Qolbu ExplosionFebruary 5, 2010 3:11 pm

Laptop ini baru saja ku hibernate namun tak sampai semenit aku hidupkan lagi ia.Pemikiranku semrawut, lelah bercampur bak susu hangat dicampur gula, ia pasti sangat nikmat jika kuakhiri lelah ini dengan tidur, ya tidur…Namun ku tak bisa aku tak sanggup, aku ingin hidup hari ini menyongsong ide-ide yang menyeruak namun ia gagal dalam penyesuaian medium, fisikku lelah.

Aku butuh gebrakan lagi, namun aku belum sanggup karena idealnya ia masih butuh 6-7 jam tuk tidur, kalaupun aku paksakan sejadi-jadinya seperti dulu, aku kehilangan kendali di pagi hari, kekacauan manajemen yang akut, akhirnya aku bosan dan migrasi.

Setelah 3 pekan membaca "8 mata air kecemerlangan" dari Anis Mata, kini berlanjut ke 100 Tahun M.Natsir, ku terhenyak menguak sejarah akan indahnya menjadi seorang tokoh yang bersih, tak ada noda. Kau bisa bayangkan tokoh-tokoh parsial diluar sana, sebagian orang menyanjung namun ada saja sebagian orang yang mencela, tak bersih, bernoda dan tak sedap diingat secara integral sebagai seorang tokoh, namun beberapa bab pengantar buku Natsir ini tak ada celaan, yang ada pujian akhlak, akhlak yang dilebur dalam Agama, bagaimana mungkin dikenang kalau ia jauh dari pedoman absolut dunia, bagaimana mungkin ia menjadi tokoh kalau ia tak dekat dengan problematika masyarakat terbawah dan bagaimana mungkin ia menjadi tokoh kalau ia tak memiliki pegangan dalam debat ideologi negara dalam rapat dewan konstituante, disitulah uniknya tokoh, mereka berbeda satu sama lain namun mampu memposisikan akhlak diluar arena debat (karena DN.Aidit dan  M.Natsir di rehat rapat asyik minum kopi dan makan siang bersama). Dari buku inspiratif dan sangat komprehensif yang disusun Anis mata disambut dengan buku 100 tahun M.Natsir kuharap momen-momen waktu luang dalam bus yang sekarang menjadi langgananku, tak kuhabiskan tuk mendongakkan kepala, mata tertutup lalu kalau sudah lelap mulut terbuka seperempat, baru tersadar ketika angin AC bus mayasari menyeruak ke rongga dinginnnn, keringgg tidak enak teman.

 

Aku sedang mengatur pola lagi, aku sedang mengatur pola yang tak biasa, setelah 6 tahun mendekam di tempat yang penuh kenangan, namun lagi-lagi aku butuh waktu tuk beradaptasi, ada yang kususun dan unggul namun ada aspek yang masih menjadi masalah. Lalu pada remang-remang suasana pemikiran yang lelah ini, lagi-lagi bergelayut akan bulan demi bulan yang seakan cepat dan kalendar di dinding itu seolah mensitirku tuk menyelesaikan kisah tunggal, karena kisah kolaborasi pastilah lebih dinamis, dan teman pastinya juga fluktuatif…hahaahaha, sudahlah pikiranku semakin berat saja, daripada kukeluarkan lagi unek-unek yang nantinya malah berdampak sistemik, kuusaikan dulu tulisan ini, lalu simak kick andy bersama bang Iwan, tokoh lain yang sepertinya kan melegenda layaknya Natsir, walau ranah berbeda, mereka merubah tatanan dengan berani tak menyelam di lubang kusam berlumur noda yang nantinya dihisab, aku terhenyak, bermimpi dan menunduk takzim lagi (tuk kesekian kalinya).

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionFebruary 2, 2010 10:56 pm

Teman tetaplah dalam barisan yang kokoh, dalam lini yang tak mungkin disusupi dan himpunan yang ketika diterpa badai tetap melaju tak ragu, karena perang badr menceritakan kisah patriotik era terbaik. Kuteringat akan pesan ketika kita kocar kacir dalam barisan yang tak tentu arah, mungkin kita kan mudah dikalahkan oleh kuffar yang terorganisir, karena itu wahai sahabat janganlah kita seperti monyet-monyet yang diterpa angin kencang ia senantiasa tangguh di atas pohon kelapa, namun ketika angin sepoi nan dingin yang melenakan pemikiran, mereka jatuh sejadi-jadinya, mereka lalai.

