oh hidup, dulu kumerangkak dengan serba kepolosan yang tak terencana, semua berjalan polos saja menelusuri ubin tiap ubin di rumahku. Perlahan namun pasti detik-detik yang berbunyi dari jam dinding lawas yang tetap eksis di dinding rumah membawaku ke satu ranah hidup yang menuntut satu keputusan, pertimbangan dan segalanya akan berimbas dimana kakiku kelak kan berpijak.
oh hidup, terkadang kekuatan menyemangati diriku dan orang-orang di sekeliling terasa mudah namun terkadang di satu medan waktu tertentu kekuatan self burned up spirit itu bisa lenyap hingga waktu yang sulit ditentukan namun dari asam garam langkah kehidupan ku mulai tau, turunnya satu semangat itu jika ada beberapa uncommon atau bahkan hal baru yang muncul dalam hidup. Oleh karenanya core system di dalam diri membutuhkan waktu untuk menyesuaikan fisik dan nurani serta jiwa ke tempat yang pas lalu reposisi itu akan membentuk satu pattern semangat baru dengan kegiatan baru pula. Begitulah hidup, ini hanya masalah re-adaptasi sistem diri.
oh hidup, bulan demi bulan kini terasa semakin cepat, ku tak tau apakah karena ada hal yang ingin ku kejar atau bahkan ada satu gebrakan aku sebagai individu atau bahkan pergerakan sosial. Seakan kelelahan ini bisa terakumulasi dalam satu hari lalu pada hari-hari berikutnya kekuatan itu pulih, tapi ada satu yang belum kembali karena ia pergi atau terlambat kembali sepulangku dari perjalanan dinas terakhir, sebuah spirit DAN keteraturan baru karena ada sisipan aktivitas baru di beberapa hari dalam sepekan kini hingga beberapa bulan kedepan…
oh hidup, ku tau gunungan skema mimpiku masih sama dan terus kupegang untuk meraihnya, tak tau apa itu kan tercapai namun lagi-lagi ini masalah persepsi hidup, persepsi yang nantinya akan menentukan arah, laju dan jalur itu kemana..ku hanya bisa terus bergerak hingga ketentuan itu yang kan menentukan segala terminal hidup yang kupunya, ku kan terus bergerak (saja).
oh hidup, kuingin kembali tersenyum di ranah bebas akan sebuah kedisiplinan diriku, aku yang menatanya, sebuah ranah bebas dimana disana ada repositori ilmu yang tersusun rapi, kubuka satu media tuk menyambungku ke dunia tanpa batas lalu ku membuka lembar-lembar buku, teratur lalu kutelaah dan menyesuaikan waktu karena ada kegiatan selanjutnya yang harus kulakukan, terus saja begitu dan seterusnya…ku ingin keluar dari sistem aman ini tuk sementara waktu, tuk membebaskan kekuatan diriku di tempat lain, dimana imajinasiku belum pernah berada di sana, suatu zona dan lingkungan baru, namun sayang momen ini, tahun ini tak terealisasi karena terbentur satu border bernama tuition fees.
Wallahua’lam
K