"Sudah 5 tahun, ketika derap langkahku yang cepat dan tak melihat itu…terusik oleh sapaannya..,influencer sejati"

Gundah gulana di sore hari, tak terik, tapi bulan sudah menampakkan kedigdayaan tuk menyingkirkan matahari di hari itu. Sepulang dari kampus, ku masih bimbang, apa itu IT, teknik informatika, komputer, bahasa pemrograman, apa sihhh?. Aku masih gundah, dulu aku hanya memegang laptop ayah dengan memencetkan tombol huruf satu per satu dan bermain WordArt di Microsoft Word lalu mencetaknya dan hatiku sudah gembira karena ku baru saja memegang komputer, itu saja.

Sore itu, ketika para muda-mudi berlabel maba alias mahasiswa baru mencari sosok sejatinya dan fixed pattern-nya dalam dunia "pemikiran", kampus..ku bertemu dengannya, sang influencer sejati. Sosok gempal dan ada aura yang aneh serta mencurigakan pada gerak-geriknya. Sekilas kulihat lagi, siapa yang memanggilku dari belakang, sekali lagi kulihat dan tak pernah kumelihatnya barang sekali pun di kampus. Jidatnya ada 2 cap hitam, tanda ia memang memiliki satu "unique character" yang jarang dimiliki orang. Lalu kutumpahkan gundah sederhana ini padanya, saya gak ngerti komputer, gimana ya, ntar belajar apa ya di jurusan teknik informatika itu?. Kuyakin logat kental ujung sumatra itu masih berkeliaran di lidahku dan mungkin saja agak sedikit kaku, maklum anak jakarta bermain kata-kata "gue, lo , dong, dang ding dong..apa aja dah, kagak" , tapi kuawali perjalanan di jakarta dengan "saya" dan menginstruksikan abang angkot tuk berhenti dengan "kiri mas"…aneh memang…emang tukang bakso dipanggil mas.

Sang influencer ini mencoba mendengar dan menggunakan gesture khasnya dalam menjawab pertanyaanku, ia bilang : gak apa-apa kok, nanti juga dipelajari di kampus, bahasa pemrograman dan lain-lain, jadi gak perlu bingung. Fiuhhh…sedikit terobati gundah gulana itu, ternyata Teknik Informatika tak merusak mimpiku, bahkan alhamdulillah setahap demi setahap mulai permainan jari ini sudah bermain di beberapa web editor, messenger, de el el alias gak bingung lagiii.

Sang influencer , kusebut ia begitu, bagaimana tidak setelah perjumpaan sesaat itu, "batang hidungnya" ternyata cukup dikenal di kampus, sebagai eks. ketua dan menjabat 2 periode dan cukup disegani di kalangannya. Dan sekali proses membawa aku dan timku secara periodik mendapat bimbingan darinya melalui salah satu program tersohor kampus, Program Kakak Asuh. Disinilah gaya seorang influencer itu semakin kukenal, bagaimana ia menyampaikan satu hal, bagaimana ia mendengar dan menelaah masalah yang kami kemukakan dan bagaimana ia memberikan step-step solusi dengan gesture yang khas itu. Sehingga perjalanan kami sebagai tim, terbentuk dalam rasa kekompakan dan kesolidan yang cukup tinggi jika dibandingkan dengan tim "program kakak asuh lainnya", ini semua tak lepas dari "approaching strategy" yang dilaksanakan olehnya sebagai kakak mentor dan kuncinya adalah menjadi seorang "influencer", dimana dalam kehati-hatian dan melepaskan kata demi kata, ia berhasil mempengaruhi kami sebagai tim, dan pengaruh itu adalah mempengaruhi kami ke jalan yang lebih baik, lebih taat serta lebih meningkatkan rasa persaudaraan antar sesama.

Aku sangat yakin, untuk menjadi seseorang sepertinya dibutuhkan perjalanan dan memaknai hidup yang lebih dibandingkan orang-orang lainnya, kumelihat ia memiliki tingkat kepekaan dan kepedulian terhadap sesama yang tinggi dan loyalitasnya dalam kebenaran telah membawanya kepada tingkat, bagaimana mengetahui dan merasakan kondisi orang yang ditemuinya. Dan tak ayal, dengan skill "mempengaruhi" ini, juga merupakan teknik ampuh dalam bersahabat dan berada dalam kondisi apapun.

Mudah2an sang influencer ini tetap teguh dalam keloyalitasnya dalam taat, 

Selamat Milad, saudaraku..guru informalku..sang influencer sejati tak kenal medan dan wilayah, ia trus bergerak..