Qolbu ExplosionAugust 26, 2009 12:54 am

O dan Q hanyalah dua huruf yang tidak terlalu jauh letaknya jika diurutkan. Namun seiring fenomena, ada perbedaan tipis fenomena kedua huruf ini. O sangat identik dengan interaksi tanpa batas dengan sesama manusia, namun di ramadhan ini Q akan senantiasa identik dengan satu interaksi tanpa batas dengan kekuatan maha besar, sang penerima segala doa lagi maha perkasa, Rabb kita. Sudah sepatutnya kini para muslimin mereduksi malam-malamnya dalam penggunaan O, karena Q sedang menunjukkan dominasi dan keharusan untuk dilaksanakan, agar bulan door prize para manusia tak terlewatkan, karena ini santapan ruhiyah agar 11 bulan berikut ruh tak kering kerontang lagi.

O akan selalu identik dengan "update status" yang melenakan dan sedikit useless , lalu ia pun sebenarnya sangat berfungsi ketika kita memang membutuhkannya, alias sangat "conditional". Bayangkan saja, para developer web sekalipun tidak akan senantiasa O jika ia sedang developing. Begitulah O agar digunakan seperlunya saja, ia bukan kebutuhan terlalu penting bagi fisik apalagi ruh. Namun Q terlebih di bulan berkah ini, sudah diwanti-wanti untuk dilaksanakan agar "kau bertakwa", mulia sekali si Q ini…ia bisa membuat kau bertakwa anak muda, takwa!!!

Begitulah fenomena kontemporer mengajak kita berkaca, apakah O mendominasi dirimu atau Q yang senantiasa mengisi kekeringan ruh. Sebagai renungan kita bersama..

Karena OL (online) sudah hampir menyalip para manusia yang QL (qiyamullail)

Wallahua’lam

K

Qolbu ExplosionAugust 18, 2009 3:10 pm

Masa(waktu) akan merugi jika tak digunakan dengan seidealnya masa itu sendiri. Artinya, ketika digunakan dengan kualitas C, jelas anda akan mendapat kualitas "Cukup", jika kita memilih fitur B dalam mengendalikan masa, maka ia menghasilkan kualitas Baik. Lalu apalagi kalau bukan pemanfaatan masa dengan kelas A, sangat baik atau bahasa kerennya flying score.

Namun dalam penerapan, pasti tak akan seindah teori. Butuh konsistensi, intensitas, loyalitas akan teori yang didapat lalu jatuh-bangun-jatuh-bangun lagi untuk mempertahankan teori kebenaran. Siapa bilang sisi aplikatif penggunaan masa oleh Rasul kita tak mengalami kendala, bagaimana ia mengendalikan masa dengan strategi dakwah dari sembunyi-sembunyi di darul arqam hingga mencapai suku terpencil di kawasan asia. Lalu bagaimana masa membentuk kesabaran, dari hinaan dan lemparan batu di satu era thaif namun dihormati di era berikutnya di tempat yang sama. Lalu apalagi kalau bukan strategi pengutusan termasyhur, melakukan strategi "masa", dengan mengirimkan kader terbaik dakwah ke yastrib (madinah) dan islam menyebar seperti akar yang kuat lagi kokoh di dalam tanah, hingga Rasul hijrah disambut dengan "kesabaran" atas pencapaian strategi masa itu sendiri.

Manusia lagi-lagi memunculkan tabiatnya, kau lihat saja para manusia yang menghantam masa dari derajat idealnya, menggunakan kesempatan menyimpan uang didalam laci yang belum pasti haknya atau bukan??, "mumpung dapat rezeki.." begitu katanya. Brengsek kali lah mereka, menghantam ideal-nya masa dengan haram dibalut dengan kata rezeki. Namun di belahan bumi yang masih sama, akan ada saja manusia-manusia yang terfiltrasi akan renungannya terhadap "masa". Karena Tuhannya sudah mewanti-wanti, demi masa…demi masa dan demi masa, sesungguhnya manusia kerugian, melainkan orang-orang yang beramal saleh. Mereka terngiang-ngiang terus akan satu instruksi ilahiah, lalu mereka melakukan satu "self-guiding" untuk mencapai derajat kesalihan itu.

