Time for migration
Hi everyone, I moved from blogsome to my new virtual room, enjoy this.
I’m looking forward you there.
Wassalam
Kahlil
Hi everyone, I moved from blogsome to my new virtual room, enjoy this.
I’m looking forward you there.
Wassalam
Kahlil
Gelap itu tak terkira, ia mengundang keresahan yang sangat hari sabtu menjelang ahad ketika mata sangat nikmat tuk terpejam menikmati hari dengan beberapa sirkulasi hidup yang segar. Gelap ini meresahkan, sedikit kilatan di atasnya seperti biasa ibukota dirundung sedih kala sore hari, sudah beberapa hari ini. Hujan teman..yang kumaksud itu hujan personifikasi dan imaji-mu terlalu jauh, dekat sajalah. Hujan terus meratakan cakupannya, namun sayang cakupan nikmat itu bisa dianggap berbeda oleh satu kota yang alih-alih berjuluk megapolitan, bukan sebuah desain yang disengaja tapi ia menjadi "mega" karena ternyata tidak ada regulasi powerful dan tirani dalam mengurusnya. Jadi kalau kau lihat beberapa hari ini sang petinggi ibukota megapolitan ini berceloteh di depan plaza semanggi yang tempatnya saja sudah salah menurut tata kota yang finest, lalu ia jelaskan tentang kemacetan luar biasa di jalur highway, mungkin tuk sebagian orang yang tak tinggal di ibukota ini akan menunduk takzim akan penjelasannya, ahli teman seorang ahli…hehehe. Namun kalau kalian anggap kami penghuni hutan beton ini karena kesenjangan itu bukanlah bisa disebut "terasa" namun itu sudah sangat kasat mata teman, apakah ada kata yang bisa me-replace kata "nyata" tuk meng-emphasize kalimatku ini…fiuhhhh.
Seolah-olah sang ahli punya visi jelas untuk kota besar ini, ia tunjuk satu halte di depan hidungnya, katanya lagi tender…grrrrrr. Ah sudahlah aku tak mau memanjanglebarkan masalah klasik bin klasik ini karena bukan itu tujuanku masih survive di tengah malam begini. Apalagi sudah hampir ramadhan mubarak, mungkin sudah tiba masa kita mendoakan pemimpin kita yang entah bagaimana mereka meletakkan konsiderasi sebuah decisi apakah itu cenderung pada konsiderasi ilahiah atau hanya terfokus pada konsiderasi kesenangan insaniyah.
Ketika masa sudah berganti ketika tahap melihat sesuatu hal sudah sepatutnya tidak lagi sama seperti 7 tahun yang lalu. Si lugu, kata temanku aku orang desa, hahaha setelah 7 tahun aku berceloteh di ibukota ia masih menganggapku si anak desa. Aku senang sekali, karena jangan bilang aku anak kota karena aku masih anak desa paling tidak aku bukanlah orang yang menikmati penatnya kota besar ini. 7 tahun mungkin bukan masa yang mentoleransi sebuah ke-statisan hidup, ia harus bergerak ia harus senantiasa di enhance, ia harus mampu melihat satu visi yang jelas tak kabur lagi tak nyata. Semua dalam perjalanan 7 tahun haruslah berbeda untuk tahun-tahun ke depan. Rasa terima kasihku yang terbesar pada para teman-teman Ar-rafiq ash shalih yang menemaniku dalam dinamika keislaman, yang menyentilku dalam nuansa ukhuwah yang memainkan peranan dan penguji keteguhan dalam satu jama’ah. 5 tahun lebih dalam kebersamaan bukanlah sebuah periode pendek tuk mengenal kalian, bukanlah sebuah periode singkat mengenal tabiat kalian masing-masing, yang pasti aku senantiasa tersentil dengan cara kalian melihat satu tugas, cara kalian menyikapi ta’limat serta cara kalian melihat sebuah pengorbanan yang melilit sebuah nafsu. Ketika mukhayam (berkemah) itu kita bersama, ketika futur dan nuansa kebatilan terkadang menyelimuti, ketika canda menyelingi keseriusan dan tertunduk takzim ketika mendengar gelayut sindiran halus dan mengena dari sang guru, para murabbi bukan murabbiah kan teman
.
