My Opinion Only, Classical Moment, senda gurauJune 21, 2009 1:34 pm

Hari itu sekira sabtu atau minggu pagi, aku lagi berada di 2nd palace di ujung timur jakarta, Cibubur. Pagi-pagi di suasana yang masih alami dan indah di ujung jakarta perbatasan itu, terkadang ku bergegas dengan sepeda merahku menelusuri perkampungan disana. Pagi itu, aku mencoba melewati jalan-jalan unidentify sebelumnya, jadi terpaksa ku bertanya di beberapa spot kepada masyrakat disana tentang jalur-jalur yang dilewati. Mereka, masyarakat desa sangat santun dan menyapa para bikers yang lewat. Tibalah aku di satu jalur tanah merah, basah dan becek pula. Sembari melewati pemukiman dan beberapa anak SD yang sedikit kesulitan berbahasa indonesia, memanggil2 aku dari belakang, uh sayang kenapa ku tak sadar tuk sekedar meng-capture diriku bersama mereka.

Sekeluarnya dari jalur becek, tembus ke satu perkampungan lainnya. Pada pos awal desa jalur cukup bersahabat, namun tujuanku adalah jembatan penyebrangan yang bisa tembus ke komplek AL (angkatan laut). Lalu mulailah aku menelusuri ilalang, kebun singkong dan pemukiman "jarang" di dalam desa. Eng..ing..eng, kumelewati satu kuburan umum dengan ilalang tak terlalu teratur dan ups itu dia!!!, ada jembatan. Namun aku berbisik, ini jembatan kok agak prematur, susunan bambu yang tidak teratur dan sepertinya hanya bisa dilewati pejalan kaki. Namun dengan gaya "sok" biker, sepertinya memang ini jembatan yang dituju. Usaha pertama; memposisikan sepeda di depan, lalu menyeberang perlahan…licin, nyangkut lagi, GAGAL. Usaha kedua, mendorong sepeda melalui sadel tanpa memegang stang, ini lebih parah, nyangkut, ban sepeda hampir ter-locked di antara bambu-bambu yang tidak teratur, menegangkan…karena tanah merah tadi membuat roda dan sendal licin, keringat berubah menjadi dingin, tak satu orang pun manusia, apalagi di belakang ada kuburan…duh..duh gawat nih klo sepeda kecebur ke kali di bawah jembatan sekira 4 meter, bisa kacau nih…lalu kucoba tenang..tenang..dan tenang, mulai mencoba menormalkan posisi roda, lalu mundur DAN TIDAK JADI MENYEBRANG MELALUI JEMBATAN PREMATUR itu!!!!..wakakakakkkk…tertawa sendiri, sekaligus bersyukur, fiuhhh hampir sajjjaaaa…

Ternyata usut punya usut, selepas masuk komplek perumahan, ngobrol sejenak dengan security kompek, ternyata eh ternyata, jembatan itu adalah jembatan yang benar-benar prematur dan aku salah menemukan jembatan. Karena pak rahman (security officer komplek) mendeskripsikan jembatan itu besar dan malah bisa dilewati motor dengan mudah…senyapp….hampir saja…

oiya selepas track becek, cuci sepeda dulu…:d (Rp.6000/bicylce)

 

[unforgottable exp few months ago]

K

Qolbu Explosion 7:52 am

 

Sometime we need to share our vision and paradigm of change.

Speaker on "Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa yang diselenggarakan BEM STT-PLN 21 Juni 2009", titled "Wawasan Profesi"

 

 

K

 

UncategorizedJune 20, 2009 3:10 pm

Others may interrupt my trait, but please with normal ethic and more polite. As a human, our personality are not always could be accepted by other people. That’s why sometime we need direct and hard advice, so it stimulates repairing of personality. But I, as an ordinary people want it is spoken explicitly not implicitly.

The first thing why we need other people suggestion is misunderstanding of current view. Maybe people want you give them some advice to solve the complicated personal issue, but we are on the bad condition too even harder, we cannot ignore hearing our mate feeling. Furthermore they need some attention whatever kind of feeling we have, we should put our view same to them.

