Terkadang jika sedang tidak sehat begini, mencoba menulis pesan hikmah yang mungkin bagi
sebagian orang adalah hal sederhana, yang dikutip dari "unidentifier source".
Ketika uang bisa membeli segalanya, ada yang tak bisa terbayarkan oleh banyaknya "materi",walaupun setinggi gunung.
"Senyum kebanggaan orang tua.."
alkisah terlahirlah seorang anak manusia, mungil, rambut agak ikal. Hidup pra remajanya dihabiskan dengan kedua orangtua dan saudara2nya di kampung halaman. Sampai suatu waktu, ia harus berpisah dengan mereka.
Namanya biruni, sang pemuda berambut ikal.
Perantauan dimulai , ketika teman2 seusianya masih mencari jati diri, dan sama halnya dengan biruni.
Ia harus membentuk "fixed pattern"-nya seorang diri, tanpa besutan dan arahan jelas..Tapi itu secara fisik, tapi alur "Zero Mind Process", membawanya ke satu fixed pattern yang ia anggap sudah benar adanya.
Biruni muda, di tanah perantauan masih sedikit linglung dan agak kagok dengan lingkungan barunya, tapi seiring waktu, adaptasi pun dimulai, dan ia..biruni mulai melakukan definisi kondisi di lingkungan barunya, dan ia cukup berhasil.
Jum’at bertemu jum’at, tahun bertemu tahun dan usia pun bertemu usia yang menggantikannya..biruni telah matang dengan ‘fixed-pattern" yang ia coba godok selama perantauannya.
Namanya biruni, sang pemuda berambut ikal…
Seperti pemuda perantauan pada umumnya, mereka mulai ketika menginjak masa kuliah, dan biruni juga begitu.
Semasa kuliahnya, biruni mengambil jurusan Matematika terapan..dan ia cukup menonjol disana.
Tapi di pertengahan masa studi itulah, ia melihat suatu hal harus ia raih. Yang ia sebut dengan "additional knowledge", dan biruni yakin ia tidak akan mendapatkan ilmu ini di dalam kampusnya. Mulailah ia mencari pusat "additional knowledge" yang berhubungan dengan jurusannya diluar, dan ia pun meraihnya.
Jadi Fixed-pattern biruni, seiring waktu akan melakukan ‘update’ secara berkala, dan salah satu patch terbaru adalah, belajar di luar kampus di hari non-aktif, seperti sabtu dan minggu.
Layaknya pasir yang perlahan jatuh pada jam pasir, biruni melakukan rutinitasnya. Dan sampailah pada titik, dimana ia harus meninggalkan Fixed-pattern yang telah ia gunakan selama 4 tahun.
Biruni menutup karir studinya dengan "acara formal", yang dengan bahasa indonesia disebut wisuda,
[ntah apa namanya, jika diartikan dalam bahasa dimana biruni tinggal].
Pada event wisuda itulah biruni, menunggu "Senyum tak terbayarkan itu", ya biruni ingin sekali melihat senyum khas kedua orangtuanya, tapi senyum yang berbeda, yang biruni sebut dalam fixed-pattern-nya sebagai "Senyum kebanggaan orang tua". Nama biruni disebut kala wisuda itu dimulai, dan kedua orang tuanya pun berdiri, dan menoleh sejenak ke wajah biruni..dan kala itulah senyum itu muncul..
Biruni sedikit tersedak, inikah senyum yang dulu pernah kumasukkan dalam salah satu ruang "Fixed-pattern"-ku.
Ya..
Senyum tak bisa berulang, ia hanya muncul pada waktu yang tepat, dan SEKALI LAGI biruni berujar "ini bukanlah
senyum yang bisa kubayar".
Pada rilis akhir fixed-pattern-nya untuk melangkah kedepan, ada pesan/log yang biruni tulis, untuk menstimulasi
teman-teman perantauan lainnya yang junior,
"Teman, apakah kebanggaan orang tuamu, bisa kauhadirkan melalui prestasimu?".
Begitu pesan terkahir biruni.
Semoga kita bisa melakukannya.
Wallahua’lam
K