Tertanggal 2 Mei, kembali ke satu tanah berisi kegaduhan, kompleksitas manusianya lalu apalagi kalau bukan penat. Perjalanan dinas yang dienkapsulasi dengan "siasat cuti" berakhir manis, kenapa?, karena ini adalah sebuah perjalanan..this is K Journey, or if I could say, go back..
Di sepanjang jalan dari banda aceh menuju aceh utara(lhokseumawe) terhampar luas sawah nan hijau, bangunan kokoh "rumoh panggong" (rumah khas aceh) dan pastinya disertai dayah-dayah (tempat pengajian) yang lawas namun kokoh karena terus disinggahi anak-anak kampung dari berbagai generasi, ya generasi penerus aceh. Di sela-sela perjalanan menggunakan mobil rental (avanza) itulah kumelihat secercah prototype dalam liuk-liukan jalur gunung seulawah sebuah mimpi sekunder yang kubutuhkan, namun kusadari ku tak bisa menyusun ini seorang diri, karena kuposisikan mimpi ini sebagai mimpi sekunderku. Dalam pembentukan konsepsi ajaran pokok di mayoritas kampung-kampung di aceh, meunasah (musholla) sudah barang tentu akan berpasangan dengan dayah (tempat mengaji). Hal ini sudah menjadi satu common pattern dalam pembentukan sebuah desa, yang tentu mengalir di seluruh desa di sepanjang perjalananku dari Banda Aceh hingga Aceh tamiang yang berbatasan dengan sumatra.
Pikiranku mulai berputar ke arah sebuah mimpi itu meski mata berkunang2 mengikuti liukan jalur gunung seulawah, tapi tak apa perlahan tapi pasti seulawah kami taklukkan. Ku berpikir begini, aceh sudah memiliki satu pattern yang baku akan sebuah konsep keilmuan islam berbentuk dayah, namun harus disadari terkadang pastinya ada saja produk anak desa yang berlainan ke arah yang tidak terkontrol oleh dayah. Dalam konteks hasil sumber daya yang dihasilkan oleh dayah sekarang ini adalah membentuk sumber daya dengan kefasihan membaca al-quran, tajwid dan iramanya. Hijau sawah nan luas yang dimulai dari indrapuri hingga samalanga dan terus berlanjut, kuberpikir apakah kinerja dayah bisa dimaksimalkan dengan adaptasi peradaban dan keilmuwan islam yang telah menyentuh ranah kontemporer (modern) ??, ya inilah satu pekerjaan dayah yang seharusnya dilakukan pada masa sekarang ini. Inilah general point mimpi sekunderku itu teman, modernisasi dayah untuk mengikuti kontemporernya dienul islam yang indah ini. Penyesuaian dayah menurutku bisa dimulai dengan konsepsi yang sangat fundamental, dimana mereka belajar akan sirah, fiqh , perbandingan dan tentunya komparasi akan peradaban, dari megahnya islam hingga rubuhnya dinasti ottoman di turki. Nah untuk mewujudkan ini, filtrasi anak-anak muda yang berwawasan dan keteguhannya dalam berislam harus dikondisikan dalam waktu tertentu hingga ketika ia kembali ke kampungnya ia bisa menjadi satu role model akan tercapainya satu prototype peradaban islam yang dimulai dari dayah-dayah di tiap desa.
hmm, sekali lagi ku tak bisa berpikir akan hal ini, butuh organizer dan butuh pemikiran sekuensial akan analisa dampak dan akibat..namun ini akan terus menjadi mimpi sekunderku, dan semoga mimpi para "pemimpin" di negeri ini…
Perlahan namun pasti, kami sampai di matang glumpang dua, dengan referensi dari ayahku agar makan siang disana sebelum melewati batee liek, dll dan pastinya menu di matang tidak boleh tidak, HARUS sate matang..hehe, nikmatt dan kenyang. Berlanjut terus hingga kusampai di lhokseumawe untuk menjalankan beberapa tugas lalu 2 hari setelahnya ku mulai second step of journey menuju medan untuk take off melalui polonia, Medan. Sepanjang perjalanan kami (bersama driver asli cunda, lhokseumawe) melewati area demi area yang dulunya notabene basis GAM (Gerakan Aceh Merdeka) semacam idi rayeuk, keude geurubak hingga menembus kota langsa. Sebelum melewati kuala simpang ku teringat akan satu flash back 15an tahun lalu, akan sebuah ziarah makam buyutku di tualang cut, dan akhirnya alhamdulillah ziarah kubur pun terlaksana tuk kedua kalinya ke jeurat (kuburan) buyutku yang bertempat di pekarangan mesjid tuha tualang cut, lalu kusempatkan sejenak dhuha disana. Rabb satu pintaku selamatkan keluarga kami dari siksaMu di yaumul hisab kelak, jauhkan kami dari kemurkaanMu namun dekatkan kami dengan sayangMu…
sebuah perjalanan, tak mungkin kuceritakan semua, namun pada perjalan lintas sumatera ini pikiranku lepas menikmati akan suguhan alam yang tak mungkin ada di kota besar…sebuah suguhan mimpi pembangunan moral bukan fisik..
Wallahua’lam
K