Dalam lingkup kelompok, institusi formal atau bahkan perseorangan, alangkah indahnya ketika kita bisa menjaga kebaikan yang pernah dan akan kita lakukan di kemudian hari terbungkus rapi dan mereduksi jumlah orang yang mengetahui hal itu. Hal ini secara murni akan menghilangkan pernak-pernik kebaikan itu yang jika ia dipicu bisa menjadi "bukan" pernak-pernik lagi. Namun pernak-pernik itu menjadi sebuah tujuan ketika kita melakukan kebaikan.
Hmm singkatnya pernak-pernik itu semacam "kebanggaan" yang terpancar yang berharap orang tau akan hal itu, "pengharapan" baik berupa pujian dan feedback lainnya dari objek yang melihat dan merasakan imbas kebaikan yang kita lakukan. Mungkin manusia-manusia Indonesia hingga 3 bulan kedepan akan merasakan enkapsulasi janji, enkapsulasi memoria dan enkapsulasi mimpi yang didengungkan dengan meriah oleh "institusi-institusi formal" jelang yang kata "orang-orang" pesta demokrasi….aih..aih..demokrasi..demokrasi dan demokrasi , seolah-olah aku bosan mendengarnya, tapi ya apa daya begitulah bunyinya..pidip..pidip pagerku berbunyi..pidip-pidip begitu bunyinya..ups…lanjut.
Nah disinilah terpancar harapan yang ingin mereka angkat, yaitu atensi manusia awam untuk memilih mereka lalu berharap (lagi) kepada mereka hingga 5 tahun berikutnya. Temans, jika bisa pilihlah orang2 yang berada di institusi formal yang tidak menggembar-gemborkan kebaikan mereka, namun pilihlah dengan alur yang tepat yang bisa membawa restrukturisasi moral dan etika sehingga "kesopanan" kita yang selalu didengungkan kepada kita sebagai orang timur itu muncul lagi, bukan malah menuju kebobrokan moral yang di-remote melalui negeri adidaya dengan pemimpin barunya itu…[penekanannya over dependensi kepada makhluk itu agar dikurangi].
ya..semoga kita melihat lebih jauh siapa yang terus berbuat kebaikan, namun kebaikan2nya tidak dienkapsulasi menjadi wadah promosi demi jabatan 5 tahun ke depan…
Just K opinion..
Wallahua’lam