Ku merindukan akan sosok umar bin abdul aziz sang khalifah yang mengibaskan jubahnya ke kanan dan kekiri ketika pidato kenegaraan, yang ternyata jubah satu2nya itu belumlah kering, hingga ia tak nyaman memakainya, ku merindukan buyut seorang umar bin abdul aziz, siapa lagi kalau bukan sang khalifah masyhur Umar bin Khattab Ra yang di tengah malam gulita tak nyaman hanya berada di rumah, lalu keluar di hawa dingin yang menusuk melihat ke rumah-rumah rakyatnya, adakah yang kelaparan ataukah sengsara. Teman kapankah izzah kembali merona di kolong langit dunia, ketika dinul islam menjadi peraturan absah akan determinasi akhlak, ketika manusia diukur dengan akhlaknya, bukan hartanya, karena harta adalah 1 dari 3 komponen yang melenakan setiap insan di muka bumi.

Teman apakah kau ingin izzah kita diinjak lagi, ketika satu pasukan tar-tar mampu memenggal 10 pasukan muslimin ketika penaklukkan baghdad??, apakah kita hanya harus duduk diam saja, padahal Rasulullah berdakwah hingga tak sempat kenyang dan senantiasa menjauhkan lambungnya dari tempat tidur, haruskah kita duduk seperti seonggok batu, yang diam tak berkutik, padahal Imam As-Syafi’i mengelilingi dunia tuk membuat karya melegenda, kumpulan hadits2 shahihnya, apakah kau dilenakan sejadi-jadinya oleh dunia ketika lukman al hakim memberikan hikmah kepada anaknya serta apa kau hanya tergolek lemah ketika akhlak para generasi muda bisa diukur dari intensitas kehadirannya di masjid, tuk shalat berjamaah???

kemana kita?, dimana kita?, apakah kau masih didunia?, padahal di surah ali-imran ALLAH men-state beberapa kali, "wallahu yuhibbul muhsinin", karena ALLAH mencintai orang-orang yang berbuat kebaikan.

Jangan bilang kau tak suka kebaikan teman?

Wallahua’lam

K

Religi, Qolbu ExplosionJanuary 23, 2010 2:55 pm

Ketika hentakan embargo tak kunjung reda mereka sabar

Kalaupun sedih, cucuran air mata dan jeritannya ditujukan pada Dia, sang pemiliki arasy

Aku malu…

Ketika Mesir mengalihkan isu kemanusiaan menjadi reduksi keamanan berujung tembok pembatas, mereka tegar dan tajam

Kalaupun marah, tak pernah mereka haturkan kemarahan kepada saudara seiman

Aku malu…

Ketika Haiti yang mungkin mereka tak tau dimana letak negara itu, mereka menggalang dana solidaritas..

Kalaupun kurang dana itu, pastilah dicukupkan di akhirat dan pastinya lebih banyak dari sumbangan george clooney..

Aku malu…

Ketika suasana mencekam dan mencekik, mereka adalah hafidz dan hafidzah

sedang aku dan para ummat yang dalam kedamaian, apa???

Aku malu…

Ketika para yahudi membuka dialog, mereka tolak karena itu hanya berujung konspirasi

Pertukaran tawanan, cukuplah itu..

Aku malu…

Ketika parameter kepercayaan atau tidaknya pada para sukarelawan, mudah saja…

Jika mereka shalat berjamaah di kala subuh, mereka dapat dipercaya..

Aku malu…

Tak heran Umar dan tak heran salahuddin membebaskan tanah para anbiya

karena merekalah yang paling pantas menjadi penerusnya…

Aku malu…

IT Geek :::January 20, 2010 6:10 pm

Sedikit janggal memang saya akan sedikit overview tools di blog ini, secara kadang klo berbicara tentang IT agak malas nulisnya, namun tak apa…

TestDisk Data Recovery cukup membantu dalam proses recovery data saya malam-dinihari ini, case-nya bermula upgrade versi ke SP3, lalu notebook tidak menunjukkan indikasi kehidupan, alias pingsan kalau sedang startup, diperparah tidak bisa masuk ke fitur safe mode dan kawan-kawannya. Alhasil menggunakan CD booting XP tuk repair, tapi ketika masuk command prompt repair, dari fixmbr, dll ternyata malah membuat logical partition hilangggggggggggggg, dan muncul kode aneh dalam satu drive saja. Nah setelah nanya sama abang-abangnya (ahlinya) di kantor dan master of hardware kenamaan STT (Ahmad Yani,ST (http://ayesttpln.blogspot.com)), muncullah nama tools diatas yang sudah masuk versi 6.11.3. Lalu dengan itu saya menggunakan Live CD ubuntu 9.10 (Karmic Koala) untuk me-recover (secara Windows udah pingsan). Lalu dengan complete step by step tutorial di http://www.cgsecurity.org/wiki/TestDisk_Step_By_Step, selesailah proses recovery…

