Malam sudah semakin larut saja, esok manusia akan menggeliat lagi dengan rutinitasnya, ada yang memiliki semangat yang terpulihkan namun ada saja yang masih bermain dengan pikiran2 kalut akan masa depan, dampaknya mereka melompati masa kini ke masa yang lebih ke depan berimbas pada kekosongan makna hidup dalam kesehariannya, intinya MALAS…gitu aja deh mudahnya…
Kali ini dalam suasana yang sedikit berbeda bermalam di hotel berbintang, menyambut kedua orang tua tercinta, persis di depan tugu tani yang merefleksikan suatu simbol agraris namun simbol itu mati seiring kesalahan strategi kenegaraan. Agrasis yang dulu diindentikkan dengan Indonesia, namun apa yang lebih identik dengan ibukotanya???, yang jelas tidak menyentuh makna simbolik tugu tani itu sendiri.
Sudahlah…tulisan ini tidak akan menerawang ke suatu pemaknaan yang teriris akan sebuah arah kemana negara ini akan dibawa, karena kupikir, mereka para generasi pemain revolusi cerdas masih muda dan sedang bermain akan pergulatan mimpi, yang semoga 10 hingga 15 tahun lagi, ALLAH akan membangkitkan mereka ke dalam ranah krusial, pengambilan keputusan berdasar aspirasi realitas rakyat, bukan aspirasi realitas "lembaran duit di atas/bawah meja" lalu memainkan strategi "pengaburan" sebuah fakta, namun sayang rakyat sudah semakin cerdas saja…tunggu saja masanya ya…
Nah, aku bukanlah seorang yang memiliki posisi dalam menyampaikan satu opini yang menggelegar, merubah pola pikir masyarakat secara massive, apalagi menyentuh ranah untouchable yang mungkin saja sisa-sisa emas para kaum otoriter orde baru, "hantam saja yang bermain dalam ranah anomali, karena mereka mengganggu" …aih…aih…Namun tak apa, pemikiran coba kutulis disini, akan sebuah gugatan pemikiran pribadi yang ingin lepas, bukan tuk menyindir namun mencoba menyitir ke arah yang semoga benar.
"Stake Holder", mungkin cukup familiar di telinga, ya singkatnya merekalah yang memutuskan suatu issue atau kejadian. Namun menurutku dan sudah barang tentu orang lainnya, kuantitas para stake holder sudah semestinya tidak terlalu besar. Harus ada seorang yang memutuskan alur kerja, harus ada yang memiliki "influencing strength" lebih, sehingga issue tidak bergerak ke arah yang tak terjangkau lalu mulailah ada manipulasi fakta dan lainnya. Menurutku stake holder janganlah terlalu "lemot" lalu janganlah terlalu lemas dalam menentukan satu keputusan krusial, apalagi yang menyentuh ranah dasar, suatu masyarakat. Janganlah suatu keputusan tegas itu terkesan tidak lagi menjadi tegas, karena lamanya stake holder memutuskan hal itu. Lagi-lagi kita dibuat bingung lalu muncullah ksatria di siang bolong, bermain kata di depan mimbar tuk menyampaikan solusi "expired" lalu kabur lagi, karena masyarakat telah dibuat bosan, atau mungkin "personal trouble" mulai membuat mereka malas mengikuti suatu kejadian krusial. Jadilah masyarakat lemah opini, gersang kekritisannya lalu mengangguk lesu jika ditanya akan nasib sebuah era. Untung saja suatu yang ditakutkan media belumlah terjadi, suatu "people power" yang menghentak janji suatu kepemerintahan, lalu untung saja revolusi komprehensif pun belum terjadi, karena rakyat masih bergerak secara desentralis, mencari arah. Namun inilah suatu ketakutan tersendiri, desentralisasi hasrat manusia untuk melakukan revolusi yang terkotak-kotak akan membentuk satu kejadian yang "unpredictable".
Maka menurutku sudah sepatutnya para stake holder bangsa bermain dalam arah pemikiran ruhiyah, menyentuh satu Zero Mind Process yang melibatkan iman secara intens lalu menyelam sedikit ke alam ketakwaan mempelajari bagaimana sinkronisasi ketaatan Umar RA dan para sabahat lainnya ketika berdebat siapa yang harus menjadi panglima perang Mu’tah. Lalu ketika instruksi bernada keras yang merefleksikan ketaatan mumpuni ala Abu Bakar RA, semuanya taat..semuanya taat tuk mengangkat seorang Usamah bin Zaid yang dipilih ALLAH melalui RasulNya. Inilah suatu pertimbangan stake holder yang menyentuh ranah keimanan. Keputusannya selalu menyentuh qalbu, keputusannya terkadang terkesan keras namun di baliknya ada satu pemikiran "sustained" layaknya Umar RA. Sudah sepantasnya kita menyelam lebih sedikit kedalam suatu samudera peradaban yang seolah-olah dicoba terkaburkan oleh peradaban setelahnya, dimana barat berkuasa dan mengusik fundamental pemikiran ala dinul islam, agama tauhid yang dideklarasikan sebagai agama yang sempurna hingga akhir zaman. Para ummat lupa siapa bilal, para ummat lupa siapa umar bin abdul aziz, para ummat lupa siapa ibnu sina, para ummat lupa siapa Zaid bin haritsah, para ummat lupa Abdullah bin rawahah lalu para ummat disitir tuk lupa akan heroisme akhir zaman ala syaikh kontemporer sekelas Omar muchtar, Sayyid Qutb dan ahmad yassin lalu mereka lupa seorang perdana menteri yang dipilih ummat menjadi imam tarawih favorit di negaranya tahun lalu…Terlalu indah cara stake holder ala peradaban islam melalukan satu strategi penyelesaian masalah ummat, karena ada "standard guidance" oleh Rabb-nya yang diatur jelas dalam qalam yang diturunkan lalu para pemimpin tinggal mengolahnya menjadi satu regulasi yang menyamankan ummat, kalaupun ada modernisasi kasus, bolehlah ada satu upaya ijma’, qiyas lalu ijtihad…subhanallah…
Aku hanya berpikir kapan datang suatu masa, ketika islam itu bangkit lagi, menjadi panutan wajib yang disetujui oleh para umat, karena mereka merasa aman didalamnya…
Kapanpun itu, hanya IA yang tau, kapanpun itu semoga kita termasuk orang-orang yang memprakarsainya dalam bentuk apapun yang kita bisa.
Wallahua’lam
Ahad, 10:41 PM di sekitaran tugu tani.
K