Sebuah cerita tentang masa yang tidak singkat bersama para ar-rafiq ash shalih (para sahabat2 yang shaleh), yang menunjukan selera ubudiyah (ibadah) berlebur muamalah (tindakan sosial), karena menyampaikan kebaikan sarat akan penyampaian yang berujung pada amal. Kalian menyentilku dengan shaum sunnah itu, kalian menyentilku dengan rutinitas shubuh berjamaah itu lalu kalian menyentilku dengan sangat akan proses "perkenalan" yang sesuai tuk menjemput nama yang sudah tertera di arasy, sebagai pendamping hidup dalam dunia fana. Rasa rinduku mungkin tak terganti ketika aku harus pergi, ketika 7 tahun mengisyaratkan sebuah kepergian yang niscaya. Aku harus pergi sejenak tuk sekedar berkeliling dan hijrah, tidak sehebat Ibnu batutah yang menggoreskan pena ketika berpetualang, tidak seheroik para gelombang I dan II menuju habasyah di awal dakwah islam pun tak semulia Rasul dan sahabat hijrah menuju madinah al munawwarah. Ini hanya sekadar hijrah menuntut ilmu, lalu aku ingat ketika DR.Yusuf Qardhawi Allah yarham mengingat lagi pernyataan Syaikh Hasan al banna, "Kita ini seperti orang-orang arab nomaden yang kerap berpindah-pindah tenda", menggambarkan kesibukannya dalam menyebarkan syiar islam. Aku, tak setangguh mereka, namun 5 tahun sudah aku berada dalam lingkup keshalihan sahabat, sahabat yang benar-benar nyata ketika kerja berjamaah kian terasa di malam harus mengadakan pembahasan masalah lalu menyelesaikannya, esok pagi semua berpencar lagi, ada yang kuliah pun ada yang memulai bermaisyah (bekerja/berusaha) lagi.
Begitu kenangan-kenangan indah bersama mereka, ar-rafiq ash shalih, tak kan kulupa lalu kucurahkan kesenangan tiada tara kepada 2 orang dari mereka yang tak lama lagi InsyaALLAH disandingkan dalam ikatan kuat tuk terus bersama hingga akhir hayah, pernikahan namun rasa sedihku tak bisa melihat sunggingan senyum mereka di pelaminan, karena beberapa saat lagi ketika Rabb menyetujui dan memanjangkan umurku, aku akan pergi…tak lama tuk mengejar prinsip dan hakikat kehidupanku di fase selanjutnya.
Wallahua’lam
K
Sore ini tak ada yang spesial semua masih berjalan sesuai perputarannya. Mungkin ada yang terjatuh hari ini pun ada yang bangkit mulai hari ini, ada yang sedih hari ini pun ada yang riang gembira hari ini. Siang yang panas lagi-lagi berubah menjadi sore yang agak redup diselingi awan hitam, lampu otomat luar rumahku sudah menyala menandakan ia mulai kehilangan cahaya sebagai parameternya.
Masa itu berubah, masa itu berganti pun masa itu memainkan peran dalam benak-benak para manusia, ada yang ingin melupakan masa lalunya yang terlanjur kelam pun ada yang berusaha terus menjaganya untuk sekadar bernostalgia secara virtual/maya dan tertawa sendirian karena nostalgia bersifat fisik tak mungkin lagi terulang. Terkadang ketika ia sudah mulai larut dalam masa-masa indah ketika SMA dulu ada yang terdiam sejenak, senyumnya memudar entah kenapa, mungkin saja ada masa-masa kelam ketika itu yang tak ingin diingatnya lagi. Gubahan senandung rafly dan lagu-lagu aceh hari ini lagi-lagi membuat aku tersedak,termenung penuh keinginan, tak ada keinginan untuk hal yang menggebrak hanya keinginan untuk pulang. Pulang menikmati aneka buah di bilangan jalan muhammad jam itu, pulang menikmati mi kocok ala pasar aceh dengan diselingi es cendolnya yang masyhur. Menikmati masa-masa otak tak berpikir keras menghirup udara siang yang menyengat namun tak apa karena kami bersama-sama menuju terminal labi-labi itu, sebuah kebersamaan yang kucari lagi. Tak ada yang spesial di masa-masa SMA itu, sore pasti dilanjutkan dengan les privat matematika, malam ngaji terkadang singgah ke rumah nenek tuk sekadar numpang makan dan bercerita serta menemui makna jaulah (bertemu), itu saja.Masa-masa itu belum lagi akan kunikmati dalam beberapa tahun kedepan, karena akan ada cerita baru, cerita tentang makna hijrah walaupun tak sehebat makna hijrah para salaf dan RasulNya menuju yatsrib dan merubah peradaban, namun hijrah ini paling tidak menambah khazanah ilmu yang semoga bisa berdampak pada aspek ruhiyah dan keimanan, itu saja.