Sekian

Jika diperlukan sambangi saja link-link berikut :

http://www.pendriveapps.com/testdisk-free-portable-data-recovery/

http://www.cgsecurity.org/wiki/TestDisk_Step_By_Step

K

Religi, Qolbu Explosion, Brain Stretching 3:54 pm

Gegap gempita dunia terus saja merajalela; wanita, harta dan anak-anak sudah di-state dalam kalamullah sebagai hal-hal yang akan melenakan kita di dunia. Mungkin mereka menjadi media terkuat dalam melancarkan distorsi-distorsi dan menciptakan peluang merusak hati hingga terjadi kerusakan yang berdampak sistemik terhadap akal…ups, maaf sedikit terbawa kasus bank "Kentury" di negara antah-barantah. Namun begitulah syetan dan nafsu berkolaborasi, hingga wanita jika tidak "dikondisikan" sedemikian rupa akan menjadi "lawan" utama dalam stabilitas iman, ikhtilat terselubung ataupun tidak, ya itu sama-sama ikhtilat toh lalu godaan-godaan centil yang dikemas sedemikian rupa, dari intonasi yang didengungkan, sedikit berbisik dan tenggorokan seperti dicekak agar muncul suara yang imut, begitulah kira-kira ekstrimnya. Lalu para pria-pria yang bergelayut di ruang pesona semu itu goyah sejadi-jadinya, interaksi intens berlabel "Belum Menikah" di KTP, dilanjutkan dengan hubungan-hubungan jangka panjang tanpa ikatan pernikahan, jika kau tanya kenapa tidak buru-buru nikah??, simple saja jawabannya, ah belum siap…maksiat kok siap, ibadah kok gak siap, ayak-ayak wae…begitulah fenomena yang menarik yang mungkin telah terjadi puluhan tahun lamanya, hingga penulis dibelakang tulisan ini pun bukanlah orang yang sempurna dibalik suatu kelalaian, namun hanya ini yang bisa menyentilku di kala fluktuasi iman cenderung menurun ke arah yang sangat tajam.

Dari wanita turun ke harta, harta bisa memainkan peran ‘reservasi’ prodeo bintang 5 ala ayin, lalu konspirasi pembuatan surat-surat identitas bertabur "urus-mengurus ++, duit pastinya", lalu siapa yang lupa akan kekacauan tata kota serta sampai-sampai masjid harus berusaha digusur untuk lahan parkir. Harta sekarang menjadi parameter kemuliaan, padahal kata "Kyai Ahmad Tohari" dalam Tarbawi edisi Januari, bahwa terjadi pergeseran parameter kemuliaan, dari yang dulunya "kejujuran" menjadi kemuliaan hingga sekarang siapa yang paliiinggg banyak tanah, mobil dan rumahnya itulah yang mulia, maka tak heran budaya konsumtif merajalela bak kacang rebus berhambur di gerobak abang-abang bajigur…oh..oh…Padahal Umar sang khalifah kedua telah mengajarkan kezuhudan, padahal Suri tauladan sepanjang masa Rasulillah bahkan jikalau tak ada lauk pauk, kurma pun jadi untuk makanan utama, ini bukan masalah kemiskinan anak muda, ini masalah porsi karena Rasul, karena usman, karena abu bakar bukanlah orang miskin, namun mereka menjaga porsi konsumsi.

Lalu dari harta turun ke anak, anak-anak zaman sekarang bak kambing yang lepas dari ikatan dan berkeliaran makan rumput di kebun orang, pagi mereka tak bertemu ayah-bundanya alih-alih karir lalu malam ketika mereka sudah kantuk, sang orang tua baru sampai ke rumah, alih-alih mencari rezeki, rezeki, porsi pendidikan anak dan lainnya sudah sepantasnya diimbangkan, maka tak heran ketika anak-anak kehilangan contoh, lalu facebook, BB Bold, televisi dan pergaulan non-etika bermain di "layer" terdalam dalam jiwa setiap anak, lalu ketika ada ujian yang menerpa, hati tak sanggup bertahan dengan kesabaran, karena asupan iman terlalu transparan bahkan kosong…oh..oh..oh…

