Malam lagi-lagi hadir, ia tak memberitahuku hari ini, apa aku lelah dan harus istirahat? atau terus tegap di satu hal yang sudah mendekati deadline?..
Bergemul dengan 2 sisi pilihan akan terus membuat seorang manusia bertarung dan sulit menemukan akhir dari sebuah cerita, jadi pilihlah. Sebelum ku mengarah ke penyelesaian deadline itu hari ini (sebuah pilihan), aku ingin menuliskan satu catatan renungan perjalanan yang sudah agak jarang kugoreskan karena lagi-lagi menyalahkan waktu, padahal adalah "how to" - nya yang sedang error dimana core self system diriku hingga hari ini masih bermasalah.
Dalam gegap gempita sebuah sirkulasi kehidupan, akan selalu hadir 2 hal penting yang disadari atau tidak kita berada diantara keduanya. Poin pertama adalah kehidupan dan peradaban akan identik dengan para follower dan yang kedua adalah visioner yang sedang menyiapkan prototype baru bagaimana sirkulasi kehidupan diperbaiki dan disempurnakan atau malah dirombak ulang hingga menjadi satu peradaban yang ideal menurut ketauhidan. Follower , secara harfiah cukup mudah dijelaskan sebagai "pengikut" dari sirkulasi dan model hidup yang sedang berkembang, sehingga follower hanya akan terus berputar, mengikuti, menyesuaikan dan beradaptasi dengan apik apa yang peradaban suguhi, mereka tidak sampai ke pemikiran serta menyentuh hakikat kehidupan itu sendiri. Contoh yang marak misalnya sistem dunia sedang mensosialisasikan sebuah isme yang gemilang bernama "Material-isme" yang bisa dikatakan sudah dimulai pada abad 16-17, lalu para manusia bertipe follower akan terus mengikuti paham-paham yang mengenyampingkan tujuan sebuah kehidupan yang hakiki, lalu tercebur dan tenggelam ke paham2 seperti "Material-isme" dan tak pernah mengapung lagi ke permukaan. Imbasnya manusia-manusia follower akan senantiasa ikut dan berpartisipasi dalam paham tersebut dan malah memunculkan derivasi-derivasinya, namun pada intinya tetap sama, "Materi/uang" telah menjadi tujuan hidup mereka, para follower of materialism. Imbas "terlalu negatif"-nya adalah, ibadah akan disesuaikan bagaimana mencapai "stabilitas keuangan" dengan nyaman, maksudnya "shalat bisa diulur2 waktunya ,karena uang masih belum cukup untuk bulan ini"…itu contoh general yang ingin saya sampaikan. Begitu pula akhlak, muamalah, adab berpakaian, interaksi dengan yang bukan muhrim. Kesemuanya akan disesuaikan dengan isme-isme gemilang karya barat, lalu manusia bertauhid yang masih lemah, berkecamuk dan secara sadar atau tidak mereka menjadi "follower yang loyal, menanggalkan pakaian iman".
Seorang visioner mungkin bisa dikatakan seiring ia berenang dalam kesalahan sirkulasi kehidupan, ia sedang menyusun satu silabus tata peradaban yang mengagumkan serta diabsahkan oleh din (agamanya), sesekali ia mencoba menyelam dalam sirkulasi kehidupan yang keluar dari norma akhlak islami, lalu ia mem-break down semua masalah-masalah itu dan menarik garis konklusi untuk meluruskan kembali kehidupan seluruh insan di dunia ke bentuk yang ideal lagi menawan. Bagaimana proses peleburan dan balansi akan kehidupan duniawi merupakan derivasi dari tuntunan ketuhanan, sehingga tercipta satu "stake holder" yang senantiasa meletakkan pertimbangan agama diatasnya. Jadi dengan kata lain menyatukan kegiatan dunia berdasarkan aturan ketauhidan serta menjadikan ibadah sebagai poin utama berjalannya poros hidup menawan non-sekularism, seperti sedia kala layaknya para salafussalih menikmati islam dengan ketenangan yang menggetarkan ‘arasy langit karena kekuatan ubudiyahnya.
Malam mulai bergerak ke titik klimaks ketika ia menjadi selimut absolut untuk memayungi manusia di alam istirahatnya lalu matahari esok bertugas kembali. Seorang visioner tidak lahir dari satu mesin instan layaknya patternisasi mie instan lalu di-wrap ke uniform-nya. Namun seorang visioner lahir dari pertimbangan, menelaah, merencakan, kadang terjatuh namun bangkit, berpikir lagi hingga prototype itu menjadi perwakilan akhlaknya, lalu ia melakukan satu "klik" di prototype yang ia bikin itu, lalu meng-apply-nya ke seluruh manusia di muka bumi, hingga tumbuhan dan hewan pun merasakan indahnya sirkulasi hidup "manusia", sang khalifatul ard i
Lalu pintanya(sang visioner) yang terberat kepada sang khaliknya, "Rabb mampukan aku untuk menjadi pemimpin manusia bertakwa suatu saat nanti..jika KAU ridha.."
Wallahua’lam
K