Masa-masa santai dan bermain PS2 dengan kaset winning eleven itu pun belum lagi akan kurasakan. Masih banyak tugas dalam kehidupan yang sekali ini, masih banyak jenak2 dan ledakan-ledakan dalam benak yang menuntut tak boleh beristirahat lama, layaknya setiap hari sabtu, berdekatan dengan bantal ada sebuah keharusan, ngantuk teman… Masa akan terus menuntut, masa akan terus bergulat dengan sang objek bernama makhluk. Tak ada kata santai yang berkepanjangan kecuali untuk menyegarkan, ya hanya untuk menyegarkan. Merenung dan memutar masa-masa ketika dekat dengan ayah bunda, makan enak dan semua akan availability itu tidak bolehlah menjadi dambaan yang berkepanjangan, kecuali untuk satu masa, masa untuk menyegarkan. Lalu aku ingin kembali lagi dengan kepenatan dan mem-pressure otak sejauh mana ia sanggup, memainkan ritme lelah sejauh mana ia sanggup bertahan lalu memainkan ritme sabar sejauh mana ia sabar tanpa sang penyempurna tulang rusuk…hahaha kalau yang satu ini tunggulah barang setahun lagi, jikalau IA ridha toh sang bidadari takkan lari ke pelukan orang…hehehe.
Semua memainkan perannya, dari ritme otak, hippo campus, limbic atau apapun namanya, semuanya memainkan ritme dalam otak, kutersedak akan ilmu yang terus berkembang dan satu hal teman jangan terus menjadi manusia konsumtif akan sebuah hasil dari ilmu, sesekali ketika tiba masanya bermimpilah menguasai satu ilmu itu dan membuat hasilnya yang bisa dirasakan orang banyak.. Surat dari Taichung belum jua datang, tapi tak apa language course harus kujalani mulai pekan depan, paling tidak ini sebagai wujud persiapan, semoga saja acceptance letter itu datang pada saat yang tepat. Detailnya???, nanti saja kuceritakan kalau sudah pasti adanya, ku tak ingin melompati sebuah "destiny" darinya, lalu kuingat satu ucapan Ali Ra, "Menerima(rela) satu ketetapan yang tidak menyenangkan itulah keyakinan yang terbaik".
Sudah saatnya para umat belajar rela akan setiap apa yang Rabb berikan padanya, menyenangkan ataupun tidak sesuai anggapan insan.
Wallahua’lam
K
Padahal baru kemarin aku merasakan satu syukur, padahal baru kemarin jalan-jalan itu dipermudah lalu dipermudah dengan sangat. Hari ini berubah menjadi kegalauan, sebuah ketidakpantasan rasanya seorang hamba yang kemarin masih memelas dan menunduk takzim di depan Rabb-Nya, namun hari ini ketika jalan-jalan itu semakin jelas adanya, ia kembali lupa sedikit demi sedikit bergeser dalam kegalauan dan kelabilan seorang hamba. Isya menjadi penutup, ketika sujud di raka’at ketiga diliputi rasa galau setelah beberapa hari yang lalu meminta lebih. Ketika si hamba meminta sebuah kepantasan untuk memimpin ummat, bukan sembarang umat namun ia meminta menjadi pemimpin orang yang bertakwa. Hari kemarin ia meminta kepantasan untuk meningkatkan taraf akademis dan bertahap-tahap kepantasan lainnya dalam meraup "khairunnaf ‘anfauhum linnas", namun hari ini ia abaikan suara azan yang dituntut untuk disegerakan.
