1 menit lagi pukul 23.30, ku terhenyak dalam kesunyian malam, badan lelah namun ada yang harus kutuliskan sebagai wujud akumulasi hidup yang terus berlanjut sebelum Izrail hadir lalu menjemputku, entah seperti apa rasanya…suatu saat nanti..
Akumulasi hidup beberapa hari ini berputar pada satu pertanyaan, dimana diri seakan menunjukkan superioritasnya sebagai hamba yang tak seimbang dalam menyikapi makna hidup,
Beberapa lembar sirah kubuka, beberapa tausyiah dhuhur sedikit menyentil lalu khutbah jum’at yang menyinergikan itu semua. Sehingga aku mencoba menggubahnya menjadi satu instrospeksi diri berbentuk kata tanya ber-prefix Aku bukanlah
Aku bukanlah Thalhah, satu dari 3 sahabat terkaya di zaman kejayaan yang mampu memberikan apa saja pada dinul islam, dan ia pun tak segan menghibahkan kebunnya untuk mantan budak hitam yang tak seimbang upah kerjanya..
Aku bukanlah Abu bakar sang pionir pembela hak budak (slave), ketika ia memerdekakan bilal bin rabbah, jauh berabad-abad lamanya ketika sang Luther king dielu2kan dan sang nelson mandela menjadi pahlawan afrika
Aku bukanlah seorang Umar, dengan konsep sami’na waata’na-nya yang gemilang, merepresentasikan ketaatan pada pemimpin dan Rabb (tuhan) seutuhnya..
Aku bukanlah seorang Abu Dzar, seorang sahabat termiskin yang pernah ada, namun mampu memberikan sedekah terbaiknya kepada tetangganya yang lebih mampu, meskipun sop hanya berisi daun bawang dan garam dan kuahnya diperbanyak..yang tak lain setelah mendengar ucapan Rasul yang gemilang berulang2 3 kali, Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib.. Asshadaqatu a’jib (sedekah itu ajaib), dan ia mendapat keajaiban ketika tetangga itu membalas sedekah terbaiknya dengan sop berisi daging kambing..
Aku bukanlah seorang Ya’kub yang memiliki kesabaran diatas kesabaran..bagaimana tidak, dari kaya, berkuasa, cakap, memiliki istri dan anak yang rupawan, namun ALLAH mengujinya dengan kehilangan satu per satu dari nikmat itu hingga ia sakit dan ditinggalkan oleh istrinya, namun ia sabar, sembari mengucap innalillahi wa innailahi raji’un yang menunjukkan dependensi ilahiah kelas wahid
Aku bukanlah Salman al-farisyi sang pangeran persia yang menawarkan strategi khandaq (parit) pada perang ahzab, hingga kaum quraisy dan munafikin mundur beraturan karena diserang rasa takut yang sangat setelah hampir sebulan berperang..
Aku bukanlah mereka yang senantiasa tak goyah imannya ketika angin cobaan bergerak kencang maupun lembut namun mematikan, mereka terlalu jauh tuk dilewati, ahli ibadah dan bergerak senantiasa di roda dinul islam, dan mematuhi apapun yang dikehendaki oleh sang khalik…
sedangkan aku, siapa aku…hah..terkadang menengadahkan tangan ke langit pun aku takut, takut jika sang pemuda dhaif ini serta merta ingin pintanya selalu diterima namun ia berada di ketidakstabilan ibadah di beberapa hari lainnya..oohh siapa aku..Entah seberapa besar syukurku, dari nikmat sehat dan istirahat yang sering diabaikan manusia..oh..
Semua kan terus berjalan, setiap umat baik di awal, pertengahan dan akhir dari sebuah zaman memiliki tingkatan ujian yang berbeda, namun inti dari itu semua tetap sama..ridha sang khalik, tanpa itu semua seakan fatamorgana yang tak kan tersentuh hingga kapan pun..
Rabb, terima kasih.. Alhamdulillah..
Wallahua’lam
K