Yang pasti "typing speed"-ku dalam menulis untuk beberapa hari ke depan tidak akan secepat ketika masih intens bersamanya. "nya"???, siapa sih ???, makanya baca dulu sampai usai, karena "nya" me-refer ke HP Pavilion dv1000 yang sudah menemani hari-hariku bertahun-tahun lamanya dan pastinya mengetik di laptop HP pavilion sudah menjadi "habits". Nah sekarang aku mulai dengan U330 Lenovo, yang kalau bisa dibilang as cool as the owner. hehehe..cukup selingan brain stretching-nya, sekarang mari kita masuk poin utama ; Keshalihan Sosial.

Rintik-rintik itu tak lama, angin langsung membawa kabar berikutnya, karena gumpalan rintik yang bersahutan telah menjadi hujan yang sangat deras. Banda Aceh beberapa hari diguyur keras, ada nuansa keberkahan ketika transisi musim dimulai. Seiring hujan yang menemani hari-hari ramadhan bersambung syawal, kucoba tuk menuangkan lagi pemikiran independenku yang ingin kubuncahkan sesuai dengan fenomena yang kulihat sendiri. Rasulillah ketika bertemu Jibril AS di gua hira sontak terkejut, tubuhnya menggigil tak tau itu nyata atau hanya sebuah fatamorgana kesunyian. Namun hari terus berganti, Rasulillah mencoba mengemban risalah khatamunnabiyyin dengan fenomena akhlak yang tak mungkin tertandingi (lagi) hingga akhir zaman. Di tengah kekuatan sesembahan berhala dan mindset yang mengakar di jazirah arab, Rasul tak gentar karena ketergantungannya yang jelas di relung hati akan ketauhidan dan yang tersulit adalah "kegaiban". Ya…inilah masalahnya iman kepada yang gaib merupakan satu stressing point terberat dalam risalah islam, seperti khawatirnya pemimpin kabilah abdul asyhal ketika "mush’ab menjadi duta pertama islam" untuk menyebarkan risalah ke tanah yastrib dengan statement kegaiban ALLAH SWT. Namun lagi-lagi kutekankan, qolb-lah yang merasakan getaran ketika keyakinan kita kepada yang gaib sudah pada taraf kestabilan, tak peduli mata tak menjangkau karena hati terus basah akan dzikr. Begitulah Rasulillah dan para sahabat menerapkannya dalam generasi awwal dakwah dimulai.

Terkait dengan shalih sosial, Rasulillah sudah menjadi tauladan yang mumpuni, bagaimana tidak Ia yang mendapatkan wahyu dari sang khalik terus gencar tuk menyebarkan bukan memendam sebuah risalah. Itulah fundamental dari Islam karena ia dimulai dengan interaksi sosial yang cakap antara Rasulillah dan para umat muslim yang mulai mendapatkan nur ilahi dari qalamullah yang dibacakan. Dan lagi itu pun tak dipendam oleh generasi awal karena risalah dituntut untuk terus disebarkan hingga menyinari dunia dengan ketauhidan. Indah sekali….

Karena keindahan inilah, skala kontemporer tidak boleh mengubur mimpi risalah islam. Seyogyanya kita sebagai ummat terakhir terus menyebar kebaikan semampunya dan sesederhana mungkin. Terkait masalah sosial, bukan masalah yang mudah. Karena ia butuh satu adaptasi sosial itu sendiri. Bayangkan saja bagaimana risalah islam di masa awal harus di sosialisasikan secara sembunyi-sembunyi di rumah arqam bin abul arqam, lalu ketika panji islam tlah tegak, ia disebarkan secara luas, rapih dan tidak menghilangkan "cita rasa" islam itu sendiri, akan sebuah konsep dependensi mumpuni kepada ALLAH, ya hanya ALLAH tak ada latta, uzza atau bahkan dewi kwan in itu…

Dengan ramainya perang pemikiran yang dilancarkan oleh para yahudi LA, sudah sepantasnya kita memiliki kapabilitas yang jika dalam bahasa IT sering disebut "Technology Update", jika kita sesuaikan, harus ada teknik dakwah atau cara penyampaian dakwah yang "update" pula di zaman modern. Dimana kita sama halnya Rasul melihat medan dan issue terlebih dahulu sebelum bergerak dengan rapihnya. Lagi-lagi ini tak mudah, namun keshalihan sosial menurutku hanyalah satu differensiasi dari keshalihan personal. Artinya ketika sudah ada keshalihan personal, shalih secara sosial hanya menunggu waktu dan "kepekaan". Peka diperlukan untuk merasakan suatu kekurangan di ranah sosial yang telah kita atasi secara personal, sehingga ketika masyarakat belum mampu mengatasi masalah itu kita secara personal sudah sepantasnya memberikan "solution approaching". Contoh ringan akan kenakalan remaja, ghibah masal, nikmatnya shalat dan lain-lain.

Inilah yang menjadi tugas kita bersama, karena salih personal takkan mengembalikan sinar Islam ketika sempat menaklukkan persi dan romawi bahkan sepertiga dunia di zaman khalifah umar. Namun perlu shalih sosial yang peka akan "general issue" masyarakat lalu memiliki keinginan yang kuat untuk merubahnya, walau keluarga terdekat terkadang adalah hal yang paling sulit untuk menyebarkan keshalihan sosial itu…

Begitulah adanya, karena ALLAH tak melihat hasil namun sekuat dan kesungguhan seperti apa yang kita berikan tuk mencapainya.

Syawal sedang menunggu di gerbong terakhir persis di belakang gerbong 10 terakhir ramadhan, ramadhan terus sejuk lalu ia meninggalkan(lagi) manusia, ada yang berbekas di hati sebagian hamba, namun ada pula yang menahan makan dan minum tanpa tau hakikat gemilang di dalamnya…

Wallahua’lam