Ooooh hamba yang galau lagi labil, tak ada sebuah kepantasan dalam dunia yang sedap kalaulah kita tak meminta keberpihakan dan penjagaan yang intens dari Rabb terhadap jiwa yang lalai ini. Apalah artinya menjadi pemimpin kalaulah tidak meminta untuk dijaga oleh sang maha pengasih, apalah artinya menjadi kepala keluarga kalaulah tidak pernah meminta pada al-aziz sebuah penjagaan yang intens terhadap akhlak, apalah artinya menjadi "decision maker" kalau tak pernah meminta penjagaan yang terus menerus pada Rabb semesta alam. Malu rasanya diri ini ketika syukur seolah-olah lenyap dalam lamunan dan buaian sesuatu yang hampir pasti di depan sana. Malu rasanya ketika kegembiraan menutup lubang syukur hingga ia tertutup dengan terbuka lubang riya yang semakin akut, lalu malaikat perlahan mundur dan digantikan sang musuh abadi, syetan di setiap gerak gerikku sebagai Nass, manusia. Malu rasanya hari ini meminta lagi, walaupun Rabb-ku tak pernah bosan dengan do’a hambanya, namun maluku sejadi-jadinya ketika ubudiyah tak diseimbangkan dengan permintaan, seolah-olah aku merusak ritme hati yang meminta lebih, yang meminta lagi shaum sunnah, yang meminta lagi hafalan, yang meminta lagi halaqoh, lalu yang meminta lagi al-mulk di penutup malam. Ohhh jiwa, maafkan aku jikalau aku terombang-ambing selama ini, oohh jiwa bantu aku untuk dekat lagi bersamaNya, karena apalah arti hidup dengan orientasi harta tanpa kritis sosial, apalah artinya prosperity tanpa peka dengan kemiskinan apalah artinya kekuasaan kalau kekuasaan digunakan untuk menjahilkan ummat kembali ke masa pra-islam.
Lagi-lagi terhenyak sejenak di dalam raka’at ketiga, kuurungkan do’a karena maluku yang sangat hari ini, tidak memperdulikan panggilannya di 3 waktu awal shalat wajib, aku mundur sejenak memikirkan lagi tentang perbaikan diri….
Wallahua’lam
K
For twenty minutes, I’m back to my hometown. It spent 1,4 million rupiahs.
Let’s see what happen on this second step of selection. How about the detail???, Hopefully I will tell to you later after everything works fine.
K
What a great month, May is the initial month I wrote this blog 3 years ago. Many post from personal to few knowledge, in addition my mind explosion for criticized this regime, as reformation era. Fortunately, I still could survive in this 3 years experience.
I still waiting for the scholars announcement, if it succeeded everything about this experience will be more powerful and passionate, hopefully.
Happy 3rd anniversary my blog.
K
Anak kecil itu sibuk mencari secarik kertas, sambil berulang kali melihat jam dinding..
Maa….pulpen mana???, teriaknya dari lantai 2 rumah itu, ia panik sampai-sampai si ibu bingung..
Lagi-lagi sambil menulis di kertas itu, terus saja kepalanya mendongak keatas melihat jam, …
Waduh tinggal 5 menit lagi, begitu ujarnya sambil melipat kertas itu dan berwudhu..
Sore yang cerah itu, si anak menyambut ashar dengan rapih dan bersegera menyambut azan..
Tangan kanannya menggenggam janji, karena ia tau Malaikat kan berganti shift tiap harinya selepas wustha..
Selepas qabliyah ia linglung bukan kepalang, karena iqamah sudah digumamkan,..
Kemana malaikat???, begitu bisiknya dalam hati dan para malaikat hanya bisa tersenyum..
Surat itu hanya bertuliskan satu kata, Alhamdulillah..
Para malaikat sore itu membawa nama para perindu wustha plus surat implisit si anak pada Tuhannya..
Tak banyak pintanya, karena si anak hanya ingin Tuhannya terus berada di sisinya, adakah yang lebih nikmat dari itu???