Teman, lagi-lagi aku bukanlah sang penyempurna, lagi-lagi aku bukanlah komentator yang bermain di ranah argumentatif tanpa aksi, teman aku hanya ingin menghamburkan lagi pemikiran yang terkubur, agar bisa kutulis dan menjadi bahan instrospeksi ku ketika fluktuasi imanku berada di titik nadir. Karena kita bukan malaikat karena kita bukan seorang nabi, namun Imam syafi’i menemukan "pattern" yang fenomenal tuk menjaga kadar fluktuasi, "biasakan dirimu dengan kebaikan, karena kalau tidak ia akan membawamu kepada kebatilan", begitulah kira-kira, lalu pesan sang teladan ummat tak kalah "touchy", "Jikalau iman sedang jatuh(futur), paling tidak kita tetap melaksanakan amalan-amalan yang mampu kita lakukan", intinya basahi dengan iman, bagaimanapun posisi imanmu di dalam sana…

Wallahua’alam

Tulisan penunggu "Recovery data" pada notebook "primary" ku yang dilanda kekacauan partisi pasca upgrade Windows XP SP3, sekarang dalam tahap menggunakan Tools TestDisk 6.11.3 melalui live CD ubuntu, semoga berhasil, doakan saja ya…

K

Classical Moment, Qolbu Explosion, Brain StretchingJanuary 16, 2010 12:22 pm

Pada malam harinya (15 Januari 2010) aku mengisi satu sesi dari yang katanya hingga 11 sesi di LKMM(Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa Tingkat Dasar) TD BEM STT-PLN berjudul "Tolak ukur keberhasilan dalam konteks organisasi mahasiswa" dan pada pagi harinya ku bergegas ke tujuan hijrahku, dan sebelum itu ada satu kado dari ibu kos, sebuah kain sarung, "untuk dipake shalat" katanya….terima kasih bu.

 

From LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) - January 15, 2010
From LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) - January 15, 2010
From LKMM (Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa) - January 15, 2010

Fiuh..bye..bye West Jakarta

K

Religi, Classical Moment, Qolbu ExplosionJanuary 14, 2010 2:21 pm

Mungkin ini postingan pembuka di tahun 2010, sedikit terlambat memang namun memang aku tidak membuat resolusi yang jelas secara gamblang di tahun ini, namun "continuous plan" masih bersemayam di otakku dan mereka menuntut aku tuk menyelesaikan mereka dulu..kalau bahasa Itachi uchiha kepada Sasuke dalam naruto shippuden, don’t be reckless. Tulisan kali ini tidaklah membicarakan tetek bengek sebuah cerita melankolis atau bisnis bicara yang tak kunjung padam di media televisi, seakan semua bisa bicara yang bukan pakar bisa nyerocos seolah pakar bergelar Doktor, luar biasa. Kali ini, tulisan bermakna sebuah "kenang-kenangan" sebelum suatu hijrah insyaALLAH harus terjadi, meskipun dekat saja.

6 tahun sekian bulan sudah barat Jakarta menjadi tempat istirahat, berpeluh, berlelah dan menuangkan seluruh rangkaian rencana. Di ruang sekian meter persegi ini kudaulatkan diriku menjadi perantau kelas teri yang mencoba belajar di Jakarta bermodal sedikit kecerdasan eksakta di bangku sekolah menengah atas, itu pun tak bisa dianggap "flying score" pada akhirnya. Bukanlah sebuah kisah jika tak ada ujungnya, hijrah yang kali ini kusebut hijrah lokal haruslah terjadi, meninggalkan environment yang menghidupi mindset sekian tahun menuju secercah harapan keinginan untuk berubah ke arah yang lebih bermanfaat. Hijrah tak hanya jasadiyah, ia memiliki jenis lainnya, hijrah qolbiyah serta hijrah aqliyah. Besar harapanku hijrah jasadiyah(fisik) kali ini berdampak pada hijrah aqliyah (pemikiran) pula. 

