Fiuhhh sudah 00.25 mata ingin tertutup, beberapa sindiran halusnya mendatangiku agar segera menutupnya, kannn sudah malam…
Tapi beberapa hari ini ku coba memikirkan beberapa orang besar dan seperti apa sebenarnya bagaimana mereka bisa menjadi besar. Dimana zaman bukan menjadi tembok kemasyhuran mereka, karena mereka dikenang sepanjang masa. Terkadang digubah dalam syair indah, digoreskan dalam kitab suci lalu menjadi hikayat penyemangat dan ketenangan bagi yang membutuhkannya. Namun seiring dengan munculnya orang-orang besar, pastilah ada para pemegang peran antagonis di tiap zaman, mereka ada pula yang masyhur namun ada pula namanya tak ingin lagi didengar oleh bumi, karena kebobrokan etikanya pada ilahi rabbi. Aku khawatir para pemuda-pemudi yang tenggelam dalam air pergaulan di depan seekor hiu itu, sesungguhnya mereka tak tahu bahwa dalam seketika adaptasi pergaulan mereka bisa membuat mereka ditelan bulat-bulat oleh seekor hiu. Semuanya berdasar pada ketidaktahuan ummat kan?, lalu siapa yang bertanggung jawab untuk merubah visi ummat yang setengah bahkan seperempat perihal agamanya, yang puasa hanya menahan lapar dan haus saja, lalu menganggap ikhtilat sebagai kultur modern dan termaafkan, selanjutnya ketika ketabuan yang dijaga oleh orang terdahulu diluapkan dengan "gila" dan jadilah zaman menjadi zaman pengekspos bangkai (para pakar aib saudaranya). Siapa yang bertanggung jawab??, haahhhh???
Sebuah pertanyaan retorika sudah semestinya menjadi retorika, tak perlu dijawab kan?, namun para orang-orang besar, mereka itulah yang menjawab sebuah retorika zaman, yang miris ketika zaman dikoyak oleh paham atheis lalu keduniawian dan pada akhirnya menghilangkan kesadaran akan adanya eksistensi sang pencipta..sungguh miris sekali.
Suatu malam, Khadijah RA gelisah melihat Rasulullah terus saja menangis di tengah malam gelap gulita, ia senantiasa berkomunikasi pada Tuhannya perihal ummat, perihal pengembanan risalah. Khadijah pun bertanya, ya suamiku sudah cukup kau beribadah pada ALLAH malam ini, namun Rasulullah menoleh dengan ketenangan khas para anbiya, Ya khadijah masa istirahat sudah lewat…Ternyata orang-orang besar mengurangi istirahatnya lalu memikirkan orang-orang di sekelilingnya.
Beberapa tahun setelahnya, Sahabat nan salih, Abdullah bin umar didatangi tetamu jauhnya, negeri Persi (Iran). Ya abdullah bin umar ini ada oleh-oleh untukmu, sejenis ramuan dari persi untuk melancarkan pencernaan. Namun Abdullah bin umar, anak dari khalifah masyhur "Umar Bin khattab RA" hanya tersenyum, bagaimana aku memerlukannya?, aku tidak pernah makan hingga kenyang bagaimana aku bisa bermasalah dengan pencernaanku?, ternyata orang besar pun tak tamak dan berlebihan dalam meladeni kebutuhan makannya, mereka bahkan lebih sering berpuasa.
Bagaimana seorang utsman bin affan seorang kaya di zaman awwal islam, senantiasa ditawari oleh rasulullah untuk menikahi anaknya. Pastinya ada kekhususan akhlak pada dirinya, sehingga ada pada posisi spesial di hadapan Rasul dan Tuhannya. Ternyata orang besar bukanlah orang yang "biasa-biasa" saja, mereka memiliki keunikan sehingga orang menyenanginya.
Asiah berbeda keyakinan dengan suaminya yang menobatkan secara sepihak dirinya sebagai tuhan. Tak ada ketakutan pada diri asiah tuk membatalkan keimanannya kepada Tuhan yang Esa pencipta langit dan bumi. Padahal suaminya seorang antagonis termasyhur dan terbesar yang senantiasa diulang-ulang kisahnya dalam Al-quran agar dijadikan sebuah pelajaran, siapa lagi kalau bukan Fir’aun. Ternyata orang besar tidak labil dalam mempertahankan sebuah keyakinannya, walaupun ia berada di depan seekor singa yang kelaparan, ketahanan keyakinan.
Pada generasi awal tak terhitung jumlahnya orang-orang baik yang senantiasa menginspirasi, asal kau tau kisah mereka tak akan usang karena kemaksiatan, fenomena sosial dan tetek bengeknya hanya berdasar pada tujuan hakiki setan tuk mengajak manusia agar menemani mereka di neraka kelak, itu saja. Jadi tak ada yang usang dalam sebuah kisah masyhur, kau perhatikan itu anak muda agar kita tak terlalu jauh menyimpang lalu tak ingat bahwa kita senantiasa meminta kepada ALLAH , agar ditunjukiNya jalan yang lurus…ya jalan lurusss…
Wallahua’lam
K