Luas, sungguh luas, jika kau tak sedang "mampu" mempelajari luasnya alam dan ketangguhan sang pencipta dari darat, sesekali lihatlah dari atas (udara). Kapal-kapal sebesar apapun kan terlihat kecil dari atas, sekuat apapun kau menggenggam dunia di urusan "dunia"-mu, maaf namun kau kan terlihat kecill sekali dari atas(udara). Maka benarlah dan patut direnungi secara mendalam, jika laut dijadikan tinta dan pohon dijadikan pena, takkan sanggup menuliskan rahmat sang "Maha Kekal" akan "layanan alam" di dunia ini. Namun watak telah menjadi watak, selain menjadi khalifatulArd, manusia di sisi lainnya menjadi sang destroyer keindahan alam.
Namun..tak apa IA telah berjanji takkan murka hingga melenyapkan si "tukang" maksiat, semuanya akan terbuka, terbuka selebar-lebarnya di yaumul hisab. Di udara pula sinergitas awan, angin dan hujan melakukan komunikasi alamiahnya, mengatur kekuatan awan yang menggumpal, pun kapan air jatuh ke daratan..fiuhh semuanya terstruktur, sangat indah. Di kala sungai bermuara ke laut, tak apa ia mencemari laut, namun laut takkan pernah kalah oleh sungai, karena kotoran sungai yang dibawanya kan lenyap di pesisir laut tak lebih. Laut menunjukkan kedigdayaan menguasai teritorial, menyediakan sumber makanan, keindahan, kajian serta discovery. Namun sekali sang destroyer kan mendompleng, jika ia memiliki waktu dan kesempatan untuk itu.
Di udara ku terhenyak, sepulang dari Pontianak berlabel seat 3E, kelas bisnis limpahan ini. Sungguh manusia harus merenung, sekali lagi jika kau tak mampu merenungi keindahan dari darat, sesekali kau naiklah ke atas..hingga kau lihat dunia dengan sinergitas dan struktur magis di sekelilingnya..
Wallahua’lam
K