Pukul 7 malam tadi adalah hari terakhirku mendekam di antrian Harmoni Central Busway, didalamnya kucoba me-rerun lagi segala penat segala ujian kesabaran didalamnya, berkeringat lalu mengoceh akan sistem transportasi yang tak kunjung nyaman serta tak jarang aku mentertawai kondisi melihat para manusia berjejal dan ada pula yang membuncah egonya tak karuan, sebuah fenomena masyarakat yang sungguh fluktuatif. Dulu ketika masih melewati jalur Tomang, jangan harap 1 hingga 1 jam 45 menit bisa tiba di tujuan, 2 jam lebih anda akan ternganga melihat sederet mobil yang tak bergerak (matot kalau bahasa "pasrahnya", macet total ATAU bahasa halusnya layap (Lancar Merayap), tuk sekedar menghibur dalam duka kemacetan metropolitan. Itu sekitar 2 tahun yang lalu, perubahan demi perubahan terus terjadi, meskipun terkesan lambat, sampai-sampai aku bisa melihat trik dalam antrian, hingga aku pun bisa menerawang waktu-waktu "peak" yang harus dihindari jika ingin "waras" di halte sentral itu, jadilah aku "semi pakar Transjakarta", keren namun tanpa gelar…fiuhh…

Moda transportasi bukanlah kisah klimaks, 6 tahun yang dibungkus dengan banyak cerita tentang dunia kampus telah kuceritakan banyak di tulisan 2 tahun lalu , semuanya bermula dan berakhir disini kosan tercinta bergelar "cleansheet" seperti penjaga gawang yang tak pernah kebobolan satu gol pun, alias aku bukanlah mahasiswa nomaden yang sering berpindah-pindah tempat. Waktu terus berjalan dan aku mencoba menambah wawasan, fenomena masyarakat, kelimuwan, pengalaman hingga turunan-turunannya, tak jarang godaan terus membisik, menggetarkan nahkoda kapal masa depan dan tak jarang pula suara-suara godaan itu berevolusi dengan berbagai modelnya, bolehlah dikatakan 3 poin utamanya, harta, tahta lalu apalagi kalau bukan wanita. Lalu perjalanan yang menjadi keabsahan sebuah kehidupan ini harus berakhir, aku insyaALLAH akan bermukim di tempat baru, di ujung perbatasan bekasi dan jakarta, tuk mendesain bentuk baru sebuah kebiasaan yang harapannya beranak pinak menjadi efektifitas kegiatan tiap harinya. Suasana yang berubah kuharap menjadi tata letak versi hidupku yang ketiga (dari tanah aceh, merantau lalu merantau lokal ke daerah lainnya di pulau jawa), semoga itu bisa terwujud.

Beberapa hari yang lalu, sudah dua kali ia mengingatkan ku "alil jangan sampe lupa sama ibu ya…", aku coba tuk sunggingkan senyum harianku ketika pamit tuk bekerja di pagi hari, "iya bu, saya gak akan lupa bu".Ibu kosku 6 tahun lebih sudah, mungkin ada rasa bosa n juga melihatku, kadang pulang malam, pergi pagi, beberapa hari gak pulang, kadang udah keliatan lagi, timbul tenggelam layaknya buih di lautan….hehe agak melankolis miningitis kalimat terakhir ini ya???, namun memang tak dapat dielakkan, aku harus pergi dan janjiku pada keluarga disini, ku kan senantiasa ingat jasa mereka dan senantiasa kuingat kata-katanya yang terkadang berulang "alil jangan sampe lupa sama ibu ya…", "iya bu" , jawabku singkat…

Semoga ALLAH melancarkan kepindahan ini, esok aku sudah cuti bersiap packing dan bersiap "mendekam" di tempat dan suasana baru yang cukup asri walaupun jauuuhh dari tempat kerja. 2 hari lagi di suasana awal dimana kakiku berpijak dan menikmati aroma metropolitan di gang kecil ini, dan 2 hari lagi aku harus bersiap menasbihkan ruangan ini menjadi "kenangan" yang semoga bisa kunapaktilasi bersama sang bidadari yang masih tersimpan rapih informasinya dari sang khalik…ehm (sedikit berdeham, agar ada bidadari yang turun dengan paras sejuk, akhlak mumpuni dan beragama secara kuat tuk menemani ste-step selanjutnya dalam pergulatan fluktuatifnya akhlak ummat).

Aku dan 6 tahun sekian bulan, ditutup dengan penuh rasa syukur dan kusandingkan dengan istigfar yang sangat, karena aku memang si lemah yang jarang berterima kasih pada Rabb, karena aib demi aib yang masih terus saja ditutupi olehNya…

Wallahua’alam

K

Brain StretchingDecember 29, 2009 9:24 am

Dalam satu kelas motivasi programmer, khusus bagi para programmer yang loyo semangatnya didatangkanlah seorang motivator yang menang pengalaman. Pengalamannya jelas terpampang di kepalanya yang miskin rambut, jelaslah ia seorang programmer senior.

