Anak-anak SD bisa saja masih bercanda mesra dan duduk rapih di depan TV hari ini, karena mereka masih menikmati hari libur dan imbas positifnya adalah interaksi yang intens dengan kedua orang tua mereka, apalagi seorang ibu yang senantiasa kukuh di rumah menanak nasi, membekali,melepas kepergian ayah bekerja, ya itu rutinitas yang terlihat biasa, namun dari rutinitas seorang ibu rumah tangga yang bertipikal "mendidik" inilah lahir manusia-manusia super dari sisi pemikiran. Si anak kali ini sangat senang dan riang, hari boleh libur namun bangun pagi tetap menjadi kebiasaan, lalu membantu ibu secara indirect lalu sekali lagi "manteng" di depan TV melihat kartun pagi. Si ayah sedikit terburu-buru hari ini, maklum ia lupa walaupun hari ini hari senin, toh jalanan tidak akan se-crowded biasanya karena anak-anak sekolah masih libur.
Pagi ini rutinitas sarapan pagi tetap dilakukan seperti biasa, si anak di sisi kiri meja bundar, ibu di kanan dan ayah di tengah. Sambil si ibu berlalu lalang menyeduh teh dan menyiapkan susu hangat untuk sang anak, tetap saja cakap-cakap sederhana itu datang dan pergi.
Mungkin cakap-cakap sederhana dimulai dengan , "nak apa kegiatan di libur hari ini??", si anak yang masih polos namun memiliki visi kedepan langsung merespon, "yah, hari ini ada naruto, aku mau nonton sampai jam 10, abis itu baca-baca buku ilmu pengetahuan kelas 6, lalu makan siang deh sama mama.."
si ayah paham,"lalu nak di siang hari sampai sorenya??", "hmmm…apa ya, aku mau istirahat aja, kan capek pa belajar terus…"
si ayah dan anak tertawa kecil, "hehehe.."
Terlihat sangat sederhana memang, namun sadar atau tidak, entah dimulai dari hari apa beberapa tahun lalu, manusia kota besar bergerak ke arah dunia yang makin mencengkram.Si ibu sibuk menyiapkan dress formal-nya untuk ke kantor, kadang sedikit menor lalu si ayah terburu-buru karena kesiangan dan tidak sarapan di rumah, alih-alih meeting dan lain-lain. Si anak di hari liburnya tertegun di rumah, sunyi senyap dan sepi. Ia hanya bercakap intens dengan si "mbok", dan dari si mbok lah ia merasa nyaman untuk menceritakan sesuatu yang ia rasakan dalam bersekolah, keinginannya di hari libur serta menceritakan kisah naruto yang berhasil mengalahkan klan uchiha. Si mbok sambil mengiris-ngiris bawang dan cabe merah di dapur senantiasa meresponnya dengan apik dan menjadi good listener. Hari-hari libur si anak ini hanya terus bergerak ke arah yang memang ia sukai, tapi tanpa kehadiran intensitas ibu dan ayahnya. Mungkin ibunya masih meeting atau ayahnya masih mengikuti training dan seminar tanpa ada keinginan satu menit pun bercakap-cakap sederhana dengan si anak yang sedang riang di masa liburan, alih-alih "time is money". Lalu di akhir pekan, si ayah masih saja tertidur, ia kelelahan karena "overtaxed" dalam pekerjaannya selama 5 hari dan si ibu sudah bangun dari pagi namun jogging, arisan plus ke salon. Lagi-lagi si anak yang satu ini tidak memiliki interaksi yang apik dan berkelas dengan kedua orang tuanya..
Fiuhhh…mungkin ini terlihat satu perkembangan parenting yang sangat sederhana di kota besar dan kecil, kami orang-orang yang lahir di desa dan kota kecil merasa bersyukur dengan segala interaksi orang tua dan anak yang baik, namun keprihatinan pada sebagian anak-anak kota yang lebih memahami bermain PSP ata Xbox daripada hari ulang tahun kedua orang tua mereka atau sebaliknya mungkin kedua orang tua di kota besar alih-alih komunitas metropolitan, tidak sempat lagi berinteraksi secara internal dengan anaknya apalagi masih mengingat hari ulang tahun anaknya…
Mungkin saja, sekali lagi kartini jika hidup hari ini sepertinya akan sedikit terkejut dengan derivasi emansipasi yang pernah ia bangun dulu…
K