Dalam memaknai suatu keadaan yang sama pada suatu waktu, kebanyakan manusia akan melihatnya secara berbeda. Jika kita sebut dengan bahasa yang agak "menengah atas", ini disebut perspektif.

Secara pribadi saya melihat ini, sebagai suatu kecenderungan manusia dalam melihat imbas, sebab dan wujud dari suatu kejadian.

berikut analogi-analogi sederhana yang coba saya buat :

1. Apakah semua orang yang sedang terlibat secara aktif dalam kemacetan kendaraan sepanjang 2 Km, akan mengumpat dan mengeluh bahkan memarahi tiap mobil yang berada di depannya serta memaikan irama klaksonnya? ATAU ada pula yang dengan tenang menghubungi penyiar radio, untuk melaporkan ia sedang terkena macet dan memberikan informasi ke ‘calon’ peserta aktif kemacetan, untuk menghindari jalan yang dimaksud? ATAU ada orang yang karena sedang puasa senin-kamis, ia menghidupkan "disc player"-nya tuk menetralisir emosi dan mempersiapkan hidangan berbuka, berupa roti tawar, padahal macet masih terdiam hingga 2 Km? SeKali lagi, saya melihat ini sebagai kecenderungan orang dalam bersikap ketika keadaannya tertekan, senang ataupun kalut.

2. Apakah seorang manusia yang tiba-tiba dan secara mengejutkan terpilih dan diberikan amanah menjadi pemimpin negara, akan menyikapinya dengan sama pula??, ternyata tidak..Umar Bin Abdul Aziz, salah satu khalifah termasyhur sepanjang zaman, malah menangis sejadi-jadinya, ketika ia terpilih sebagai khalifah, karena "saking" takutnya dengan hisab di akhirat kelak, di belahan dunia lainnya, ada pula pasangan gubernur yang baru saja diputuskan kemenangannya oleh KPU pusat, setelah terjadi konflik "unresolved" di daerah yang "harus" dipimpinnya kelak, menggelar syukuran dan terlihat "sangat" senangnya. Sekali lagi ini, adalah perspektif dalam melihat suatu kejadian.

Dari dua analogi sederhana diatas, saya mencoba memahami lebih kedalam. Ketika seseorang telah memberikan respon terhadap suatu kejadian tertentu, makan otak akan menstimulus ini menjadi feeling dan imbasnya pada gerak dan gesture tubuh, sesuai dengan hasil stimulus tadi. Jika ia menstimulus dirinya kearah "kecenderungan" yang positif, maka perilakunya pun enak dilihat, tetapi sebaliknya ketika stimulus yang dikirimkan adalah negatif, alhasil gesture tubuh akan mengikutinya.

Alangkah baiknya ketika bisa memikirkan suatu tindakan, lebih ke arah "dampak" dari aksi yang akan kita lakukan. Karena ketika kita bisa membayangkan imbas/dampak dari suatu tindakan yang akan kita lakukan dengan "cepat", maka hal ini akan berakibat positif di lingkungan dimana kita berada. Oleh karena itu, kecenderungan dalam berpikir seyogyanya adalah "kecenderungan" stimulus yang mengarah kepada kebaikan.

Karena sungguh indah ketika kita bisa "mengendalikan" kecenderungan diri kita sendiri!!!

Wallahu’alam.

K

Note this day :

"this is my fastest arrival to home from office, only spent 45 minute from central to west Jakarta that commonly spent 2 hours, I saw this, as a tendetion of ’something" that happened this day..keep in positive view of life.."that’s trully "K".

Plan for tomorrow (insyaALLAH) :

- Join Citrix App Conference On Hyatt

- E-Commerce Seminar on Central PLN.