Lalu ia memulai kelas dengan satu kalimat yang inspiratif badannya ia coba tegakkan, dagu ia naikkan agar terlihat wibawa dan kharismatik

Ehmm…selamat pagi semua, ingat satu hal…

Seorang coder pantang pulang sebelum menemukan error…ingat itu (sambil ia menunjuk-nunjuk ke para audience)

Seluruh peserta (programmer yang kehilangan semangat) itu takjub, ada yang mangap dan ada pula yang menunduk takzim serta ada pula yang mengepal tangan kanannya erat-erat, mereka berpikir satu hal yang sama, luar biasa, betul itu, elegan sekali kata-kata motivator ini…

Lalu salah satu dari mereka ada yang masih ingin penjelasan yang menggugah lainnya, lalu ia lempar pertanyaan ini :

Luar biasa pak, sungguh memotivasi kami…pak kalau error itu tidak mampu kami selesaikan bagaimana?? 

Lalu sang motivator melihat mata sang penanya dengan tajam, lalu ia gubris dengan tetap menjaga kharismanya yang sudah terlanjur di atas angin :

Hmm, pengalaman pribadi ya???, (sambil menyungging senyum agak sinis namun elegan lalu…),

Mudah saja, jika kau tak bisa menyelesaikan error itu, pulang sajalah dulu besok kembali lagi ke kantor…

dubrakkkkk…semua teronggok lesu lagi, sinar solusi itu kandas sebelum berubah menjadi suatu aksi nyata…   

Religi, Qolbu ExplosionDecember 27, 2009 1:46 pm

Pagi itu, matahari belum sudi memancarkan cahayanya. Adzan baru saja selesai digandeng dengan iqamah dan para penjemput fajr di mushola sederhana itu. Si abi sedikit terburu-buru kali ini, selepas pulang shalat ia menggosok baju gamis andalannya, ia percik sedikit aroma "rapika" lalu digosoknya dengan tenang, sembari terus melihat jam dinding di ruang tamu. Si umi sudah rapih, karena tak perlu ke mushola tiap pagi, cukup shalat di awal waktu dan membangunkan anak-anak yang mengigau tak jelas jika disuruh sholat. Anak-anak sudah tidur lagi, tinggal si abang yang sering mengikuti abi saja yang sudah manteng di depan televisi menikmati mamah dan aa plus ibu-ibu pengajian di indosiar. Umi telah siap dengan tentengannya, ada dua buku tebal tersemat, rapih penempatannya, abi baru saja selesai menggosok dan merapikan janggutnya yang masih lembab dan disiram sedikit minyak misik putih, sedikit saja.

Abi dan umi pun pamit pagi itu, matahari belum lagi mendongak masih saja malu-malu melirik-lirik rembulan yang perlahan namun pasti hampir lenyap..abang, umi sama abi pergi dulu ya, jaga adik-adik, assalamualaikum…si abang menjawab, waalaikumsalam iya abi&umi hati-hati di jalan.

Pak supir sudah siap dengan sedan mercedes, S-class kata orang-orang diluar sana. Suara mesinnya halus, terencana dan tak gaduh, persis seperti manusia yang menyusun konspirasi namun ketahuan setelah ada rekaman dan dibawa ke pengadilan. Para tetangga belum juga jogging di udara sejuk itu, namun abi dan umi sudah siap menempuh satu jam perjalanan ke barat jakarta. Hujan mulai turun, membasahi jalan tol pagi itu, tapi tak apa, makin hening saja umi membaca bukunya dan makin intens saja tangan kiri abi menarik-narik janggutnya dan tangan kanannya memegang buku itu, khusyuk sekali, risalah dakwah jilid I. Mereka seolah-olah sedang menyiapkan sesuatu pagi itu, keduanya membaca materi yang berbeda serta berbeda pula judul bukunya. Terkadang abi menyeruput teh hangat yang tadi dibawakan umi, segar..nikmat sekali…

S-class terus meluncur di rintik-rintik hujan jalan tol, pak supir tetap menatap tajam dan hati-hati. Tak ada suatu yang buru-buru , pak supir mengolah setir mobil sedemikan rupa, cepat lajunya, namun penumpang tak kehilangan konsentrasi, tetap membaca.

