Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.
Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..
Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.
Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.
Wallahua’lam
K