Alhasil, mereka para manusia terfiltrasi oleh masa, dengan lebih menyukai "jalan" yang tertatih-tatih menuju kebenarannya, di dalam selimut godaan, diluar angin bertiup kencang denga uang-uang kertas yang membuat manusia bermata hijau. Tengik sekali kadang mereka itu, karena ketumpulan etika, kita yang menjadi imbas. Namun itu tidak menjadi penghalang bagi "perenung" masa untuk terus mengumpat dan menyumpahi para manusia yang membuat bangsa berada dalam posisi "terhina", namun para manusia yang menghormati masa terus mendengungkan akan satu quotation, "Jika ku terus menyalahkan mereka tanpa action, apa aku bisa me-rebuild bangsa menjadi lebih beretika??", jika TIDAK, condongkan diri untuk mengabaikan itu, namun mengajak masa untuk mengambil hikmah dari kebobrokan masa lalu.

Efisiensi masa sudah menghasilkan peradaban baru yang singkat masa proses pembentukannya bernama islam, efisiensi masa telah membentuk tokoh perubahan "peradilan" sekelas baharudin lopa yang terlalu singkat umurnya ketika menjabat, efisiensi masa telah membentuk satu pola tarbiyah kontemporer dengan tetap berpegang pada al-quran dan sunnah, lalu efisiensi masa dan eksperimen-eksperimen lanjutannya telah menerangi cordova, baghdad dan suriah ketika prancis dan inggris masih rawa-rawa di abad pertengahan.

Sudah semestinya kita memilih tuk tertatih-tatih dalam kebenaran, daripada leluasa "dibiarkan" oleh sang khalik tuk bermaksiat dan mengumpul harta, tanpa ada lagi "kepekaan" dalam hati tuk menghormati masa, karena lupa tuk memberi…

Kemerdekaan bangsa kali ini tak jauh dari bulan barokah, sudah sepatutnya keberkahan ramadhan akan menjadi satu refleksi ‘kemerdekaan’ hati lalu me-reposisi nafsu ke border belakang, lalu hati memimpin setiap insan tuk berbuat kebaikan, kebaikan lalu kebaikan lagi…

Mohon maaf lahir batin, beberapa hari lagi sudah ramadhan, semoga Rabb menghantar kita ke gerbang berkah ramadhan dengan kesiapan iman yang mumpuni.

Wallahua’lam

K

Brain StretchingAugust 11, 2009 1:57 pm

Hmmm, today I feel very useless because there is no observation / research that I have or reading something important to increase my knowledge. So you could call me today as an "Idle Coder". But on the other hand, today is my first time in my life to donate my blood via Indonesian Red Cross. Hope after this donation, my blood cell could reproduce the better cell that could make me more healthy and my donation could be an aid to others.

The main point of this post is not about useless thing, but I really want to imagine about my dream or it could be your dream too. The big question after doing lots of activity for many years, what exactly do you feel about reaching your dreams?. Are they in queuing of your internal system or in the contrary its now in deadlocked condition and never step ahead anymore. Sometime when we feel very comfort on current condition, our dream to leap ahead following the time and age is stuck on unidentifies spot, and the worst condition, when we do not realize that we are stuck on comfort zone. It brings us to the moment, we are only follower of the century. We do not have strong desired to change our lives more worth to others.

On the other type of dream, many people arrange their dream properly. They have the own deadline to make this year must be different than before. Next year must be changed the vision of their live and maybe they have the dream to change lots of people life’s better. I called this as a queued dream. Queued dream means people could trigger themselves when and where they need to apply their dream. So they will become the first stake holder, should they apply the dream or ignore it totally!!!

