Masa(waktu) akan merugi jika tak digunakan dengan seidealnya masa itu sendiri. Artinya, ketika digunakan dengan kualitas C, jelas anda akan mendapat kualitas "Cukup", jika kita memilih fitur B dalam mengendalikan masa, maka ia menghasilkan kualitas Baik. Lalu apalagi kalau bukan pemanfaatan masa dengan kelas A, sangat baik atau bahasa kerennya flying score.
Namun dalam penerapan, pasti tak akan seindah teori. Butuh konsistensi, intensitas, loyalitas akan teori yang didapat lalu jatuh-bangun-jatuh-bangun lagi untuk mempertahankan teori kebenaran. Siapa bilang sisi aplikatif penggunaan masa oleh Rasul kita tak mengalami kendala, bagaimana ia mengendalikan masa dengan strategi dakwah dari sembunyi-sembunyi di darul arqam hingga mencapai suku terpencil di kawasan asia. Lalu bagaimana masa membentuk kesabaran, dari hinaan dan lemparan batu di satu era thaif namun dihormati di era berikutnya di tempat yang sama. Lalu apalagi kalau bukan strategi pengutusan termasyhur, melakukan strategi "masa", dengan mengirimkan kader terbaik dakwah ke yastrib (madinah) dan islam menyebar seperti akar yang kuat lagi kokoh di dalam tanah, hingga Rasul hijrah disambut dengan "kesabaran" atas pencapaian strategi masa itu sendiri.
Manusia lagi-lagi memunculkan tabiatnya, kau lihat saja para manusia yang menghantam masa dari derajat idealnya, menggunakan kesempatan menyimpan uang didalam laci yang belum pasti haknya atau bukan??, "mumpung dapat rezeki.." begitu katanya. Brengsek kali lah mereka, menghantam ideal-nya masa dengan haram dibalut dengan kata rezeki. Namun di belahan bumi yang masih sama, akan ada saja manusia-manusia yang terfiltrasi akan renungannya terhadap "masa". Karena Tuhannya sudah mewanti-wanti, demi masa…demi masa dan demi masa, sesungguhnya manusia kerugian, melainkan orang-orang yang beramal saleh. Mereka terngiang-ngiang terus akan satu instruksi ilahiah, lalu mereka melakukan satu "self-guiding" untuk mencapai derajat kesalihan itu.
Alhasil, mereka para manusia terfiltrasi oleh masa, dengan lebih menyukai "jalan" yang tertatih-tatih menuju kebenarannya, di dalam selimut godaan, diluar angin bertiup kencang denga uang-uang kertas yang membuat manusia bermata hijau. Tengik sekali kadang mereka itu, karena ketumpulan etika, kita yang menjadi imbas. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi "perenung" masa untuk terus mengumpat dan menyumpahi para manusia yang membuat bangsa berada dalam posisi "terhina", namun para manusia yang menghormati masa terus mendengungkan akan satu quotation, "Jika ku terus menyalahkan mereka tanpa action, apa aku bisa me-rebuild bangsa menjadi lebih beretika??", jika TIDAK, condongkan diri untuk mengabaikan itu, namun mengajak masa untuk mengambil hikmah dari kebobrokan masa lalu.
Efisiensi masa sudah menghasilkan peradaban baru yang singkat masa proses pembentukannya bernama islam, efisiensi masa telah membentuk tokoh perubahan "peradilan" sekelas baharudin lopa yang terlalu singkat umurnya ketika menjabat, efisiensi masa telah membentuk satu pola tarbiyah kontemporer dengan tetap berpegang pada al-quran dan sunnah, lalu efisiensi masa dan eksperimen-eksperimen lanjutannya telah menerangi cordova, baghdad dan suriah ketika prancis dan inggris masih rawa-rawa di abad pertengahan.
Sudah semestinya kita memilih tuk tertatih-tatih dalam kebenaran, daripada leluasa "dibiarkan" oleh sang khalik tuk bermaksiat dan mengumpul harta, tanpa ada lagi "kepekaan" dalam hati tuk menghormati masa, karena lupa tuk memberi…
Kemerdekaan bangsa kali ini tak jauh dari bulan barokah, sudah sepatutnya keberkahan ramadhan akan menjadi satu refleksi ‘kemerdekaan’ hati lalu me-reposisi nafsu ke border belakang, lalu hati memimpin setiap insan tuk berbuat kebaikan, kebaikan lalu kebaikan lagi…
Mohon maaf lahir batin, beberapa hari lagi sudah ramadhan, semoga Rabb menghantar kita ke gerbang berkah ramadhan dengan kesiapan iman yang mumpuni.
Wallahua’lam
K