Religi, Qolbu ExplosionSeptember 18, 2009 11:50 pm
Sudah sekitar 29 hari ada tamu agung yang hadir di relung ku dan kau. Ia memberikan ketenangan dan stimulasi ruh yang tangguh tuk terus eksis dalam lingkaran ibadah. Mungkin kau di pojok sana berqiraatul quran lalu mungkin aku sedang membaca di rumah sebuah buku pilar-pilar asasi. Tamu ini terlalu manis tuk ditinggalkan, karena 2 bulan sebelum ia hadir jutaan manusia meminta disampaikan padanya, artinya inilah penantian, suatu kerinduan yang lagi-lagi qalbu dan ruh yang sangat merasakannya. Keberkahan ditunjukkan dengan pelipatgandaan amal lalu sunnah terhitung wajib serta tilawatil quran yang disimak langsung oleh Jibril Alaihissalam. Ada ketenangan yang tak biasa, ada proteksi diri yang terlalu utuh agar nafsu te-reduce perannya karena aliran darah tak lagi ditemani setan-setan yang dibelenggu kali ini.
Guratan asa di lorong yang sempit penuh sinar, lantunan request doa yang tak pernah ditolak bersama tetamu agung ini. Karena tak ada keluhan sekalipun dari sistem Ilahiah dan langit ketika mendapatkan seorang hamba dengan shaum yang utuh menengadahkan tangan sembari melantunkan do’a yang itu2 saja namun ada secercah harapan baru karena dia, sang tetamu. Mustajab doa, itulah satu reason yang diperuntukkan bagi kau dan aku yang meminta, karenanya ku tak lupa terus melantunkan doa sekuensial yang bertumpu pada ridha dan persetujuan sang khalik akan semuanya, karena ku sadar doa-ku sedikit berat akan sebuah konsiderasi merubah peradaban yang dicita-citakan.
Yang pasti bersama tetamuku tahun ini, aku lebih merasakan satu pola terstruktur bersamanya karena tarawih bersambung witir bersamanya tahun ini terasa lebih meresap, karena manajemen waktu dan setting yang kusengaja ; fokus akhirat bukan rutinitas dunia bersamanya. 2 kali berdiri dalam posisi terdepan ketika tarawih plus 1 dalam qiyam al-lail serta sebiji tausyiah ramadhan di kampung tercinta kuharap menjadi satu titik awal sebuah kekuatan baru bersama tamu agungku ini. Karena kuingin lebih berguna dalam masyarakat, menyebar kekuatan islami yang menenangkan ketika diingat.
Hari ini tetamu agungku, satu langkah kakinya telah keluar dari rumahku ia berkemas tuk kembali, syawal telah menjemputnya. Ku panggil ia sejenak agar tak pulang cepat-cepat namun ia hanya tersenyum tak memberikan asa yang jelas di tahun berikutnya, apakah ia kan mengunjungiku lagi atau sang khalik yang memanggilku.
Shubuh yang sejuk tak terlewat, kucoba lagi tuk mengangkat kedua tangan menengadah ke langit..satu pintaku di akhirnya, agar aku bisa bertemu lagi dengan si dia, tetamu agungku, Ramadhan mubarak…
Wallahua’lam
K