hmm, just making a note that hopefully useful to queue my dreams…

K

IT Geek :::August 8, 2009 1:42 pm

Hehe, sudah lama gak dengar istilah "hoyong", kalau di Aceh menggambarkan seseorang yang terlihat lemas dan nyaris pingsan atau lemas.Nah ini dia masalahnya, kalau udah malam begini, mau coding, fiuhhh badan udah panas lagi. Belum juga buka eclipse lagi…

fiuhh…mungkin kelelahan…

K

Qolbu ExplosionAugust 7, 2009 2:49 pm

Madrasatul hayat, Sekolah kehidupan mengajak kita untuk senantiasa mawas, karen sekolah yang satu ini memiliki tingkat fluktuatif moral, ekonomi, akhlak dan kecondongan korosi etika yang mengerikan. Sekolah ini tidak seperti sekolah biasa yang dominan oleh guru-guru yang fasih teori di bidangnya dan anak-anak sekolahan yang jika di partisi akan terlihat 2 klasifikasi utama, murid bandit dan murid yang baik. Sekolah ini bukan juga untuk membentuk para manusia-manusia modern siap "hancur", karena dicekoki paham materialis yang fenomenal, dengan "uang" sebagai parameter diatas parameter kegaiban yang menenangkan bernama Dien (agama). Dan lagi-lagi sekolah ini bukanlah satu "kindergarten" yang berisi anak-anak polos yang bertanya apapun yang berada di sekitarnya, namun
ketika masa pertumbuhannya memasuki masa kritis, orang tuanya bergerak menjauh, karena satu kata "karir". Aih…aih, bukan sekolah seperti itu yang kumaksudkan, namun madrasatul hayat merupakan penyikapan diri, mengendalikan diri, mengambil pelajaran dari luar diri lalu memperbaikinya seiring kekuatan diri yang memiliki tendensi yang mantap ketika umur hampir berada di ujung ajal.

Madrasatul Hayat mengajak kita untuk banyak merenung bertipe solutif, bukan merenung bertipe "kerasukan jin" kosong tanpa isi. Perenungan yang me-rewind kualitas diri sebelum hari esok datang dan sebelum Izrail memperkuat sinyal kematian. Gerak, kinerja yang dihasilkan madrasatul hayat seyogyanya bergerak ke arah sosial, peka terhadap kecenderungan korosi etika lalu merubahnya. Arah
sosial yang dimaksud adalah, mencari lagi "source" yang terpendam dalam kitab terhakiki di dunia, meng-"compile" dan men-"debug" isinya lalu jika kesemuanya telah dengan apik terbentuk satu pola gerakan keimanan yang dulu pernah menghentak dunia, kita klik "run" dalam gerakan sosial kita, agar terbentuk telur-telur baru sebuah peradaban yang peka akan satu kesalah, risih akan suatu kebiadaban, lalu malu menengadahkan tangan ke Rabb, ketika mengingat dosa2 yang baru saja dilakukan. Madrasatul hayat sudah saatnya membentuk satu generasi baru yang alergi akan satu bentuk "drama" yang sedikit "tolol", bermain ekspresi wajah 7 kali dalam seminggu lalu mencekoki para anak bangsa dengan "drama-drama gerak wajah penjahat", bernama sinetron itu. Aih..aih, aku tak memiliki tangan yang besar untuk membasmi mereka, karena aku belum di tampuk kepemimpinan. Kemana Komisi Penyiaran itu, kemana badan sensor dan lainnya, setahap demi setahap kita berada di tahap senda gurau yang sangat. Padahal dulu ketika kaum anshar pasca rentetan kemenangan kaum muslimin lebih cenderung ke senda gurau daripada beribadah, ALLAH langsung menyindir dalam satu ayatnya. Inilah Madrasatul Hayat, ketika manusia dalam hidup (sekolah)-nya diberikan satu buku paket yang tak pernah usang ditelan zaman, dan ditambah dengan satu buku pengayaan untuk memperjelas tingkah laku apa yang disukai Rabb para manusia. Lalu apa lagi yang kurang hah???