Wallahua’lam
K
Aku mulai mencoba merasa tidak nyaman tuk tak hadir dalam undangan, apalagi sang pengundang hanya melaksanakannya sekali seumur hidup. Lalu kugubah satu slogan "You invite, We come wherever you are" tuk mendatangi para pengundang dimanapun mereka, kali ini walimahan (kawinan) di Desa Kadungora hingga Desa Sanakuray kami sambangi dengan memori, ya memori sebuah ukhuwah bukan amplop berisikan selamat yang dititipkan.
Kemarin siang perjalanan di mulai, menunggu beberapa rekan di pool primajasa UKI plus melewati jalan yang baru saja menjadi berita heboh karena disitu para teroris ditembak mati beberapa hari lalu (Cawang). Dari 6 kandidat travellers seperti biasa akan terjadi proses seleksi alam dengan berbagai tingkah polah halangan, dari ujian sakit dan konsiderasi jangka panjang..haha, terkesan elegan walaupun sebenarnya sederhana kan?, itulah gaya pembesar di senayan sana, serius namun beberapa oknum senang menjilat uang haram.
Ups ngelantur sedikit, setelah seleksi alam muncullah 3 travellers yang tersisa, Garut tujuan kami menyambangi kang dadan yang akan mengadakan resepsi keesokan harinya (ahad ini). Perjalanan terkesan santai dan dikejutkan dengan calon "manten" berikutnya yang baru saja melewati satu proses taaruf, hehe jadi teringat artikel "Menikahi Wanita Langit" di edisi eramuslim beberapa hari lalu. Aih..aih kapan diriku yang sudah disindir dari berbagai sisi dunia, kapan..kapan dan kapan, begitu tanya mereka, aku hanya berdiplomasi tuk meredam keingintahuan mereka. Perjalanan dimulai dari 13.30an dan tepat sampai pukul 18.00, di garut dingin atuh..suasana yang cukup sejuk dan diiringi hujan merupakan ciri khas kaki gunung, walaupun tak segarang puncak namun cukup segar. Kami dijamu di desa kadungora, dengan beberapa sajian khas, dari dodol hingga comro, ups hawa dingin menstimulus perut dengan segala tingkah polahnya, cuci tanganpun tak kesampaian, satu demi satu kami icip-icip (mengganti kata rakus :d). Malam itu kami disambut keluarga besar kang dadan, dengan berbagai obrolan ringan kami tutup malam kala itu, dari negara jajahan kaledonia hingga Final piala FA.
Pagi di kala azan bergema, kami bergegas ke musholla dan yang uniknya para anak kecil sudah sibuk nongkrong di masjid dan anak dengan usia lebih kecil sudah bermain-main di depan rumah, padahal matahari masih enggan menghangatkan apalagi bersinar, di Jakarta???, boro-boro maen, kala ada mah juga udah mandi dan bersiap sekolah. Perjalanan dilanjutkan ke ziarah kubur dan menikmati suasana kaki gunung, jepret sini jepret sana menjadi sebuah keniscayaan. Membuat para fotografer amatir memainkan camdig-nya.
Sudah pukul 7.30an, para tim mempelai pria bersiap menuju desa sanakuray. Sekitar 40 menit dengan melewati pusat kota Garut kami hadir tuk icip-icip lagi, namun sikon berbeda ini makan besar teman, kondangan jangan abaikan kuantitas di piring anda, santap saja semua!. Dari pidato pembuka hingga tausyiah nikah yang roaming membuat aku mengangguk2 saja, alih-alih mengerti tapi kalau saketek-saketek sih paham aja atuh neng…Resepsi berjalan lancar hingga dikagetkan dengan lempar permen dan koin, eh ternyata lagi pada nyawer. Selepas itu tak berlama-lama lagi siap-siap pulang ke kota metropolitan dengan tingkat pembangunan yang terlalu masif, fiuhh…kemana para pejabat negara ini?, emang mereka nyaman dengan kondisi pembangunan masif yang mungkin bukan sebuah sustainability development?, dari properti yang memakan sudut kota alih-alih miniatur keajaiban dunia, mual aku mendengarnya di tiap hari Sabtu dan Minggu.
Ups..balik ke berita utama, pasca resepsi berteduh sebentar di rumah dan menunggu reda hujan. Sepanjang perjalanan ke kadungora dan menunggu bis menuju Jakarta, ke terhenyak sejenak.
