Dalam area politik atau sosial-kah itu, kita sering menyodorkan wacana klasik dalam keseharian kita. Seorang ayah ketika anak sulungnya merengek tuk dibelikan sandal baru bercorak "anime naruto", bisa saja melancarkan satu opsi pencegahan, ya nak besok kita beli, nanti ayah beli yang paliiiiinggg bagus, ok…si anak mengusap perlahan dan berkata pada ayahnya, janji ya yah??. Janji bisa saja tinggal janji jika tipikal ayah si anak ini adalah tipikal sang pewacana, bisa saja ketika si anak mengingatkan hal ini keesokan harinya, si ayah dengan cepat men-divert arah percakapan ke tempat yang lain, hingga sang anak terlena. Sederhana???, ya sederhana sekali…
Pernahkah terpikir, mungkin saja akhlak-akhlak manusia tertentu yang pada pesta akbar demokrasi (kata mereka) menebar janji, wacana ekonomi, nasionalis, peduli rakyat kecil "SEBAGIAN BESARNYA" adalah wacana klasik yang tak pernah terlaksana ketika ia berada di atas, ya kemenangan materialism, sebuah puncak kemakmuran yang berimbas kepala terasa berat tuk melihat sejenak saja keadaan masyarakat yang mem-votenya.Sama halnya dengan sang ayah yang secara tidak sengaja menanamkan satu model pemikiran pada anaknya, semuanya bisa dinegosiasikan, janji kemarin bisa dialihkan dengan mudah keesokan harinya. Sehingga modelling akhlak serta merta bertanggung jawab akan sikap setiap insan ketika ia tumbuh dewasa, dan kolaborasi ciamik antara nafsu dan syaithan sehingga kontrol diri begitu sulit tuk dihidupkan lagi. Bagaimana syaithan menyatukan laki dan wanita bukan muhrim dalam satu ikata non-formal pra pernikahan, seolah-olah sang syaithan hanya memulai saja pergolakan itu lalu si nafsu dalam diri melanjutkan kerja syaithan hingga kolaborasi ini akan kukuh hingga akhir zaman, jadi jangan heran di setiap lingkungan ada saja tokoh protagonis dan antagonis, itu lumrah.
Ups melenceng sedikit, baiklah…hmm pada akhirnya wacana-wacana klasik yang digagas oleh personal maupun organisasi formal dalam wujud kampanye, dialog dan apapun namanya pada akhirnya kita kan bisa melihat siapa yang senantiasa eksis menyentuh akar rumput masyarakat dengan segala kompleksitas masalahnya, ada yang kesulitan ekonomi, manajemen akhlak keluarga hingga kebimbingan akan arah satu kehidupan yang lumrah hingga 63 tahun ini…temans , jangan sampai kita terkungkung di satu wacana klasik yang diwacanakan oleh orang yang hanya bisa berbicara namun miskin sisi aplikatif, begitu pula ketika kita sedang menyusun mimpi personal kita, jangan hanya mimpi teman..susunlah!!!, hinggal dia tidak lagi menjadi wacana klasik yang akut dan menular hingga anak cucu..
Wallahua’lam
Sebuah tulisan menjelang dini hari 23.10 WIB
K