3 Tahun lalu, 3 Hari itu,

Masih teringat di benak, suatu bencana yang menjadi pelajaran berharga bagi umat islam, negara dan penduduk aceh. Bencana tsunami yang hadir di hari minggu pagi yang cerah, membuat seluruh masyarakat aceh, panik sepaniknya..sungguh dramatis ketika kita melihat di TV dan dampak yang terjadi pasca bencana. Ya..ketika bencana terjadi, kuberada di jakarta dan selama 3 Hari tanpa kabar sanak keluarga disana.

Terkadang kuberpikir sejenak, akan makna dari bencana itu, karena ALLAH telah menjanjikan akan seluruh makna kejadian yang kita hadapi di dunia ini. Tak ada kejadian yang tidak memiliki makna, baik itu sebagai sentilan akan manusia yang telah melampaui batas aturan yang ALLAH tetapkan atau sebab-sebab lainnya. Makna pertama yang bisa kuambil adalah, sebelum tragedi tsunami melanda aceh; disintegrasi dan referendum serta instabilitas dari sisi keamanan masih menjadi topik utama di berbagai wilayah aceh. Upaya damai yang diselenggarakan melalui mediasi negara lain, adanya beberapa LSM asing ( seperti HDC - Henry Dunant Center, dll) yang hadir untuk membantu pemulihana keamanan, terhitung hanya sementara. Entah apa, yang membuat instabilitas ini terus terjadi selama puluhan tahun.

Pasca tragedi 261204, upaya-upaya damai kembali dilakukan,dan alhamdulillah mediasi damai yang di-support pula oleh mantan perdana menteri Finlandia itu pun akhirnya menjadi titik balik untuk menyongsong perdamaian di Aceh. Dendam yang tertanam, ambisi referendum, serta pemberontakan pun hilang sudah. Memang perlu proses yang berkelanjutan untuk memulihkan aceh secara komprehensif, dikarenakan beberapa aspek yang belum teratasi secara baik. Contohnya adalah pemberdayaan SDM Eks.GAM yang belum maksimal, sehingga ketika mereka telah kembali ke kampung halamannya masing-masing, pasca perdamaian, mereka belum memiliki pekerjaan yang tetap. Semoga saja hal ini bisa teratasi sesegera mungkin.

Makna kedua, menurutku adalah, akan hikmah dibalik kejadian yang sangat sulit dibayangkan ketika tsunami sedang menerjang. Bayangkan, apa yang mereka pikirkan ketika ombak hitam pekat setinggi 10 m berada tepat di depan mereka. Sungguh tragedi yang sangat memilukan. Tetapi ada poin yang sangat penting untuk kita renungkan, sesuai al-quran yang menggambarkan kejadian akhir zaman, ketika itu manusia tidak akan sempat memikirkan orang lain, bahkan anaknya sendiri, karena kegaduhan dan goncangan hari kiamat yang sangat besar. Mungkin tsunami ini adalah sentilan bagi masyarakat aceh dan umat pada umumnya, agar senantiasa mengingat sang khalik dan hari pembalasan. Hal ini diperlukan agar tercapainya keseimbangan wujud syukur dan sabar dalam diri setiap umat, karena kita yang memerlukan ALLAH bukan sebaliknya.

Makna ketiga, seiring berjalannya waktu, flashback diperlukan untuk memperbaiki sikap dan tindakan di masa lalu, agar lebih baik BUKAN untuk diratapi dan ditangisi lagi. Kegiatan "Dzikir bersama" yang dilakukan mayoritas rakyat aceh, setiap 26 Desember, merupakan salah satu hal positif untuk senantiasa dekat kepadaNya dan mendoakan para sanak saudara yang telah ALLAH ambil lebih cepat. Fainnama’al ‘usri yusra innama’al ‘usri yusra, sesudah kesulitan pasti ada kemudahan, mudah-mudahan ALLAH masih mencintai rakyat aceh..amin.

"Nanggroe..Jinoe watee geutanyoe bangket, bek lalee le, jak tabeudoh…"

K

00.05 ; 261207