Masa kejayaan disebut karena setiap insan kan memiliki masa keruntuhan. Masa jaya yang hakiki sebenarnya tercipta ketika adanya satu titik kendali dalam diri untuk senantiasa menggunakan filter hati lalu mengaplikasikannya. Namun apa daya, dunia makin terlibat akan beberapa bahkan banyak ketidakpastian etika. Etika yang utama bermula dari satu kata "santun" yang memiliki derivasi kompleks tergantung dimana kata "Santun" itu terimplementasi. Sobat kau tau santun itu sekarang sering digunakan dimana?, ia menjadi barang sebuah kepentingan, apa pun itu politikkah?, menjilatkah? atau bahkan menggaet simpati akan proses membentuk satu masa kejayaan, yang mungkin bisa jadi hanya kesemuan terstruktur nan megah. Sudah jarang adanya etika santun yang tergenerasi secara sempurna dalam ranah sekolah dasar, oh ternyata itu didasari dengan intensitas "drama sampah" bernama si**t**n. Lalu adanya kasta invisible dimana semakin tinggi kasta yang merupakan hasil imperialism itu, semakin tak sopan seorang anak. Karena apa?, mudah saja semakin tinggi kasta "harta"-nya semakin rendah intensitas si anak bertemu dengan orang tuanya, miris memang. Consequently, orang-orang awam mampu menerawang dengan sederhana, jika ada seorang anak bengal dengan tingkah polah kesombongan yang terbungkus sudah pasti ntuh anak kagak dididik dengan baek.
Ketika kesantunan mulai menjadi barang langka di kota besar, lagi-lagi ada semacam kurangnya apresiasi akan "akhlak", akhlak yang dinomorduakan setelah materi cukup, hidup layak, punya mobil plus ikut trend lifestyle. Itulah imbas materialism yang gemilang, padahal kegemilangan peradaban masa lalu, terbentuk lalu menguasai dunia dengan akhlak, bukan harta dan kekuasaan bengis dan penuh konspirasi pemberantasan dan reduksi akhlak di masyarakat. Entah apa yang kita pikirkan, ketika akhlak yang diajarkan dalam dienul islam digunakan sepotong-potong dalam menjalankan roda hidup, seakan-akan Rabb menyesuaikan dunia dengan kita PADAHAL sebaliknya, kitalah yang harus membentuk satu tatanan kehidupan dengan segala kustomasinya berujung kepada pembentukan manusia yang berakhlak. Kita secara tidak sadar men-drive diri akan sesuatu hal baru yang menjauh dari lingkaran utama sebuah prinsip akhlak dalam agama, lalu beranggapan dengan innosence-nya yakin bahwa segala hal itu diridhai olehNya, dengan terkadang mengeliminasi kewajiban sebagai penganut agama tauhid. Manusia sekali lagi kaulah yang harus menyesuaikan dinamika dan perubahan hidup ke arah ketauhidan bukan sebaliknya.
Ku terus coba bergerak, namun ku yakin belum saatnya itu menjadi cerita unik, karena ini barulah permulaan dan ku tak tau apakah sang khalik mengapprove apapun yang berada di dalam benakku?, yang kucoba menyimpannya dengan rapih tuk kukeluarkan jika saatnya tiba.Ketika anak-anak kecil tak lupa masuk ke rumah dengan kaki kanannya, ketika anak sulung hingga bungsu mencari ayah dan ibunya di kamar ataupun dapur tuk menyalami sebelum berangkat ke sekolah, ketika anak-anak kecil menyapa dengan senyum dan salam kepada teman2nya di sekolah lalu ketika anak-anak kecil itu memiliki mimpi abstrak "ridha rabb dan orang tua" menjadi senjata ampuh kehidupan dan ketika kebiasaan itu terus bergerak ke arah bagaimana generasi-generasi sekelas umar, abu bakr, ali hingga al-khawarizm membanjiri dunia, lalu merubahnya sekali lagi…ya sekali lagi..
wallahua’lam
K