Al-Khawarizmi, ibnu sina,al-kindi, hasan al-banna, Imam Syafi’i, Yusuf Qardhawi, Ahmad yassin, Aa Gym dan masih banyak lagi..mereka bertarung dengan ilmu tanpa mengenal batas waktu..perbedaan mencolok antara mereka dengan ilmuwan barat adalah niat dan tujuan, ridho ilahi..hanya itu yang mereka cari..jika kita sekarang memprioritaskan ilmu dunia sebagai pokok ilmu, berbeda dengan mereka yang malah sangat mengutamakan ilmu islam dan iman sebagai pondasi di dalam mempelajari ilmu dunia, memang terkesan berat..ibarat kalimat " mengaji di madrasah dan kuliah dengan intensitas yang sama "..kenapa ilmu islam harus lebih diutamakan, menurut saya jika kita telah memiliki pondasi hakiki tentang makna suatu ilmu, mengapa sang khalik memberikan kita akal, otak dan kemampuan berpikir akan mendrive kita kepada keadaan yang berbeda dalam menuntut ilmu, yaitu meraih ilmu sebagai wujud syukur kepada-NYA, karena telah memberikan nikmat yang luar biasa…
apa programmer,kuli bangunan,professor dan manager keuangan bisa jadi ustadz, insyaALLAH bisa, ketika ia memberikan suatu ruang gerak terhadap jiwanya untuk senantiasa berada di lingkup kehidupan yang bernuansa islami…bayangkan ketika ALLAH memberikan kita kemampuan di bidang komputer sekaligus kita bisa memberi suri tauladan dalam bersikap sesuai sunnah, maka otomatis orang pun akan beranggapan bahwa jika bersikap baik, maka daya intelektualitas bisa meningkat…karena ketika kita sering mengajak otak kita untuk berpikir, maka akan timbul suatu keajaiban alam, penciptaan dan kemampuan kita dalam menyelesaikan masalah..
ridho ilahi, itu yang kita cari, mudah2an kita termasuk umat yang memiliki tujuan hakiki ini..
wallahua’lam.
K