Qolbu ExplosionNovember 22, 2009 3:49 pm

Malam sudah semakin larut saja, esok manusia akan menggeliat lagi dengan rutinitasnya, ada yang memiliki semangat yang terpulihkan namun ada saja yang masih bermain dengan pikiran2 kalut akan masa depan, dampaknya mereka melompati masa kini ke masa yang lebih ke depan berimbas pada kekosongan makna hidup dalam kesehariannya, intinya MALAS…gitu aja deh mudahnya…

Kali ini dalam suasana yang sedikit berbeda bermalam di hotel berbintang, menyambut kedua orang tua tercinta, persis di depan tugu tani yang merefleksikan suatu simbol agraris namun simbol itu mati seiring kesalahan strategi kenegaraan. Agrasis yang dulu diindentikkan dengan Indonesia, namun apa yang lebih identik dengan ibukotanya???, yang jelas tidak menyentuh makna simbolik tugu tani itu sendiri.

Sudahlah…tulisan ini tidak akan menerawang ke suatu pemaknaan yang teriris akan sebuah arah kemana negara ini akan dibawa, karena kupikir, mereka para generasi pemain revolusi cerdas masih muda dan sedang bermain akan pergulatan mimpi, yang semoga 10 hingga 15 tahun lagi, ALLAH akan membangkitkan mereka ke dalam ranah krusial, pengambilan keputusan berdasar aspirasi realitas rakyat, bukan aspirasi realitas "lembaran duit di atas/bawah meja" lalu memainkan strategi "pengaburan" sebuah fakta, namun sayang rakyat sudah semakin cerdas saja…tunggu saja masanya ya…

Nah, aku bukanlah seorang yang memiliki posisi dalam menyampaikan satu opini yang menggelegar, merubah pola pikir masyarakat secara massive, apalagi menyentuh ranah untouchable yang mungkin saja sisa-sisa emas para kaum otoriter orde baru, "hantam saja yang bermain dalam ranah anomali, karena mereka mengganggu" …aih…aih…Namun tak apa, pemikiran coba kutulis disini, akan sebuah gugatan pemikiran pribadi yang ingin lepas, bukan tuk menyindir namun mencoba menyitir ke arah yang semoga benar.

"Stake Holder", mungkin cukup familiar di telinga, ya singkatnya merekalah yang memutuskan suatu issue atau kejadian. Namun menurutku dan sudah barang tentu orang lainnya, kuantitas para stake holder sudah semestinya tidak terlalu besar. Harus ada seorang yang memutuskan alur kerja, harus ada yang memiliki "influencing strength" lebih, sehingga issue tidak bergerak ke arah yang tak terjangkau lalu mulailah ada manipulasi fakta dan lainnya. Menurutku stake holder janganlah terlalu "lemot" lalu janganlah terlalu lemas dalam menentukan satu keputusan krusial, apalagi yang menyentuh ranah dasar, suatu masyarakat. Janganlah suatu keputusan tegas itu terkesan tidak lagi menjadi tegas, karena lamanya stake holder memutuskan hal itu. Lagi-lagi kita dibuat bingung lalu muncullah ksatria di siang bolong, bermain kata di depan mimbar tuk menyampaikan solusi "expired" lalu kabur lagi, karena masyarakat telah dibuat bosan, atau mungkin "personal trouble" mulai membuat mereka malas mengikuti suatu kejadian krusial. Jadilah masyarakat lemah opini, gersang kekritisannya lalu mengangguk lesu jika ditanya akan nasib sebuah era. Untung saja suatu yang ditakutkan media belumlah terjadi, suatu "people power" yang menghentak janji suatu kepemerintahan, lalu untung saja revolusi komprehensif pun belum terjadi, karena rakyat masih bergerak secara desentralis, mencari arah. Namun inilah suatu ketakutan tersendiri, desentralisasi hasrat manusia untuk melakukan revolusi yang terkotak-kotak akan membentuk satu kejadian yang "unpredictable". 

