Tangisan pasti akan kering, sedih suatu saat akan diliput dengan sebuah kegembiraan walau ia datang belakangan. Kekuatan itu tidak serta merta bangkit karena kita telah kuat sejak awal, namun kekuatan lahir karena kita pernah ditempa..ditempa lalu ditempa lagi.
Seiring dengan penempaan dari sang khalik, manusia menyalahkangunakan kesempatan instrospeksi menjadi sebuah blunder akhlak. Keyakinanku yang dalam, tangisan-tangisan saudara kita di tanah minang akan berbuah kebaikan di masa datang, agar tanah minang terus melahirkan generasi-generasi sekelas Muhammad Hatta sang engineer kemerdekaan, lalu Ulama kharismatik sekelas Buya hamka. Namun keyakinanku pun akan ada saja manusia-manusia perusak peradaban yang senantiasa hadir layaknya benalu di taman bunga nan harum. Para manusia benalu ini seringkali tak tau pelajaran dibalik bencana/ujian, kau lihat saja setahun kemudian..para benalu akan terus menjadi benalu. Namun generasi yang berakhlak haruslah berkembang menagalahkan pesatnya benalu.
Siapa benalu, analoginya mudah saja, kau tanya saja pada dirimu, apakah hari ini kau mengingat ALLAH yang menciptakanmu???, kalau tidak ATAU bahkan kau atheis bermodal akal tanpa filtrasi, kaulah benalu yang kumaksud.
Namun jika bencana/ujian hadir, ada lafadz yang mengalir deras tersebut di lidah para insan..istighfar yang terlantun dalam tangisan, semoga keturunan2mu lah yang sepatutnya menjadi taman bunga kehidupan kelak. Agar mengharumi kembali akhlak para manusia…
Saudara2ku di Padang, salamku untukmu…izinkan aku menangis melalui jari-jari yang bergerak di keyboard ini, agar ada keyakinan dan keteguhan bagi kita semua, tuk membangun kembali infrastruktur fisik lagi ruhani…
Wallahua’lam
K