ketika itu mata,telinga dan kulit bersinergi, namun sayang, mulut tak diajak dalam sinergitas ini..

Dalam suasana kegaduhan di hari kebangkitan, kondisi tiap insan carut marut. Sebagian insan dibangkitkan dengan kondisi hitam legam bahkan ada yang berdiri dengan kepalanya. Ada yang sangat takut ketika konsep yang ada dalam benaknya hanya ada kehidupan satu kali dan manusia tidak akan dibangkitkan, bertolak 180 derajat, ya karena ia sekarang sedang dibangkitkan. Entah berapa kali kalamullah mengingatkan tiap umat yang zalim, namun sedikit sekali mereka yang beriman.

Lalu tiba saatnya mata,telinga dan kulit memberikan kesaksian tanpa konspirasi, kepentingan "berbentuk" materi atau kebingungan dalam mengutarakan fakta. Ketiganya merekam segala sesuatu dengan tingkat keakuratan mumpuni, lalu tiap insan hanya terdiam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mulut ketika itu terdiam, tak ada pembelaan dan pembalikan fakta menggunakan saksi kunci, krn mulut dikunci serapat-rapatnya tak bercelah. Lalu tak ada mimik muka dan tubuh yang bisa melemahkan perasaan matamu!, telingamu dan kulitmu!, karena pintu taubat telah tertutup, bahkan tak ada lagi waktu tuk turun ke bumi memperbaiki segalanya, karena ALLAH tau kita akan kembali bermaksiat. Penyesalan ketika itu ibarat debu yang diterbangkan oleh angin tak pernah bersatu ke lorong taubat.

Mata, telinga dan kulit sekarang ini tak pernah berbicara apalagi memberikan reminder kepada insan yang masih hidup. Ketiganya hanya merekam segalanya dan ditambah dengan validitas data raqib dan atid. Sudah lengkaplah bukti kehidupan, tak perlu jaksa dan tak perlu penuntut. Karena pada saatnya tak ada lagi yang perlu dibela, hanya menyaksikan dan menerima semua keputusan.

Insan..oohh manusia, kita terkadang terlena oleh buaian dunia yang terlalu berat tuk diabaikan. Lalu gurun kehidupan mampu membiaskan pandangan kita, sehingga sulit membedakan fatamorgana dan kenyataan.

Wallahua’lam

K

Catatan menjelang dini hari [23.50]