Akhir tahun 2008 sedang berjalan, mungkin inilah titik-titik terakhir kehidupan yang akan kita jalani di tahun ini. Ada senang, pasti ada sedih. Ada Berkah dan pasti ada musibah..Kehidupan memang menuntut kebolak-balikan kejadian, baik itu terjadi pada satu insan maupun lebih. Ada masa dimana kehidupan seorang insan terasa sangat kecil, walaupun ia memiliki mimpi sangat besar sekalipun. Ada insan yang larut dalam kesedihannya, namun ada pula yang mengantar peti jenazah anggota keluarganya dengan tegar, ini hanya masalah mensikapi satu hal yang sama, namun penyikapannya bisa berbeda jauh. Beberapa hari lalu, "gelombang raya" yang disebut oleh sebagian "ureung" aceh alias tsunami baru saja diperingati, 4 tahun seakan-akan baru kemarin saja, memoria tentang alam yang menghapus nyawa ratusan ribu "ureung" aceh. Namun masa tak akan kembali ke titik yang sama, para korban terlihat sangat segar dan tabah, mereka memiliki environment baru dan passion baru, sekalipun tanpa mereka, orang terdekat..itulah yang bisa aku gambarkan ketika melihat salah satu acara TV tadi malam yang menceritakan kilas balik "gelombang raya".
Selang sehari tepatnya tanggal 27 Desember tahun ini, membuat satu rasa sedih yang tak bisa kusampaikan secara langsung, padahal keinginan pulang sangatlah tinggi, namun "hijrah" sudah terikrar dan belum mungkin ku tuk pulang lagi. Kakekku, yang sering kupanggil kakek ompong telah dipanggil oleh sang pemanggil, sang khalik yang bisa kapan saja memanggil orang-orang yang ingin dipanggilnya. Kakekku dari lamno, kakek ompong, dulu semasa kecilku dulu, ia sering mampir ke rumah komplek membawa guci-guci tua yang ia jual ke Banda Aceh. Ia sangatlah energik dan sungguh jenaka, kami sekeluarga selalu rindu akan beliau. Tak jarang ketika datang bersama nek maneh, mereka membawa ‘cue (sejenis keong) yang sangat familiar di Lamno, kadang mereka membawa tirom (tiram), kerang plus daun pukis , sayur kesukaan abangku. Memoria yang tak tergantikan, kejenakaan dan kekuatan senyum dan tabahnya merefleksikan suatu kekuatan hidup. Selama perantauan, pulau tak bergandeng, rumah pun tak mudah dijangkau, jika kupulang setahun sekali aku sudah mulai jarang ketemu kakek ompong, terkadang jika aku pulang dia di Lamno, dan terkadang ketika aku sudah tiba lagi di tanah rantau, ia baru tiba di Banda Aceh, seakan tangan dan senyum tak sampai..
Kek..kakek ompong yang ketika melihat jam tangan dual screen ku selalu senang, kakek ompong yang ketika dulu kuingin sayur plik u, kami bersama ke pasar atjeh tuk membeli buah duku. Kenangan tinggal kenangan, namun hati tetap terikat, hanya satu pintaku, kepada sang penerima "pinta" hambanya, semoga dzikirKu dan alunan yasin kemarin yang kukirimkan kepadanya sampai, dan menjadi salah satu keteguhannya di dalam kubur. Rabb, aku bukanlah hambaMu yang terbaik, rabb..namun berilah aku satu waktu tuk meminta, Rabb… Ampuni dosanya dan Rabb..terimalah segala amalnya sebagai cahaya yang menyinari kuburnya dan melihat jannahMu..
Dimasa-masa ini pula, kumelihat satu keinginan yang "unstructured" yang ingin kuraih, memberi dan berpera n di bumi, semoga sang khalik memberikan "right path", sehingga ketidakteraturan keinginan ini bukan hanya bualan, namun suatu saat ketika ruh dan jasad masih bersama dan bersahabat..kuingin semua menjadi nyata, dengan RidhaMu karena tanpanya semuanya menjadi kosong dan hampa. Kakek ompong..semoga ALLAH senantiasa menjagamu..
Wallahua’lam
K