Melanjutkan Cerita Seorang Programmer Arab (1),(2),(3)
Layaknya Indonesia yang sedang menjalani liburan panjang selama 4 hari, di Arab liburan dimulai dari hari Rabu, 12 Rabiul Awal di Arab sana, jika di konversi menjadi masehi akan jatuh pada hari Rabu.
Jika liburan seperti ini, Al-khawa sang programmer Arab tidak berdiam diri di rumahnya yang bersebelahan dengan Baitullah ini. Pada masa liburan ini, ia mengunjungi salah satu pamannya ( Adik bungsu dari Ayah Al-Khawa ) di negeri antah-berantah bernama Al-Khindonesia ( Khi, dibaca seperti bacaan Khaa di bacaan "Khawarizmi" ). Paman Al-Khawa ini sudah sejak lama merantau ke negeri antah berantah ini bersama keluarganya. Pada masa mudanya, paman Al-Khawa merupakan Mubaligh ( pendakwah ) yang sangat kondang di Al-Khindonesia. Tetapi seiring berjalannya waktu dan umurnya yang semakin uzur, ia menitipkan amanah dakwahnya kepada anak-anaknya yang sudah beranjak dewasa. Mereka adalah Thufail dan Dzikra.
Setibanya Al-Khawa di rumah pamannya, ia sudah terlebih dahulu dijemput oleh Thufail di terminal Bus di kota itu. Dan "Assalamualaikum…", Al-Khawa memasuki rumah pamannya, dengan "Kaki kanan terlebih dahulu". Walaupun sederhana, tapi umat sering lupa dengan hal-hal kecil tapi dianjurkan oleh "din" mereka, dinul islam. Paman Al-Khawa, dengan senyum simpul yang khas menyambut Al-Khawa, dan Ia memberikan aba-aba kepada Al-Khawa untuk mendekat kepadanya dan ia langsung memeluk erat keponakan yang ia cintai seperti anaknya sendiri. Paman Al-Khawa ini sudah sejak lama duduk di kursi roda, dengan sorban putih bersih seperti direndam ‘Bayclin’ setiap hari, dan janggut lebat berwarna putih kehitam2an itu, ia terlihat seperti almarhum ulama besar Syekh Ahmad Yasin, ulama masyhur Palestina.
Setibanya di rumah pamannya, kamar khusus tamu telah disiapkan untuk Al-Khawa plus meja komputer, karena seperti biasa, Laptop Dell tahun 2000 selalu ditenteng Al-Khawa, walaupun laptop ini sudah selayaknya diganti dengan MacBook Air-nya Steve Jobs. Begitu ia selesai menaruh seluruh baju gamis, sorban dan parfum di lemari, ia bercengkerama dengan pamannya di ruang TV. Tapi TV itu hanya bisa dihidupkan pada jam tertentu saja. Karena paman Al-Khawa sejak 4 tahun ini, telah mengidap sindrom "Entertainer Phobia", yang merupakan sindrom aneh, Anti Entertainment, dan imbasnya TV ia anggap sebagai biang rusaknya manusia beberapa tahun ini. Maklum saja Al-Khindonesia merupakan negara mayoritas islam yang corak peradabannya "dibodohi" oleh corak barat, dan parahnya itu sudah mendarah daging di tiap acara entertain di seluruh Stasiun TV di sana. Oleh karena itu, pamannya sangat geram, yang direfleksikan dengan gerakan mengangkat tangan kanannya dan dikepal keras, dan ia menyebutkan dengan nada serak.."No TV, but We Have Fiqh Sunnah written by Sayyid Sabiq, Hadith and The greatest one, our Quran"…Al-Khawa sontak merinding, sungguh hebat pamanku ini, ia bergumam di dalam hati.
30 menit berlalu, mereka bercakap-cakap dan 10 menit lagi, waktu dhuhur tiba, pamannya, sang eks mubaligh handal itu membisikkan suatu pesan di telinga kiri sang keponakan,
" Al-Khawa , antum harus tau..dulu ketika pamanmu ini masih muda, para wanita-wanitanya semakin percaya diri ketika Izzah, perilaku, iman dan akhlaknya serta hijabnya sangat mereka jaga, sehingga ketika para ikhwan yang tak sengaja melirik para wanita-wanita semacam ini, mereka lanngsung menundukkan kepalanya dan memasukkan tangannya agar tak terlihat sedikit pun..itulah cerminan "kepercayaan diri" mereka.
Tapi keponakanku yang baik..kau lihat sekarang apa yang terjadi, Wanita-wanita itu semakin percaya diri ketika ia sudah memperlihatkan auratnya dengan tak malu "sedikitpun".., Al-Khawa kembalikan masa muda pamanmu, di negerimu.., lalu kau kembali kesini tuk mengembalikan dunia ke izzah(kemuliaan)-nya lagi"…InsyaALLAH ya paman..( Al-Khawa dengan terbata-bata menjawab lirih, seakan ia tak sanggup, tapi mata yang berkaca-kaca itu, seakan mengharapkan itu kembali.. )
Allahuakbar..allahuakbar..Dzikra sedang mengumandangkan azan, mereka lalu bergegas berwudhu tuk menjemput panggilan sang khalik…
Note : Kisah ini hanya fiktif belaka, mohon maaf jika ada kesamaan nama tokoh dari cerita diatas.
Wallahua’lam
K