45 menit sudah di perjalanan, rembulan tak lagi dominan, matahari mulai menyeruak sembari mengolah temperatur bumi agar tak terlalu dingin adanya. 15 menit terakhir, mobil menuju satu gang kecil ke arah jakarta. Masih terlihat jalan yang becek, namun pak supir terus melaju tanpa memikirkan S-Class berlumur lumpur, kotor dan tak elegan lagi, yang penting penumpang sampai tepat waktu, begitu katanya dalam hati. Buku-buku telah disimpan lagi dengan rapih, si abi menghela napas sejenak, ia olah sedikit rambutnya yang tipis itu, akibat dampak terlalu banyak berpikir di hari-hari kerjanya, tak jarang ia membaca, pulang malam namun tak ada lelah yang ia enkapsulasi di sabtu pagi itu, ia masih tetap segar. Si umi sedikit melirik, senyum ia lempar ke wajah suami tercintanya, dan senyum terbalas sudah ketika si abi membalas senyumannya agak berlebih karena seluruh giginya yang rapih itu terlihat. Si umi masih saja sedikit merapihkan jilbabnya, merah jambu warnanya, wanginya khas, aroma parfum fawakeh. Apa itu?, kau tanya saja ke abang-abang keturunan arab yang berjualan parfum di tanah abang, pasti kau paham aromanya.

S-class tiba di halaman satu sekolah negeri, tak ada kegiatan pagi itu, masih hari libur semester. Lalu pak supir mengarahkan mobil ke pojok kanan gerbang agar mudah tuk mengilatkan lagi ban mobil, karena disitulah keran berada persis di depan rumah penjaga sekolah. Di sisi kanan sekira 20 siswi-siswi SMP sudah menunggu si umi, terlihat hijab hijau tuk menegaskan mana area laki-laki harus shalat dan dimana pula perempuan harus bertempat. Di pojok kiri dalam, sekira 25 anak-anak muda, masih takzim saja tilawatul quran dengan mushaf ustmani-nya, tak sadar bahwa si abi sudah hadir. Pagi sudah bercampur dengan cahaya terang matahari, jika menghela napas di udara segar itu, relung-relung jiwa seolah segar, namun ada yang selalu kering tiap pekannya, merekalah para muslim muslimat yang bergerak ke sekolahnya tuk mengisi kekeringan ruhi-nya tuk sekedar bermuwajahah dan menambah tsaqofah islamiyah.

Di dalam mobil abi dan umi sudah bersiap keluar, mereka bergumam bersama-sama senyum saling berbalas dan wajah dengan pancaran terbaik mereka siapkan pagi itu, lirih terdengar sambil pintu terbuka, mereka katakan bismillah… Halaqoh ikhwan dimulai, begitu pula akhwat…

[bersambung…]

Fiksi yang coba digores..

Wallahua’lam K

Qolbu Explosion, Brain StretchingDecember 16, 2009 1:10 pm

Ini salah satu topik yang terberat yang kucoba goreskan malam ini. Namun sudah sepatutnya kutulis agar jelas adanya lalu elegi itu sudah sepatutnya hilang dan hanya bersandar kepada yang seharusnya kita bersandar, siapa lagi kalau bukan sang wahdaniah dalam sifat wajibnya.

Manusia ini lagi-lagi tentangnya, tak habis rasanya bercerita tentang perangai manusia. Awalnya ia ingin dijadikan khalifatul ardu (pemimpin di muka bumi), namun aneh ia(manusia) pula yang merusaknya. Manusia oh manusia, sebelum ada "climate change" itu, mereka mengeksplorasi bumi sejadi-jadinya, men-destruct bumi pun sejadi-jadinya, sampai-sampai bumi dulu terbatuk-batuk pada awalnya karena polusi asap yang akut di atmosfer pun mereka tak dengar. Namun lagi-lagi, sisi "iba"-nya pada bumi muncul, namun iba apa ini?, apakah karena manusia takut es di kutub mencair lalu memusnahkan mereka ataukah ini wujud antisipatif ala manusia yang selalu bergerak ketika episode masalah hampir usai. Jadi tak heran "go green" itu muncul belakangan, setelah sang adi daya merusak, sekarang pula ia mencoba memperbaikinya, ya datuk sam itu. Hehe namun aku bukanlah senantiasa antipati, karena bukan itu tujuanku menulis kali ini.

Dalam tubuh setiap insan memiliki 2 pertikaian akut yang tak pernah mati. 2 hal ini selalu saja berganti-ganti dalam hal kemenangan. Terkadang si A menang, namun tak jarang si B menang. Sama halnya ketika suku auz dan khazraj yang dipanas-panasi kabilah dedengkot yahudi kala itu, berstatus sekutu. Namun ternyata 2 hal dalam tubuh setiap manusia ini bisa menjadi otoriter dalam waktu yang lama.

