akan turun serta merta tanpa ada dugaan yang runut untuk memprediksikannya. Kemarin siang ibuku mengabarkan sesuatu,

"Telah meninggal dunia adik si api yang pr (perempuan) paling kecil tadi pagi kena D B D"…

Tersentak sejenak, dek lahna telah dipanggil tak lama setelah harapan yang memuncak dari kedua orang tuanya. Begitu ALLAH memiliki rencana dan seluruhnya senantiasa dirahasiakan tak terduga. Dek lahna sudah didekap lagi di surga, karena belum lah anak sebayanya terkontaminasi oleh dosa-dosa. Rabb, semoga kau satukan kami dan keluarganya kelak di JannahMu…yang tersedia hamparan buah-buahan yang mudah dipetik dari pohonnya..

Kukirim surah yassin dari masjid cipaganti raya, cihampelas malam tadi, semoga tersampaikan.. 

Wallahua’alam

Qolbu ExplosionNovember 22, 2009 3:49 pm

Malam sudah semakin larut saja, esok manusia akan menggeliat lagi dengan rutinitasnya, ada yang memiliki semangat yang terpulihkan namun ada saja yang masih bermain dengan pikiran2 kalut akan masa depan, dampaknya mereka melompati masa kini ke masa yang lebih ke depan berimbas pada kekosongan makna hidup dalam kesehariannya, intinya MALAS…gitu aja deh mudahnya…

Kali ini dalam suasana yang sedikit berbeda bermalam di hotel berbintang, menyambut kedua orang tua tercinta, persis di depan tugu tani yang merefleksikan suatu simbol agraris namun simbol itu mati seiring kesalahan strategi kenegaraan. Agrasis yang dulu diindentikkan dengan Indonesia, namun apa yang lebih identik dengan ibukotanya???, yang jelas tidak menyentuh makna simbolik tugu tani itu sendiri.

Sudahlah…tulisan ini tidak akan menerawang ke suatu pemaknaan yang teriris akan sebuah arah kemana negara ini akan dibawa, karena kupikir, mereka para generasi pemain revolusi cerdas masih muda dan sedang bermain akan pergulatan mimpi, yang semoga 10 hingga 15 tahun lagi, ALLAH akan membangkitkan mereka ke dalam ranah krusial, pengambilan keputusan berdasar aspirasi realitas rakyat, bukan aspirasi realitas "lembaran duit di atas/bawah meja" lalu memainkan strategi "pengaburan" sebuah fakta, namun sayang rakyat sudah semakin cerdas saja…tunggu saja masanya ya…

Nah, aku bukanlah seorang yang memiliki posisi dalam menyampaikan satu opini yang menggelegar, merubah pola pikir masyarakat secara massive, apalagi menyentuh ranah untouchable yang mungkin saja sisa-sisa emas para kaum otoriter orde baru, "hantam saja yang bermain dalam ranah anomali, karena mereka mengganggu" …aih…aih…Namun tak apa, pemikiran coba kutulis disini, akan sebuah gugatan pemikiran pribadi yang ingin lepas, bukan tuk menyindir namun mencoba menyitir ke arah yang semoga benar.

"Stake Holder", mungkin cukup familiar di telinga, ya singkatnya merekalah yang memutuskan suatu issue atau kejadian. Namun menurutku dan sudah barang tentu orang lainnya, kuantitas para stake holder sudah semestinya tidak terlalu besar. Harus ada seorang yang memutuskan alur kerja, harus ada yang memiliki "influencing strength" lebih, sehingga issue tidak bergerak ke arah yang tak terjangkau lalu mulailah ada manipulasi fakta dan lainnya. Menurutku stake holder janganlah terlalu "lemot" lalu janganlah terlalu lemas dalam menentukan satu keputusan krusial, apalagi yang menyentuh ranah dasar, suatu masyarakat. Janganlah suatu keputusan tegas itu terkesan tidak lagi menjadi tegas, karena lamanya stake holder memutuskan hal itu. Lagi-lagi kita dibuat bingung lalu muncullah ksatria di siang bolong, bermain kata di depan mimbar tuk menyampaikan solusi "expired" lalu kabur lagi, karena masyarakat telah dibuat bosan, atau mungkin "personal trouble" mulai membuat mereka malas mengikuti suatu kejadian krusial. Jadilah masyarakat lemah opini, gersang kekritisannya lalu mengangguk lesu jika ditanya akan nasib sebuah era. Untung saja suatu yang ditakutkan media belumlah terjadi, suatu "people power" yang menghentak janji suatu kepemerintahan, lalu untung saja revolusi komprehensif pun belum terjadi, karena rakyat masih bergerak secara desentralis, mencari arah. Namun inilah suatu ketakutan tersendiri, desentralisasi hasrat manusia untuk melakukan revolusi yang terkotak-kotak akan membentuk satu kejadian yang "unpredictable". 

