Dalam hidup, banyak aktivitas yang kita lakukan berulang kali tiap harinya. Contoh yang sangat sederhana adalah perjalanan kita dari dan ke tempat belajar ataupun tempat kerja. Banyak dari kita akan menggunakan jalur yang sama, alat transportasi yang sama dan perkiraan kepulangan / keberangkatan yang sama pula. Sekali lagi saya tekankan, in case, Aktivitas yang berulang.
Nah, ketika aktivitas itu semakin lama dan terus dilakukan, akan muncul satu kondisi yang kita sering sebut kecenderungan kondisi [ Tend to … ]. Berikut saya ingin memberikan beberapa contoh kegiatan yang dapat kita ambil titik kecenderungannya :
Saya berangkat dan pulang menggunakan moda transportasi busway. Repetitive Activity telah membentuk pola statis :
Berangkat dan sampai ke Halte sebelum jam.7 karena tarif masih Rp.2000. Sehingga General Mind set saya akan melakukan aktivitas persiapan pra keberangkatan, agar nantinya tiba tepat sebelum pukul 7. Selain itu, kecenderungan yang hadir pada moda transportasi ini sebelum pukul 7 adalah ketersediaan moda transportasi yang masih tinggi.
Pada kasus kepulangan, saya sebagai konsumen memiliki 2 opsi, yang dihasilkan pula dari kecenderungan yang hadir selama Repetitive Actitvity dilaksanakan. Opsi pertama : Tanggo time, pulang dari tempat kerja pukul 17 pas, sehingga target arrival menuju tujuan pukul 18.30. Opsi Kedua : After Duty Time , Pulang setelah shalat maghrib, dimana opsi kedua ini berdasar pada kecenderungan antrian pada halte yang tidak terlalu panjang lagi.
Tetapi, opsi pertama dan kedua ini sering meleset dan jauh meninggalkan arrival time target.
entah kenapa dan sekarang saya mulai memilih diam, tak ada lagi geram yang membuncah..Karena saya, sebagai konsumen telah menerapkan "tend to system" berdasarkan "repetitive activity" saya. So, keterlambatan moda, ketidakdisiplinan moda berada di luar jangkauan saya..Unreachable..so lebih baik diam.
Tapi, seandainya bisa, saya hanya ingin memberikan satu konsep pelayanan yang harus diterapkan oleh "Service Provider", dalam kasus ini, moda transportasi TransJakarta, AGAR SUDI KIRANYA mempelajari Kecenderungan Waktu yang dipilih oleh konsumen untuk pulang dan possibility level yang terjadi jika kecenderungan tersebut diabaikan [ in case, antrian yang membludak ]. Jadi sebagai penyedia layanan, agar dapat belajar dan belajar akan kecenderungan konsumen dalam menentukan kepulangannya, sehingga availability moda [ ketersediaan kendaraan ] pada halte sentral tidak terabaikan.
Ini bukan lagi bentuk ‘geram’, tapi Constructive Idea yang nantinya kita bersama dapat merasakan impact yang baik, seperti Jalur Blok M - Kota yang tersusun rapih.
K