Malam dijadikan indah, bintang entah berapa milyar kelap-kelip dan tak jarang, banyak pula yang menonjolkan sinar lebih terang dari yang lainnya. Malam dijadikan selimut, tuk manusia menikmati jasad terpisah sementara dengan ruhnya, hingga disatukan kembali.
Jasad Terkadang t’lah bergabung dengan ruh, tapi tak jarang ruh terlalu berat tuk membuka mata seorang jasad manusia yang tergolek malas, lemah dan alih-alih lainnya.
Entah sudah beratus-ratus tahun lamanya, the middle civillization terkubur. Dan entah sudah berapa tahun lamanya, new civillization menyelimuti kaedah pemikiran manusia. The middle Civillization merupakan peradaban tengah yang populer dengan peradaban arab ataupun peradaban islam. Peradaban ini merupakan predesessor peradaban kuno nan cerdas, peletak dasar-dasar ilmu kuno, yaitu peradaban yunani dan bizantium romawi. Sehingga jika ditarik garis/alur peradaban, sampailah kita ke 3 peradaban terbesar dunia ini :
Peradaban Yunani -> Peradaban Islam -> Peradaban Barat
Anda pasti sudah tahu, kenapa peradaban arab disebut juga the middle civillization?
Peradaban islam ini dipenuhi oleh ilmuwan dengan tingkat/kadar keimanan yang luar biasa, plus tingkat intelegensia ilmu alam/dunia yang mumpuni. Dengan kolaborasi keduanya terbentuklah pribadi-pribadi muslim yang berada pada the best balancing level, keseimbangan kecerdasan dunia dan akhirat. Sehingga imbas positif yang menonjol adalah kezuhudan, perilaku dan kearifan dalam menyebar ilmunya. Dalam prosesnya, para ilmuwan peradaban islam mengadopsi dan mempelajari teori dan konsep ilmu yang telah ditemui para filsuf dan ilmuwan yunani kuno, sebut saja ptoleamus, aristoteles dan kawan-kawan. Dan dalam proses itulah, mereka dituntut untuk memahami bahasa non arab, seperti persia/ibrani dan lain-lain serta dalam konteks ini pulalah mereka mencoba untuk melengkapi dan meneliti berbagai konsep ilmu yang ditawarkan peradaban sebelumnya, dengan tidak melakukan propaganda ataupun plagiat dengan mengatasnamakan namanya, tetapi sebenarnya mereka adalah penyempurna dan "corrector" peradaban sebelumnya.
Selain mempelajari konsep dari peradaban sebelumnya, yunani, dalam penyempurnaannya pun, para ilmuwan islam mempelajari konsep-konsep keilmuwan india, china dan mesir kuno. Sebut saja Al-Khuwarizm dengan teori aljabarnya yang mendunia, bagaimana seorang al-haitsam yang memberikan fundamental konsep dari kamera serta bagaimana seorang buzjani yang meneliti bintang-bintang di langit dan perhitungan eksak yang mengagumkan dan masih menjadi fundamental konsep dalam ilmu astronomi sekarang ini.
Beberapa khalifah termahsyur dalam kemajuan peradaban islam ini adalah khalifah Al-Ma’mun, Harun al-rasyid, biamrillah, Abdurrahman III, dan lain-lain, dalam proses merangkai peradaban ini, beberapa tindakan populer yang dilaksanakan antara lain, gerakan penerjemahan buku-buku peninggalan peradaban yunani, pendirian Baitul Hikmah di Baghdad sebagai pusat kajian ilmu dan tempat bersemayamnya buku-buku terbaik peradaban dan Darul Hikmah yang didirikan pada masa Khalifah Biamrillah, dengan peran seperti Baitul Hikmah, yang berlokasi di Mesir. Sehingga tak dapat dipungkiri, di dua daerah inilah lahir ilmuwan-ilmuwan peradaban islam terbaik, dari jabir bin hayyan hingga al-haitsam.
Peradaban ini merupakan sinergitas antara keimanan dan keilmuwan duniawi, dimana kolaborasi inilah yang membentuk peradaban yang indah dari sisi sikap, moral dan keinginan berbagi dalam ilmu dan kebaikan. Beberapa peninggalan peradaban yang masih tegak diantaranya, kerajaan kuno di Ethiopia, Masjid-masjid menawan di Toledo Spanyol [ yang beberapa telah dialihfungsikan menjadi gereja ], Peninggalan taman-taman kota di Khurasan, Iran dan masih banyak lagi.
Apakah peradaban indah ini akan lahir kembali, dengan kebobrokan moral manusia yang merajalela, dan acuh tak acuhnya manusia terhadap ilmu dan ibadah??, semoga saja, generasi-generasi pembaharu itu sedang dipersiapkan oleh sang Khalik tuk mengembalikan ke era The Middle Civillization … amin
[Kesimpulan unstruktural dalam memahami peradaban]
Wallahua’lam
K