4,5 tahun lalu, skenario hidup tlah mengantarkanku ke Jakarta. Dengan bekal "petualangan" yang terbatas ku sampai disini. Memang skenario itu tak pernah meleset, dan sampailah ku ke gang teduh dan sampai kesini, rumah ini. Keluarga ini merupakan kombinasi sunda-betawi yang ramah dan baik. Dulu waktu pertama kali ku tiba disini, ku masih teringat bagaimana sosok ibu kosku yang energik, kuat dan logatnya sudah bercampur betawi, tetapi jika aris hamidi ( temanku ) sudah "bermain" dengan kosakata-kosakata aneh ; urang, pisan, pada kamana, nginap atuh,eleh-eleh, hade pisan euy ( hah kok kayak slogan pilgub jabar ) … mereka sudah mulai terkoneksi, dan tak dipungkiri kosakata-kosakata aneh itu pun berhamburan, sampai ku tak tau apa yang mereka bicarakan.

Ya, dia merupakan salah satu wanita energik, jangan harap dia bangun kesiangan, karena paling telat pukul 6 pagi, sahut-sahutan bunyi sapu lidi yang bersentuhan dengan rumput dan lantai aspal sudah dimulai. Beliau sekitar 4,5 tahun lamanya berkecimpung sebagai ibu rumah tangga, dengan rutinitas IRT umumnya ; bersih-bersih, ngepel, buat sarapan, belanja, masak, nyuci dan sirkulasi itu terus berputar. Hingga hari ini masih terngiang panggilannya…aliiiiiillll, udah pulang?, air masih ada?, baju kotor mana??

Mungkin ini juga salah satu sebab ku "sulit" pindah, dan memiliki prestasi "tingkat kebetahan" di kos paling tinggi, bersama "abang2 cilegon gang masjid", teman seangkatanku. Ku tau, keikhlasan, kerja keras, santun dan ramah kepada siapapun merupakan sikap yang sudah tertanam dan sulit tuk dihilangkan. Jarang kumendengar ia mengeluh di depan keluarganya, jarang pula ia terkulai lemas dan sakit. Tetapi di balik ketabahannya itu, ia juga memiliki daya juang dan ketahanan dalam hidup. Beberapa bulan lalu, bapak kosku tak bekerja lagi, mungkin ini salah satu cobaan yang telah di skenariokan oleh sang khalik. Tak berlama-lama dengan mengeluh dan bimbang, hingga ia pun memulai inisiatif tuk berdagang. Pukul 3 Pagi sudah terjaga bersama 2 anaknya, tuk memasak dan dijual dipagi harinya. Inilah rutinitas barunya, lelah memang..tapi sekali lagi, ku tak pernah mendengar ia mengeluh di depan keluarganya. 

Lelah..ya suatu saat jika kita menggunakan self power di luar batas, kita akan lemah suatu saat, sudah beberapa hari ini, ia tak berdagang, karena sakit terkena radang tenggorokan. Mudah-mudahan sosok tegar itu bisa kembali sehat dan menjalani rutinitas barunya itu bersama keluarga.

"tapi kutau dan sadar sesadarnya, suatu saat nanti ku harus pergi dari comfort zone ini dan pergi dari ruangan ini, walaupun kenangan dan historika tertanam disini.."

Ku teringat kuotasi Mahatma Gandhi, "Nikmat yang terbesar adalah kesehatan, bukanlah emas dan perak" .

Sosok tegar ibu kosku, membuatku ingin terus berterima kasih atas skenarioNya yang indah..

Doakan mereka ya teman..agar terus tabah dan bersyukur..

Wallahua’lam