Pagi ini, entah mengapa ada garis awan yang melintas di bulan yang hampir hilang dan sudah memerah. Seekor ayam ras yang belum masuk ke kandangnya dari malam tadi, memiliki perasaan yang sedikit kalut, rindu dan terus terang sangat sulit ia definisikan. Ayam ras putih, ini adalah milik salah satu peternak ayam potong yang cukup populer di kampung kami, sudut kota samping fakultas kedokteran.

Memang sangat tak biasa, karena jauh bermain-main ke sawah di hari sebelumnya, si ayam ras ini sampai tak masuk ke kandang. Tiap pukul 18.15 sebelum azan maghrib berkumandang di meunasah [mushola] gampong kami, keluarga peternak ayam selalu memasukkan kembali ayam ke kandang. Biasanya ayam yang suka bermain dan memiliki visa perjalanan ke sawah adalah ayam-ayam kampung dan ayam potong tetap tenang di kandang menunggu pakan. Tetapi si ayam ras ini memang aneh, ia keluar dari komunitasnya dan bermain bersama ayam kampung ke lampoh-lampoh [ sawah ] yang sedang hijau, plus kolam alami yang terbentuk di tengah-tengah bentangan sawah nan hijau dan gubuk-gubuk tani.

Pagi ini, ketika ayam-ayam kampung yang merupakan teman-teman seperjalanan masih terkurung di kandang dan sang betina bertelur beberapa butir serta 2 ekor lagi sedang mengeram di pojok satunya, si ayam ras melihat bulan yang merah dan aneh..masih pukul 6 pagi, matahari pun belum terbit, berbeda dengan jakarta, riuh motor dan mobil sudah mulai terasa..ya di aceh sana, pukul enam pagi, manusia-manusia terpilih yang bangun pagi, ada yang berjalan pagi serta ada pula yang masih mendekam di kamar mendengar ceramah pagi di radio baiturrahman bersama tengku azman, lalu dilanjutkan lagu-lagu kasidah, lagu aceh dan malaysia era 90an [ gerimis mengundang dan saudara-saudaranya ].  Karena  masih pagi, si ayam ras menunggu di luar, walaupun tak terasa lapar, tapi kehangatan kandang ayam yang biasa ia rasakan dengan  lampu-lampu pijar kuning dan  kulit-kulit padi sebagai tikarnya, tak ia rasakan  hari ini.

Pagi ini, di kampung kami diadakan acara maulid nabi, dimana tiap rumah yang ingin berpartisipasi, harus membuat hidangan nasi bungkus yang dilapis daun pisang, dan lauk-pauk. Biasanya yang sempat ke pasar ataupun yang memiliki hewan ternak, akan memberikan hidangan terbaik ke masyarakat di meunasah [ musholla ], sebelum azan maghrib berkumandang. Jika anda ingin mengatakan indonesia masih "gemah ripah loh jenawi", aceh insyaALLAH salah satunya, tak ada keraguan dalam menyembelih hewan ternaknya, walaupun campli[cabai], sira [garam], saka[gula] sudah mahal, tapi "miseu na kanduri, insyaALLAH na kemudahan" — jika ada kenduri / acara, insyaALLAH ada kemudahan.

Keluarga peternak, kali ini berniat menghidangkan lauk-pauk khas aceh, seperti plik u, sie itek [ kuah bebek ] dan tak lupa daging rebus dan ayam "kuah" santan.

Dan alhasil menu terakhir inilah yang ternyata sumber dan asal-muasal kegundahan si ayam ras, pagi itu, sekitar 6.45, ia yang sedang santai di pintu luar kandangnya, mendapati bang win, sudah memegang erat 2 kakinya. Memang dengan ukuran dan posturnya yang berisi, ayam ras ini sudah cukup "bonafit" untuk "ditagun" / dimasak. Bersama 2 temannya ia pun menghadapi momen indah sekaligus gundah sepanjang hidupnya…pikirnya, jika aku ismail dan bisa bicara, aku ingin mengatakan pada bang win, asahlah pisau itu setajam-tajamnya, agar aku tak merasakannya terlalu lama…andai aku berada dalam polemik dan gundahku, ku hanya ingin mengatakan kepada masyarakat yang akan memakanku di meunasah, " bang win, aku ingin menjadi yang halal bagi kalian semua, jangan lupa ucapkan bismillah ketika menyembelihku.."

Kisah historika Kisah ayam ras yang tegar hingga akhir..