Although understanding and trying to relate our feeling to other is difficult one, but someday we need this skill to detect quickly what people feeling after we communicate with them. For instance with bad anticipation of speaking we could broke people respect, then after detect it we need to say sorry or just ignore it…hehe

K

Religi, Qolbu ExplosionJune 12, 2009 4:52 pm

ketika itu mata,telinga dan kulit bersinergi, namun sayang, mulut tak diajak dalam sinergitas ini..

Dalam suasana kegaduhan di hari kebangkitan, kondisi tiap insan carut marut. Sebagian insan dibangkitkan dengan kondisi hitam legam bahkan ada yang berdiri dengan kepalanya. Ada yang sangat takut ketika konsep yang ada dalam benaknya hanya ada kehidupan satu kali dan manusia tidak akan dibangkitkan, bertolak 180 derajat, ya karena ia sekarang sedang dibangkitkan. Entah berapa kali kalamullah mengingatkan tiap umat yang zalim, namun sedikit sekali mereka yang beriman.

Lalu tiba saatnya mata,telinga dan kulit memberikan kesaksian tanpa konspirasi, kepentingan "berbentuk" materi atau kebingungan dalam mengutarakan fakta. Ketiganya merekam segala sesuatu dengan tingkat keakuratan mumpuni, lalu tiap insan hanya terdiam dan menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya. Mulut ketika itu terdiam, tak ada pembelaan dan pembalikan fakta menggunakan saksi kunci, krn mulut dikunci serapat-rapatnya tak bercelah. Lalu tak ada mimik muka dan tubuh yang bisa melemahkan perasaan matamu!, telingamu dan kulitmu!, karena pintu taubat telah tertutup, bahkan tak ada lagi waktu tuk turun ke bumi memperbaiki segalanya, karena ALLAH tau kita akan kembali bermaksiat. Penyesalan ketika itu ibarat debu yang diterbangkan oleh angin tak pernah bersatu ke lorong taubat.

Mata, telinga dan kulit sekarang ini tak pernah berbicara apalagi memberikan reminder kepada insan yang masih hidup. Ketiganya hanya merekam segalanya dan ditambah dengan validitas data raqib dan atid. Sudah lengkaplah bukti kehidupan, tak perlu jaksa dan tak perlu penuntut. Karena pada saatnya tak ada lagi yang perlu dibela, hanya menyaksikan dan menerima semua keputusan.

Insan..oohh manusia, kita terkadang terlena oleh buaian dunia yang terlalu berat tuk diabaikan. Lalu gurun kehidupan mampu membiaskan pandangan kita, sehingga sulit membedakan fatamorgana dan kenyataan.

Wallahua’lam

K

Catatan menjelang dini hari [23.50]

IT Geek :::June 8, 2009 9:38 am

Hari ini eclipse memukulku dengan telak, sungguh terlalu. Pada fitur autosolve, mungkin bisa dikatakan begitu, ketika saya menulis satu method yang dipanggil secara keliru. Eclipse dengan “keren”-nya memberikan
saran untuk menambah 2 parameter. Nah ini awal masalah, sang eclipse yang dikenal sebagai IDE mumpuni di kelas java memberikan saran 2 parameter yang salah satunya salah. Setelah berkutat, bolak-balik dan menyiasati koneksi internet layaknya terbatas seperti di penjara ini, ku mendapatkan ide, ya sebuah penelusuran lebih tepatnya. Menggunakan JShrink untuk mengkonversi source class agar terlihat, sehingga
saya mencoba membandingkan method bersama parameternya, dengan fitur autosolve/autoseuggest dari eclipse, ternyata tak disangka oh tak disangka, eclipse memberikan paramater yang salah, kok bisa???
agak aneh memang..namun alhasil dengan merubah parameter timeout dengan parameter “port”, koneksi ke soket berjalan lancarrr lagi.