Ketika persaudaraan tidak mungkin dipisahkan oleh jarak, ketika sang pengundang berharap kita bisa hadir dan ketika keramahan para keluarga membuat nyaman para tetamu, oh inilah suasana yang harus senantiasa terjaga oleh ummat, sebuah ukhuwah tidak boleh padam dengan konsiderasi singkat, sebuah ukhuwah harus terus terjalin dalam jarak yang tak dekat, sebuah ukhuwah baru bisa terlihat ketika para generasi sahabat melakukan hijrah ke habasyah dengan suasana yang kental dan saling melengkapi…
Wallahua’lam
K
Dalam satu kesempatan, Ali RA berwasiat tentang kematian ; Setiap Zaman memiliki makanan pokok, kita/manusia adalah makanan pokok kematian, Aku heran kenapa manusia lupa akan kematian padahal ia selalu melihat orang yang mati, anggaplah kematian itu ringan karena letak kesakitannya adalah ketika kita takut. Begitu kira-kira 3 wasiat pemuda assabiqunal awwalun(yang masuk islam di masa2 awal) ini. Sebuah peringatan kepada umat, umat yang lupa terkadang bosan pun terkadang jengah. Semakin heran saja diriku, kenapa para salaf tak pernah bosan akan aktivitas dunianya, mungkin karena hakikat kehidupan itu telah menempel di mimpi panjangnya.
Selasa hingga Jum’at yang lalu, ku pulang sejenak untuk beberapa keperluan di tanah kelahiran, Nanggroe Aceh. Setelah sehari yang sedikit membosankan karena menunggu antrian yang panjaaangggg, berbuah manis dengan stabilitas argumentasiku yang apik bersama 2 interviewer itu, nanti sajalah kuceritakan kalau berbuah manis adanya..hehe. Di sore hari itu, dengan membeli beberapa buah tangan tuk diberikan ke beberapa orang sekembalinya dari nanggroe, nenek meminta tuk bersilaturahim sejenak ke rumah saudara di kampung. Selepas menjenguk saudara yang masih terbaring lesu setelah kecelakaan kendaraan bermotor, kami bergegas ke rumah yang dimaksud. Ini bukan silaturahim biasa, ini adalah masa-masa pelepasan rindu yang terlalu lama dan sulit tuk diceritakan, karena ini adalah silaturahim ketangguhan. Nenekku bersilaturahim ke 2 saudara yang juga sudah pantas dipanggil nenek. Yang satu telah akrab dengan kursi roda dan satunya terlihat renta namun masih tangguh. Pembicaraan antara mereka tidak sulit ditebak, dari cerita tentang perkawinan saudara, masa-masa dulu dan perihal kondisi kesehatan. Semua berjalan dengan indah, walaupun kesemuanya telah terlihat uzur, namun semangat menyambung silaturahim ini yang mempertemukan senyum-senyum mereka. Ketika keluhan-keluhan sakit keuzuran tak menghambat satu anjuran agama dan semuanya berjalan manis, karena ini berawal dari rindu, rindu sebuah ikatan persaudaraan yang hakiki.
Di akhir silaturahim ini, ku terkejut akan "closing statement" dari nenekku. Sebuah statement salam bahagia, sebuah statement yang menunjukkan akhir pasti akan tiba. Sambil memeluk dan saling mencium pipi ke nenek-nenek lainnya, terdengar ucapan sayup-sayup namun tegar, "lakee meu’ah beh, nyoe ka hana teupeu so yang awai (minta maaf ya, kita gak tau siapa yang dipanggil duluan (oleh ALLAH))".
Tak ada tangis namun ini sebuah pengguguran dosa dan di bis menuju jalan alternatif malam ini ke merenung, jangan-jangan inilah satu alasan ALLAH memanjangkan umur para orang tua kita, karena mereka senantiasa menjalin tali silaturahim yang tak pernah putus hingga Izrail menyapa bersama SK dari al-aziz, ALLAH SWT.
Wallahua’lam
K
Dalam perhelatan yang semakin mengacaukan isi hati, ketika para negara adidaya mulai menunjukkan keuzurannya. Kita dilingkupi berbagai masalah yang tidak pernah ada ujungnya. Ketika media lebih mengutamakan issue dan senantiasa tak pasti, ketika media senang mengulang-ulang informasi untuk senantiasa menghangatkan ingatan terhadap issue yang usang. Dalam proses pergolakan ini para manusia senantiasa dibuai, mereka dituntut untuk mengetahui issue, bahkan agar mampu membicarakannya lagi, seperti juru dakwah saja mereka itu.