Madrasatul Hayat tak mengenal semester dengan nilai yang terpampang di dinding, lalu yang tak lulus sontak berteriak tak karuan lalu stres, depresi dan tak tentu arah. Namun madrasatul hayat membentuk sinyal-sinyal yang dihasilkan ruh melalui namun sayang, sinyal-sinyal itu pada diri manusia sering terbentur pada layer bernama "nafsu", ia dengan susah payah terus menghantam sinyal-sinyal iman
yang tak nyaman dengan kejahatan dan ketidaksopanan etika serta cenderung bersikap ahlun-nar. Namun nafsu pun bisa kalah, ketika sinyal-sinyal iman itu sering diajak tuk berkomunikasi, bagaimana membaca qalamullah, bagaimana shalat, berteduh di rumah ALLAH dengan pengajian rutin, niscaya nafsu seakan diserang oleh satu serangan dari dalam, hingga elastisitas layer nafsu bobol dan ruhiyah
dengan iman yang mantap mengambil alih kehidupan. Namun ingat bagaimana sifat elastisitas nafsu itu, ia bisa memulihkan dirinya dengan cepat dibantu oleh para syetan yang tak kuasa menerima Adam A.S hanya karena bahan baku, ia dari Api sedang Nabi Adam dari tanah.

Beginilah madrasatul hayat menguji, menghantam, menyarankan , mengevaluasi serta diselingi ujian-ujian non tertulis di masa-masa yang tak diduga. Beginilah madrasatul hayat mengajar, lalu kita lihat nantinya semoga para lulusan terbaik madrasatul hayat membentuk seorang pemimpin yang tangguh, tak hanya di luar(jasad) namun juga kokoh di dalam(ruhiyah).

Wallahua’lam

K

Brain StretchingAugust 2, 2009 1:36 pm

Di hari minggu yang cerah, agak terik memang, aku dan rekan-rekan melakukan satu konsolidasi politik (berat ya kata2nya…), :d, di sebuah masjid raya di luar Jakarta, kubahnya terintegrasi dengan apik, biru warnanya sedikit berkilau.

Ketika kami ingin rehat sejenak untuk makan siang dan memulai "simple conversation each other", di warteg dekat persimpangan, ku mencari sendalku di sela-sela pengunjung/jamaah masjid yang sedang "ngaso" di plasa masjid. Seorang ibu paruh baya secara tak sengaja menggunakan sendalku sebagai pijakannya sambil ia bercakap bersama keluarganya, lalu aku pun "interrupt" beliau tuk mengambil sendal, 

Permisi bu, sendalnya…

oo, iya mangga…

lalu pikirku, saya gak minta mangga bu, saya cuma mau ngambil sendal aja…

$#^%$^%$^%^

K

Qolbu Explosion 10:00 am

Ku tak berpikir untuk melawan dan menantang arus satu pemikiran klasik, karena tak ada yang salah akan hal itu di masa lalu, namun hari ini memang ada sedikit perubahan. Tak ada keinginan dan gejolak yang tinggi, haruskah aku berpikir keras lagi lalu di ombang ambingkan ke satu arah yang tak tentu..fiuhh, entah kenapa aku tak berpikir kesitu kali ini. Hanya ada satu wujud penyandaran dan do’a setelah ikhtiar, lalu apa lagi hahhh???, siapa aku yang harus menantang kebijakan struktur ilahiah yang mumpuni di arasy yang tertinggi. Aku sebagai makhluk hanya patut tuk terus bersyukur, karena ada cobaan yang jauh lebih dahsyat kepada orang-orang di belahan dunia sana, namun mereka tabah di atas angin yang menyapu keras, namun mereka tak jatuh. Lalu apalagi kalau bukan tingkat kualitas ruh dan keimanan yang bermain disana, wujud penghambaan dan penyandaran yang utuh, namun aku yang dhaif ini hanya meminta agar kami , keluargaku tetap dijaga tuk berada di lingkup syukur ini.

Rabb, kadang jika kau menaikkan tingkat keimananku kini, aku masih takut ketika iman itu diatas, bagaimana dengan keluargaku?, mereka mungkin memiliki visi yang berbeda, Rabb..bukan aku yang berhak meluruskan karena pintaku, kaulah yang senantiasa meluruskan kami dalam alunan dzikr dan kekuatan imbas yang nantinya kau berikan setelah ujian ini…

Rabb, jangan jatuhkan kami, lalu tak ingin naik lagi, karena ku tau itu bukanlah hal yang kau sukai…

Wallahua’lam

K