Hijrah merupakan salah satu langkah awal di dalam menuju satu kesuksesan. Hijrah dalam konteks islam akan senantiasa dikaitkan dengan asal mula patternalisasi Islam berhasil diwujudkan dengan gemilang di satu tanah tujuan hijrah bernama Yatsrib (Madinah). Dari sinilah semua kekuatan, manajemen akhlak serta penempatan kekuatan islam menjadi sangat mumpuni, sekali lagi ini karena hijrah.
Dalam kontekstual keduniaan, ketika kita berpindah dari satu tempat ke tempat lainnya guna mendapatkan ilmu serta ridha dari ALLAH nantinya kita akan diberikan satu guideline untuk menuju satu pattern yang diinginkanNya, namun On the contrary layaknya timbal balik yang terus ada dalam kelangsungan hidup manusia jika satu insan bertujuan melakukan hijrah untuk urusan yang tidak diridhaiNya, cukuplah ALLAH yang mengetahui lamunan dan kenikmatan dunia bermacam rupa, hingga hari penghisaban menjungkalkannya ke neraka, ohh sungguh menyulitkan.
5 hari di negeri jiran Malaysia memberikan sekelumit kisah bagaimana masyarakat disana sangat menghormati rule yang ditetapkan disana, baik penentuan aturan menyebrang jalan, keteraturan manajemen transportasi keteraturan tata kota yang apik dan keramahan (hospitality) sebagai branded orang-orang melayu nan elok itu. Multi kultur dan keragaman suku/tribes menambah "kesemrawutan positif" yang terkadang dari sisi lain terlihat sisi negatifnya dikarenakan kesuksesan menggaet tourist yang luar biasa, yang pastinya dengan tingkat "kesopanan" berpakaian sesuai adab masing-masing di negaranya dari yang beradab, bercadar hingga sedikit "biadab".
Tingkat kebersihan, kekuatan "keteraturan program" televisi yang sering diselingi dengan berlajar al-quran di beberapa channel dan peleburan etnis yang baik menjadikan Kuala Lumpur menjadi tempat yang baik dari beberapa sisi.
Aku tak perlu membanding2kan dengan negara kita, karena aspek2 tertentu yang akan melunturkan nasionalisasi namun sekali lagi dari sisi yang berbeda, generasi2 peubah sedang mencanangkan "perubahan" akhlak secara dramatis untuk membangkitkan lagi akhlak rabbani di bumi pertiwi ini.
Hijrah lagi-lagi memberikan satu wawasan intelektual, mengajak otak tuk berpikir lebih mendalam, hingga tertarik garis lurus diluar sana dunia begitu indahnya, namun ketika keindahan tidak berada di satu keindahan akhlak bersamanya yang pastinya diinginkan oleh sang pencipta, ada yang kurang layaknya hidangan sayur tanpa garam..
"Qadaflahal mu’minun", sungguh beruntung sekali orang beriman, ooh sungguh…dunia dijadikan tempat tuk bertafakkur tuk mempersiapkan diri terus berbenah, walaupun itu tak mudah..Sungguh indah membayangkan dunia dengan peleburan akhlak islami, layaknya Cordova menjadi kiblat modernisasi eropa di abad 17-18 dan indahnya baghdad ketika itu dengan segala ilmu yang melimpah ruah..

Figured from KLCC - Petronas Park, think before throw..
Wallahua’lam
K