waktu pasti bergerak, namun hasil pergerakan kita sendiri, tentunya kita yang menentukan. Apakah hari ini akan bergerak ke arah kanan, kiri atau "keep" statis aja!, itulah pilihan.
Lalu ketika telah bergerak seiring berjalannya waktu, kita dituntut untuk memilih lagi, dimana pilihan-pilihan itu semakin lama semakin mendetail, baik dari "how to adapt, how to interact, how to open the conversation, how to manage something, dan how to - how to lainnya".
Yang celakanya, ketika kita tidak menyadari bergeraknya waktu telah merubah sikap terlalu jauh dari yang kita impikan dulu, mungkin itu yang menyiksa batin kita. Karena batin sebenarnya sedang menunggu mindset kita untuk mempolakan diri kita menuju mimpi yang telah kita pupuk dahulu.
ketidaksadaran, unconsious moment, ya itulah yang sangat berbahaya, kita terlanjur mengikuti arah waktu, tren, lingkungan dan pergaulan, tanpa pernah memfiltrasinya apakah ini menuju kebaikan atau keburukan. Maka tak heran, jika ada manusia yang berubah drastis perilakunya ketika berada di satu zone yang baru saja ia datangi, lalu tanpa sadar, flow kehidupan telah membawanya ke satu titik unreachable tuk mengembalikan "mindset" yang ia cita-citakan dahulu.
waktu memang berwajah 2, kadang ia mengerikan namun terkadang ia sangat menggembirakan. Jika kita bersahabat dengan waktu dan sering berinteraksi dengannya, waktu kan senantiasa mengingatkan kita…
maksud hati bertanya, "mbak bisa gak jadi jaenab lagi?", seorang pejalan kaki bertanya kepada maudi koesnaidy dengan wajah penuh harap, agar watak jaenab bisa menjadi "watak wanita" pada umumnya di Indonesia dengan keluguan layaknya bunga desa…
fiuhhhh…
K