Maka menurutku sudah sepatutnya para stake holder bangsa bermain dalam arah pemikiran ruhiyah, menyentuh satu Zero Mind Process yang melibatkan iman secara intens lalu menyelam sedikit ke alam ketakwaan mempelajari bagaimana sinkronisasi ketaatan Umar RA dan para sabahat lainnya ketika berdebat siapa yang harus menjadi panglima perang Mu’tah. Lalu ketika instruksi bernada keras yang merefleksikan ketaatan mumpuni ala Abu Bakar RA, semuanya taat..semuanya taat tuk mengangkat seorang Usamah bin Zaid yang dipilih ALLAH melalui RasulNya. Inilah suatu pertimbangan stake holder yang menyentuh ranah keimanan. Keputusannya selalu menyentuh qalbu, keputusannya terkadang terkesan keras namun di baliknya ada satu pemikiran "sustained" layaknya Umar RA. Sudah sepantasnya kita menyelam lebih sedikit kedalam suatu samudera peradaban yang seolah-olah dicoba terkaburkan oleh peradaban setelahnya, dimana barat berkuasa dan mengusik fundamental pemikiran ala dinul islam, agama tauhid yang dideklarasikan sebagai agama yang sempurna hingga akhir zaman. Para ummat lupa siapa bilal, para ummat lupa siapa umar bin abdul aziz, para ummat lupa siapa ibnu sina, para ummat lupa siapa Zaid bin haritsah, para ummat lupa Abdullah bin rawahah lalu para ummat disitir tuk lupa akan heroisme akhir zaman ala syaikh kontemporer sekelas Omar muchtar, Sayyid Qutb dan ahmad yassin lalu mereka lupa seorang perdana menteri yang dipilih ummat menjadi imam tarawih favorit di negaranya tahun lalu…Terlalu indah cara stake holder ala peradaban islam melalukan satu strategi penyelesaian masalah ummat, karena ada "standard guidance" oleh Rabb-nya yang diatur jelas dalam qalam yang diturunkan lalu para pemimpin tinggal mengolahnya menjadi satu regulasi yang menyamankan ummat, kalaupun ada modernisasi kasus, bolehlah ada satu upaya ijma’, qiyas lalu ijtihad…subhanallah…

Aku hanya berpikir kapan datang suatu masa, ketika islam itu bangkit lagi, menjadi panutan wajib yang disetujui oleh para umat, karena mereka merasa aman didalamnya…

Kapanpun itu, hanya IA yang tau, kapanpun itu semoga kita termasuk orang-orang yang memprakarsainya dalam bentuk apapun yang kita bisa.

Wallahua’lam

Ahad, 10:41 PM di sekitaran tugu tani.

K

Religi, Qolbu ExplosionNovember 14, 2009 4:29 am

Bagaimana kita melihat dunia hari ini?, para manusia bergerak ke arah sesukanya seolah-olah tak ada pegangan. Jika mereka sudah ling lung tak tau arah, sudah pasti tiang sutet kan dipanjat dan rel kereta api didekati, tuk mengakhiri (katanya) sebuah kehidupan. Hah, mereka yang memang tak punya pegangan lupa akan sesuatu yang krusial akan kehidupan, yaitu kehidupan yang sebenarnya suatu hari nanti. Beberapa hari ini kita “tak lagi” dikejutkan oleh kebodohan pola pikir yang akut dalam pengakhiran hidup, seorang pemuda yang masih memiliki sinar masa depan memanjat tiang sutet karena diputus sang pacar (yang bermakna kesemuan tanpa ikatan yang jelas dan dikelilingi oleh para jin-jin muda untuk terus mengikat pertalian ilegal tanpa keabsahan, “bodoh…”). Lalu BBC Indonesia melaporkan sebuah keterkejutan bagi Jerman, seorang kiper nasionalnya (Red. Robert Enke, kiper Hannover) memilih tuk mengakhiri hidup dengan menambrak kereta api bukan ditabrak, lalu terlampir surat kematian, yang tak jauh dari “menghindari” cobaan, terlepas dari setinggi apa depresi yang dialaminya.

