Kau tau bagaimana seorang anak yang mencapai usia 3-4 tahun sangat ingin sekali masuk TK (Taman Kanak-Kanak), di malam sebelum esok ia memulai berangkat ke TK-nya, dengan rapih dan isengnya ia kan mencoba memakai baju seragam. Lalu kau tau bagaimana sang anak ketika beranjak membeli dasi dan celana merah plus seragam putih ketika beranjak menuju sekolah dasar, masih sama, hasrat untuk sekolah terus meningkat. 6 tahun berlalu, ia rasakan seragam putih berdasi merah itu tuk terakhir kalinya, lalu dasi biru plus lambang OSIS yang bercorak kuning menghiasi seragam barunya, SMP. Ia masih terus penasaran bercampur passion untuk melanjutkan studi dan 3 tahun berlalu, seterusnya dan seterusnya..
Ya itulah gambaran keberlangsungan hidup jika dilihat dari sisi edukasi, ada keinginan menuju ke tempat dimana "kenyamanan" di nomor duakan. Ya itulah prinsip yang merasuk ke kalangan "rombongan hijrah" atau perantau, mereka keluar dari zona aman, makan gratis, cuci baju gratis, dan lain-lain. Itu terkait kepada keinginan menjadi lebih baik dan strategi hidup, sama halnya ketika rombongan mukminin mengusung kekuatan di madinah/yastrib lalu melakukan penaklukan "terindah" sepanjang masa (fathu makkah) tanpa ada setetes darah pun keluar dari kaum Quraisy ketika itu. Ya ini masalah strategi hidup..
Dalam perjalanan, entah apa yang merasuki kedalam jiwa manusia, karena kebanyakan dari kita melupakan jalan panjang itu, jalan kehidupan yang dirintis dari masa kecil hingga besar, ada yang berbelok akhlaknya ketika pindah dari zona aman hidupnya, ada yang berbelok akhlaknya ketika aktivitas rutin cenderung ke aktivitas duniawi yang melenakan dan ada pula yang berbelok akhlaknya ketika zaman turut berbelok peradabannya. Entah apa yang dipikirkan manusia pada kala itu, ombang-ambing kedigdayaan era 80-90an ketika Dunia membutuhkan Role model stabilisasi keamanan, ekonomi dan politik hingga berlabuh ke pangkuan negara benua amerika sana, USA. Hahhh, pada akhirnya keberlangsungan kesalahan role model akan berada pada titik akhirnya, ya ketika mereka goyah, dunia ikut goyah..hmm.
Dalam perjalanannya kelak, dunia akan terus berjalan, peradaban tak akan statis adanya sebagaimana imperium romawi takluk di bawah Islam di abad pertengahan dan bergeraknya studi ilmiah serta lahirnya ilmuwan abad pertengahan semacam ibn Sina, al-kindi, Khawarizm,dll. Namun seiring berjalannya waktu islam berakhir di turki ketika Kerajaan islam runtuh dan peradaban berbalik arah menuju titik bawah dalam era islam. Namun sekali lagi, Civillization akan terus berputar, dimana kita dijanjikan tak akan terus di bawah namun bendera peradaban itu semoga kan kembali lagi. Ya dengan catatan yang harus kita senantiasa pahami, ini masalah pembelajaran jangka panjang, sama halnya ketika Musa AS tergoncang tingkat kesabarannya ketika mengikuti petualangan Nabi Khidr, dan bagaimana pembelajaran "antisipasi" seorang munafik yang abadi di zaman Rasul, Abdullah bin ubay bin salul yang setelah menggerakkan "haditsul ifki" kepada Aisyah RA, tak serta merta langsung diadili, ya di setiap kejadian ada proses pembelajaran sikap. Sehingga ke depannya sang manusia-manusia penghuni akhir zaman, menegakkan kebaikan dengan "seabrek" pembelajaran dari kehidupan masa lalu…Lalu menghentak dunia dan melakukan Reset system terhadap dunia yang semakin tua..
Iqra..bacalah..
Wallahua’lam
K