Di masa-masa 80 hingga awal 90an adalah masa-masa pembentukan pola hidupku, bergerak mengikuti arah angin terkadang terhenyak dalam perputaran bumi yang seakan tak pernah lelah. Masa-masa kecil itu mengantarkanku pada satu masa dimana ada wujud keindahan yang sangat unik dalam masa-masa kecil, melupakan kemarahan cukup dengan mengulurkan tangan lalu melenyapkan trauma cukup dengan tangisan, terisak-isak sejenak lalu jika ibu dan ayah menghampiri dan mengelus-elus punggung dan bertutur tenang dan lembut tuk mendiamkan si anak, lenyap sudah rasa takut yang ada. Seakan-akan semuanya tersimpan dalam temporary memory pada satu sisi, namun yakinku sebenarnya masa-masa itu telah ter-mirroring dengan fantastik di memory long life kita, sungguh luar biasa sehingga membuatku bisa membayangkan masa-masa itu lagi.

Masa-masa kecilku dihabiskan dengan canda,tangis lalu pembelajaran di sekolah. Seakan terlalu kaku memang, namun dalam tiga hal itu berisi keindahannya. Canda dan bermain dengan teman-teman sepulang sekolah, menendang bola plastik, mengelir buku gambar, menonton kartun plus disuapi dikala makan siang tiba, merupakan rutinitas kami, para anak kecil. Tak jarang ada pemberontakan mini, dariku kala itu untuk tidak mau sekolah, malas dan lain-lain. Apalagi dulu kami sering makan ikan tongkol goreng, maaf saja sifat selektifku bisa merasakan yang mana bagian ikan yang enak atau tidak, lalu cukup memakan bagian yang enaknya saja, atau bisa dibilang ini sebagai teknik "selektif namun mubazir". Pada masa-masa itu, azan yang terdengar dari musholla berbentuk balee itu selalu kutunggu, ada semacam ketertarikan tuk berkumpul dan shalat berjama’ah di suasana maghrib yang sejuk, mengantarkan kita pada malam yang hening. Dulu peci andalanku adalah peci bulat berwarna merah dari ayahku, tiap aku bergegas ke masjid pasti kusematkan ia di kepala.

Secara tak sadar ternyata pola-pola kehidupan di masa awal kehidupan merupakan "extended pattern" di masa-masa berikutnya. Sederhananya, jika kita tinggal dan melahirkan anak-anak kita di tempat yang gaduh, penuh ketidak toleransian, penuh dengan manusia-manusia acuh lagi bangga akan keacuhannya yang mereka kira akan melegenda, lalu ada lagi ketidak pekaan akan lingkungan dan perhatian "first class" bagi sang anak, sudah barang tentu jika kau menutup matamu sejenak dan membayangkan akan jadi apa anak itu ketika dewasa, kau sudah bisa membayangkannya, terlalu mudah untuk diprediksi. Namun sebaliknya, para anak-anak yang diasuh dengan perhatian yang luar biasa, parenting yang berkualitas, penjagaan lingkungan yang protective dan memiliki benih-benih persaudaraan disana, lagi-lagi jika kau pejamkan matamu, kau takkan bisa membayangkan jadi apa anak itu, karena mereka di masa depan akan menjadi manusia-manusia yang bervariasi kehidupannya, namun pada intinya mereka kan jadi orang "yang diteladani orang-orang disekitarnya", mungkin jadi Praktisi atau ilmuwan atau social leader dan jenis-jenis lainnya yang menggebrak kebobrokan moral.

Sudah barang tentu, mengapa kita perlu memperhatikan masa kecil, karena ketika masa kecil itu berbekas sangat dalam di hati, seakan ada perisai yang melakukan "strong defense" dalam diri agar tidak terlalu jauh dalam kemaksiatan. Orang-orang yang mampu menginterpretasikan keinginan orang tuanya dengan prestasi lalu orang-orang yang ingin berjasa bagi negaranya dengan sisi implementatif, bukan hanya berteriak akan prinsip ideologi namun miskin pemahaman, lalu ketika ada angin badai yang berhembus para manusia "yang menganggap dirinya loyalis" namun kosong ilmunya, akan terbawa oleh badai dan tak kembali lagi, terlalu kering kerontang pendirian mereka.

Dunia selalu identik dengan rutinitas, sungguh menyedihkan bagi para manusia yang melupakan perisai masa kecilnya, jika hanya kehidupan ini digunakan untuk menuntut kekuasaan semu, jabatan semu dan marketing strategy semu. Lalu parahnya keimanan, kewajiban iman dan rekan-rekannya digadaikan seluruhnya. Alhasil para manusia terus saja menjalankan rutinitas dunianya tanpa ada masa jeda instrospeksi tanpa ada masa kilas balik akan tumbuhnya keimanan dalam diri, karena hati mereka tak pernah hidup. Sehingga sampai-sampai para penggoda serta mitra utama para manusia bernama setan, tak perlu lagi menggoda mereka, karena hati mereka tak ada "fundamental pattern" yang mengajak mereka pada kebaikan, lalu para setan itu hanya terbahak-bahak tanpa melakukan apapun.

Sudah sepatutnya, jika ingin membangun lagi zaman-zaman emas pemikiran yang dilebur dengan kedekatan dan dependensi penuh pada prinsip ketuhanan, diperlukan pembangunan akhlak sedari kecil lalu upaya-upaya "upgrading dan releasing version" dari penyempurnaan akhlak tiap insan, kan berjalan dengan apik, terkoordinir lagi fantastik.

Wallahua’lam