Maka menurutku sudah sepatutnya para stake holder bangsa bermain dalam arah pemikiran ruhiyah, menyentuh satu Zero Mind Process yang melibatkan iman secara intens lalu menyelam sedikit ke alam ketakwaan mempelajari bagaimana sinkronisasi ketaatan Umar RA dan para sabahat lainnya ketika berdebat siapa yang harus menjadi panglima perang Mu’tah. Lalu ketika instruksi bernada keras yang merefleksikan ketaatan mumpuni ala Abu Bakar RA, semuanya taat..semuanya taat tuk mengangkat seorang Usamah bin Zaid yang dipilih ALLAH melalui RasulNya. Inilah suatu pertimbangan stake holder yang menyentuh ranah keimanan. Keputusannya selalu menyentuh qalbu, keputusannya terkadang terkesan keras namun di baliknya ada satu pemikiran "sustained" layaknya Umar RA. Sudah sepantasnya kita menyelam lebih sedikit kedalam suatu samudera peradaban yang seolah-olah dicoba terkaburkan oleh peradaban setelahnya, dimana barat berkuasa dan mengusik fundamental pemikiran ala dinul islam, agama tauhid yang dideklarasikan sebagai agama yang sempurna hingga akhir zaman. Para ummat lupa siapa bilal, para ummat lupa siapa umar bin abdul aziz, para ummat lupa siapa ibnu sina, para ummat lupa siapa Zaid bin haritsah, para ummat lupa Abdullah bin rawahah lalu para ummat disitir tuk lupa akan heroisme akhir zaman ala syaikh kontemporer sekelas Omar muchtar, Sayyid Qutb dan ahmad yassin lalu mereka lupa seorang perdana menteri yang dipilih ummat menjadi imam tarawih favorit di negaranya tahun lalu…Terlalu indah cara stake holder ala peradaban islam melalukan satu strategi penyelesaian masalah ummat, karena ada "standard guidance" oleh Rabb-nya yang diatur jelas dalam qalam yang diturunkan lalu para pemimpin tinggal mengolahnya menjadi satu regulasi yang menyamankan ummat, kalaupun ada modernisasi kasus, bolehlah ada satu upaya ijma’, qiyas lalu ijtihad…subhanallah…

Aku hanya berpikir kapan datang suatu masa, ketika islam itu bangkit lagi, menjadi panutan wajib yang disetujui oleh para umat, karena mereka merasa aman didalamnya…

Kapanpun itu, hanya IA yang tau, kapanpun itu semoga kita termasuk orang-orang yang memprakarsainya dalam bentuk apapun yang kita bisa.

Wallahua’lam

Ahad, 10:41 PM di sekitaran tugu tani.

K

Religi, Qolbu ExplosionNovember 14, 2009 4:29 am

Bagaimana kita melihat dunia hari ini?, para manusia bergerak ke arah sesukanya seolah-olah tak ada pegangan. Jika mereka sudah ling lung tak tau arah, sudah pasti tiang sutet kan dipanjat dan rel kereta api didekati, tuk mengakhiri (katanya) sebuah kehidupan. Hah, mereka yang memang tak punya pegangan lupa akan sesuatu yang krusial akan kehidupan, yaitu kehidupan yang sebenarnya suatu hari nanti. Beberapa hari ini kita “tak lagi” dikejutkan oleh kebodohan pola pikir yang akut dalam pengakhiran hidup, seorang pemuda yang masih memiliki sinar masa depan memanjat tiang sutet karena diputus sang pacar (yang bermakna kesemuan tanpa ikatan yang jelas dan dikelilingi oleh para jin-jin muda untuk terus mengikat pertalian ilegal tanpa keabsahan, “bodoh…”). Lalu BBC Indonesia melaporkan sebuah keterkejutan bagi Jerman, seorang kiper nasionalnya (Red. Robert Enke, kiper Hannover) memilih tuk mengakhiri hidup dengan menambrak kereta api bukan ditabrak, lalu terlampir surat kematian, yang tak jauh dari “menghindari” cobaan, terlepas dari setinggi apa depresi yang dialaminya.