Ketika para kaum muda masih senantiasa bergolak tuk mencari jati diri, ketika para pejabat kelas kakap mulai terlihat hidung belangnya, bahkan lebih kotor dari tikus got, aihhh mereka mulai menampakkan wajah jin-nya, mengerikan memang. Mata masih bisa terbuka di pagi hari, ketika manusia yang malam harinya kelelahan bukan karena munajat bukan karena sembam mengingat dosa-dosa yang baru saja terukir, namun berjoget seperti ikan kehilangan air dan kerja tuk loyalitas tanpa arah dan semu. Semua bergolak, manusia yang baik bervariasi pun manusia yang buruk lebih bervariasi. Pantas saja kalau kita harus berhati-hati dengan paras menawan lagi anggun, namun hatinya bernoda serta berbau tidak sedap. Pantas kalau kita harus senantiasa waspada dalam keanehan dunia kontemporer ketika kecantikan menjadi modal utama menuju kemakmuran dan lagi-lagi semu.
Padahal ada kecantikan yang harum nya semerbak dan sedap dipandang, ketika para ulama dan para salafussalih memahami itu dengan sangat ketika para da’i-da’i muda menyerahkan opsi calonnya dari sang murabbi-nya, mereka yang meminta lalu memilih, yang pasti ada satu kepastian, keimanan para calon sudah bisa dibilang stabil tidak meledak-ledak layaknya petasan yang tersundut api. Pandangannya terjaga, izzahnya terpantau baik, terkadang memang centil sedikit tapi tak apa karena keimanan mereka lebih dominan dibanding stereotype wanita modern. Para manusia yang kering kerontang imannya mungkin sedang mencari pembenaran, berbeda dengan orientalis yang cenderung sibuk memainkan fakta sejarah dan merubah alur otentiknya. Manusia yang sudah cenderung beragam cara pandangnya,manusia yang sudah cenderung memainkan materi dalam tujuan akhirnya ketika manusia tak ingat lagi akan leburan materi dan iman telah membentuk seorang nabi ALLAH, Sulaiman A.S memiliki derajat yang disegani arasy.
Kita yang kering iman membutuhkan tarikh, tarikh yang bukan terlalu kontemporer namun tarikh yang menonjolkan kebaikan dalam setiap geraknya. Tarikh (sejarah) yang membuat Khalid sedih karena tidak syahid dan wafat di tempat tidur, tarikh yang mengajarkan sensitif hati akan kalamullah ala Khalifah masyhur sekaliber Abu bakar ash shiddiq, tarikh yang membuat gentar pasukan romawi akan kegigihan 3 panglima perang mu’tah, pun tarikh pemberani sang pedang ALLAH yang senantiasa terhunus ala Khalid bin Walid ketika meladeni gertakan panglima romawi ketika perang Yarmuk sebelum berkecamuk di Syam. Lalu maju sedikit akan tarikh elegan ala kerajaan abad pertengahan yang melahirkan Muhammad Fathi dan syahid/syahidah setelahnya. Matahari masih terus bersinar dan terbenam di akhir sebuah hari, bulan pun masih digdaya sebagai lampion bumi tuk mengambil alih sejenak akan superioritas matahari, bintang pun masih senantiasa menggoda astronom dengan sinar dan hasutan "research" yang tak pernah habis. Lalu Arays pun belum memberikan instruksi khusus meleburkan bumi. Sehingga rasa pesimis bukan solusi akan keragaman akhlak, karena Rasulullah pernah menyatukan para kabilah jazirah Arab dan dunia dengan mengutamakan agama daripada kultur klasik bernama adat/budaya yang kadang melenceng. Sudah sepantasnya kita agar menarik napas dalam lalu melepaskannya beriring sebuah dzikir dan harapan kepada Sang Al-Aziz agar membersihkan lagi dunia lalu islam tangguh lagi sebagai pilar keindahan bumi pertiwi.
Wallahua’lam
K