Ketika kebanyakan manusia terlelap tidur, ia mungkin salah satu manusia yang membuka selimut yang bernama MALAM. Wajahnya lebih tua dari umurnya. Jika berjalan, ia mengambil langkah sedang, tak cepat tapi juga tak pelan. Ialah Pemuda Ghuraba, Seorang pemuda yang mungkin, pada saat yang ditentukan akan menjadi salah satu kerumunan generasi ghuraba yang menegakkan kebenaran di peradaban yang terlanjur complicated ini. Pagi ini, perlahan bintang mulai tak tampak, dan bulan sabit berbayang penuh mulai digantikan oleh matahari merah khas dunia, ketika sedang membuka matanya secara perlahan. Pemuda Ghuraba ini sebenarnya telah memulai hari lebih awal, ketika ia membuka selimut bernama "malam" itulah sebenarnya hari telah dimulai. Basuhan wudhu membasahi sekujur tubuhnya, matanya masih berat dan godaan pun tak kalah mengganggu..Tapi, ia harus ke lantai 1 rumahnya, karena ia telah berniat shaum hari ini. 3 Gelas air putih, dari air yang baru saja dimasak dimalam harinya, dan belum sempat ibunya menaruh ke kulkas..ia teguk perlahan..dan bismillah, ya rabb kuberniat melaksanakan sunnah-Mu hari ini, lindungi aku ya rabb, dalam derap langkah hari ini..
Selepas saur, dengan wudhu yang masih terjaga, ia kembali ke kamarnya, tak ingin keluarganya terjaga ia menutup rapat dan perlahan daun pintu kamarnya. 15 Menit shubuh…mmm cukup untuk melapor pada-Nya, ia berbisik dalam hati. 2 Rakaat tahajjud yang diiringi sabbihismarabbikala’la dan surah Al-’Alaq tak membuat selimut manusia manusia terbuka, lantunan kalimat suci itu, tak jua menggetarkan jiwa manusia kebanyakan. 5 Menit terakhir menjelang subuh, aliran air mata itu mulai berlomba-lomba membasahai pipi dan janggutnya yang tumbuh gersang..dan pemuda ghuraba berbisik sambil menengadah tangannya ke langit :
"Rabbi..kusadar, aku bukanlah satu-satunya yang terjaga di malam ini, mungkin masih ada bahadir yang bangun lebih awal hari ini di belahan turki sana, atau mungkin muhammad fathi dari mesir yang membuka pintu malam ini tuk pertama kali..tapi rabb, kutau pada penghujung malam seperti inilah engkau meletakkan do’a kami pada stack ( tumpukan ) teratas, dari permintaan2 do’a kami selama ini..
Rabbi, satu pintaku yang kuharap takkan terputus, ampunilah kedua orang tua kami, hapus segala kesalahan mereka dan sebagai tebusan, letakkanlah kesabaran dan ketabahan mereka dalam mendidik kami dari kecil hingga kini, menjadi penghapus sederetan dosa mereka..rabb, jadikanlah mereka orang-orang yang peka dan senantiasa mengingatmu di tiap waktu..seperti nabi sulaiman-Mu yang senantiasa berzikir diatas ujian kelimpahan dan seperti nabi Ayyub-Mu yang senantiasa bersabar diatas ujian penyakitnya yang berkepanjangan..
Rabb..aku sadar, engkau masih menutup rapat-rapat aib ku, sehingga ku masih bisa melangkah tuk meraih skenario hidup yang tlah kau tulis di Lauh Mahfudz sana..Rabb pintaku, jadikanlah aku hambamu yang ahli syukur dan meraih skenario tertinggi yang engkau tulis di kitab itu..Jadikanlah kami orang-orang dan generasi perubah ya rabb, jadikan kami generasi ghuraba..
Amin "
Azan subuh pun saling bersahutan, tapi seakan panggilan "asshalatukhairumminannaum / lebih baik shalat daripada tidur" itu seperti jam weker yang berbunyi sejenak, dan berlalu.
Pemuda ghuraba ini, mulai membuka hari ini dengan menembus dinginnya malam tuk menuju masjid, dan melaksanakan panggilan shalat fardhu yang pertama tuk hari ini. Sepulang shalat berjama’ah, lantunan surah Ali-Imran satu halaman didengungkan dengan indah, entah sudah berapa kali ia khatam Al-Quran beserta terjemahan, hingga hari ini ia kembali ke surah Ali-Imran. Tak ada kata tidur lagi di agenda hariannya hari ini, dan untuk kedua kalinya tuk hari ini, ia menengadahkan tangan ke langit dan berteriak ketika langit memerah, angin pagi masih menusuk serta matanya yang terbuka berat…dengan lantang ia ucapkan "I’ll bet super monday". Let’s start by basmallah…yeahhh…
Bersambung…
K