Dalam membayangkan sesuatu yang tidak tampak, manusia memiliki unlimitasi. Hal ini terjadi karena independensi ( kemerdekaan ) pikiran kita dalam membayangkan sesuatu, nah itulah pikiran. Dalam sisi aplikatifnya kita dapat mengambil contoh begini, Coba saja anda membaca Novel tetralogi "sang pemimpi", anda akan dibuat membayangkan bagaimana tampang seorang Lintang yang digambarkan sangat cerdas dan terkadang penulisnya menjelaskan bagaimana gesture Lintang dalam berperilaku di kesehariannya, namun saya yakin kita semua akan "membayangkan" tampangnya secara berbeda-beda, karena sekali lagi interpretasi "bayangan/imajinasi" kita ketika membaca suatu tulisan yang menjelaskan "gaya" seseorang akan cenderung berbeda satu dan lainnya. Mungkin saja ada yang membayangkan Lintang adalah anak jenius yang lugu, dingin ataupun adapula mungkin yang berpikir Lintang adalah anak murid ibu Mus yang berkulit sawo matang, manis dan sebagainya. Sama halnya ketika kita membayangkan seorang "geek" di dunia pemrograman komputer, banyak yang menginterpretasikan tampang mereka dengan kacamata tebal, rambut urakan, selalu di depan komputer dan menyebarkan virus-virus jahat…padahal sebenarnya para programmer-programmer itu baik hati, murah senyum dan tidak sombong lho..hehe…ini masalah imajinasi..

Kalau saja kita menilik lebih jauh, jika anda membaca Novel "Kite Runner" karangan Khaled Hosseini, mungkin andapun akan berbeda-beda membayangkan gaya dan wajah seorang hasan ( teman baik amir agha ), di buku tersebut dikatakan bahwa hasan memiliki bekas di bibirnya setelah dioperasi, ia cekatan dalam bermain layang-layang, dan mungkin anda pun akan berbeda membayangkan bagaimana gayanya dalam "menggertak" assef dengan ketapelnya, ketika mengganggu amir.

Jadi intinya apa???, pada intinya sebenarnya saya hanya ingin menekankan bahwa sebuah tulisan bisa bermakna ribuan "interpretasi", namun kenyataan atau jika kita mengangkat suatu cerita dari sebuah tulisan menjadi sebuah film, jangan terkejut, anda akan melihat "hanya" sebagian kecil imajinasi anda yang terpampang disana. Jadi inilah mungkin salah satu faktor kenapa "pembaca" novel sejenis ayat-ayat cinta tidak terlalu meng-appreciate filmnya, karena ekspektasi mereka terhadap tulisan terlalu besar jika ingin diangkat ke suatu film berdurasi beberapa jam saja.

Teman, imajinasimu tak terbatas, biarkan ia terbang membayangkan yang terbaik bagi dirimu, lalu ada satu step lanjutan yang harus kau lakukan dalam "menjadikan" imajinasimu nyata..itu ada APPLYING DESIRE, menerapkan apa yang anda inginkan, jangan hanya bermimpi, namun lakukanlah tindakan sekuensial untuk meraihnya..Karena PIKIRAN KITA tidak hanya diciptakan untuk berimajinasi "semu"..

Wallahua’lam