Perang dunia I & II, menunjukkan kedigdayaan barat sebagai pemenang dari runtuh-nya satu siklus peradaban. Dan pada saat itu pulang mungkin proses pencarian "form" atas peradaban barat dimulai dengan nama Imperialism itu…ya Sejahtera di balik kesengsaraan di belahan bumi lain atau bisa dikatakan keserakahan yang terencana, terorganisir cukup matang hingga hari ini mereka diikuti ibarat kiblat..kiblat peradaban. Sama halnya ketika Turki usmani, dinasti-dinasti islam, Damaskus sebagai pusat pemerintahan dan negara-negara lainnya mengarah ke satu peradaban Islam di abad pertengahan dulu.

Namun jika kita menilik lebih dalam akan satu "siklus keruntuhan itu", pastinya akan ada tanda-tanda kenapa keruntuhan itu memasuki siklus baru. Seperti kata Anis Matta di buku terbarunya, bagaimana di penghujung peradaban islam, laki-laki menjadikan wanita sebagai objek bukan sebagai manusia utuh, sebagai manusia. Seperti raja yang memiliki ratusan istri dan selir, jelas ini diluar kemampuan akan pembentukan satu tim kehidupan dalam lingkup keluarga. Begitu kira-kira yang tersirat dalam buku terbaru pak anis ini. Imbasnya kaum muslimin menjadi lemah tidak berada pada "ilahiah" pattern yang diajarkan Rasulullah.

Seiring berjalannya waktu, proses filtrasi, tekanan, dan dinding besar akan eksistensi islam kala itu semakin berada di ambang dan pada akhirnya "Hasil Dakwah" mengambil peran menjadikan islam ada, utuh dan beradaptasi di zaman dimana islam belum kembali ke atas ,dimana puncak dunia berada di tangan. Islam..keindahan tiada tara karena ia sudah dikukuhkan menjadi "Din" terakhir, maka sudah sepantasnya sebelum dunia tutup usia, Islam seharusnya kembali di atas. Mudah2an siklus keruntuhan bisa disikapi dan disiapkan apa yang memang harus disiapkan. Agar Rasulullah yang ketika membayangkan umatnya yang senantiasa teguh tanpa kehadiran-nya disamping umat, menjadi satu keniscayaan. Keniscayaan yang harus disegerakan..insyaALLAH..

Kuteringat Ibnu battuta, sang pengembara dunia, ia mendapatkan ilmu yang luas dengan mengengelilingi dunia, namun sekarang ini ilmu sudah tertulis bahkan virtual, jadi sudah semestinya umat belajar dan membaca untuk menambah ilmu, tak perlu mengelilingi dunia layaknya sang battuta, sang pengembara…

Wallahua’lam

K