Apa yang kau maksud anak muda???, terlalu banyak memutar-mutar analogi kau!!!, intinya saja lay!!!

oke-oke kita masuk ke intinya!!, tenang!

Jadi kedua hal ini adalah hati dan nafsu, mereka senantiasa ingin mencaplok pemikiran lalu action yang dibawa oleh tuannya, maksiatkah itu atau baikkah perbuatannya. Sang nafsu memiliki sekutu layaknya auz dan sang hati pun memiliki sekutu layaknya khazraj, kedua kabilah yang berseteru namun indah pada akhirnya pasca kehadiran islam. Namun hati dan nafsu tak bisa didamaikan begitu saja, pada beberapa insan nafsu mendominasi dan otoriter. Apapun sinyal positif dari hati dimentahkan sejadi-jadinya lalu tak sampai pada action/perbuatan. Nafsu senantiasa didukung oleh setan yang bermain-main diluar lalu menginisialisasi objek-objek diri yang perlu dinyalakan agar "nafsu" kembali digdaya ; mabuk, judi, cinta dunia, takut miskin, makan yang haram, dan cucu-cucu kemaksiatan lainnya. Sehingga dengan asupan itu, nafsu menjadi sehat lagi gemuk lalu hati digembosi dengan masiv. Dalam kategori ini tak ada lagi "elegi", nafsu mengambil peranan yang terlalu kuat, tak ada lagi yang dipikirkan kecuali maksiat-maksiat, kalau perlu maksiat itu diderivasi sedemikian rupa ; dari togel hingga koplo plus tuak yang memabukkan, serasa di surga dunia katanya…

Berbeda halnya dengan yang bermain dalam elegi. Terkadang nafsu diatas kadang hati diatas, ada beberapa upaya dan interaksi kepada sang khalik yang membuat hatinya senantiasa bersandar pada sang pencipta. Walau terkadang maksiat tetap jalan, namun hatinya terkadang masih iba pada si fakir, walaupun juga sebungkus marlboro masih dibawanya kemana-mana tuk sekadar mengebulkan paru-paru, serasa segar kalau sudah sedot asap kata mereka…

Ada kasus lain yang bolehlah dikatakan ideal, yang sudah sepatutnya dimiliki oleh setiap insan muslim di dunia. Ketika ibadah dianggap suatu kebutuhan diri, ketika azan suatu panggilan lalu ketika kalamullah sebagai surat cinta Rabb padanya. Kan sudah berulang kali ALLAH dalam surat cintanya yang digores dalam al-quran yang tak lekang oleh zaman itu, "Sandarkan sajalah dirimu padaKU, niscaya kau tak akan pernah takut dan bersedih hati" atau dalam lembaran surat cintanya yang lain "Ingat saja AKU, niscaya hatimu menjadi tenang". Oh indah ketika elegi dua seteru abadi dalam diri didekatkan dengan cara-cara ma’rifat pada Tuhan segenap manusia, oh indah ketika doa dilantunkan namun diri selalu berpikir positif dan meningkatkan kebajikan..inilah seideal-idealnya diri dalam berkoalisi bersama nafsu dan hati.

Sudah sepatutnya elegi maksiat dan kebajikan dimenangkan oleh hati, agar kita tidak seperti kebanyakan para kuffar, yang ALLAH sudah lepas dari menolong dan melindungi mereka..oh malang nian nasib para kuffar.

Lalu pada akhir tulisan hari ini, kuingin menyampaikan pada dirimu, sang pembaca. Rezeki itu setelah lama kurenungkan, ia bukan hanya berbentuk harta, bagi para si kaya harta sudah sepatutnya kau pergi ke masjid lalu meminta kepada Rabb-mu agar ditambahkan jenis rezeki lain, berbentuk hati yang sehat, anak yang saleh, istri yang shalehah lalu zurriat yang mendirikan shalat. Apa lagi yang harus dipinta oleh si kaya harta dan kaya pula hatinya serta kaya pula akhlak zurriatnya (keturunannya), kecuali doa pamungkas agar sang khalik senantiasa ridha akan setiap aktivitas kita di dunia dan agar kita senantiasa tak pindah ke lain hati…

Cukuplah bagiku Rabb-ku sebagai sandaran…

Wallahua’alam

K