Melanjutkan cerita seorang programmer arab (1) (2).
Jum’at yang lalu, al-khawa sang programmer arab seperti biasa berangkat kerja ketika matahari pagi masih bersinar sepenggalah. Ia sedikit mem-burned up semangatnya, karena hari ini, al-khawa akan mampir ( lagi ) ke penjaja makanan di samping jembatan penyebrangan. Dulu semasa al-khawa masih sering ke kantor pusatnya, ia sering membeli sarapan disana.
Pagi hari Al-khawa mengikuti appointment kantornya, untuk pergi menuju salah satu creator database product ternama di dunia, katakanlah itu Oracle Arab, yang familiar dengan produk database, web container dan pastinya CEO-nya yang ‘hebat’, Larry Elison. Pertemuan itu berlangsung sekitar 1 jam di "branch office" oracle di Arab.
Selepas pulang dari pertemuan, ia segera menuju "second office", ba’da shalat jum’at. Hari ini, al-khawa seperti biasa, mengambil saf depan di Masjidil Haram dan bersebelahan dengan bilal, dimana bilal ini bertugas untuk "mempertegas" suara imam. Jum’at itu dengan imam As-syudais. Ini adalah salah satu kebiasaan hebat al-khawa, dan tentunya kita sebagai umat harus mencontohnya, yaitu mengambil saf terdepan.
Ketika telah duduk di "depan" komputernya, ia sedikit tertunduk lesu, ada akumulasi kelelahan dan "tidak" mood, yang hinggap di diri al-khawa sang programmer arab. Ia berpikir, ternyata membuat suatu program or coding pun harus dengan mood yang pas…Nah ketika ketidak-mood itulah ia mendapat sebuah pelajaran baru. Ia tepat berada di depan layar komputernya, ia menundukkan kepalanya di meja ( dahinya ia lengketkan di meja ), tangan kanan memegang mouse dan ia mulai menutup mata ( tidur sejenak… ). Pastinya di ruangan itu ia tidak akan bisa tidur, tetapi ini lebih kepada kebiasaan al-khawa untuk me-recovery tenaga dan terutama matanya yang agak lelah.
Ia menutup mata, dan menggerak-gerakkan mouse dengan tangan kanannya, ini agak aneh..tetapi ia mulai berpikir, bagaimana ku bisa membuat program, coding dan lain-lain, jika mulai hari ini, sang khalik mencabut hakku untuk melihat, bagaimana aku nanti..?? dan mengapa manusia jarang sekali bersyukur ketika ALLAH masih memberikan haknya untuk MELIHAT ??
ia masih menggerakkan mouse di tangan kanannya secara perlahan, tetapi batinnya terus berinteraksi, bahwa jika mata ini dicabut oleh-NYA, apa yang harus kulakukan ( al-khawa bergumam di dalam hatinya beberapa menit )..
dan hasil dari interaksi batin itu, ia ucapkan alhamdulillah ..atas segala nikmat yang masih diberikan hingga ia masih dapat melihat. Ia mulai membuka matanya, sepertinya "recovery" power sudah selesai dan ia kembali mulai bekerja sebelum azan "wustha’" memanggil..
Pelajaran batin ketiga al-khawa…
Note : Kisah ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dari cerita diatas.
Wallahua’lam