Dunia seolah berkisar pada iklim yang berubah, kasus demi kasus kriminal yang mengikutsertakan penindaknya sendiri, lalu tak jauh dari para pemakan bangkai saudaranya yang sangat senang membuka aib di media dengan pongah bangga dan seolah-olah bangkai itu sangat enak tuk dimakan. Sudah ribuan tahun lalu Rasulullah mengingatkan umatnya bahwa yang menyebar dan membicarakan aib saudaranya, seolah-olah ia memakan bangkai saudaranya, “KABURKAH MENURUTMU NASIHAT ITU HAH???”. Kisaran-kisaran itu lalu membuat satu ketidakpastian akhlak para manusia yang bertindak sebagai “end-user” televisi, mengkonsumsi tanpa ada filtrasi lagi. Lalu para ibu-ibu di pojok gang buntu asyik bercerita akan kisah cinta fitri yang melenakan, lalu jika kau menginterupsinya, “kemana anakmu?”, maaf cakap sepertinya ia tak tahu bahwa si anak yang masih membutuhkan bimbingan moral dan separasi amal dan dosa, tengak berasyik masyuk di gang buntu RT sebelah dengan sang “pacar”, lalu dikelilingi setan yang memanas-manasinya, lalu malaikat mundur teratur dan kitab amal telah mencatat satu kegilaan manusia, akan sebuah separasi moral. KALAU SUDAH BEGINI SIAPA YANG SALAH, ORANG TUA atau SANG ANAK HAH???. Sudahlah, bisakah kita akhiri semua ini, kebobrokan akut akibat media yang gila?, bisakah kita akhiri ini, gara-gara “demokrasi” dan kebebasan bertindak, yang di redirect negatively dengan manis tuk menghancurkan anak bangsa??, bisakah kita akhiri ini, fenomena bangkai, ketika aib sudah menjadi tak tabu dan tersimpan lagi??.

Dunia terus saja bergerak ke arah yang akut, bahkan terlalu akut atau jika ia bisa berbicara mungkin ia kan mengadu pada Rabb-nya tuk melaporkan kebobrokan yang tak masuk di akal ini. Lalu satu region yang sedang memperbaiki hukum syariahnya, dikejutkan ketika generasi penerusnya melepas jilbab tuk melenggang di catwalk , lalu terpilih sebagai PUTRI BLA…BLA..BLA mengatur senyum pongah seolah-olah telah mengharumkan bangsa padahal sang penyelenggara sedang mempersiapkan suatu kejutan pelepasan aurat yang lebih akut di kontes berlevel internasional, apa-apaan ini????, mungkin masih dia yang muncul ke panggung sebagai representasi kegagalan tarbiyah keluarga di region serambi makkah itu, mungkin generasi-generasi akut lainnya masih tersimpan di beberapa tempat yang kuharapkan semakin berkurang bukan bertambah. Biarkan kita menjadi region “Role Model” bagi negara ini dan dunia suatu hari nanti. Biarkan kami menawarkan Qanun, lalu biarkan syariah itu tumbuh lagi, boleh kan???.

Dunia terus saja bergerak, mereka kehilangan syaikh tarbiyah, mereka kehilangan syaikh-syaikh kontemporer, namun jangan harap islam kan runtuh, karena terus saja dunia masih eksis dan stabil memproduk para pemikir islam yang gemilang. Seolah-olah di kegelapan yang sangat gelap di dunia sekarang ini, masih muncul secercah sinar yang menguat tuk bergerak me-reset ulang akhlak bangsa.

Lalu pada saatnya, jika masyarakat umum bertanya padamu, kapankah kemakmuran, kedamaian dan kesejahteraan ini kan kembali???, jawab saja, “JIKA KITA KEMBALI SEUTUHNYA KEPADA DINUL ISLAM, AGAMA KITA”, lalu kita re-apply seluruh kegemilangan para assbiqunal awwalun dalam menyusun peradaban terbaik yang pernah ada, Islam Civilization. Lalu muncul lagi Umar baru, Ustman baru, Abu bakar baru, Ammar baru, Ali baru, Sa’ad baru, Bilal baru serta para tokoh-tokoh lain yang didamba syurga.

Wallahua’lam

K

UncategorizedNovember 8, 2009 9:27 am

Anybody people who has the leisure time to share the knowledge about business logic of enterprise or middle complicated application, I wanna apply it comprehensively to my designed core framework based on Spring 3.0.

So with this effort we could add the experience value with integrating framework to business needed. This is for research only, there is no other needs like part time job.