Dunia seolah berkisar pada iklim yang berubah, kasus demi kasus kriminal yang mengikutsertakan penindaknya sendiri, lalu tak jauh dari para pemakan bangkai saudaranya yang sangat senang membuka aib di media dengan pongah bangga dan seolah-olah bangkai itu sangat enak tuk dimakan. Sudah ribuan tahun lalu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa yang menyebar dan membicarakan aib saudaranya, seolah-olah ia memakan bangkai saudaranya, “KABURKAH MENURUTMU NASIHAT ITU HAH???”. Kisaran-kisaran itu lalu membuat satu ketidakpastian akhlak para manusia yang bertindak sebagai “end-user” televisi, mengkonsumsi tanpa ada filtrasi lagi. Lalu para ibu-ibu di pojok gang buntu asyik bercerita akan kisah cinta fitri yang melenakan, lalu jika kau menginterupsinya, “kemana anakmu?”, maaf cakap sepertinya ia tak tahu bahwa si anak yang masih membutuhkan bimbingan moral dan separasi amal dan dosa, tengak berasyik masyuk di gang buntu RT sebelah dengan sang “pacar”, lalu dikelilingi setan yang memanas-manasinya, lalu malaikat mundur teratur dan kitab amal telah mencatat satu kegilaan manusia, akan sebuah separasi moral. KALAU SUDAH BEGINI SIAPA YANG SALAH, ORANG TUA atau SANG ANAK HAH???. Sudahlah, bisakah kita akhiri semua ini, kebobrokan akut akibat media yang gila?, bisakah kita akhiri ini, gara-gara “demokrasi” dan kebebasan bertindak, yang di redirect negatively dengan manis tuk menghancurkan anak bangsa??, bisakah kita akhiri ini, fenomena bangkai, ketika aib sudah menjadi tak tabu dan tersimpan lagi??.

Dunia terus saja bergerak ke arah yang akut, bahkan terlalu akut atau jika ia bisa berbicara mungkin ia kan mengadu pada Rabb-nya tuk melaporkan kebobrokan yang tak masuk di akal ini. Lalu satu region yang sedang memperbaiki hukum syariahnya, dikejutkan ketika generasi penerusnya melepas jilbab tuk melenggang di catwalk , lalu terpilih sebagai PUTRI BLA…BLA..BLA mengatur senyum pongah seolah-olah telah mengharumkan bangsa padahal sang penyelenggara sedang mempersiapkan suatu kejutan pelepasan aurat yang lebih akut di kontes berlevel internasional, apa-apaan ini????, mungkin masih dia yang muncul ke panggung sebagai representasi kegagalan tarbiyah keluarga di region serambi makkah itu, mungkin generasi-generasi akut lainnya masih tersimpan di beberapa tempat yang kuharapkan semakin berkurang bukan bertambah. Biarkan kita menjadi region “Role Model” bagi negara ini dan dunia suatu hari nanti. Biarkan kami menawarkan Qanun, lalu biarkan syariah itu tumbuh lagi, boleh kan???.

Dunia terus saja bergerak, mereka kehilangan syaikh tarbiyah, mereka kehilangan syaikh-syaikh kontemporer, namun jangan harap islam kan runtuh, karena terus saja dunia masih eksis dan stabil memproduk para pemikir islam yang gemilang. Seolah-olah di kegelapan yang sangat gelap di dunia sekarang ini, masih muncul secercah sinar yang menguat tuk bergerak me-reset ulang akhlak bangsa.

Lalu pada saatnya, jika masyarakat umum bertanya padamu, kapankah kemakmuran, kedamaian dan kesejahteraan ini kan kembali???, jawab saja, “JIKA KITA KEMBALI SEUTUHNYA KEPADA DINUL ISLAM, AGAMA KITA”, lalu kita re-apply seluruh kegemilangan para assbiqunal awwalun dalam menyusun peradaban terbaik yang pernah ada, Islam Civilization. Lalu muncul lagi Umar baru, Ustman baru, Abu bakar baru, Ammar baru, Ali baru, Sa’ad baru, Bilal baru serta para tokoh-tokoh lain yang didamba syurga.

Wallahua’lam

K

UncategorizedNovember 8, 2009 9:27 am

Anybody people who has the leisure time to share the knowledge about business logic of enterprise or middle complicated application, I wanna apply it comprehensively to my designed core framework based on Spring 3.0.

So with this effort we could add the experience value with integrating framework to business needed. This is for research only, there is no other needs like part time job.

Qolbu Explosion, Brain StretchingNovember 4, 2009 4:54 am

Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.

Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..

Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang  banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.

Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.

Wallahua’lam

K