K [catatan sore]

Religi, Qolbu ExplosionJune 5, 2009 4:44 pm

Masa kejayaan disebut karena setiap insan kan memiliki masa keruntuhan. Masa jaya yang hakiki sebenarnya tercipta ketika adanya satu titik kendali dalam diri untuk senantiasa menggunakan filter hati lalu mengaplikasikannya. Namun apa daya, dunia makin terlibat akan beberapa bahkan banyak ketidakpastian etika. Etika yang utama bermula dari satu kata "santun" yang memiliki derivasi kompleks tergantung dimana kata "Santun" itu terimplementasi. Sobat kau tau santun itu sekarang sering digunakan dimana?, ia menjadi barang sebuah kepentingan, apa pun itu politikkah?, menjilatkah? atau bahkan menggaet simpati akan proses membentuk satu masa kejayaan, yang mungkin bisa jadi hanya kesemuan terstruktur nan megah. Sudah jarang adanya etika santun yang tergenerasi secara sempurna dalam ranah sekolah dasar, oh ternyata itu didasari dengan intensitas "drama sampah" bernama si**t**n. Lalu adanya kasta invisible dimana semakin tinggi kasta yang merupakan hasil imperialism itu, semakin tak sopan seorang anak. Karena apa?, mudah saja semakin tinggi kasta "harta"-nya semakin rendah intensitas si anak bertemu dengan orang tuanya, miris memang. Consequently, orang-orang awam mampu menerawang dengan sederhana, jika ada seorang anak bengal dengan tingkah polah kesombongan yang terbungkus sudah pasti ntuh anak kagak dididik dengan baek.

Ketika kesantunan mulai menjadi barang langka di kota besar, lagi-lagi ada semacam kurangnya apresiasi akan "akhlak", akhlak yang dinomorduakan setelah materi cukup, hidup layak, punya mobil plus ikut trend lifestyle. Itulah imbas materialism yang gemilang, padahal kegemilangan peradaban masa lalu, terbentuk lalu menguasai dunia dengan akhlak, bukan harta dan kekuasaan bengis dan penuh konspirasi pemberantasan dan reduksi akhlak di masyarakat. Entah apa yang kita pikirkan, ketika akhlak yang diajarkan dalam dienul islam digunakan sepotong-potong dalam menjalankan roda hidup, seakan-akan Rabb menyesuaikan dunia dengan kita PADAHAL sebaliknya, kitalah yang harus membentuk satu tatanan kehidupan dengan segala kustomasinya berujung kepada pembentukan manusia yang berakhlak. Kita secara tidak sadar men-drive diri akan sesuatu hal baru yang menjauh dari lingkaran utama sebuah prinsip akhlak dalam agama, lalu beranggapan dengan innosence-nya yakin bahwa segala hal itu diridhai olehNya, dengan terkadang mengeliminasi kewajiban sebagai penganut agama tauhid. Manusia sekali lagi kaulah yang harus menyesuaikan dinamika dan perubahan hidup ke arah ketauhidan bukan sebaliknya.

Ku terus coba bergerak, namun ku yakin belum saatnya itu menjadi cerita unik, karena ini barulah permulaan dan ku tak tau apakah sang khalik mengapprove apapun yang berada di dalam benakku?, yang kucoba menyimpannya dengan rapih tuk kukeluarkan jika saatnya tiba.Ketika anak-anak kecil tak lupa masuk ke rumah dengan kaki kanannya, ketika anak sulung hingga bungsu mencari ayah dan ibunya di kamar ataupun dapur tuk menyalami sebelum berangkat ke sekolah, ketika anak-anak kecil menyapa dengan senyum dan salam kepada teman2nya di sekolah lalu ketika anak-anak kecil itu memiliki mimpi abstrak "ridha rabb dan orang tua" menjadi senjata ampuh kehidupan dan ketika kebiasaan itu terus bergerak ke arah bagaimana generasi-generasi sekelas umar, abu bakr, ali hingga al-khawarizm membanjiri dunia, lalu merubahnya sekali lagiya sekali lagi..

wallahua’lam

K