Qolbu Explosion, Brain StretchingNovember 4, 2009 4:54 am

Shalat fardhu sore itu menghentakku. Namun hentakan kali ini membuatku sedikit mengusap derai air yang mengalir tanpa kendali dari 2 bola mataku. Sekejap ku mendongak ke atas melihat dinding-dinding rumah ALLAH ini didesain sedemikian rupa, namun bukan itu yang menjadi concern-ku kala itu. Aku tersedak oleh para mujahid2 kontemporer yang mengedepankan sebuah kebenaran yang harus terucap. Walau nantinya akan ada pemutaran fakta, manipulasi media dan rangkaian embargo, mereka tetap tegar, tegas dan tanpa kompromi. Karena lagi-lagi ini masalah kebenaran. Bayanganku yang pertama mengarah kepada anak-anak kecil yang tak gemetar kakinya ketika di depan kepalanya disuguhi senjata laras panjang zionis. Bukannya mundur perlahan, namun mereka menghentak lalu bersahut-sahutan dengan takbir yang menggema, di sisi lainnya ketika border pertahanan yang semakin dilemahkan oleh zionis, para pemuda tetap melakukan strategi defence klasik bermodalkan batu, lempar…terus melempar. Begitulah masa ketika al-aqsa beberapa pekan ini di tongkrongi oleh zionis bermodal manipulasi fakta lalu melakukan gerakan ekspansi sporadis ke tanah tempat dilahirkannya para nabi.

Kudongakkan lagi kepala ke atas, senyaman apa aku ini di belahan bumi bernama Indonesia, mudah beribadah tak ada yang mengganggu namun besar sekali cakapku, si kerdil ini, padahal di belahan bumi sana anak-anak palestina lah yang lebih berhak meminta kemuliaan kepada Rabb-nya. Mereka yang bersabar, mereka yang menangis namun bukan memupus asa, lalu mereka yang melahirkan generasi-generasi tahan banting akan nasib kolonialisme sepihak alih-alih perebutan kembali tanah yahudi. Merekalah, para pejuang yang lebih berhak meminta kepada Rabb-nya akan kemuliaan..Mujahid fii falestinn..

Sejenak lagi arah renunganku berlabuh ke area lain, tempat dimana sang pemimpin menjelaskan identitasnya, mendukung siapa dan membenci siapa. Lalu menggunakan kepemimpinan untuk memberikan ketakjuban pada dunia, islam belum pupus bahkan terjerembab, karena kami masih ada. Bagaimana seorang recep tayyib erdogan menghentak forum PBB dan mengungkap garis besar fakta akan kezaliman zionis di tanah palestina di akhir 2008, padahal di sisi lain para pemimpin dunia lainnya seolah-olah mengubur secara perlahan satu topik ekspansi serta kezaliman kontemporer oleh israel. Tak pelak dunia lagi-lagi tersentak, karena islam belum lah pupus dan paman sam pun tertunduk lesu ketika moammar khadafi melanjutkan tekanannya. Memang  banyak sekali para pemimpin dunia mengaburkan perannya kalau sudah berada di depan forum internasional. Ada yang memuji diri, ada yang membahas lingkungan, ekonomi dan bla..bla..bla. Ya pada akhirnya itu hanya satu pidato general yang "terlalu biasa". Semoga Rabb memuliakan orang-orang yang masih bisa menunjukkan identitas "kemuliaannya", tanpa mengerdilkan dirinya di depan para pemuka dunia yang mulai rapuh. Lagi-lagi, pantaskah aku meminta kemuliaan, padahal masih ada beberapa pemimpin dunia yang lebih patut dimuliakan, karena mengatakan kebenaran walau itu pahit bagi para lawan tandingnya.

Sudah selayaknya kita mengumpulkan lagi serpihan-serpihan akhlak yang terserak di dunia. Lalu menyusunnya lagi menjadi satu enkapsulasi akhlak yang menenangkan dunia, mendamaikan hati dan menggebrak para penjahat yang berselimut jas dan dipuja bak raja, padahal imannya kosong. Sudah sepatutnya kita melakukan sebuah ekspansi perubahan akhlak sebagai fundamental concern, karena apalah artinya kemajuan ekonomi, reduksi pemanasan global dan istilah-istilah keren lainnya, tanpa ada sebuah kekuatan pendirian para manusianya, sebagai stake holder kepemimpinan dunia.

Wallahua’lam

K